BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Memori
Fungsi
kesadaran dan memori sebenarnya menjadi satu kesatuan aktivitas di dalam otak
manusia. Karena reaksi kesadaran yang timbul tidak terlepas dari memori apa saja
yang telah dimilikinya dan fenomenanya dikenal sebagai “Conscious Memory” atau
sadar memori.
Memori dimaksud adalah suatu kemampuan
untuk mengingat kembali atas rekaman yang pernah dibuat oleh otak. Aktivitasnya
tergantung kepada kapasitas fungsional sistem komunikasi antar saraf di otak, misalnya di daerah kortex serebri dan
subkortex untuk memori jangka pendek. Adapun bagian-bagian otak yang terlibat
dalam memori jangka pendek adalah kortek serebri, thalamus, basal ganglia,
substansia nigra, sistem aktivasi retikuler dan sistem limbik.
Dari perumpamaan
tersebut dapat kita ambil beberapa kesimpulan mengenai memori, yaitu:
1.
Memori tergantung pada persepsi
atau pengalaman,
2.
Pengalaman meninggalkan jejak di
dalam otak kita,
3.
Terdapat perbedaan memory pada individu
yang satu dengan individu yang lain (Individual differences),
4.
Disamping ingat lupa juga akan
muncul,
5.
Beberapa pengalaman yang tidak
meninggalkan impresi tertentu umumnya tidak disimpan sehingga muncul kelupaan,
Dari beberapa
kesimpulan diatas, kita dapat memahami bahwa ingatan tidak hanya kemampuan
untuk menyimpan apa yang telah pernah dialaminya saja, tetapi juga termasuk
kemampuan untuk menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali apa yang
dialaminya (Walgito, 1994).
Semua
pusat fungsional otak tersebut saling bekerja sama satu dengan lainnya dan
membentuk satu sirkuit komunikasi antar saraf. Sirkuit komunikasi tersebut
membentuk alur memori jangka pendek yang dapat dipelajari melalui skema 1.1.
Skema 1.1.: Alur Rangsang Memori Jangka Pendek
Pi = Pancaindra; LS = Limbik Sistem
Kortek
limbik, Hippokampal, Amigdala, Basal ganglia dan Hipothalamus membangun sistem
limbik yang sangat berpengaruh pada fenomena mengingat kembali walaupun pusat
aktivitas memori itu lebih terfokus pada daerah hippokampal.
Jika
suatu informasi yang masuk ke otak melalui pancaindra maka informasi tersebut
dengan segera akan diamplikasikan di
daerah Kortek Serebri. Selanjutnya
informasi akan dikomunikasikan ke daerak subkortex dimana terdapat sejumlah
pusat fungsionil untuk membantu merekam apa saja yang pernah dikerjakannya.
Rekaman tersebut juga akan dikirim kembali ke kortex serebri untuk dianalisa
dan kemudian direspon dalam bentuk perilku dan tingkah laku tertentu yang
mungkin dapat disertai oleh bentuk dan warna emosi serta afektifnya. Proses
pengulangan informasi yang sama akan membangun alur memori sebagai upaya
konsolidasi rekaman, khususnya di daerah pusat memorinya yaitu daerah Hippokampal,
karena hippokampal cenderung mengeluarkan cetusan impuls memori yang
berulang-ulang terjadi dengan sendirinya.
Manusia
selalu membangun “Conscious memory”
selama yang bersangkutan memahami apa yang sedang dikerjakannya, tetapi jika
saat itu dia mengalmi kebingunan dalam periode yang singkat saja maka yang
bersangkutan maka akan kehilangan memori dari apa yang telah dan sedang
dikerjakannya, sehingga harus berlatih lagi dari semula. Mengapa demikian? Karena yang bersangkutan tidak mampu membangun
memori jangka panjang sehingga pada saat kebingungan maka harus dipelajarinya
kembali dari awal.
Mengingat
bentuk dan mekanisme komunikasi antar saraf, maka fenomena memori itu sendiri
dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa proses yang terdapat di:
1.
Badan sel dan ujung saraf
sinaptik, yaitu:
a.
Kecepatan proses transalasi
neurotransmitter (proses protein sintesis);
b.
Kemampuan daya angkut
neurotransmitter di sepanjang axonal saraf;
c.
Kecepatan proses pelepasan
neurotransmitter pada ujung saraf axonal.
2.
Kepekaan reseptor sarafnya
terhadap neurotransmitternya.
3.
Mekanisme penghancuran
neurotranmitter di dalam celah sinaf.
4.
Keadaan sinaf.
5.
Jalur lintasan memori
6.
Keadaan pusat aktivitas memorinya
(hippokampal).
Menurut Eichenbaum maka jika
terdapat kerusakan di daerah hippokampus maka fenomena episodik memori yang
hilang dan akibatnya maka seseorang akan kehilangan kemampuannya untuk
mengembangkan memorinya. Dampaknya maka yang bersangkutan tidak mampu mengenali
sesuatu benda dan memilih suatu benda tertentu. Dengan kata lain maka yang
bersangkutan kehilangan deklaratif memorinya. Tetapi jika Parahippokampus saja
yang rusak maka kemungkinan seseorang akan kehilangan Semantic memorinya dan
berarti yang bersangkutan tidak mapu lagi mengumpulkan pengetahuan yang
bersifat universal.
Pada dasarnya
daerah pusat aktivitas memori terletak di daerah Parahippokampus dan formasi
hippokampal, yaitu suatu daerah yang menjadi bagian dari lobus temporalis otak
yang melipat kebagian dalam (media
temporal lobe) dan terdiri dari hippokampus, gyrus dentata dan subikulum
(lihat Gambar 1.1).
Setiap
informasi yang diterima akan membuat alur sirkuit memori diantara kortex,
subkortex, sistem limbik dan pusat memorinya (formasi hippokampal dan
parahippokampus). Demikian juga informasi yang berbeda juga akan membentuk
reaksi memori yang lain pada alur sirkuit memorinya. Fenomena ini akan berjalan
secara kontinyu dan sewaktu-waktu dapat dibangkitkan kembali melalui jalurnya
sendiri-sendiri. Ada yang menduga bahwa kortex otak depan mempunyai peranan yang
lebih besar dalam proses memperbesar memori dan pengembangannya. Hal ini
disebabkan karena fungisinya yang selalu mengorganisasikan semua informasi yang
masuk ke dalam otak dan letaknya yang dekat dengan kortex limbik dan
berhubungan dengan thalamus. Mengapa demikian? Karena jika seseorang diberikan
tugas untuk mengingat sesuatu maka pada hasil pemeriksaannya dengan alat yang dikenal dengan Possitron Emissiontomography maka di daerah tersebut menunjukan
aktivitas metabolisme yang meningkat sedangkan daerah lainnya tidak demikian.
