Belajar Blog

Senin, 24 Januari 2011

IMAN, AKAL BUDI DAN HATI


” Orang orang yang hidup dalam pelbagai pandangan hidup, pandangan-dunia, sistem filsafat, ideologi dan lain sebagainya, banyak sekali yang berprasangka dan salah pengertian tentang nisbah antara iman dan akal budi. Mereka menyangka, bahwa terdapat suatu jurang yang tak kunjung dapat disebrangi antara iman dan pengenalan, antara iman dan pegetahuan, antara iman dan ilmu pengetahuan, antara iman dan filsafat dst.”1).
                Di antara ahli-ahli ilmu pengetahuan banyak terdapat orang yang setia kepada agamanya dan di kalangan kaum agama banyak yang sama sekali tidak merasa asing dalam dunia ilmu pengetahuan. Akan tetapi tidak sedikit pula ahli ilmu pengetahuan yang tak acuh akan agama, bahkan memusuhinya dan banyak alim ulama yang takut akan ilmu pengetahuan dan terang-terangan mencelanya dan memusuhinya. Karena itu timbul anggapan pada sebagian orang, seakan-akan ada “perang dingin” atau pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan dan sebagaian lagi bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya duduk perkara. 2).
”Masalah tentang hubungan agama dengan ilmu pengetahuan itu terluas untuk dibicarakan dalam sebuah risalah”, kata SOEDEWO P.K. ” akan tetapi terlalu penting untuk didiamkan”.3).
AKAL BUDI
Dalam struktur rohani manusia ada satu potensi yang dinyatakan dengan perkataan ratio (latin), akal (bahasa arab: ‘aqal), budi (bahsa Sansekerta: buddi), akal budi (satu perkataan yang tersusun dari bahasa Arab dan bahasa Sansekerta), nous (bahasa yunani), reason (bahasa Perancis dan Inggris), verstand, vernuft (bahasa belanda) dan Vernunft (bahasa Jerman).
Apakah Akal Budi  itu?
Akal Budi ialah satu potensi dalam rohani manusia yang berkesanggupan untuk mengerti sedikit secara teoritis realita kosmis yang mengelilinginya dalam mana ia sendiri juga termasuk, dan untuk secara praktis merobah dan mempengaruhinya.
Intelegensi manusia hanya dapat meneropong kenyataan kosmos itu untuk taraf tertentu saja. Kosmos yang dimengerti sedikit oleh akal-budi ialah ”Kosmos Noetos”, artinya : kosmos yang dapat dikenal; atau dalam istilah lain yang lebih klasik: ”esse est in intellectu”, artinya: keadaan (yang diciptakan) itu juga hadir dalam pemahaman intelektuil kita atas realitas itu.
Struktur rasionil ini menyanggupkan manusia untuk :
1.       Membentuk pengertian-pengertian,
2.       Merumuskan pendapat-pendapat,
3.       Menarik kesimpulan-kesimpulan,
Struktur rasionil ini bukan saja memberikan kemungkinan kepada manusia untuk menyelami sedikit dari apa yang secara mathematis dapat dibuktikan dan secara eksperimentil dapat dinyatakan itu. Ia bukan saja membuka jalan kepada manusia itu untuk memahami hal-hal yang dapat dihitung, ditimbang, diukur, serta yang dapat diselidiki sebagai objek yang nampak. Rasio juga menyanggupkan manusia itu menjelajahi dunia rohaniah......, seperti yang logis, yang psychis, yang yuridis, yang etis, yang religius dan sebagainya. 4).
AKAL-BUDI DAN BATAS-BATASNYA.
EMMANUEL KANT (1724-1804), seorang filsuf besar Jerman yang masih besar pengaruhnya sampai sekarang dalam pelbagai lapangan, hidup dalam zaman rasionalisme abad ke-18. Semboyannya ialah : ”Sapera aude”- ”Beranikan menggunakan akal-budimu”. Namun dalam bukunya yang terkenal Kritik der theoritische Vernunft, beliau menandaskan, bahwa penyalidikan dengan akal-budi benar dapat meberikan suatu pengetahuan tentang dunia yang nampak itu, tetapi akal-budi itu sendiri tidak sanggup memberikan Kepastian-kepastian, dan bahwa berkenaan dengan pernyataan-pernyataan terdalam tentang Allah, manusia, dunia dan akhirat, akal budi manusia itu tidak mungkin memperoleh kepastian-kepastian, melainkan hidup dalam pengandain-pengandaian, ”postulat-postulat”  5). KANT yang disebut sebagai ”raksasa ahli pikir” itu, insaf, bahwa hakikat itu tidak dapat dicapai dengan akal yang kekuatannya terbatas itu. Baru akan bertemu bila akal dipisahkan dari diri, dan dia dijadikan orang ketiga untuk mempertemukan si aku dengan si dia! Padahal itu mustahil. Benar juga yang dikatakannya, bahwasanya perkara besar itu ada, tetapi letaknya adalah diatas akal (trancendental). Sebab itu berkatalah beliau : ”Ich musste das Wissen aufheben, aum zum Glauben Platz zu bekommen”.- ”Saya terpakasa berhenti sejenak dari pengetahuan, supaya saya sediakan tempat buat iman”. 6).
KANT berpendapat bahwa logika tak dapat membawa keyakinan tentang adanya Tuhan oleh karena itu ia pergi kepada perasaan. Perasaaan inilah yang dapat membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahwa Tuhan itu mesti ada. Kalau akal memberi kebebasan bagi manusia untuk percaya atau tidak percaya pada adanya Tuhan, hati sanubari memberi perintah kepadanya untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. 7).
                KECENDERUNGAN MELEWATI BATAS PADA AKAL-BUDI.
                ”Rasio manusia itu”, kata Dr.J. VERKUYL pula,” cenderung sekali melewati batas-batas kesanggupannya dan menjadi tinggi hati serta mengabdi kepada semu dan dusta. Ia bertindak seakan-akan semacam dewa, mengangkat dirinya menjadi ukuran yang termulia dan terakhir, bertindak selaku hakim tertinggi atas kebenaran.”
                ”Sutau ucapan yang menyolok bertalian dengan semu dan hal melebih-lebihkan nilai rasio ini kita jumpai pada DESCARTES (kurang lebih 1650). Ia adalah anak zaman Renaissance dan Humanisme, dan dalam sejarah filsafat ia disebut bapak dari rasionalisme. Dalilnya yang termasyhur berbunyi : ”Cogito ergo Sum”-” Aku berfikir, jadi aku ada”. Dengan itu ia maksud, bahwa kal budi itu, pemikiran (cogitare) itu, adalah sumber, khalik, ukuran serta norma dari segala kebenaran tentang Allah, manusia, dan dunia. Ia yakin bahwa rasio manusia itu, apabila mengikuti hukum-hukum logikanya sendiri, sanggup dari dirinya memberi jawab atas pertanyaaan-pertanyaan yang terdalam dari hati manusia tentang Allah, manusia dan dunia. Rasio itu ia tempatkan pada tempat yang tertinggi, dan ia buat rasio itu menjadi yang berdaulat. Ia lupa, bahwa kita seharusnya mengatakan : ”Deus est, ergo sum”- ”Tuhan itu ada, jadi aku ada”. 8).
                JOLIVET dalam Le Thomisme et la critique de la connaisance : ”ce n’ est pas parce que je pense que je suis, mais c’est parce que je suis que je pense”.-”Bukanlah karena aku berfikir maka aku ada, melainkan karena aku ada maka aku berfikir”. 9).
                (Ketika kita berbincang tentang masalah kepercayaan dalam renungan yang lalu, antara lain kita singgung ironi pada RENE DESCARTES ini. Se-otak-otakanya DESCARTES, namun beliau tidak dapat melepaskan dirinya sama sekali dari satu kepercayaan; sekurang-kurangnya dalam hal ini dia percaya kepada rasio-nya).
                Dengan menggunakan rasionya manusia itu membuat bagi dirinya dewa-dewa dan dewi-dewi, menyusun sendiri suatu gambaran daripada Allah, yang bercorak segala rupa, Pantheistis, Polytheistis, Monotheistis dsb. Bahkan dapat pula terjadi, bahwa manusia itu menggunakan rasionya untuk membuktikan, bahwa Allah itu ada atau bahwa ia tidak ada atau bahwa Allah itu tidak dapat dikenal. Padahal, Allah itu bukanlah suatu objek pengenalan seperti tiap-tiap benda yang ada. Satu-satunya yang dapat mengenal Allah ialah Allah. Dan satu-satunya kemungkinan untuk mengenali Allah ialah pernyataan-diri Allah. Pernyataan itulah satu-satunya sumber pengetahuan kita tentang Allah. Rasio itu tidak dapat menciptakan, menghasilkan, membangkitkan Pernyataan itu. Terhadap Allah satu-satunya sikap yang layak bagi manusia ialah : dengar-dengaran, percaya dan patuh. 10).
                D.C. MULDER. ”Hal itu melebihi akal manusia. Tidak dapat dibuktikan bahwa Allah itu ada (dan bukti-bukti yang dikemukakan itu memang tidak meyakinkan orang yang belum yakin dahulu); tetapi juga tidak dapat dibuktikan bahwa Allah itu tidak ada. Inilah soal keyakinan, bukan soal akal, ilmu atau bukti. Allah diterima manusia dengan kepercayaan. Akan tetapi janganlah disimpulkan : jadi kepercayaan itu bertentangan dengan akal. Bukan demikian soalnya. Kepercayaan itu tidak bertentangan dengan akal, melainkan kepercayaan itu melebihi akal dan mendahului akal; apalagi kepercayaan atau keyakinan itu mempengaruhi akal”. 11).
                ”Akal itu adalah sebuah timbangan yang cermat, yang hasilnya adalah pasti dan dapat dipercaya”, demikian tulis IBN KHALDUN (1332-1406) seorang pujangga dan filsuf besar muslim dan bapak sosiologi dalam bukunya yang terkenal Muqaddimah Jilid III muka 29, ”tetapi mempergunakan akal itu untuk menimbang soal-soal yang berhubungan dengan keesaan Allah, atau hidup di akhirat kelak, atau hakikat kenabian (nubuwwah), atau hakikat sifat-sifat ketuhanan, atau lain-lain soal yang terletak di luar kesanggupan akal, adalah sama dengan mencoba mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung. Ini tidaklah berarti bahwa timbangan itu sendiri tidak boleh dipercaya.
                Soal yang sebenarnya ialah, bahwa akal itu mempunyai batas-batas yang dengan keras membeatsinya; oleh karena itu tidak bisa diharapkan bahwa akal itu dapat memahami Allah dan sifat-sifat-Nya, karena otak hanyalah satu dari beberapa atom yang diciptakan oleh Alllah ....” 12).
                ALAM SEMESTA : BUKU TERBUKA?
                Syahdan tersebutlah sebuah buku berjudul History of Philosophy: Eastern and Western, terdiri atas dua volume, yang di-editori oleh SARVEPALLI RADHAKRISHNAN, seorang filsuf dan negarawan India. Yang menarik ialah, buku tersebut diberi  Introduction oleh MAULANA ABUL KALAM AZAD, seorang filsuf dan negarawan India beragama islam dan ditutup dengan Concluding Survey oleh RADHAKRISHNAN, sang editor.
                Dalam Introduction-nya, AZAD mengawali tulisannya dengan : ”A persian  poet has compared the universe to an aold manuscript of which the first and the last pages have been lost. It is no longer possible to say how the book began, nor do we know how it is likely to end”.- (”Seorang pengair persia mengibaratkan Alam Semesta ini sebagai menuskrip kuna, yang bagian awal dan akhirnya sirna. Sehingga tak dapat lagi dikatakan betapa awal buku tersebut, tak dapat pula dikatakan betapa pula kiranya akhirnya.”)
                Ma zi aghnaz o zi anjam-i-jahan bi khabar-im
                Awwal-O-akhir-i-in khna kitab uftad ast 13).
                Sementara itu RADHAKRISHNAN menulis dalam Concluding Surveynya :
                ”While the universe is a developing process, it is not self explanatory. Science can trace the facts and their interconnections but cannot offer any explanation of the world it attempts to discribe. The Bhagavat Gita says : Beginnings and ends are all unknown; we only know the middle which is in constant flux. (Alam semesta ini dalam proses mengembang, tiada penjelasan sendiri. Ilmu pengetahuan dapat menjajagi jejak fafta dan antar-hubungan fakta tersebut, tetapi tidak dapat mengemukakan penjelasan tentang alam semesta yang dicoba dilukiskannya itu. Bhagavat Gita berkata: Baik permulaan maupun akhir tidak diketahui, kita hanya mengetahui tengahnya dalam aliran yang tetap):
                Avyaktadini bhutani vyaktamadhyani bharata
                Avyaktani dhanany eva tatra ka parivedavana. 14).
                KARL BARTH (lahir 1888), guru besar teologi bangsa Jerman, berkata bahwa dunia itu .... toh masih merupakan naskah yang sedikit banyakanya dapat dibaca, dan bahwa manusia itu sebagai tujuan dunia adalah serentak pembaca dan penafsir naskah ini 15).
                ALBERT EINSTEIN memberikan penghormatan, yang akan meniadakan setiap kesangsian dari ahli-ahli filsafat yang bersaingan, kepada SIR ISAAC NEWTON (1642-1725), ahli ilmu pasti, ahli fisika dan astronomi bangsa Inggiris, yang mempunyai reputasi dalam bidang garapannya itu . EINSTEIN berkata : Nature for him was an open book whose letters he could read without effort. In one person he combined the experimenter, the theorist, the mechanic and, not least, he artist in expression”. (Baginya (bagi Newton – E.S.A.) alam semesta adalah sebuah buku terbuka, yang hurf-hurufnya dapat dibacanya tanpa susah payah. Dalam satu pribadi dikumpulkannya : ahli eksperimen, ahli teori, ahli mekanik dan tidak kurang dari itu seorang seniman dalam pengucapannya).
                Bagamimana penilaian NEWTON terhadap prestasinya sendiri?
                ”If i have seen farther than other men”, NEWTON sekali berkata ”it is by standing on the shoulders of giants” – ” Apabila saya dapat melihat lebih jauh dari orang-orang lain, itu berkat saya berdiri di atas bahu para raksasa”. Yang dimaksudkan beliau dengan para raksasa ialah para raksasa dalam bidang ilmu pengatahuan yang mendahuluinya, seperti : COPERNICUS, TYCHO, BRAHE, KEPLER dan GALILEO.
                Penilaian NEWTON sendiri atas kariernya, yang dibuatnya pada masa akhir dari suatu hidup yang panjang, adalah sangat khas bagi sifatnya yang rendah hati:” I do not know what I may appear to the world, but to my self I have seen to have been only like a boy on the seashore, and diverting myself in now and finding a smoother pebble or a prettier shell than ordinary, while the great ocean of truth lay all undiscovered before me” – ”Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya dalam mata dunia, namun bagi saya sendiri, saya hanya ibarat seorang anak kecil berdiri di tepi pantai, yang menghibur saya dengan sekali-sekali menemukan sebuah karang yang lebih halus atau sebuah lokan yang lebih elok dari yang biasa; sedangkan samudera kebenaran terbentang di depan saya dengan tiada terselami sama sekali.” 16).
                ”Thus gradually philosophers and scientist arrived at the startling conclusion that since every object is simply the sum of its qualities, and since qualities exist only in the mind, the whole objective universe of matter and energy, atoms and stars, does not exist expect as construction of the consciousness, an edifice of conventional symbols shaped by the senses of man” 17). Lama-kelamaan pada filsuf dan ahli ilmu pengetahuan alam mencapai suatu kesimpulan yang mengejutkan: karena tiap-tiap benda adalah jumlah sifat-sifatnya belaka dan karena sifat-sifat itu hanya ada dalam batin saja, maka seluruh alam obyektif, yang tersusun dari materi dan enersi, atom-atom dan bintang-bintang, hanya ada sebagai suatu susunan yang dibangun oleh kesadaran, suatu bangunan yang tersusun dari lambang-lambang yang disepakati dan dibentuk oleh indria-indria manusia 18). Demikian ditulis oleh LINCOLN BARNETT ketika beliau berbicara tentang The Universe and Dr Einsten.
                Pada bagian lain beliau menulis pula : For only world man can truly know is the world created for him by his senses. If he expunges all the impressions which they translate and memory stores, nothing is left” 19). – Satu-satunya alam yang benar-benar dapat diketahui manusia ialah alam yang diciptakan baginya oleh indria-indrianya. Jika dia hapuskan sekalian kesan, yang disalin oleh idria-indria dan disimpan oleh ingatan itu, maka suatu pun tidak ada yang tinggal 20).
                SIR ARTHUR EDDINGTON (1882-1944), seorang ahli binatang yang sangat termahsyur bangsa inggris, berkata: ”Kita menemukan bekas kaki yang ganjil pada pantai suatu yang tak dikenal. Kita rekakan teori yang muskil-muskil, satu demi satu, untuk menerangkan asalnya. Akhirnya berhasillah kita menyusun kembali makhluk yang meninggalkan bekas kaki itu. Dan ah, itu bekas kaki kita sendiri.” 21).
                LINCOLN BARNETT. ”Realization that our whole knowledge of the universe is simply a residue of impressions clouded by our imperfect senses makes the quest for reality seem hopeless” 22). – Sadar bahwa pengetahuan kita tentang alam semesta itu hanyalah sisa dari kesan-kesan yang terhijab oleh indra kita yang serba tidak sempurna, membawa kepada kesimpulan, bahwa: menangkap realitas itu tak dapat diharapkan.
                JOSEPH V. KOPP mencatat pandangan TEILHARD DE CHARDIN mengenal kosmos sebagai berikut: ”Dalam kenyataan, pandangan kita tentang kosmos hanya dapat diibaratkan suatu potongan tipis dari penampang lintang sebuah pohon, yang akrnya jauh di masa lampau dan cabang-cabangnya jauh ke ketinggian masa mendatang. Seluruh dunia di masa lampau, di masa sekarang dan di masa mendatang akan selalu merupakan suatu masa yang terus-menerus berkembang. Segala yang ada di dunia berasal dari beberapa unsur yang mengubah diri sendiri sesuai dengan hukum perkembangan ke arah keadaan yang semakin kompleks”. 23).
                WILLIAM SHAKESPEARE (1564-1616), penyair dan dramawan bangsa Inggris, melalui mulut Hamlet Prince of Denmark berkata:
                There are more things in heaven and earth, Horatio
                Than are dreamt of in your philosophy
                (Adalah lebih banyak hal di langit dan di bumi, Horatio
                 Daripada yang diimpikan dalam filsafatmu).
                Dari uraian-uraian yang tertera di atas bertambah jelaslah, bahwa potensi yang ada pada manusia itu sangatlah terbatas untuk menangkap realitas alam semesta yang nampaknya demikian real itu saja pun. Konon apalagi menangkap alam lainnya yang im-material. Lebih-lebih lagi mendekati hakikat Tuhan Yang Maha Mutlak dengan potensi manusia yang serba nisbi ini.
                UJUNG AKAL-BUDI: AWAL IMAN
                FRANCIS BALCON (1561-1626), pelopor filsafat baru, bangsa Inggris, menulis: ”A little philosophy inclineth man’s mind to a theism; but depth philosophy bringeth men’s minds about to religion” 24). – Filsafat yang picik membawa pendapat manusia cenderung kepada atheisme; tetapi filsafat yang dalam membawa pendapat manusia kepada agama.
                Waktu orang-orang komunis Rusia dapat membuat Sputnik, seluruh dunia geger karena hebatnya propaganda mereka. Surat-surat kabar di Rusia dan di negara-negara Komunis lainnya, begitu pula di indonesia (pada tahun 1959 – E.S.A.), memuat kejadian itu dengan huruf-huruf besar, ”satu kemenangan dalam pertandingan melawan Tuhan”. Dengan rasa bangga mereka berkata:
                ”And there we have our Sputnik!
                No secret a new born planet.
                Modest in its size; but it is made by us,
                Not by the god of the old Testament!”
                (Lihatlah! Inilah Sputnik kami!
                Jelas, ini adalah planit yang baru lahir.
                Sesederhana dalam bentuknya; tetapi ini buatan kami,
                Bukan buatan tuhan dari perjanjian lama!) 25).
                Dr WERNER VON BRAUN, Direktur N.A.S.A. (National Auronautical and Space Administration) salah seorang pencipta dan yang ikut memperkembangkan roket yang meluncurkan satelit pertama Amerika Serikat, beliau menyatakan:
                ”In our modern world, many people seem to feel that our rapid advances in the field of sciences render such things as religious belief untimely and old fashioned. They wonder why we should be satisfied in believing something when science tells us that we know so many things. The simple answer to this contention is that we are confronted with many more mysteries of nature today than when the age of scientific enlightenment began. With every new answer unfolded, science has consistently discovered at least three new questions.
                The answer indicate that anything as well ordered and prefectly created as in our earth and universe must have a Maker, a Master Designer. Anything so orderly, so perfect, so precisely balanced, so majestic as this creation can only be the product of a Divine Idea”.
                ”Dalam dunia modern, banyak orang mengira bahwa kemajuan-kemajuan kita yang pesat di bidang ilmu pengetahuan membuat hal-hal seperti kepercayaan agama menjadi tak cocok dengan zaman (sudah kuno). Mereka bertanya apakah kita harus puas untuk mempercayai sesuatu di mana melalui ilmu pengetahuan kita mengetahui sedemikian banyak hal. Jawabnya terhadap ini adalah bahwa kita sekarang dihadapakan pada masa tatkala lebih banyak misteria-misteria daripada masa tatkala manusia mulai berfikir secara ilmiah. Setiap kali ada satu masalah diketahui jawabnya, ilmu pengetahuan menemukan lagi sekurang-kurangnya tiga masalah baru.
                Jawaban-jawabannya memberi petunjuk, bahwa sesuatu yang disusun demikian rapi seperti bumi dan alam semesta kita, tentu ada Pembuatnya, ada Perencanannya. Sesuatu yang sedemikian sempurna dan agungnya tak boleh tidak adalah hasil dari suatu Cita Ilahi.” 26).
                WILL DURANT dalam bukunya Pleasure of Philosophy merekam Sir JAMES, melukiskan kesukaran-kesukarannya ketika dia menghadapi masalah Tuhan, yang namun pada akhirnya menyatakan : ”Men will always believe in God, because idea of power united with  perfection satisfied and stimulates the soul; it is pleasent to be friends with omnipotence”. – Yah, manusia akan selau percaya kepada Tuhan, karena cita tentang kekuasaan yang disatukan dengan kesempurnaan memberi kepuasan dan kehidupan pada jiwa; adalah senang dan nikmat untuk menjadi sahabat Yang Maha Kuasa. 27).
                J.W.N. SULLIVAN sampai kepada kesimpulan, bahwa: ”Science is persued not only because of practical use, but also it leads to highest conciousness, and that’s cosmological religious experience” 28). – Ilmu pengatahuan itu dicari bukan sekedar untuk penggunaan praktis, melainkan juga untuk membimbing kita ke arah kesadaran tertinggi, yaitu yang disebut pengalaman keagamaan yang kosmologis.
                FAKTOR HATI DI SAMPING AKAL-BUDI
                BLAISE PASCAL (1623-1662), filsuf dan ahli ilmu pasti bangsa Perancis, salah sorang pendasar hitungan dugaan (hitungan kemungkinan). Di lapangan imu pasti ia nyata seorang geni; meskipun begitu kepercayaanya terbatas terhadap akal manusia; filsafatnya pun bercorak mistik: kebenaran hanya dapat kita ketahui, jika kita mau mendengarkan suara hati kita (”logique du coeur”), demikian ajaran PASCAL 29).
                Dalam abad ke-17 PASCAL-lah yang secara tajam sekali memahami penyalah-gunaan akal-budi ini. PASCAL adalah salah seorang yang tertajam otaknya dari antara para cerdik-cendekiawan dalam abad itu. Dengan keulungan berpikir yang jarang ada bandingannya. Tetapi justru dia ini lebih menyadari bahwa di balik akal-budi (la raison) itu terletak hati (le coeur) manusia. ”Le coeur a ses raisons que la raison ne connait pas”. – ”Hati itu mempunyai alasan-alasannya yang tak dimengerti akal-budi itu”, demikianlah tulisannya dalam ”Pensees”-nya. 30).
                PESAN MOHAMMAD HATTA
                Bagaiman hubungan hati dan agama?
                Untuk ini baiklah kita ketahui keterangan MOHAMMAD HATTA. Berbicara tentang hubungan ilmu dan agama, beliau mengemukakan: ”Ilmu mengenai soal pengetahuan; agama soal kepercayaan. Pengetahuan dan Kepercayaan adalah dua macam sikap yang berlainan dari pada keinsafan manusia. Pelita ilmu terletak di otak, pelita agama terletak di hati.”
                ”Boleh dikatakan : ilmu bermula dengan sikap tidak percaya. Agama bermula dengan percaya. Ia menerima suatu kebenaran dengan tidak mau dibantah. Kebenaran agama bersifat absolut. Percaya adalah pangkal dan tujuan pengabdian daripada agama.”
                ”Sebagaimana ilmu yang dipahamkan dapat memperdalam keyakinan agama, demikian juga kepercayaan agama dapat memperkuat keyakinan ilmu dalam menuju cita-citanya”.
                ”Ilmu, terutama ilmu alam dan ilmu teknik, telah mencapai tingkat kemjuan yang begitu tinggi, sehingga apabila tidak dikekang oleh agama, ia mudah menjadi demon yang sehebat-hebatnya”.
                Setelah mengutip jeritan jiwa seorang pujangga besar ALBERT EINSTEIN terhadap kemajuan ilmu, yang sebagian besar diciptakannya sendiri, (yang nanti akan kita kutipkan pula dalam pertemuan mendatang), Bung HATTA menulis pula:
                ”Sekian ALBERT EINSTEIN! Ucapan tegas ini menyatakan, bahwa pikiran yang menciptakan ilmu dikontrole oleh hati yang memeluk perasaan agama, yang memberikan dasar etik kepada pemakaian pendapat-pendapat ilmu dalam praktik hidup. Tujuan ilmu harus sejalan dengan tujuan agama, yaitu mencapai kesejahteraan umat manusia. Lmu adalah alat; tujuan ialah kemakmuran jasmani dan rohani.” 31).
                Sebagai panutup bab ini baiklah kita renungkan firman Allah swt. Dalam al-Qur-anu ’1-Karim:”Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakan mereka untuk memahami 32). Dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan mereka untuk melihat 33) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengarkan 34). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Surah 7: al-A’raf ayat 179).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar