Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 20 Agustus 2015

SEPULUH PRINSIP ILMU EKONOMI

SEPULUH PRINSIP ILMU EKONOMI

Kata economy berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti “one who manages a household” atau “Pengelola rumah tangga”.
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana masyarakat mengelola sumber daya yang langka atau yang jumlahnya terbatas.
Para ekonomi mempelajari :
1.      Bagaimana masyarakat membuat keputusan.
Ø  Orang menghadapi Trade-off
Untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, kita biasanya harus mengorbankan sesuatu lain. Ketika kita memiliki banyak tujuan, sebagian tujuan harus kita lepaskan demi mengejar tujuan tertentu yang paling kita inginkan.
Membuat keputusan menghadapkan kita para pertukaran (trade-off), merelakan sesuatu untuk satu tujuan.
Trade-off merupakan suatu keadaan yang pasti dihadapi oleh semua orang, mereka dihadapkan dengan beberapa pilihan yang mengharuskan mereka mengorbankan beberapa pilihan yang lain.
Efficiency berarti masyarakat mendapatkan manfaat yang optimal atas penggunaan sumber daya yang langka.
Equity berarti manfaat dari sumber-sumber daya tersebut didistribusikan secara adil di antara anggota masyarakat.
Contoh :
Ketika pemerintah ingin menyamaratakan kesejahteraan masyarakatnya dengan membagikan bantuan kepada penduduk kurang mampu, disatu sisi keadaan ini akan menyebabkan kesejahteraan di masyarakat tersebut dapat sama rata namun di sisi lain keadaan itu akan mengurangi efisiensi karena penduduk kurang mampu tersebut bisa saja menjadi malas untuk berusaha atau dana yang ada di pemerintah pasti akan berkurang.
Ø  Biaya adalah apa yang Anda korbankan untuk mendapatkan sesuatu.
Mengambil keputusan harus membandingkan biaya dan manfaat dari alternatif yang akan dilakukan. Misal, apakah memilikih kuliah atau bekerja?
Biaya kesempatan (opportunity cost) dari sesuatu adalah hal-hal yang harus Anda korbankan untuk mendapatkannya.
Ø  Orang rasional berpikir pada batas-batas.
Perubahan marginal (marginal changes) menjelaskan penyesuaian-penyesuaian terhadap suatu rencana kerja yang sudah ada sebelumnya. Orang membuat keputusan slalu berpikir secara bertahap, dengan cara membandingkan keuntungan marginal dan biaya marginal.
Ø  Orang tanggap terhadap insentif.
Perubahan marginal dalam costs dan benefits memotivasi orang untuk meresponnya. Perilaku setiap orang juga akan berubah setiap perhitungan costs dan benefits. Artinya kita tanggap terhadap insentif.
Keputusan untuk memilih suatu alternatif dari yang ada terjadi ketika keuntungan marginal (marginal benefits) pilihan tersebut lebih besar daripada biaya marginal (marginal costs)nya.
2.      Bagaimana masyarakat berinteraksi satu dengan lainnya.
Ø  Perdagangan menguntungkan semua pihak.
      Perdagangan antara dua Negara akan menguntungkan keduanya.
      Competition results in gains from trading.
      Perdagangan menyebabkan orang/Negara berspesialisasi dalam keahlian mereka.
Ø  Pasar adalah tempat yang baik untuk mengorganisasikan kegiatan ekonomi.
Market economy adalah suatu jenis perekonomian yang mengalokasikan sumber dayanya melalui keputusan-keputusan terdesentralisasi dari berbagai perusahaan dan rumah tangga.
Dalam sebuah market economy, rumah tangga menentukan akan kerja di perusahaan apa dan akan membeli apa dengan pendapatan mereka.
Perusahaan menentukan siapa yang akan dipekerjakan dan barang apa yang akan dihasilkan.
Adam Smith merumuskan pengamatan bahwa semua rumah tangga dan perusahaan berinteraksi di pasar bertindak seolah-olah dibimbing oleh “invisible hand”.
Harga-harga adalah alat yang digunakan oleh tangan tak Nampak untuk mengatur kegiatan ekonomi.
Karena rumah tangga dan perusahaan mempertimbangkan harga saat mengambil keputusan untuk membeli dan menjual, tanpa sadar mereka memperhitungkan manfaat dan biaya dari tindakan mereka secara sosial.
Hasilnya, harga-harga memandu parra pengambil keputusan ini untuk mencapai hasil-hasil yang dalam banyak kasus, memaksimalkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Ø  Pemerintah terkadang mampu meningkatkan hasil-hasil dari pasar.
Ketika terjadi kegagalan pasar (market failure) pemerintah dapat melakukan intervensi di bidang ekonomi, yaitu untuk mendukung efficiency dan equity.
Market failure terjadi ketika pasar gagal mengalokasikan sumber dayanya secara efisien dengan kekuatannya sendiri.
Salah satu penyebab kegagalan pasar adalah externality, dampak tindakan seseorang atau perusahaan terhadap kesejahteraan orang lain. Contoh biaya eksternal adalah polusi.
Kegagalan pasar juga dapat disebabkan oleh kekuatan pasar (market power), yaitu kemampuan sekelompok orang untuk mengatur harga-harga di pasar.
3.      Beragam kekuatan dan trend yang mempengaruhi perekonomian secara keseluruhan.
Ø  Standar hidup suatu Negara bergantung pada kemampuannya menghasilkan barang dan jasa.
Standard of living dapat diukur dalam hal perbedaan :
-          Perbandingan pendapatan  perorangan (pendapatan perkapita).
-          Perbandingan nilai total produksi nasional (PDB).
Hampir semua variasi antara standar-standar hidup dapat dikaitkan dengan perbedaan produktivitas (productivity).
Productivity adalah besarnya jumlah barang yang dihasilkan dari satu jam kerja seorang pekerja.
Ø  Harga-harga meningkat jika pemerintah mencetak uang terlalu banyak.
Inflation adalah peningkatan harga secara keseluruhan dalam suatu perekonomian.
Salah satu penyebab inflasi adalah pertumbuhan jumlah uang.
Ketika pemerintah mencetak uang dalam jumlah yang besar, nilai uang itu sendiri akan turun.
Ø  Masyarakat menghadapi trade-off jangka pendek antara inflasi dan pengangguran.
Philips Curve menunjukkan trade-off antara inflasi dan pengangguran:
Penurunan inflasi menyebabkan terjadinya kenaikan jumlah pengangguran.




PERMINTAAN DAN PENAWARAN

1.      Konsep Permintaan
a.       Permintaan
Permintaan adalah kemampuan efektif pembeli untuk membeli berbagai jumlah barang dan jasa pada berbagai kemungkinan tingkat harga dalam waktu yang sama.
b.      Hukum Permintaan (dengan asumsi)
Hukum permintaan berbunyi : Jumlah barang dan jasa yang diminta dipengaruhi oleh harganya, jika harga naik maka jumlah yang diminta turun dan sebaliknya jika harga turun maka jumlah yang diminta akan naik; dengan asumsi factor-faktor lain tidak berpengaruh. Atau secara singkat “jumlah yang diminta berbanding terbalik dengan harga, ceteris paribus”. Dalam konteks ini, hukum permintaan hanya berlaku untuk jenis-jenis barang normal, bukan untuk barang mewah (superior, misal ; barang bergengsi dalam proses lelang) dan buka pula untuk barang tuna nilai (barang inferior, missal ; makanan gaplek, barang kadaluwarsa). 
c.       Kurva Permintaan
Kurva permintaan berkedudukan miring dari kiri atas ke kanan bawah [koefisien arah yang negatif], sejalan dengan sifatnya berlawanan arah dengan perubahan harga, sebagaimana ditunjukkan melalui gambar 2.4 dan 2.5 berikut.

Gambar 2.4: Kurva Permintaan linear barang
Dengan variabel jumlah Q, yang dipengaruhi harga P






Gambar 2.5: Berbagai kemungkinan  permintaan barang
dengan jumlah Q, dan harga P yang berubah [dalam satu kurva],
a [P1,Q1], B [P2,Q2], dan C [P3,Q3].

d.      Pergeseran Kurva Permintaan
Pergeseran kurva permintaan adalah ditunjukkan dengan semakin menjauhi garis permintaan dari susunan salib bumbu [dari a ke c], yang terjadi sebagai akibat pengaruh variabel eksternal selain jumlah barang dan harga, demikian sebaliknya semakin mendekat [dari a ke b] akibat perubahan variabel lain diluar variabel jumlah barang dan diluar variabel harga, misalnya karena penyebab pendapatan konsumen yang meningkat/menurun. Kurva permintaan meningkat ditunjukkan melalui kurva yang bergerak ke kanan atas dan menurun melalui kurva yang bergerak ke kiri bawah.  
e.       Faktor-faktor yang mempengaruhi Permintaan
Adalah cukup banyak variabel yang mempengaruhi [yang disebut = faktor] permintaan selain daripada pengaruh variabel harga, yaitu :
1.      Selera masyarakat
2.      Jumlah pendapatan
3.      Intensitas kebutuhan
4.      Adanya barang Substitusi atau barang pengganti
5.      Adanya barang Komplementer atau barang pelengkap
6.      Musim
7.      Banyaknya konsumen yang menghendaki komoditi barang termaksud.
Permintaan dapat dispesifikasi lebih tajam lagi dalam kaitannya ketersediaan anggaran, yaitu menjadi :
1)      Permintaan absolute: permintaan yang harus dipenuhi tanpa memperhitungkan kemampuan daya beli,
2)      Permintaan potensial:  permintaan yang disertai dengan kemampuan daya beli,
3)      Permintaan efektif: permintaan yang diwujudkan dengan membeli.
f.       Uraian Matematis
Dalam bentuk model matematis, fungsi permintaan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1)      Model fungsi permintaan dirumuskan :
Qd = a-b. P

Qd = jumlah barang yang diminta
a  = konstanta
b  = koefisien arah
P  = harga barang
2)      Rumus persamaan garis melalui dua titik yaitu
3)       Contoh Hipotesis :
Tabel 2.2: Quantity Demand
Harga / Price
Jumlah yang dibeli
(Quantity Demand)
250
35
300
30
350
25
375
15
450
12

2.      Konsep Penawaran
a.       Penawaran
Penawaran adalah kesediaan penjual untuk menjual berbagai jumlah produksi pada berbagai tingkat harga dalam waktu tertentu.
b.      Hukum Penawaran (dengan asumsi)
Hukum menyatakan bahwa : Jumlah produk yang ditawarkan dipengaruhi oleh harganya, perubahan jumlah yang ditawarkan searah dengan perubahan harga, sedang faktor-faktor lain dianggap tetap. Secara pendekatan, Penawaran sejumlah barang dipengarugi oleh harga yang searah, ceteris paribus.
Sebagai catatan penting bahwa sama halnya dengan hukum permintaan, bahwa dalam praktek nyata sehari-hari asumsi ceteris paribus ini sebenarnya tidak dalam dunia nyata. Sehingga hukum penawaran diatas adalah hanya penting untuk dapat memahami secara lebih mudah, karena diantara faktor-faktor lain yang selain faktor harga dipandang tidak terlalu berpengaruh.     
c.       Kurva Penawaran
Kurva penawaran mempunyai slope atau koefisien arah atau kemiringan bersifat positif, karena variable (tak bebas) Qs yaitu jumlah barang yang ditawarkan memiliki arah perubahan yang sama dengan arah perubahan variabel (bebas) harga. Gambaran hipotesis kurva penawaran disajikan sebagai gambar 2.7 berikut.

Gambar 2.7: Kurva Penawaran

d.      Pergeseran Kurva Penawaran
Kurva penawaran juga dapat bergeser semacam halnya kurva permintaan, kekiri [menurun] maupun kekanan [menaik]. Pergeseran kurva yang menjauh dan atau mendekat dari salib sumbu adalah disebabkan oleh faktor atau variabel selain harga dan selain jumlah barang. Pergeseran itu terjadi meningkat, misalnya karena adanya penemuan teknologi produksi yang baru.

Gambar 2.8: Pergeseran Kurva Penawaran
   
e.       Faktor-faktor yang mempengaruhi Penawaran
Sesungguhnya, faktor atau variabel yang berpengaruh pada jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen bukan hanya harga; namun sebagaimana “tradisi” ilmu ekonomi bahwa faktor-faktor yang dianggap kurang berpengaruh di-asumsi-kan tidak berpengaruh. Faktor-faktor tersebut antara lain ;
1.      Kemampuan teknologi produsen untuk berproduksi
2.      Ekspektasi/harapan pasar
3.      Ketersediaan faktor Produksi
4.      Jumlah perusahaan yang berproduksi
5.      Jumlah permintaan yang dihadapi perusahaan.

f.       Uraian Matematis
Perumusan kedalam model matematis berguna untuk mendapat gambaran visual serta hitungan harga penawaran terkait dengan jumlah penawaran.
1)   Adapun formula matematis dalam fungsi penawaran adalah :
Qs = a+b. P

Qs = jumlah barang yang ditawarkan
a  = konstanta
b  = gradien garis koefisien arah, sebagai persentase perubahan
P  = harga barang
2)                                          Model persamaan garis dapat dihitung melalui perhitungan dua titik dengan rumus yaitu :
Sumber : Leksono, Sonny. 2012. Materi Ekonomi SMA/MA. Malang : Universitas Wisnuwardhana Press.



TEORI PRODUSEN DAN FUNGSI PRODUKSI

Teori produksi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat produksi dengan jumlah faktor-faktor produksi dan hasil penjualan outputnya.
Di dalam menganalisis teori produksi, kita mengenal produksi jangka pendek, yaitu seseorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan :
a.       Berapa output yang harus diproduksikan
b.      Berapa dan dalam kombinasi bagaimana factor-faktor produksi (input) dipergunakan.
 Untuk menyederhanakan pembahasan secara teoritis dalam menentukan keputusan tersebut digunakan dua asumsi dasar :
a.       Bahwa produsen atau pengusaha selalu berusaha mencapai keuntungan yang maksimum
b.      Bahwa produsen atau pengusaha beroperasi dalam pasar persaingan sempurna.
Secara teori, proses produksi mengikuti perumusan perilaku menurut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah persamaan yang menunjukkan hubungan dalam satuan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan per kesatuan waktu, tanpa memperhitungkan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan :
Y = f (X1, X2, X3, …….., Xn)
Dimna :
            Y                                             = tingkat produksi (output) yang dihasilkan dan
            X1, X2, X3, …….., Xn          = factor produksi (input) 1,2,3 …n yang digunakan.

            Fungsi yang masih bersifat umum ini, agar dapat memberikan penjelasan kuantitatif, maka harus dinyatakan dalam model matematis yang spesifik, antara lain :
a.       Y = a + bX (fungsi linier)
b.      Y = a + bX – cX2 (fungsi kuadratis)
c.       Y = aX. bX2. cX3.d (fungsi CobbwDouglas), dan lain-lain.

Telah disinggung diatas bahwa fungsi produksi mengikuti “Hukum Kenaikan Hasil yang Berkurang” atau yang disebut : The Law of Diminishing Return, yang formulanya adalah :
Apabila penggunaan satu macam input (X1) ditambah sedang input-input yang lain (X2, X3, …. Xn) tetap maka tambahan output (Y) yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input (X1)  yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.
Gambar : Fungsi Produksi Hubungan Antara KPT, KPM, dan KPR

Hubungan produk (Y) dan factor produksi (X1, X2, …. Xn) yang digambarkan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Sepanjang garis OB, berlangsung kenaikan hasil bertambah, yaitu produk marginal semakin besar; produk rata-rata naik tetapi di bawah produk marginal.
b.      Dimulai dari titik B berlangsung perubahan dari kenaikan hasil bertambah menjadi kenaikan hasil berkurang; namun produk rata-rata masih terus naik; titik C sebagai “inflection point” [titik balik di mana produk marginal mencapai maksimum].
c.       Sepanjang garis BM, di mana produk marginal menurun; produk rata-rata mulai naik mencapai maksimum pada titik C. pada titik C produk rata-rata sama dengan produk marginal.
d.      Setelah titik C, sampai di titik M tercapai tingkat produksi maksimum, produk marginal sama dengan nol; produk rata-rata menurun tetapi tetap positif.
e.       Penggunaan input lebih banyak lagi pada tingkat sesudah titik M, akan menyebabkan kenaikan hasil negatif, produk marginal juga negative; sementara produk rata-rata tetap positif.
Berdasar atas perilaku tersebut, bahwa tahapan produksi menurut hokum Diminishing Returns dapat dibagi menurut tiga tahap, yaitu :
a.       Produksi total dengan increasing returns, sebagai daerah irrasional; karena tidak akan dipilih oleh produsen.
b.      Produksi total dengan decreasing returns, sebagai daerah rasional; yaitu tempat pilihan produsen untuk memutuskan tingkat produksinya, dan
c.       Produksi total yang semakin menurun, sebagai daerah irrasional; yaitu tingkat penggunaan input yang tidak akan dilakukan oleh produsen.

Sumber : Leksono, Sonny. 2012. Materi Ekonomi SMA/MA. Malang : Universitas Wisnuwardhana Press.



MODAL SOSIAL


Modal sosial oleh Bourdieau (1986) didefinisikan sebagai : “the aggregate of the actual or potential resources whivh are linked to possession of a durable network of more or less institutionalized relationships of mutual acquaintance and recognition atau kumpulan/jumlah ssumberdaya potensial dan actual yang dihubungkan pada kepemilikan jaringan yang awet, dari hubungan yang kurang lebih telah dilembagakan karena saling kenal atau saling memperhatikan. Penjelasan selanjutnya mengatakan bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok merupakan modal yang memungkinkan mereka mendapatkan sesuatu seperti kredit atau modal ekonomi. Penekanannya adalah pada kepemilikan individu akan jaringan sosial yang dapat memberikan akses pada sumberdaya kelompok, dan hasilnya adalah manfaat ekonomi (Field, 2003).
Modal sosial bersifat produktif dan keberadaannya memungkinkan tercapainya suatu tujuan tertentu. Selain itu, modal sosial mungkin hanya dapat berlaku pada kegiatan tertentu. Tidak seperti bentuk-bentuk modal yang lain, modal sosial melekat dalam struktur hubungan antara dan diantara pelaku-pelaku (ekonomi).
Dalam dunia modern dan terutama di dalam suatu organisasi, hamper semua bentuk hubungan diatur dengan berbagai aturan. Ada banyak prosedur yang diterima untuk membuat keputusan, tingkat tanggung jawab, posisi dan arah kebijaksanaan. Tetapi ketika seseorang mau melakukan sesuatu, banyak yang mengabaikan prosedur atau tata cara dengan melakukan jalan pintas melalui hubungan dengan seseorang yang diketahui atau dikenal.
Sebagai contoh keadaan diatas adalah bila seseorang dalam suatu perusahaan memberikan informasi lowongan pekerjaan kepada kenalan, keluarga atau sesame alumni. Prosedur resminya adalah mengiklankan lowongan tersebut di surat kabar atau melalui bursa tenaga kerja, tetapi prosedur tersebut tidak dilakukan. Banyak orang yang dalam mendapatkan pekerjaan dibantu atau mendapatkan informasi dari teman, keluarga atau kenalan. Hal tersebut disamping dapat mengurangi biaya atau korbanan, sekaligus pula dapat mempercepat, memperlancar dan berkemungkinan dapat memperluas pasar pruduk; yang bilamana dikalkulasi secara ekonomi financial (keuangan); merupakan nilai uang yang sangat berarti.
Konsep utama modal sosial adalah hubungan jaringan-jaringan (networks), kepercayaan, norma-norma dan nilai-nilai yang dibagikan dalam suatu kelompok yang mengarahkan pada tindakan yang bermanfaat. Bahwa modal sosial itu harus mendorong perkembangan usaha; agar data dikatakan sebagai modal, modal sosial mampu membuat pertumbuhan usaha itu berakibat peningkatan kemakmuran masyarakat, tidak hanya sebatas bagi perorangan pelaku ekonomi itu atau unit usahanya, namun juga lingkungan msayarakatnya.
Modal sosial menurut criteria ekonomi, yaitu menunjuk pada produktifitas, efisiensi, dan efektifitasnya. Derajat produktifitas, efisiensi dan spectrum efektifitasnya adalah ‘ditentukan oleh kekuatan pengaruhnya yang disebut sebagai radius-kepercayaan (radius of trust).

Sumber : Leksono, Sonny. 2012. Materi Ekonomi SMA/MA. Malang : Universitas Wisnuwardhana Press.

























PASAR TRADISONAL

Pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli yang melakukan proses transaksi langsung dengan mengandalkan system harga luncur (sliding price system), pedagang pasar tidak menentukan harga barang yang diperdagangkan secara rigid seperti halnya yang dijumpai pada pasar modern. Harga terbentuk melalui proses tawar menawar antara penjual dengan calon pembelinya. Menurut Geertz (1963, ibid) dalam pasar tradisional, tekanan terpenting dalam persaingan bukanlah antara penjual dengan penjual lainnya, tetapi tekanan terppenting adalah persaingan antara kegigihan penjual dengan kegigihan pembeli.
Di era globalisasi pasar tradisional menjadi korban utama dalam persaingannya dengan pasar modern, dan menjadi penyebab utama menurunnya kinerja pasar tradisional, sehingga pasar tradisional mengalami kemunduran. Persoalan krusial bagi pasar tradisional saat ini adalah ; Pertama, Kekurang perhatian secara memadai Pemda selaku pemegang otoritas pasar dalam pemeliharaan kondisi fisik pasar tradisional ditambah dengan orientasi kepentingan yang lebih tertuju pada perolehan pada pendapatan asli daerah (PAD). Pedagang tradisional, secara hukum hanya punya hak pakai terhadap tempat usaha di pasar menempatkan pemda merasa superior, sehingga menimbulkan abuse of power. Kedua, Pemda lebih berminat bekerjasama dengan investor swasta dalam hal pelayanan publik, khususnya dalam meluluskan pendirian pasar modern.

Sumber : Leksono, Sonny. 2012. Materi Ekonomi SMA/MA. Malang : Universitas Wisnuwardhana Press.


EKONOMI KELEMBAGAAN

Lembaga diharapkan dapat mendukung terjadinya transaksi (exchange) ekonomi secara efisien, lancar, terjamin, teratur, stabil. Selain itu, lembaga dapat meningkatkan rutinitas, keteraturan, Insentif dan disinsentif kepada individu, serta membentuk/ mempengaruhi pola interaksi setiap individu.
Ilmu Ekonomi Kelembagaan memusatkan diri pada pemahaman mengenai institusi (lembaga) yang dapat mempengaruhi perilaku ekonomi, sehingga dapat menurunkan biaya transaksi.
            Bentuk kelembagaan ada tiga yaitu norma-konvensi, aturan main (hukum), dan pengatur hubungan kepemilikan.
1.      Norma-Konvensi
Bentuk : Perangkat yang dihasilkan berdasarkan konsensus atau pola tingkah laku yang disepakati bersama.
Dasar Pertimbangan : Nilai-nilai yang berlaku (value).
Tujuan : Dari pelaksanaan norma dan konvensi diharapkan dapat terjadi keteraturan dan keterdugaan (predictable).
Cara pelaksanaan : untuk menjalankannya diperlukan adanya asas reciprocity dan solidarity.
2.      Aturan Main (Hukum)
Bentuk : Aturan main, biasanya lebih formal (ditegakkan pemerintah)
Dasar : Memberi kebebasan (liberation) dan larangan (constraint).
Tujuan : Memberikan perlindungan/harapan dan sanksi terhadap individu dan kelompok dalam menentukan pilihannya.
Cara pelaksanaan : Memerlukan pemahaman bersama tentang alat-alat untuk menyelesaikan pertentangan (konflik).
3.      Pengatur Hubungan Kepemilikan
Bentuk : Perangkat sosial yang mengatur :
   1) kepemilikan Individu atau kelompok
   2) Obyek nilai bagi pemilik dan orang lain
   3) Orang atau pihak lain yang terlibat dalam suatu
       kepemilikan.
Tujuan : Mengatur hubungan kepemilikan (property relations).
Unsur : Hak Kepemilikan (Property Right):
a. Hak eksklusif untuk menggunakan sumber daya.
b. Hak untuk memperoleh jasa/ benefit dari sumber daya tersebut.
c. Hak untuk menukarkan sumberdaya sesuai kesepakatan.
Ruang lingkup kelembagaan, meliputi :
1.      Merupakan kreasi manusia secara sadar.
2.      Kadang berbentuk tertulis dan secara formal ditegakkan
3.      Dapat diprediksi (cukup stabil) sehingga mudah diterapkan pada situasi yang berulang-ulang.
4.      Dilakukan oleh kumpulan individu-individu (keputusan kelompok).
5.      Memiliki dimensi waktu – (dapat dilakukan pada situasi yang berulang-ulang).
6.      Memiliki dimensi tempat – (terkait dengan kondisi lingkungan fisik).
7.      Memiliki aturan main – norma yang mewarnai lembaga.
8.      Ada pemantauan dan penegakan aturan yang juga ditegakan secara internal oleh individu.
9.      Berada pada suatu hirarki dan jaringan atau keteraturan berjenjang dalam masyarakat. Merupakan bagian dari kelembagaan yang lebih kompleks (banyak lembaga lain yang terkait).
Dengan pendekatan ilmu ekonomi kelembagaan ini, maka setiap peristiwa ekonomi dapat dianalisis dengan aspek yang luas (meliputi aspek non-ekonomi), sehingga hasil analisis relatif akan lebih realistis.
Isu-isu kelembagaan, meliputi :
1.      Principal-Agent Problems : keuntungan yang tidak adil antar mereka (misalnya agen dapat keuntungan lebih banyak). Dapat terjadi moral hazard, adverse selection, terjadi karena ketidaksempurnaan pasar dan informasi asimetris.
2.      Biaya Transaksi : biaya-biaya untuk memperoleh kepemilikan atas suatu sumber daya.
Kelompok Biaya Transaksi, yaitu :
Biaya transaksi komoditas : biaya transaksi yang dikeluarkan secara langsung atas komoditas yang diinginkan.
Biaya transaksi kelembagaan : biaya transaksi yang dikeluarkan sebagai konsekuensi adanya kelembagaan yang turut serta/ mengatur pertukaran atas komoditas yang diinginkan.
3.      Kepastian property right, misalnya HAKI
4.      Kerangka persaingan usaha
5.      Privatisasi
6.      Penyaluran ketidakpuasan (exit and voicing) ; customer service, YLKI
7.      Kompensasi, atas hal negatif yang dialami yang disebabkan oleh pihak lain.


Sumber : https://usepmulyana.files.wordpress.com/2008/07/kelembagaan.ppt
·          
·