Keadaan itu ditandai dengan adanya peningkatan jumlah aliran darah yang menuju
ke daerah tersebut yang dapat diartikan sebagai tanda bahwa di daerah itu
terjadi kenaikan aktivitas metabolisme. Dan jika daerah tersebut direkam dengan
alat elekroencephalograpy maka terlihat aktivitas potensial listrik daerah
tersebut meningkat.
Dengan
mamperhatikan uraian di atas maka memori dapat berlangsung melalui tahapan
berikut ini yaitu:
1.
Tahap Pertama: Tahap menerima informasi.
Hampir semua informasi yang masuk ke otak akan diolah dan diorganisasikan di
krotex otak depan (pusat peningkatan pola pikir rasional) dan kemudian hasilnya
akan diinformasikan ke kortex motoris untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan
informasi.
2.
Tahap Kedua : Tahap memformulasikan,
menggandakan dan menyimpan informasi. Hampir semua informasi yang sudah masuk
ke dalam otak akan membangun alur sirkuit memori untuk diformulasikan dan dikondisikannya
agar kelak mudah untuk mengingat kembali. Pada tahap ini maka terbentuklah
suatu alur sirkuit informasi yang berlangsung berulang-ulang dan kontinyu dalam
menyampaikan informasi bolak-balik diantara pusat-pusat fungsionilnya.
3.
Tahap Tiga : Tahap mengingat kembali informasi
yang telah diformulasikan dan dikonsolidasikannya. Jika ada suatu rangsangan
untuk mengingat kembali maka memori yang dimaksud akan dapat dimunculkan
kembali.
Berkaitan dengan
memori maka belajar adalah suatu
aktivitas yang nyata untuk menciptakan alur sirkuit memori diantara Kortex:
-
Serebri (Kortex otak depan, Kotex
Pancaindra, Kortex limbik dan Kortex Wernick’s),
-
Subkortex (thalamus, substantia
nigra, basal ganglia).
-
Formasi hippokampal.
-
Parahippokampal.
sebagai contoh adalah jika
seseorang mendapat serangan stroke pada otak sebelah kiri dan merusak fungsi
Kortex Wernick’s maka orang yang bersangkutan tidak mungkin dapat mengungkapkan
memorinya dalam hal memilih dan menginterpretasikan kata dan kalimat dengan
benar.
-
Jika
yang tidak berfungsi kortex otak depan maka yang bersangkutan tidak dapat
memformulasikan dan mengkonsolidasikan memorinya dan terjadilah fenomena anterograde amnesia.
-
Jika daerah formasi hippokampal dan Parahippokampal yang tidak
berfungsi maka yang bersangkutan kehilangan kemampuan
untuk menyimpan dan membangkitkan kembali memorinya dan fenomena ini dikenal sebagai amnesia.
-
Pada gegar otak dan electroshock therapy, maka
seseorang akan kehilangan memori atas kejadian yang mendahuluinya. Fenomena ini dikenal sebagai Retrograde
amnesia.
Dementia Senilis adalah suatu
bentuk penyakit degenerasi neuronal di oyak manusia pada masa lanjut usia
(lansia) dan biasanya terjadi pada usia 65 tahun ke atas tetapi dapat juga
terjadi pada usia yang lebih dini.
Proses degenerasi
sel saraf otak pada dementia senilis terjadi pada lapisan ketiga Kortex serebri
bagian luar dan gejalanya adalah ditandai oleh adanya proliferasi sel
astrocytes, meningkatnya proses gliosis dan menyusutnya sejumlah dendrite sel
sarafnya. Di sisi yang lain dijumpai perubahan-perubahan fisiologis yang berupa
gagalnya fungsi-fungsi sinaptik dan perubahan-perubahan biokimianya yaitu
berkurangnya kholinasetil Transferase (CAT) pada ujung-ujung saraf axonalnya
dan berkurangnya aktivitas biosontesa neurotransmitternya. Dengan kata lain bahwa di dalam otak terjadi kegagalan fungsional
jalur kolinergik, khususnya pada jalur yang memelihara fungsi memori.
Gejala utamanya adalah hilangnya
kemampuan mengingat (memori) dan dengan disertai gejala lainnya seperti
gangguan perilaku dan tingkah laku, emosi dan afeknya seperti misalnya:
-
timbul kegelisahan rasa hati (rasa
cemas),
-
Gangguan mood (gampang
tersinggung),
-
Terjadi Depresi,
-
Halusinasi,
-
Delusi,
-
Insight menurun dan kadang-kadang
dijumpai berperilaku anti sosial dan jika terdapat gangguan proses berfikir
yang menyebabkan yang bersangkutan sukar belajar dan menjadi pelupa atas
hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam
buku-buku Psychiatry maka Dementia diartikan
sebagai kegagalan umum pada proses intelektual, memori dan personality
tanpa disertai gangguan umum pada proses kesadaran (Consciousness) sedangkan
Dementia senilis dikenal juga sebagai Dementia Alzheimer atau Dementia Senilis
Alzheimer’s Type atau penyakit Alzheimer yang dikenal pertama kali pada tahun 1845 oleh Esquirol dalam bukunya
“Des Maldies Mentales”.
Adapun
yang menjadi faktor etiologi adalah:
-
proses menua,
-
Trauma Kapitis,
-
Tumor otak,
-
Multiple infarct pembuluh darah
otak,
-
Uremla,
-
Keracunan : Alkohol, timah, arsen,
thalium dan kekurangan vitamin B1, B6, B12,
-
Dan adanya anoxia karena kegagalan
proses pernapasan dan kelainan genetik (Alzheimer DNA).
Penyakit lainnya yang menyerupai Dementia Alzheimer
adalah Pick’s disease atau Dementia Pick’s yang
disebabkan oleh adanya degenerasi saraf otak bagian lobus frontalis dan lobus
temporalis saja.
Pengobatan Dementia Alzheimer oleh dokter biasanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan memorinya dengan memberikan
sejumlah Physostigmin dan Neostigmin dimana keduanya adalah anti Asetilkolin
Esterase dan menyebabkan konsentrasi Asetilkolin meningkat di dalam sinaps
jalur kolinergiknya dan dapat diberikan Hydergine (Derivate Ergotamin) untuk
memperbaiki sistem sirkulasi darah di dalam otak. Di sisi lain perlu diberikan
diet dan perawatan yang memadai dan jika terdapat gejala depresi maka dapa
diberikan Amitriptylin dan rasa cemasnya dapat diberikan haloperidol,
thioridazine atau promazine.
BAB II
TEORI MENGENAI MEMORI
Dalam lingkup ilmu Psikologi, ada beberapa teori
mengenai Memori yang dikemukakan oleh para ahli.
Di bawah ini akan
dibahas beberapa dari teori-teori tersebut:
2.1 ASSOCIATION MODEL (MODEL
ASOSIASI)
Teori awal mengenai Memori dikenal sebagai Association Model (Model Asosiasi).
Menurut model ini, memori merupakan hasil dari koneksi mental antara ide dengan
konsep. Tokoh yang terkenal mendukung
teori ini antara lain adalah Ebbinghaus yang melakukan beberapa penelitian,
antara lain mengenai fungsi lupa serta savings. Grafik di bawah
menunjukkan salah satu hasil penelitian yang menunjukkan tingkat retensi yang
makin rendah dengan berjalannya waktu.

Kemampuan menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali
dikenal dengan istilah :
- Encoding = Pengkodean terhadap apa yang dipersepsi, yaitu proses
menerima.
- Storage = Penyimpanan.
- Retrieval = Pemulihan kembali terhadap apa yang telah dialami atau
dipelajari sebelumnya.
Teori yang paling
banyak diterima oleh para ahli adalah teori tentang tiga proses memori, seperti
yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Proses Encoding (Pengkodean terhadap
apa yang dipersepsi dengan cara mengubah menjadi simbol-simbol atau
gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada
organisme). Jadi Encoding merupakan suatu
proses mengubah sifat suatu informasi ke dalam bentuk
yang sesuai dengan sifat-sifat memori organisme. Proses ini sangat mempengaruhi
lamanya suatu informasi disimpan dalam memori.
Proses perubahan informasi ini dapat terjadi dengan
dua cara, yaitu :
a.
Tidak sengaja,
yaitu apabila hal-hal yang diterima oleh inderanya dimasukan dengan tidak sengaja ke dalam ingatannya.
Contoh konkritnya dapat kita lihat pada anak-anak yang umumnya menyimpan
pengalaman yang tidak di sengaja, misalnya bahwa ia akan mendapat apa yang
diinginkan bila ia menangis keras-keras sambil berguling-guling.
b.
Sengaja, yaitu bila
individu dengan sengaja memasukan pengalaman dan pengetahuan ke dalam
ingatannya. Contohnya orang yang bersekolah dimana ia memasukkan segala hal
yang dipelajarinya di bangku sekolah dengan sengaja.
Berdasarkan beberapa
penelitian, ternyata ada perbedaan kemampuan pada individu yang satu dengan
individu yang lain dalam memasukan informasi yang diterimanya. Hal ini
berkaitan dengan Memory Span dari masing-masing individu (kemampuan memori).
2.
Proses Storage (penyimpanan terhadap apa yang telah diproses
dalam encoding). Proses storage ini disebut juga dengan Retensi yaitu proses
mengendapkan informasi yang diterimanya dalam suatu tempat tertentu.
Penyimpanan ini sudah sekaligus mencakup kategorisasi informasi sehingga tempat
informasi disimpan sesuai dengan kategorinya.
Penyimpanan informasi merupakan mekanisme
penting dalam memori. Sistem penyampaian ini sangat mempengaruhi jenis memori
(sensori memori, memori jangka pendek, atau memori jangka panjang yang akan
diperagakan oleh organisme).
Setiap proses belajar akan meninggalkan
jejak-jejak (traces) dalam diri seseorang dan jejak ini akan disimpan sementara
dalam ingatannya yang pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali. Jejak ingatan
itu disebut Memory traces.
Meskipun jejak ingatan tersebut memungkinkan
seseorang untuk mengingat apa yang pernah dipelajarinya, namun tidak semua
jejak memori akan tinggal dengan baik sehingga jejak tersebut dapat hilang dan
orang dapat mengalami kelupaan.
Sehubungan dengan masalah retensi dan kelupaan,
ada satu hal penting yang dapat dicatat, yaitu mengenal interval atau jarak
waktu antara memasukan dan menimbulkan kembali. Secara skematis dapat
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1. Skema proses learning, interval, dan remembering (mengingat)
Masalah
interval dapat dibedakan atas lama interval dan isi interval :
a. Lama Interval,
menunjukan tentang lamanya waktu antara pemasukan bahan (act of learning)
sampai ditimbulkannya kembali bahan itu. Lama interval berkaitan dengan
kekuatan retensi. Makin lama interval, makinkurang kuat retensinya, atau
dengankata lain kekuatan retensinya menurun.
b. Isi Interval,
yaitu aktivitas-aktivitas yang terdapat atau yang mengisi interval.
Aktivitas-aktivitas yang mengisi interval akan merusakkan atau menganggu jejak
ingatan sehingga kemungkinan individu akan mengalami kelupaan.
Masalah yang berkaitan erat dengan retensi
adalah masalah kelupaan. Teori-teori tentang kelupaan selanjutnya akan kita
bahas pada bagian akhir bab ini.
3.
Proses Retrieval (pemulihan kembali atau mengingat
kembali apa yang telah disimpan sebelumnya). Proses mengingat kembali merupakan
suatu proses mencari dan menemukan informasi yang disimpan dalam memori untuk
digunakan kembali bila dibutuhkan. Mekanisme dalam proses mengingat sangat
membantu organsime dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari. Seseorang
dikatakan “belajar dari pengalaman” karena ia mampu menggunakan berbagai
informasi yang telah diterimanya di masa lalu untuk memecahkan berbagai masalah
yang dihadapinya saat ini. Hilgard (1975) menyebutkan tiga jenis proses
mengingat, yaitu :
a. Recall, yaitu
proses mengingat kembali informasi yang dipelajari di masa lalu tanpa petunjuk
yang dihadapkan pada organisme.
Contohnya mengingat nama
seseorang tanpa kehadiran orang yang bersangkutan.
b. Recognition, yaitu
proses mengenal kembali informasi yang sudah dipelajari melalui suatu petunjuk
yang dihadapkan pada organisme.
Contohnya mengingat nama
seseorang saat ia berjumpa dengan orang yang bersangkutan.
c. Redintegrative, yaitu
proses mengingat dengan menghubungkan berbagai informasi menjadi suatu konsep
atau cerita yang cukup kompleks. Bila dalam recall kita bisa mengingat seluruh
kata-kata dalam lagu Indonesia Raya, tetapi mungkin kita sudah tidak mengingat
lagi kapan kita mempelajarinya, dalam situasi seperti apa, dan lain-lain.
Proses mengingat reintegrative terjadi bila anda ditanya sebuah nama, misalnya
Siti Nurbaya (tokoh sinetron), maka akan teringat banyak hal dari tokoh
tersebut karena anda telah menonton sinetronya berkali-kali. Anda akan ingat
bagaimana ia sedih karena dipinang Datuk Maringgih padahal ia membencinya,
bagaimana penderitaannya dan tragis akhir hidupnya karena dibunuh.
Contoh konkrit dari
proses Encoding, Storage, dan Retrieval ini dapat kita lihat dalam peristiwa
sehari-hari, misalnya saat hendak berangkat ke kampus anda melihat seorang
nenek yang sedang menyeberang jalan ditabrak sebuah Bis. Melihat peristiwa
tersebut (diterima oleh persepsi dan dibuat kode, dalam hal ini terjadi proses
Encoding), Kemudian anda menyimpannya dalam otak (jenis Bis, arah Bis, darimana
nenek berjalan, dan sebagainya. Dalam hal ini berlangsung proses Storage).
Sebagai saksi mata akhirnya anda dimintai keterangan dikantor polisi, kemudian
anda menceritakan apa yang terjadi sesuai dengan apa yang telah disimpan dalam
otak (proses Retrieval).
Berdasarkan contoh
diatas, maka teori tentang memori yang melibatkan proses Encoding, Storage, dan
Retrieval ini paling banyak disetujui oleh para ahli. Teori yang umum digunakan
adalah teori Information-Processing.
Analogi teori ini dapat kita lihat dari proses inpit dan out put komputer.
Teori ini dikembangkan oleh Richard Atkinson dan Richard Shiffrin (1968).
Menurut teori mereka, memori juga melaui proses Encoding, Storage, dan
Retrieval, lihat gambar 2.2.

Gambar 2.2. Pendekatan
information-Processing
menyatakan bahwa memori
dapat dipahami melalui tiga proses, yaitu Encoding, Storage, dan Retrieval
(Sumber:Baron, 1989)
Namun dalam proses
tersebut terlibat pula tiga sistem memori yang berbeda-beda, yaitu Memori
Sensorik, Memori Jangka Pendek (Short-term Memory), dan Memori jangka Panjang
(Long-Term Memory), lihat gambar 2.3.

Gambar 2.3. Proses Memori
(Sumber : Irwanto dkk, 1996)
Informasi akan selalu diterima oleh Memori Sensoris, kemudian sejumlah
tertentu akan diteruskan ke dalam Memori jangka Pendek dan yang lain hilang.
Dari Memori jangka-pendek ada proses seleksi untuk diteruskan ke memori jangka
panjang, sedangkan yang tidak diteruskan akan dilupakan.
2.2 COGNITIVE MODEL (MODEL KOGNITIF)
Cognitive Model (Model
Kognitif) mengatakan bahwa Memori merupakan bagian dari information
processing. Teori ini mencoba menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga macam
Memori sebagai berikut:
- Memori
Sensoris:
Memori Sensoris
didefinisikan sebagai ”momentary lingering of sensory information after a
stimulus is removed.” Diterjemahkan secara bebas, kalimat di atas bermakna
bahwa Memori Sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat
setelah stimulus diambil. Tidak semua informasi yang tercatat dalam Memori
Sensoris akan disimpan lebih lanjut ke Memori Jangka Pendek atau Jangka
Panjang, karena manusia akan melakukan proses selective attention, yaitu
memilih informasi mana yang akan diproses lebih lanjut.
Contohnya proses dari sensori motorik ini dapat kita
lakukan dalam peristiwa sehari-hari, yaitu apabila anda melihat sekilas deretan
nama dalam absen kelas anda, tiba-tiba anda melihat satu nama yang asing maka
anda cenderung untuk memperhatikannya kembali. Proses melihat sekilas kemudian
ternyata ada yang berbeda dan memperhatikannya kembali, menunjukan proses
memori-sensorik.
-
Encoding dalam memori-sensoris
Pada saat mata kita
melihat sesuatu, atau telinga mendengar sesuatu, informasi dari indera-indera
itu akan berubah dalam bentuk impuls-impuls neural dan dihantar ke
bagian-bagian tertentu dari otak. Proses ini berlangsung dalam sepersekian
detik. Sinar yang mengenai retina diterima oleh reseptor-reseptor yang ada,
kemudian sinar tersebut ditransformasikan bentuknya ke dalam impuls-impuls
neural dan dikirim ke otak.
-
Storage dalam memori-sensoris
Memori sensoris
ternyata mempunyai kapasitas penyimpanan informasi yang amat besar, tetapi
informasi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang. Berbagai penelitian
menunjukan bahwa informasi yang disimpan dalam memori sensoris akan mulai
menghilang setelah sepersepuluh detik dan hilang sama sekali setelah satu detik.
Mekanisme semacam ini penting sekali artinya dalam hidup manusia karena hanya
dengan memori seperti inilah kita bisa menaruh perhatian pada sejumlah kecil
informasi yang relevan atau berguna untuk hidup kita.
Contohnya saat kita
melihat piring yang bergeser dan hendak jatuh. Mungkin saat piring bergerak
kita belum tentu dengan reflek menangkapnya, tetapi kesan tersebut disimpan dan
langsung ditimbulkan kembali dalam gerakan menangkap piring yang hendak jatuh
tadi.
- Memori
Jangka Pendek:
Memori jangka pendek
atau sering juga disebut dengan Short-term Memory atau Working Memory adalah
suatu proses penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang disimpan
hanya dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan.
-
Encoding dalam memori jangka pendek
Mula-mula akan
berlangsung proses encoding seperti dalam memori sensoris, yaitu rangsang
diterima oleh indera, diubah bentuknya menjadi impuls-impuls neural dan dikirim
ke otak. Akan tetapi informasi yang telah diterima oleh otak kemudian dikenai
oleh suatu proses yang disebut Control Processes, yaitu suatu proses
yangmengatur lajur dan mengalirnya informasi (lihat gambar 2.2.)
Informasi yang masuk
melaui indera dan disimpan dalam memori sensoris dapat dianggap sebagai bahan
mentah yang jumlahnya banyak sekali. Kemudian jumlah yang banyak itu akan
diseleksi menurut beberapa cara dalam control processes. Pertama, informasi
yang masuk, entah itu bentuk, warna, bau, atau nada, akan dirujukan ke gudang
informasi dalam memori jangka panjang. Di sana pola-pola informasi itu
dibanding-badingkan dengan pola-pola yang sudah ada. Dengan demikian akan
terpilih informasi yang sudah dikenal, atau yang punya arti. Proses encoding
seperti ini disebut Pattern Recognition. Mekanisme lain yang digunakan untuk
menyeleksi informasi ini adalah attention (atensi atau perhatian). Perhatian
ini menyaring informasi yang masuk ke dalam memori jangka pendek sehingga hanya
sebagian kecil yang boleh lewat.
-
Storage dalam memori jangka pendek
Kapasitas dalam
memori jangka pendek sangat terbatas
untuk menyimpan sejumlah informasi dalam jangka waktu tertentu. Kapasitas itu
bisa dilihat dengan percobaan yang disebut Memory-Span Task, seperti
berikut :
Coba bacalah deretan
angka di bawah ini satu persatu dengan selang waktu kurang lebih satu detik,
lalu mendongaklah dan ulangi deretan angka tersebut :
5 7 9 1 4 6 3
Lalu coba dengan
deretan berikut ini :
3 5 1
4 6 2 9 6 7
Kecuali ingatan anda
sudah terlatih, anda mungkin tidak mampu mereproduksi deretan angka yang kedua.
Sekarang coba baca abjad-abjad berikut dan ulangi tanpa melihat deretan
abjad-abjad tersebut
DI KT
IHA NK AMD EP DA G RI
Kemungkinan besar anda
tidak berhasil. Tetapi bila yang disajikan adalah berikut ini, tentu hasilnya
akan berbeda :
DIKTI
HANKAM DEPDAGRI
Mengapa sekarang anda
bisa menghafal semua abjad yang disajikan?. Anda sudah kenal kesatuan-kesatuan
abjad tadi.
-
Retrieval dalam memori jangka pendek
Kapasitas memori
jangka pendek sangat terbatas. Oleh karena itu proses mengingat dalam memori
jangka pendek tidak membutuhkan waktu yang lama. Ada dua cara mengingat dalam
memori jangka pendek, yaitu :
a. Parallel Search,
informasi yang disimpan dalam memori ditelusuri sekaligus. Misalnya mengingat
paras muka seseorang dilanjutkan dengan mengingat namanya.
b. Serial Search,
penelusuran informasi dilakukan pada satu kesatuan informasi (chunk) satu
persatu. Contohnya bila nada mempunyai daftar nama orang yang akan dikirimi
undangan, kemudian anda ditanya Pak Suryo sudah dicatat belum? Maka secara
otomatis anda akan mengingat fdaftar nama orang yang akan diundang satu
persatu. Semakin panjang daftarnya, semakin lama waktu yang digunakan untuk
mengingatnya.
·
Memori Jangka Panjang:
Memori jangka panjang
atau sering juga disebut dengan long-term memory adalah suatu proses penyimpanan
informasi yang relatif permanen.
-
Encoding
dalam memori jangka panjang
Prosesnya tetap berawal pada memori sensoris yang mengubah informasi
menjadi impuls-impuls dan megirimkan ke otak. Dalam memori jangka-pendek
informasi tersebut sudah diseleksi berdasarkan Control Processes. Untuk dapat masuk ke dalam memori jangka panjang,
perlu dilakukan proses selanjutnya, yaitu Semantic atau Imagery Coding. Dalam
proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Bila kita mendengar
seseorang berkata, “Budi dipukul Ali sampai pingsan”, maka kita tidak hanya
mengerti arti masing-masing kata dalam kalimat tersebut, tetapi kita juga
berusaha mengerti apa yang terjadi sebenarnya dari keseluruhan kalimat
tersebut. Sebaliknya bila kita mendengar kata-kata lain yang unsurnya sama,
seperti “Ali dipukul Budi sampai pingsan”, maka kita tahu bahwa yang terjadi
sekarang berbeda dari yang pertama.
Dalam kedua kalimat tersebut kalau kita mengingat arti dari kata-kata dalam
keseluruhan kalimat itu, maka kita melakukan “Semantic coding”; tetapi kalau
kita membayangkan reaksi dari Ali atau Budi dalam peristiwa itu, maka kita
melakukan Imagery coding.
-
Storage
dalam memori jangka panjang
Proses encoding dalam memori jangka panjang
dilakukan dengan penyaringan berdasarkan arti dari informasi itu bagi
organisme, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara
permanen.
Selain daripada itu, kapasitas memori jangka
panjang ternyata juga amat besar. Ini memungkinkan penyimpanan informasi yang
luar biasa banyaknya yang diperoleh sepanjang hidup organisme. Meskipun
demikian, memori masih bekerja sangat efisien yaitu dengan jalan me-
reorganisasi informasi yang diterima dari memori jangka pendek. Reorganisasi
ini erat hubungannya dengan proses retrieval atau mengingat kembali informasi
yang telah disimpan.
-
Retrieval
dalam memori jangka panjang
Dijelaskan di atas bahwa penyimpanan informasi
dalam memori jangka panjang sangat terorganisir. Organisasi informasi ini besar
faedahnya karena kapasitas memori ini luar biasa besarnya. Bila tidak
terorganisir, maka proses mengingat satu informasi sederhana saja seperti “Umur
berapa anda mulai belajar menulis?”, sangat sulit untuk dijawab walaupun sudah
diberi petunjuk yang cukup jelas.
Informasi yang tersimpan itu sifatnya terorganisasi,
maka bila diberi petunjuk (retrieval cues), maka proses mengingat itu hanya
akan berlangsung beberapa detik saja. Retrieval cues juga dipengaruhi oleh
Internal state (kondisi internal seseorang). Bila terjadi kondisi internal yang
sama atau sejenis, maka hal yang menyebabkan kesamaan kondisi internal itu
dapat menjadi retrieval cues yang berguna dalam proses mengingat kembali.
Contohnya apabila anda merasa senang (kondisi
internal) karena belajar psikologi faal untuk UAS dengan pacar anda. Bila saat
ujian UAS anda duduk bersebelahan dengan pacar anda, maka kondisi internal yang
terjadi cenderung sama dengan saat anda belajar. Hal tersebut dapat menjadi
retrieval cues untuk menimbulkan ingatan-ingatan yang disimpan saat belajar.
Sebaliknya, apabila saat UAS psikologi faal anda duduk bersebelahan dengan
orang yang anda benci (Misalnya saingan anda), maka kondisi internalnya jauh
berbeda dengan saat anda belajar, maka kondisi internal tersebut tidak membantu
munculnya retrieval cues. Lihat gambar 2.4. Proses mengingat dalam memori
jangka panjang ini sangat penting, oleh sebab itu banyak dilakukan penelitian
untuk meningkatkannya.

Gambar 2.4. Internal State sebagai faktor Retrieval Cues
(Sumber : Baron, 1989; diolah)
2.3 TULVING’S THEORY OF
MULTIPLE MEMORY SYSTEMS
Menurut Tulving, Memori dapat dilihat sebagai suatu
hirarki yang terdiri dari tiga sistem Memori:
- Memori
Prosedural:
Memori mengenai bagaimana
caranya melakukan sesuatu, misalnya Memori mengenai bagaimana caranya mengupas
pisang lalu memakannya. Memori ini tidak hanya dimiliki manusia, melainkan
dimiliki oleh semua makhluk yang mempunyai kemampuan belajar, misalnya binatang
yang mengingat bagaimana caranya melakukan akrobat di sirkus.
- Memori
Semantik:
Memori mengenai
fakta-fakta, misalnya Memori mengenai ibukota-ibukota Negara. Kebanyakan dari
Memori Semantik berbentuk verbal.
- Memori
Episodik:
Memori mengenai
peristiwa-peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh individu di masa
yang lalu. Misalnya Memori mengenai pengalaman masa kecil seseorang.
Tulving mengajukan bukti adanya sistem memori yang
terpisah-pisah seperti di atas antara lain melalui:
a.
Amnesia: Adanya amnesia yang berbeda-beda, misalnya
penderita amnesia yang melupakan semua Memori Episodik (pengalaman masa lalu),
tapi masih mengingat Memori Prosedural.
- Penyakit
Alzheimer’s yang juga hanya menyerang sistem memori tertentu saja.
BAB III
PROSES TERJADINYA LUPA
Pada pembahasan tentang retensi, kita telah membicarakan tentang lama
interval dan isi interval yang bisa menimbulkan masalah kelupaan. Lupa
merupakan suatu gejala dimana informasi yang telah disimpan tidak dapat
ditemukan kembali untuk digunakan. Ada empat teori tentang lupa, yaitu :
1. Decay Theory, teori
ini beranggapan bahwa memori menjadi semakin aus dengan berlalunya waktu bila
tidak pernah diulang kembali (rehearsal). Informasi yang disimpan dalam memori
akan meninggalkan jejak-jejak (Memory Traces) yang bila dalam jangka waktu lama
tidak ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran, akan rusak atau menghilang.
Teori ini sering juga disebut dengan teori atropi atau teori disense. Jadi
jelas bahwa teori ini menitikberatkan pada lama interval.
2. Teori Intervensi, teori
ini menitikberatkan pada isi interval. Teori ini beranggapan bahwa informasi
yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang masih ada dalam gudang memori
(tidak mengalami keausan), akan tetapi jejak-jejak ingatan saling bercampur
aduk, menganggu satu sama lain. Bisa jadi bahwa informasi yang baru diterima
menganggu proses mengingat informasi yang lama, tetapi bisa juga terjadi sebaliknya.
Bila informasi yang baru kita terima
menyebabkan kita sulit mencari informasi yang sudah ada dalam memori kita, maka
terjadinya Intervensi retroaktif. Contohnya, apabila kemarin anda kemarin
menghafalkan peta pulau Sumatra, ternyata sekarang anda diharuskan mati-matian
menghafalkan peta pulau kalimantan. Saat anda mencoba menghafalkan kembali
Kotamadya-kotamadya di pulau Sumatra, anda akan mengalami kesulitan karena yang
muncul adalah nama kotamdya-kotamadya di pulau Kalimantan.
Bila informasi yang kita terima sulit untuk
diingat karena adanya pengaruh ingatan yang lama, maka terjadi proses
Intervensi Proaktif. Contohnya dalam mempelajari bahasa baru, pola atau tata
bahasa anda yang lama akan mempersulit anda dalam mengingat tata bahasa yang baru.
Seperti juga contoh di atas, apabila saat ingin mengingat nama Kotamadya di
pulau Kalimantan mengalami kesulitan mengingat karena yang teringat adalah
kotamadya di pulau Sumatra, maka proses yang terjadi adalah Intervensi
Proaktif.
3. Teori Retrieval Failure, teori ini sebenarnya sepakat dengan teori intervensi bahwa informasi yang
sudah disimpan dalam memori jangka panjang selalu ada, tetapi kegagalan untuk
mengingat kembali tidak disebabkan oleh intervensi. Kegagalan untuk mengingat
kembali lebih disebabkan tidak adanya petunjuk
yang memadai. Dengan demikian, bila syarat tersebut dipenuhi (disajikan
petunjuk yang tepat), maka informasi tersebut tentu dapat ditelusuri dan
diingat kembali.
4. Teori Motivated Forgetting, menurut teori ini, kita akan cenderung berusaha melupakan hal-hal yang
tidak menyenangkan. Hal-hal yang menyakitkan atau tidak menyenangkan ini akan
cenderung ditekan atau tidak diperbolehkan muncul dalam kesadaran. Teori ini
didasarkan atau teori Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Dari
penjelasan di atas, jelas bahwa teori ini juga beranggapan bahwa informasi yang
telah disimpan masih selalu ada.
5. Lupa Karena sebab-sebab Fisiologis. Para peneliti sepakat bahwa setiap penyimpanan
informasi akan disertai berbagai perubahan fisik di otak. Perubahan fisik ini
disebut Engram. Gangguan pada Engram ini akan mengakibatkan lupa yang disebut
Amnesia. Bila yang dilupakan adalah berbagai informasi yang telah disimpan
beberapa waktu yang lalu, yang bersanglutan dikatakan menderita Amnesia Retrograd.
Bila yang dilupakan adalah informasi yang baru saja diterimanya, ia dikatakan
menderita Amnesia Anterograd. Karena proses lupa dalam kedua kasus ini erat
hubungannya dengan faktor-faktor bokimiawi otak, maka kurang menjadi fokus
perhatian bagi para pendidik dan psikolog dalam kaitannya dengan proses
kelupaan.
BAB IV
CARA PENYELIDIKAN INGATAN
Bagaimanakah cara para ahli
menyelidiki tentang ingatan ini? Ada beberapa metode yang bisa ditempuh, yaitu
:
1. Metode dengan melihat waktu atau usaha
belajar (the learning method),
Metode ini merupakan metode untuk menyeidiki
kemampuan ingatan dengan cara melihat sampai sejauh mana waktu yang diperlukan
atau usaha yang dijalankan oleh subjek (S) untuk dapat menguasai mataeri yang
dipelajari dengan baik; misalnya dapat menimbulkan kembali materi tersebut
tanpa kesalahan.
Misalnya seseorang disuruh mempelajari suatu
syair, dan orang tersebut harus dapat menimbulkan kembali syair tersebut tanpa
ada kesalahan.
2. Metode mempelajari kembali (the
relearning method),
Metode ini merupakan metode yang berbentuk di
mana subjek di suruh mempelajari materi kembali yang pernah dipelajari sampai
pada suatu kriteria tertentu seperti pada mempelajari meteri tersebut pada
pertama kali. Dalam relearning ternyata untuk mempelajari materi yang sama
untuk kedua kalinya membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat daripada waktu
pertama kali mempelajarinya, Unutk mempelajari yang ketiga kalinya, waktunya
lebih singkat lagi dari pada mempelajari yang kedua kali maupun yang pertama
kalinya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin sering
dipelajari, semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya dan
semakin banyak materi yang dapat diingat dengan baik, dan makin sedikit materi
yang dilupakan. Hal tersebut menunjukan bahwa pada proses relearning ada waktu
yang dihemat atau disimpan. Oleh karena itu metode ini disebut juga dengan
metode saving method.
3. Metode Rekonstruksi
Metode ini menugaskan subjek untuk
mengkonstruksi kembali materi yang telah diberikan kepadanya. Dalam
mengkonstruksi kembali dapat diketahui waktu yang digunakan,
kesalahan-kesalahan yang diperbuat, sampai pada kriteria tertentu. Contohnya
seperti bermain Puzzle.
4. Metode Mengenal kembali
Dalam metode ini penelitian dalam memori
ditekankan pada recognation (mengenal kembali), jadi subjek diminta untuk
mempelajari materi, kemudian materi tadi disajikan ulang dengan penyertaan
materi lain. Adanya materi lain ini untuk mengetes subjek apakah ia mampu mengenal
kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya diantara materi-materi lain
yang disajikan. Contoh sederhana dari metode ini adalah tes dengan menggunakan
sistem multiple choice.
5. Metode mengingat kembali
Dalam metode ini yang ditekankan adalah proses
recall (mengingat kembali) terhadap apa yang telah dipelajari oleh subjek
sebelumnya. Misalnya pada tes yang bentuknya essai atau pada tugas-tugas
mengarang dimana subjek diminta untuk mengingat kembali peristiwa atau
pengalaman yang dialaminya.
6. Metode Asosiasi Berpasangan
Dalam metode asosiasi berpasangan, subjek
diminta untuk mempelajari materi secara berpasang-pasangan. Untuk megetahui
sejauh mana kemapuan mengingat, dalam evaluasinya, salah satu Pasangan
digunakan sebagai stimulus, dan subjek diminta untuk menimbulkan kembali (baik
recall maupun recognation) pasangannya. Misalnya subjek diminta untuk
mempelajari atau menghafalkan materi dibawah ini.
No. Identitas
|
Nama Kota
|
Kode Barang
|
Hendro - 471
|
Bandung - BDG
|
Rinso – R13
|
Yono - 174
|
Jakarta - JKT
|
Lux – S02
|
Retno - 741
|
P. Roti - RT
|
Sunsilk – SH01
|
Ira - 714
|
Jayapura - JYP
|
Rejoice – J52
|
Bila materi tersebut telah
dihafalkan, maka kemudian diadakan tes untuk melihat kemampuan mengingatnya.
Cara menimbulkan kembali dapat dilakukan dengan proses recall (mengingat
kembali), misalnya :
-
Hendro
- ......
-
Rinso
- ........
Atau dapat juga dilakukan dengan proses recognation (mengenal kembali),
misalnya:
-
Retno
– RT – R13 – 741
-
Jayapura
– J52 – JYP – 714
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Burtt dan Dobell (1925),
kemampuan menimbulkan kembali dalam metode asosiasi berpasangan lebih baik
hasilnya pada teknik recognition dibandingkan hasil pada teknik recall.
BAB V
CARA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMORI
Para ahli masih memperdebatkan apakah Memori merupakan
suatu trait (sifat) atau skill (kemampuan). Trait merupakan
sesuatu yang stabil dan tidak dapat ditingkatkan, sedangkan skill merupakan
sesuatu yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.
Orang yang memiliki kemampuan Memori yang sangat tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Orang yang memiliki kemampuan Memori yang sangat tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Proses encoding
yang majemuk dan bermakna.
- Memiliki
banyak cue dengan asosiasi tinggi.
- Banyak
latihan.
Contoh orang-orang dengan kemampuan Memori yang
tinggi:
- Steve
Faloon: dapat mengingat deretan angka yang panjang.
- John
Conrad: dapat mengingat pesanan makanan di restoran dengan sangat baik.
- Rajan:
dapat mengingat angka phi.
Secara umum,
usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan memori harus memenuhi tia ketentuan
sebagai berikut :
a.
Proses memori
bukanlah suatu usaha yang mudah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa
pengulangan atau rehearsal merupakan usaha yang sangat membantu. Retensi suatu
informasi dapat dibantu dengan cara mengulang informasi yang bersangkutan,
khusunya untuk mempertahankan informasi di memori jangka pendek dan panjang.
Meskipun demikian,
berbagai penelitian menunjukan bahwa pengulangan saja tidak ada artinya bila
tidak dihubungkan dengan suatu konteks yang sudah dikenal, Contohnya mengingat
huruf-huruf (BDGJKTSRBYMGLYGY), bila tanpa konteks tertentu, hasil hafalan
huruf itu sangat susah untuk ditimbulkan kembali, sebaliknya bila huruf-huruf
tersebut memiliki arti.
(BANDUNGJAKARTASURABAYAMAGELANGYOGYA),
Maka lebih mudah untuk
ditimbulkan kembali.
Pengulangan juga dapat
dilakukan secara periodik (Periodic recall atau rehearsal). Misalnya dengan
mempelajari suatu notasi musik setiap dua minggu sekali.
b. Bahan-bahan yang akan diingat harus mempunyai hubungan dengan hal-hal lain. Khusunya mengenai hal ini, konteks
memegang peranan penting. Dari uraian di depan jelas bahwa memori sangat
dibantu bila informasi yang dipeajari memiliki kaitan dengan hal-hal yang sudah
dikenal sebelumnya. Konteks tersebut dapat berupa peristiwa, tempat, nama
sesuatu, perasaan tertentu, dan lain-lain (seperti yang telah dijelaskan pada
contoh retrieval cues di bagian retensi).
c. Proses memori memerlukan organisasi. Salah satu pengorganisasian informasi yang
amat dikenal adalah mnemonik (Bahasa Yunani : Mnemosyne, yaitu Dewi Memori
dalam mitologi yunani). Informasi diorganisasi sedemikian rupa (dihubungkan
dengan hal-hal yang sudah dikenal) sehingga informasi yang kompleks mudah untuk
diingat kembali.
Salah satu metode mnemonik yang biasa dilakukan
adalah metode loci (method of loci; loci = locus = tempat). Individu diminta
untuk membayangkan suatu tempat yang ia kenal baik, misalnya rumahnya. Ia
membayangkan bagian tertentu dari rumah itu, misalnya dari ruang tamu sampai ke
kamarnya. Ia membayangkan benda-benda apa saja yang akan ia temui di dekat
pintu masuk, di ruang tamu, dekat pintu kamarnya dan di dalam kamar. Kemudian
ia asosiasikan benda-benda tersebut dengan informasi baru yang harus diingat.
Metode mnemonik lain yang biasa digunakan
adalah metode menghubungkan (link method) seperti yang telah dipelajari dalam
penyimpanan informasi dalam memori jangka pendek, yaitu menghubungkan informasi
yang harus diingat satu dengan yang lainnya sehingga mempunyai arti, walau
kadang-kadang agak lucu. Misalnya untuk menghafalkan urutan arah mata angin
digunakan singkatan Uak Beli Tahu Satu (Utara-Barat-Timur-Selatan), atau untuk
menghafal spektrum warna, digunakan metode link seperti ini : Mau Jadi Koboi
Harus Bisa Naik Unta (Merah-Jingga-Kuning-Hijau-Biru-Nila-Ungu).
Pengorganisasian juga dapat dilakukan dengan
membuat suatu akronim, sekaligus sebagai suatu kesatuan informasi (chunk)
seperti dalam jembatan keledai yang pernah disinggung dalam penyampain
informasi dalam memori jangka pendek di bagian depan, contohnya LUBER
(Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) dan BERIMAN (Bersih, Indah, dan Aman).
Bagi orang normal, ada
cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Memori, antara lain:
·
Mnemonic: Menciptakan
asosiasi antar hal yang harus diingat.
- Method of loci: Berusaha menciptakan gambaran seperti peta di benak kita dan
mengasosiasikan tempat-tempat dalam peta itu dengan hal yang ingin
diingat.
- Peg word/ irama: Mengasosiasikan kata yang ingin diingat dengan kata lain yang
berirama.
- Menggunakan bayangan visual, misalnya
John Conrad menggunakan bayangan visual untuk mengingat pesanan makanan
dari para tamu.
- Memahami hal yang harus diingat, dan
tidak hanya menghafalkan di luar kepala. Hal yang dipahami akan diingat
lebih lama daripada hafalan luar kepala.
- Konteks ketika suatu hal sedang dipelajari, sama
dengan konteks ketika hal tersebut harus diingat kembali (encoding
specificity)
- Memori
akan baik ketika individu merasa terlibat secara emosional, namun
keterlibatan emosional tidak terlalu tinggi.
- Menggunakan
sebanyak mungkin cue ketika berusaha mengingat sesuatu.
- Memori
akan lebih baik jika sesuatu dipelajari berulang kali walaupun
masing-masing sesi cukup pendek, daripada mempelajari sesuatu dalam satu
sesi yang panjang. Jadi, lebih baik mempelajari sesuatu dalam 3 sesi
terpisah yang masing-masing lamanya 20 menit daripada 1 sesi yang lamanya
1 jam.
- Memori
akan lebih baik jika bahan pelajaran disimpan dalam beberapa cara,
misalnya mengingat suatu pelajaran baik dari segi visual maupun audio akan
lebih baik daripada hanya salah satu saja.
BAB VI
Model Memori
·
Model Waugh dan Norman (1965).
-
memory primer (singkat): kemampuan individu
untuk menyimpan informasi dalam beberapa detik saja.
-
Memory sekunder (panjang/permanent): kemampuan
individu untuk menyimpan informasi dalam ukuran menit (ingatan jangka panjang)
Ciri-cirinya: cenderung visual / ekustik, sering kali terjadi lupa karena gagal dalam mengingat kembali.
Ciri-cirinya: cenderung visual / ekustik, sering kali terjadi lupa karena gagal dalam mengingat kembali.
·
Model “modal model” tradisional dari Atkinson & Shiffrin (1968).
-
Sensory Memory: bagaimana cara kita menangkap
informasi melalui panca indera; Pencatatan indera.
-
Short Term Memory (STM): tempat
singgahnya informasi sebelum menuju ke LTM, waktunya hanya 0-18detik.
Diperlukan adanya pengulangan sebelum menuju LTM.
-
Long Term Memory (LTM): isinya
berkaitan dengan masa lalu.
·
Model “Level of Processing Approach (LOP)” dari Craik & Lockhat.
-
Kedangkalan: semakin dangkal kita menerima
informasi (tidak mempunyai makna). Maka itu akan berpengaruh pada ingatan. Kita
akan menjadi cepat lupa.
-
Kedalaman: ketika kita menerima informasi
secara rinci (sedalam-dalamnya), maka informasi itu akan menetap di ingatan
kita.→lebih mendalami informasi.
- maintance: pengulangan
- elaborative: memaknai dulu
- maintance: pengulangan
- elaborative: memaknai dulu
·
Model system memory jamak dari Tulving (1922).
A. Episodik: pengalaman personal yang dihubungkan dengan kejadian yang lain
(temporal).
B. Semantik: konseptual (kosa kata).
Perbedaan:
Perbedaan:
Episodik :
1. Sumber Informasi: Pengalaman sensoris.
2. unit informasi: Episode & kejadian.
3. organisasi: Behubungan dengan waktu.
4. keterlibatan emosi: Lebih penting.
5. kondisi kelupaan : Besar.
6. waktu yg dibutuhkan untuk mengingat informasi: Relatif lama.
7. uji di lab : Merecall episode tertentu.
8. manfaat umum : Kurang Manfaat.
Semantik :
1. Sumber Informasi: Pengertian.
2. unit informasi: Konsep, ide, fakta.
3. organisasi: Konseptual.
4. keterlibatan emosi:Kurang penting.
5. kondisi kelupaan : Kecil.
6. waktu yg dibutuhkan untuk mengingat informasi: Relatif cepat.
7. uji di lab : Pengetahuan umum.
8. manfaat umum : Lebih Manfaat.
1. Sumber Informasi: Pengalaman sensoris.
2. unit informasi: Episode & kejadian.
3. organisasi: Behubungan dengan waktu.
4. keterlibatan emosi: Lebih penting.
5. kondisi kelupaan : Besar.
6. waktu yg dibutuhkan untuk mengingat informasi: Relatif lama.
7. uji di lab : Merecall episode tertentu.
8. manfaat umum : Kurang Manfaat.
Semantik :
1. Sumber Informasi: Pengertian.
2. unit informasi: Konsep, ide, fakta.
3. organisasi: Konseptual.
4. keterlibatan emosi:Kurang penting.
5. kondisi kelupaan : Kecil.
6. waktu yg dibutuhkan untuk mengingat informasi: Relatif cepat.
7. uji di lab : Pengetahuan umum.
8. manfaat umum : Lebih Manfaat.
·
Model sudut pandang koneksionisme dai James Mc.Clelland
Spontanius
Generalitation: Menarik kesimpulan tentang informasi umum yang belum dipelajari
sebelumnya.
·
Model working memory (WM) oleh Baddeley (1986)
Kebalikan dari STM
yang bersifat pasif. WM bersifat aktif melalui analisis karena informasi yang
berada di WM diolah/dianalisis terlebih dahulu sebelum menuju Long Term Memory.
WM tidak butuh pengulangan spt STM, tetapi informasi langsung dianalisis
sendiri karena di dalamnya sudah ada olah data.
BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk itu penulis dapat menyimpulkan makalah ini sebagai berikut:
1. Psikologi Faal adalah ilmu yang mempelajari fungsi atau kerja tubuh manusia dalam keadaan normal atau homeostatis atau stabil.
Untuk itu penulis dapat menyimpulkan makalah ini sebagai berikut:
1. Psikologi Faal adalah ilmu yang mempelajari fungsi atau kerja tubuh manusia dalam keadaan normal atau homeostatis atau stabil.
2. Memori dimaksud adalah suatu kemapuan untuk mengingat kembali atas
rekaman yang pernah dibuat oleh otak.
3. Untuk mengetahui entang Memori.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar