Belajar Blog

Jumat, 29 November 2013

SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK



PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
1.      Umum
Anak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Dalam konstitusi Indonesia, anak memiliki peran strategis yang secacara tegas dinyatakan bahwa negara menjamin hak setiap anak atas keberlangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Oleh karena itu, kepentingan terbaik bagi anak patut dihayati sebagai kepentingan terbaik bagi kelangsungan hidup umat manusia. Konsekuensi dari ketentuan Pasal 28B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu ditindaklanjuti dengan membuat kebijakan pemerintah yang bertujuan melindungi Anak. Anak perlu mendapat perlindungan dari dampak negatif perkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang tua yang telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku Anak. Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan anak antara lain, disebabkan oleh diluar diri Anak tersebut. Data Anak yang berhadapan dengan hukum dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas serta pengaruh negatif penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif semakin meningkat.
Prinsip perlindungan hukum terhadap Anak harus sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) sebagaimana telah diratifikasi pleh pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-Hak Anak). Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dimaksudkan untuk melindungi dan mengayomi Anak yang berhadapan dengan hukum agar Anak dapat menyongsong masa depannya yang masih panjang serta memberi kesempatan kepada Anak agar melalui pembinaan akan diperoleh jati dirinya untuk menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Namun, alam pelaksanaannya Anak diposisikan sebagai objek dan perlakuan terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum cenderung merugikan Anak. Selain itu, Undang-undang tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat dan belum secara komprehensif memberikan perlindungan khusus kepada Anak yang berhadap dengan hukum. Dengan demikian, perlu adanya perubahan paradigma dalam penanganan Anak yang berhadapan dengan hukum, antara lain didasarkan pada peran dan tugas masyarakat, pemerintah, dan lembaga negara lainnya yang berkewajiban dan bertanggung untuk meningkatkan kesejahteraan Anak serta memberikan perlindungan khusus kepada Anak yang berhadapan dengan hukum. Penyusunan Undang-Undang ini merupakan penggantian terhadap Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pegadilan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668) yang dilakukan dengan tujuan agar dapat terwujud peradilan yang benar-benar menjamin perlindungan kepentingan terbaik terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum sebagai penerus bangsa.
Undang-Undang ini menggunakan nama Sistem Peradilan Anak tidak diartikan sebagai badan peradilan sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Namun, Undang-Undang ini merupakan bagian dari lingkungan peradilan umum.
Adapun substansi yang diatur dalam Undang-Undang ini, antara lain, mengenai penempatan Anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Substansi yang paling mendasar dalam Undang-Undang ini adalah pengaturan secara tegas mengenai Keadilan Restoratif dan Diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan Anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan Anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar. Oleh karena itu, sangat diperlukan peran serta semua pihak dalam rangka mewujudkan hal tersebut. Proses itu harus bertujuan pada terciptanya keadilan Restoratif, baik bagi Anak maupun bagi korban. Keadilan Restoratif merupakan suatu proses Diversi, yaitu semua pihak yang terlibat dalam suatu tindakan pidana tertentu bersama-sama mengatasi masalah serta menciptakan suatu kewajiban untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan melibatkan korban, Anak, dan masyarakat dalam mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi, dan menenteramkan hati yang tidak berdasarkan pembalasan. Dari kasus yang muncul, ada kalanya Anak berada dalam status saksi dan/atau korban sehingga Anak Korban dan/atau Anak Saksi juga diatur dalam Undang-Undang ini. Khusus mengenai sanksi terhadap Anak ditentukan berdasarkan perbedaan umur Anak, yaitu bagi Anak yang masih berumur kurang dari 12 (dua belas) tahun hanya dikenai tindakan, sedangkan bagi Anak yang telah mencapai umur 12 (dua belas) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun dapat dijatuhi tindakan dan pidana. Mengingat ciri dan sifat yang khas pada Anak dan demi perlindungan terhadap Anak, perkara Anak yang berhadapan dengan hukum wajib disidangkan di pengadilan pidana Anak yang berada di lingkungan peradilan umum. Proses peradilan perkara Anak sejak ditangkap, ditahan, dan diadili pembinaannya wajib dilakukan oleh pejabat khusus yang memahami masalah Anak. Namun, sebelum masuk proses peradilan, para penegak hukum, keluarga, dan masyarakat wajib mengupayakan proses penyelesaian di luar jalur pengadilan, yakni melalui Diversi berdasarkan pendekatan Keadilan Restoratif.
Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini mengatur mengenai keseluruhan proses penyelesaian perkara Anak yang berhadapan dengan hukum mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

Rabu, 10 Juli 2013

Skizofrenia


Skizofrenia
Pengertian Skizofrenia menurut Adolf Meyer, Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, adanya disorganisasi kepribadian yang lama-kelamaan orang itu akan menjauhkan diri dari kenyataan (Maramis, 1995). Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang ditandai oleh penyimpangan yang mendasar dan khas dari proses berfikir dan persepsi serta afek yang tidak wajar. Kesadaran biasanya tetap jernih dan kemampuan intelektual tetap baik dan pada perkembangan lebih lanjut dapat terjadi kemunduran kognitif.
Mereka juga mengalami gangguan persepsi yang berbentuk halusinasi. Misalnya pasian melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau mendengar sesuatu yang merupakan sumber bunyi. Agresivitas dan bentuk perilaku aneh juga menandai adanya gejala skizofrenia.  Adapun bentuk agresivitas yang muncul bila berkisar antara agresivitas verbal hingga merusak barang dan mencederai orang lain secara fisik.
Karakteristik Skizofrenia
Maramis (1995), membagi gejala-gejala Skizofrenia menjadi dua, yaitu :
·         Gejala Primer
-          Gangguan proses pemikiran (bentuk, langkah dan isi pikiran)
Yang terganggu terutama ialah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah timbul ide lain.
-          Gangguan afek dan emosi
Ø  Kedangkalan afek dan emosi, penderita menjadi acuh tak acuh terhadap dirinya dan masa depannya.
Ø  Kadang-kadang emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan.
Ø  Emosi yang berlebihan, sehingga kelihatan seperti dibuat-buat.
Ø  Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik.
-          Gangguan Kemauan
Penderita Skizofrena tidak dapat mengambil keputusan dan tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan.
-          Gejala Sekunder
Dinamakan gejala katatonik atau gangguan perbuatan.
·         Gejala Sekunder
-          Waham, pada skizofrenia waham sering tidak logis dan sangat tidak realistis.
-          Halusinasi, timbul tanpa penurunan kesadaran.
Menurut Blouler (Maramis, 1995) menganggap bahwa gejala-gejala primer adalah manifestasi dari penyakit badaniyah, sedangakan gejala sekunder adalah manifestasi dari usaha penderita untuk menyesuaikan diri dari gangguan primernya.
Harus ada perubahan yang konsisten dan bermakana dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri secara sosial (Rusdi Maslim, 2002).


Selasa, 09 Juli 2013

HUBUNGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN KECERDASAN SPIRITUAL

ABSTRAK                  
Dalam buku konsep dan makna pembelajaran (Sagala, 2005 : 84) memaparkan 8 kecerdasan yaitu kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spiritual.
Berbagi ilmu dari Profesor Gardner yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences, bahwa ada banyak kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Teori ini juga menekankan pentingnya “model” atau teladan yang sudah berhasil mengembangkan salah satu kecerdasan hingga puncak.
Kecerdasan spiritual tak ubahnya dengan kecerdasan lainnya seperti kecerdasan bahasa, matematika, atau alami. Semakin sering diasah, maka hasilnya akan semakin baik. Seperti kecerdasan yang lain, kecerdasan spiritual juga bisa diasah sejak dini dan justru inilah waktu terbaik.
Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain. Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas.
Matematika disebut sebagai ratunya ilmu. Jadi matematika merupakan kunci utama dari pengetahuan-pengetahuan lain yang dipelajari di sekolah. Tujuan dari pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah menekankan pada penataan nalar dan pembentukan kepribadian (sikap) siswa aga rdapat menerapkan atau menggunakan matematika dalam kehidupannya
Kecerdasan spiritual sangat berguna bagi setiap manusia. Menurut penulis buku laris dan ahli spiritualitas Erbe Sentanu, Kecerdasan spiritual sangat berguna untuk mendukung kesuksesan seseorang. Jadi bukan sekadar berguna untuk menjalin hubungan dengan sesama atau dengan Tuhan.




DAFTAR ISI

ABSTRAK………………………..………………………..……………………… ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah…………………………………………. 1
B. Perumusan Masalah……………………………………………… 1
C. Tujuan Penelitian………………………………………………… 2
D. Metode Penelitian………………………………………………... 2
E. Manfaat Penelitian………………………………………………... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian spiritual ……………………………….……………... 3
B. Hubungan Tingkat Kecerdasan spiritual, Motivasi Berprestasi &  Kebiasaan Belajar Matematika siswa ………………….…….…. 4
C. Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences).…………….….… 6

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………………..….. 9

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..…… 11


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Kecerdasan spiritual sangat berguna bagi setiap manusia. Menurut penulis buku laris dan ahli spiritualitas Erbe Sentanu, Kecerdasan spiritual sangat berguna untuk mendukung kesuksesan seseorang. Jadi bukan sekadar berguna untuk menjalin hubungan dengan sesama atau dengan Tuhan.
Sebagai contoh kecil adalah ketabahan dan kesabaran seseorang yang mampu menerima cobaan atau bencana. Misalnya saja ketika terjadi bencana gempa. Banyak orang yang stres, karena rumahnya yang mewah hancur berantakan. Meski orang tersebut sering beribadah, orang tersebut belum memiliki kecerdasan spiritual kelas wahid.
Matematika disebut sebagai ratunya ilmu. Jadi matematika merupakan kunci
utama dari pengetahuan-pengetahuan lain yang dipelajari di sekolah. Tujuan dari
pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah
menekankan pada penataan nalar dan pembentukan kepribadian (sikap) siswa agar
dapat menerapkan atau menggunakan matematika dalam kehidupannya (Soedjadi,
2000: 42). Dengan demikian matematika menjadi mata pelajaran yang sangat
penting dalam pendidikan dan wajib dipelajari pada setiap jenjang pendidikan.
Setiap individu mempunyai pandangan yang berbeda tentang pelajaran
matematika.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang dijabarkan di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
“Mengetahui dan memahami matematika dengan kecerdasan spiritual”.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari karya tulis ini adalah untuk mengetahui dan memahami kecerdasan spiritual dalam pembelajaran matematika.
D. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian tentang kalimat efektif penulis menggunakan metode elekronik yaitu dengan cara mencari materi pembahasan di situs-situs pendidikan.
E. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian tentang Mengetahui dan memahami matematika dengan kecerdasan spiritual, di harapkan para mahasiswa FKIP mengetahui bagaimana cara menyampaikan matematika yang berhubungan dengan spiritual anak atau siswa.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain. Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas.
Menurut penulis buku laris dan ahli spiritualitas Erbe Sentanu, Kecerdasan spiritual sangat berguna untuk mendukung kesuksesan seseorang. Jadi bukan sekadar berguna untuk menjalin hubungan dengan sesama atau dengan Tuhan.
Tapi hendaknya jangan salah memahami pengertian kecerdasan spiritual. Sering orang menganggap bahwa kecerdasan spiritual itu diukur dari ketaatan seseorang beribadah. Kecerdasan spiritual lebih dalam dari itu. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia untuk memahami dirinya dan menerima setiap kondisi yang dialaminya.
Sebagai contoh kecil adalah ketabahan dan kesabaran seseorang yang mampu menerima cobaan atau bencana. Misalnya saja ketika terjadi bencana gempa. Banyak orang yang stres, karena rumahnya yang mewah hancur berantakan. Meski orang tersebut sering beribadah, orang tersebut belum memiliki kecerdasan spiritual kelas wahid.
Agar seseorang punya basis kecerdasan spiritual yang jempolan, maka harus diasah dengan baik. Kecerdasan spiritual tak ubahnya dengan kecerdasan lainnya seperti kecerdasan bahasa, matematika, atau alami. Semakin sering diasah, maka hasilnya akan semakin baik. Seperti kecerdasan yang lain, kecerdasan spiritual juga bisa diasah sejak dini dan justru inilah waktu terbaik.

Menurut Dr Marsha lewat bukunya, Spiritual Intelligence: What We Can Learn from the Early Awakening Child, bahwa masa anak-anak adalah masa terbaik untuk mengasah kecerdasan spiritual. Hal ini berdasar anggapan bahwa hati anak-anak masih bersih seperti layaknya sebuah kertas kosong atau kaset pita yang belum diisi
Pada masa Anak inilah Anda harus mulai mengajarkan kecerdasan spiritual yang terdiri dari beberapa elemen seperti kesabaran, kedermawanan, empati, optimisme, hingga memaafkan. Anak pasti berhubungan langsung dengan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan perilaku-perilaku tersebut setiap harinya.
Misalnya ketika mainan Anak hilang atau terselip, hampir bisa dipastikan Anak marah-marah dan ngambek. Pada saat ini Anda bisa mengajarkan kesabaran dan ketabahan kepada Anak. Katakan padanya bahwa ia harus sabar dan tidak boleh putus asa. Bantulah mencari mainan tersebut tanpa marah-marah. Cara ini sekaligus sudah mengajarkan empati kepada Anak. Setelah menemukan, katakan kepada Anak bahwa pencarian yang teliti akan membuahkan hasil yang baik. Tentu Anak  lama-kelamaan akan memahami apa arti optimisme.
Dari satu kasus saja Anda bisa mengajarkan beberapa elemen kecerdasan spiritual sekaligus. Bila dilakukan secara berulang-ulang, pasti akan membawa efek yang sangat baik bagi perkembangan kecerdasan spiritualnya. Bila Anak sudah terasah kecerdasan spiritualnya, Anda sebagai orangtua setidaknya sudah bisa memberikan bekal bagi masa depan Anak. Sebab, dalam kondisi bagaimana pun si Anak akan bisa membawa diri dan tetap bisa ‘mengatur’ dirinya agar berada pada ‘gelombang’ kebahagiaan. Dan kebahagiaan yang dirasakan Anak adalah kebahagiaan sejati yang berasal dari hati.

B. Hubungan Tingkat Kecerdasan spiritual, Motivasi Berprestasi & Kebiasaan Belajar Matematika Siswa.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara.pendidikan yang dilakukan secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi intelegensi, motivasi,
kebiasaan, kecemasan, minat, dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, keadaan sosial
ekonomi, dan sebagainya (Ahmadi dan Supriyono, 2004: 138).
Faktor-faktor internal tersebut diantaranya adalah faktor intelektif yaitu kecerdasan siswa dan faktor nonintelektif yaitu motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar siswa.
Faktor intelektif (kecerdasan) mempunyai pengaruh yang cukup jelas dalam hal pencapaian hasil belajar. Seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang relatif tinggi cenderung lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang relatif rendah. Namun demikian,
faktor kecerdasan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan prestasi yang
akan dicapai siswa.
Faktor non intelektif diantaranya adalah motivasi dan kebiasaan. Motivasi
merupakan faktor yang sangat penting dalam proses belajar guna mencapai prestasi
yang diharapkan. Ini dikarenakan motivasi merupakan pendorong dan penggerak
individu yang dapat menimbulkan dan memberikan arah bagi individu untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai tujuannya. Standar nilai baik
nilai ketuntasan belajar maupun kelulusan yang ditetapkan secara nasional yang
harus dicapai oleh siswa dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan
berprestasi. Serta membuat siswa tertuntut untuk mengubah kebiasaan belajarnya
ke arah yang lebih baik. Kebiasaan belajar merupakan pola belajar yang ada pada diri siswa yang bersifat teratur dan otomatis.
Kebiasaan bukanlah bawaan sejakl ahir, melainkankebiasaan itu dapat dibentuk oleh siswa sendiri serta lingkungan pendukungnya.
Suatu tuntutan atau tekad serta cita-cita yang ingin dicapai dapat mendorong
seseorang untuk membiasakan dirinya melakukan sesuatu agar apa yang
diinginkannya tercapai dengan baik.
Kebiasaan belajar yang baik akan dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa, sebaliknya kebiasaan belajar yang tidak baik
cenderung menyebabkan prestasi belajar siswa menjadi rendah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru bidang studi
matematika.
Kecerdasan (intelegensi) adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Motivasi berprestasi adalah rangkaian dorongan yang menggerakkan seseorang
untuk melakukan keinginan yang dilandasi adanya tujuan mencapai prestasi
yang baik.

 

C. Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Berbagi ilmu dari Profesor Gardner yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences, bahwa ada banyak kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Teori ini juga menekankan pentingnya “model” atau teladan yang sudah berhasil mengembangkan salah satu kecerdasan hingga puncak.
Dalam buku konsep dan makna pembelajaran (Sagala, 2005 : 84) memaparkan 8 kecerdasan yaitu kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spiritual. Mari kita bahas satu per satu kecerdasan di atas.
Selain penjelasan bentuk kecerdasan, juga dikaitkan dengan pelajaran yang diajarkan di sekolah serta tokoh atau profesi yang memiliki kecerdasan tersebut.
1. Kecerdasan Verbal (Bahasa) Bentuk kecerdasan ini dinampakkan oleh kepekaan akan makna dan urutan kata serta kemampuan membuat beragam penggunaan bahasa untuk menyatakan dan memaknai arti yang kompleks. Berkaitan dengan pelajaran bahasa. William Shakespeare, Martin Luther King Jr, Soekarno, Putu Wijaya, Taufiq Ismail, Hilman “Lupus” Hariwijaya merupakan tokoh yang berhasil menunjukkan kecerdasan ini hingga puncak, demikian pula para jurnalis hebat, ahli bahasa, sastrawan, orator pasti memiliki kecerdasan ini.
2. Kecerdasan Logika/Matematika Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainstifik, dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan, banker dan tentu saja ahli matematika. Berkaitan dengan pelajaran matematika. Tokoh2 yang terkenal antara lain Madame Currie, Blaise Pascal, B.J. Habibie.
3. Kecerdasan Spasial/Visual Bentuk kecerdasan ini umumnya terampil menghasilkan imaji mental dan menciptakan representasi grafis, mereka sanggup berpikir tiga dimensi, mampu mencipta ulang dunia visual. Kecerdasan ini dapat ditemukan pada pelukis, pematung, programmer komputer, desainer, arsitek. Berhubungan dengan pelajaran menggambar. Tokoh yang dapat diceritakan berkaitan dengan kecerdasan ini, misalnya Picasso, Walt Disney, Garin Nugroho.
4. Kecerdasan Tubuh/Kinestetik Bentuk kecerdasan ini memungkinkan terjadinya hubungan antara pikiran dan tubuh yang diperlukan untuk berhasil dalam aktivitas2 seperti menari, melakukan pantomim, berolahraga, seni bela diri dan memainkan drama. Sebut saja Michael Jordan, Martha Graham (penari balet), Susi Susanti. Kecerdasan ini berkaitan dengan pejaran olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler seperti menari, bermain teater, pantomim.
5. Kecerdasan Musical/Ritmik Bentuk kecerdasan ini mendengarkan pola musik dan ritmik secara natural dan kemudian dapat memproduksinya. Bentuk kecerdasan ini sangat menyenangkan, karena musik memiliki kapasitas unutk mengubah kesadaran kita, menghilangkan stress dan meningkatkan fungsi otak. Berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Tokoh2 yang sudah mengembangkan kecerdasan ini misalnya Stevie Wonder, Melly Goeslow, Titik Puspa.
6. Kecerdasan Interpersonal Bentuk kecerdasan ini wajib bagi tugas2 ditempat kerja seperti negosiasi dan menyediakan umpan balik atau evaluasi. Berkaitan dengan pelajaran PPKn, sosiologi. Manajer, konselor, terapis, politikus, mediator menunjukkan bentuk kecerdasan ini. Mereka biasanya pintar membaca suasana hati, temperamen, motivasi dan maksud orang lain. Abraham Lincoln dan Mahatma Gadhi memanfaatkan kecerdasan ini untuk mengubah dunia.
7. Kecerdasan Intrapersonal Bentuk kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk memahami dan mengartikulasikan cara kerja terdalam dari karakter dan kepribadian. Kita sering menamai kecerdasan ini dengan kebijaksanaan. Berkaitan dengan jurusan psikologi atau filsafat. Tokoh2 sukses yang dapat dikenalkan untuk memperkaya kecerdasan ini adalah para pemimpin keagamaan dan para psikolog.
8. Kecerdasan Spiritual Bentuk kecerdasan ini dapat dipandang sebagai sebuah kombinasi dan kesadaran interpersonal dan kecerdasan intrapersonal dengan sebuah komponen “nilai” yang ditambahkan padanya. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan rohaniah, yang menuntun diri kita menjadi manusia yang utuh, berada pada bagian yang paling dalam diri kita. Dengan beragamnya kecerdasan manusia, menjadikan peran guru amat penting untuk memberikan arahan pada apa yang cocok dan sesuai bagi para siswanya.


BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan
Ø  Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah
Ø  Kecerdasan spiritual sangat berguna untuk mendukung kesuksesan seseorang. Jadi bukan sekadar berguna untuk menjalin hubungan dengan sesama atau dengan Tuhan.
Ø  Tujuan dari pendidikan matematika pada jenjang pendidikan adalah menekankan pada penataan nalar dan pembentukan kepribadian (sikap) siswa agar dapat menerapkan atau menggunakan matematika dalam kehidupannya.
Ø  Faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya
Ø  Faktor internal meliputi intelegensi, motivasi, kebiasaan, kecemasan, minat, dan sebagainya.
Ø  Faktor-faktor internal tersebut diantaranya adalah faktor intelektif yaitu kecerdasan siswa dan faktor nonintelektif yaitu motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar siswa.
Ø  Kecerdasan (intelegensi) adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Ø  Motivasi berprestasi adalah rangkaian dorongan yang menggerakkan seseoran guntuk melakukan keinginan yang dilandasi adanya tujuan mencapai prestasi yang baik.
Ø  Kebiasaan belajar matematika adalah cara belajar matematika yang telah
dilakukan secara rutin dan berulang-ulang yang bersifat teratur dan seragam
serta tetap dengan sendirinya.
Ø  Prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah
mengalami proses belajar mengajar matematika yang dinyatakan dalam hasil
tes.

Ø  8 kecerdasan dalam pembelajaran:
1.      Kecerdasan Verbal (Bahasa) Bentuk kecerdasan ini dinampakkan oleh kepekaan
2.      Kecerdasan Logika/Matematika Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur.
3.      Kecerdasan Spasial/Visual Bentuk kecerdasan ini umumnya terampil menghasilkan imaji mental dan menciptakan representasi grafis
4.      Kecerdasan Tubuh/Kinestetik Bentuk kecerdasan ini memungkinkan terjadinya hubungan antara pikiran.
5.      Kecerdasan Musical/Ritmik Bentuk kecerdasan ini mendengarkan pola musik dan ritmik secara natural dan kemudian dapat memproduksinya.
6.      Kecerdasan Interpersonal Bentuk kecerdasan ini wajib bagi tugas2 ditempat kerja seperti negosiasi dan menyediakan umpan balik atau evaluasi.
7.      Kecerdasan Intrapersonal Bentuk kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk memahami dan mengartikulasikan cara kerja.
8.      Kecerdasan Spiritual Bentuk kecerdasan ini dapat dipandang sebagai sebuah kombinasi dan kesadaran interpersonal dan kecerdasan intrapersonal





DAFTAR PUSTAKA