Belajar Blog

Minggu, 23 Januari 2011

Makalah Memori


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Memori
                Fungsi kesadaran dan memori sebenarnya menjadi satu kesatuan aktivitas di dalam otak manusia. Karena reaksi kesadaran yang timbul tidak terlepas dari memori apa saja yang telah dimilikinya dan fenomenanya dikenal sebagai “Conscious Memory” atau sadar memori.
                Memori dimaksud adalah suatu kemampuan untuk mengingat kembali atas rekaman yang pernah dibuat oleh otak. Aktivitasnya tergantung kepada kapasitas fungsional sistem komunikasi antar saraf di otak, misalnya di daerah kortex serebri dan subkortex untuk memori jangka pendek. Adapun bagian-bagian otak yang terlibat dalam memori jangka pendek adalah kortek serebri, thalamus, basal ganglia, substansia nigra, sistem aktivasi retikuler dan sistem limbik.
Dari perumpamaan tersebut dapat kita ambil beberapa kesimpulan mengenai memori, yaitu:
1.       Memori tergantung pada persepsi atau pengalaman,
2.       Pengalaman meninggalkan jejak di dalam otak kita,
3.       Terdapat perbedaan memory pada individu yang satu dengan individu yang lain (Individual differences),
4.       Disamping ingat lupa juga akan muncul,
5.       Beberapa pengalaman yang tidak meninggalkan impresi tertentu umumnya tidak disimpan sehingga muncul kelupaan,
Dari beberapa kesimpulan diatas, kita dapat memahami bahwa ingatan tidak hanya kemampuan untuk menyimpan apa yang telah pernah dialaminya saja, tetapi juga termasuk kemampuan untuk menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali apa yang dialaminya (Walgito, 1994).
                Semua pusat fungsional otak tersebut saling bekerja sama satu dengan lainnya dan membentuk satu sirkuit komunikasi antar saraf. Sirkuit komunikasi tersebut membentuk alur memori jangka pendek yang dapat dipelajari melalui skema 1.1.
                                         Skema 1.1.: Alur Rangsang Memori Jangka Pendek
Pi = Pancaindra; LS = Limbik Sistem
                Kortek limbik, Hippokampal, Amigdala, Basal ganglia dan Hipothalamus membangun sistem limbik yang sangat berpengaruh pada fenomena mengingat kembali walaupun pusat aktivitas memori itu lebih terfokus pada daerah hippokampal.

                Jika suatu informasi yang masuk ke otak melalui pancaindra maka informasi tersebut dengan segera akan diamplikasikan di daerah Kortek Serebri. Selanjutnya informasi akan dikomunikasikan ke daerak subkortex dimana terdapat sejumlah pusat fungsionil untuk membantu merekam apa saja yang pernah dikerjakannya. Rekaman tersebut juga akan dikirim kembali ke kortex serebri untuk dianalisa dan kemudian direspon dalam bentuk perilku dan tingkah laku tertentu yang mungkin dapat disertai oleh bentuk dan warna emosi serta afektifnya. Proses pengulangan informasi yang sama akan membangun alur memori sebagai upaya konsolidasi rekaman, khususnya di daerah pusat memorinya yaitu daerah Hippokampal, karena hippokampal cenderung mengeluarkan cetusan impuls memori yang berulang-ulang terjadi dengan sendirinya.
                Manusia selalu membangun “Conscious memory” selama yang bersangkutan memahami apa yang sedang dikerjakannya, tetapi jika saat itu dia mengalmi kebingunan dalam periode yang singkat saja maka yang bersangkutan maka akan kehilangan memori dari apa yang telah dan sedang dikerjakannya, sehingga harus berlatih lagi dari semula. Mengapa demikian? Karena yang bersangkutan tidak mampu membangun memori jangka panjang sehingga pada saat kebingungan maka harus dipelajarinya kembali dari awal.
                Mengingat bentuk dan mekanisme komunikasi antar saraf, maka fenomena memori itu sendiri dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa proses yang terdapat di:
1.       Badan sel dan ujung saraf sinaptik, yaitu:
a.       Kecepatan proses transalasi neurotransmitter (proses protein sintesis);
b.      Kemampuan daya angkut neurotransmitter di sepanjang axonal saraf;
c.       Kecepatan proses pelepasan neurotransmitter pada ujung saraf axonal.
2.       Kepekaan reseptor sarafnya terhadap neurotransmitternya.
3.       Mekanisme penghancuran neurotranmitter di dalam celah sinaf.
4.       Keadaan sinaf.
5.       Jalur lintasan memori
6.       Keadaan pusat aktivitas memorinya (hippokampal).
Menurut Eichenbaum maka jika terdapat kerusakan di daerah hippokampus maka fenomena episodik memori yang hilang dan akibatnya maka seseorang akan kehilangan kemampuannya untuk mengembangkan memorinya. Dampaknya maka yang bersangkutan tidak mampu mengenali sesuatu benda dan memilih suatu benda tertentu. Dengan kata lain maka yang bersangkutan kehilangan deklaratif memorinya. Tetapi jika Parahippokampus saja yang rusak maka kemungkinan seseorang akan kehilangan Semantic memorinya dan berarti yang bersangkutan tidak mapu lagi mengumpulkan pengetahuan yang bersifat universal.
Pada dasarnya daerah pusat aktivitas memori terletak di daerah Parahippokampus dan formasi hippokampal, yaitu suatu daerah yang menjadi bagian dari lobus temporalis otak yang melipat kebagian dalam (media temporal lobe) dan terdiri dari hippokampus, gyrus dentata dan subikulum (lihat Gambar 1.1).
                Setiap informasi yang diterima akan membuat alur sirkuit memori diantara kortex, subkortex, sistem limbik dan pusat memorinya (formasi hippokampal dan parahippokampus). Demikian juga informasi yang berbeda juga akan membentuk reaksi memori yang lain pada alur sirkuit memorinya. Fenomena ini akan berjalan secara kontinyu dan sewaktu-waktu dapat dibangkitkan kembali melalui jalurnya sendiri-sendiri. Ada yang menduga bahwa kortex otak depan mempunyai peranan yang lebih besar dalam proses memperbesar memori dan pengembangannya. Hal ini disebabkan karena fungisinya yang selalu mengorganisasikan semua informasi yang masuk ke dalam otak dan letaknya yang dekat dengan kortex limbik dan berhubungan dengan thalamus. Mengapa demikian? Karena jika seseorang diberikan tugas untuk mengingat sesuatu maka pada hasil pemeriksaannya dengan alat yang dikenal dengan Possitron Emissiontomography maka di daerah tersebut menunjukan aktivitas metabolisme yang meningkat sedangkan daerah lainnya tidak demikian. Keadaan itu ditandai dengan adanya peningkatan jumlah aliran darah yang menuju ke daerah tersebut yang dapat diartikan sebagai tanda bahwa di daerah itu terjadi kenaikan aktivitas metabolisme. Dan jika daerah tersebut direkam dengan alat elekroencephalograpy maka terlihat aktivitas potensial listrik daerah tersebut meningkat.
                Dengan mamperhatikan uraian di atas maka memori dapat berlangsung melalui tahapan berikut ini yaitu:
1.       Tahap Pertama: Tahap menerima informasi. Hampir semua informasi yang masuk ke otak akan diolah dan diorganisasikan di krotex otak depan (pusat peningkatan pola pikir rasional) dan kemudian hasilnya akan diinformasikan ke kortex motoris untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan informasi.
2.       Tahap Kedua : Tahap memformulasikan, menggandakan dan menyimpan informasi. Hampir semua informasi yang sudah masuk ke dalam otak akan membangun alur sirkuit memori untuk diformulasikan dan dikondisikannya agar kelak mudah untuk mengingat kembali. Pada tahap ini maka terbentuklah suatu alur sirkuit informasi yang berlangsung berulang-ulang dan kontinyu dalam menyampaikan informasi bolak-balik diantara pusat-pusat fungsionilnya.
3.       Tahap Tiga : Tahap mengingat kembali informasi yang telah diformulasikan dan dikonsolidasikannya. Jika ada suatu rangsangan untuk mengingat kembali maka memori yang dimaksud akan dapat dimunculkan kembali.
Berkaitan dengan memori maka belajar adalah suatu aktivitas yang nyata untuk menciptakan alur sirkuit memori diantara Kortex:
-          Serebri (Kortex otak depan, Kotex Pancaindra, Kortex limbik dan Kortex Wernick’s),
-          Subkortex (thalamus, substantia nigra, basal ganglia).
-          Formasi hippokampal.
-          Parahippokampal.
sebagai contoh adalah jika seseorang mendapat serangan stroke pada otak sebelah kiri dan merusak fungsi Kortex Wernick’s maka orang yang bersangkutan tidak mungkin dapat mengungkapkan memorinya dalam hal memilih dan menginterpretasikan kata dan kalimat dengan benar.
-           Jika yang tidak berfungsi kortex otak depan maka yang bersangkutan tidak dapat memformulasikan dan mengkonsolidasikan memorinya dan terjadilah fenomena anterograde amnesia.
-          Jika daerah formasi hippokampal dan Parahippokampal yang tidak berfungsi maka yang bersangkutan kehilangan kemampuan untuk menyimpan dan membangkitkan kembali memorinya dan fenomena ini dikenal sebagai amnesia.
-          Pada gegar otak dan electroshock therapy, maka seseorang akan kehilangan memori atas kejadian yang mendahuluinya. Fenomena ini dikenal sebagai Retrograde amnesia.
Dementia Senilis adalah suatu bentuk penyakit degenerasi neuronal di oyak manusia pada masa lanjut usia (lansia) dan biasanya terjadi pada usia 65 tahun ke atas tetapi dapat juga terjadi pada usia yang lebih dini.
Proses degenerasi sel saraf otak pada dementia senilis terjadi pada lapisan ketiga Kortex serebri bagian luar dan gejalanya adalah ditandai oleh adanya proliferasi sel astrocytes, meningkatnya proses gliosis dan menyusutnya sejumlah dendrite sel sarafnya. Di sisi yang lain dijumpai perubahan-perubahan fisiologis yang berupa gagalnya fungsi-fungsi sinaptik dan perubahan-perubahan biokimianya yaitu berkurangnya kholinasetil Transferase (CAT) pada ujung-ujung saraf axonalnya dan berkurangnya aktivitas biosontesa neurotransmitternya. Dengan kata lain bahwa di dalam otak terjadi kegagalan fungsional jalur kolinergik, khususnya pada jalur yang memelihara fungsi memori.
Gejala utamanya adalah hilangnya kemampuan mengingat (memori) dan dengan disertai gejala lainnya seperti gangguan perilaku dan tingkah laku, emosi dan afeknya seperti misalnya:
-          timbul kegelisahan rasa hati (rasa cemas),
-          Gangguan mood (gampang tersinggung),
-          Terjadi Depresi,
-          Halusinasi,
-          Delusi,
-          Insight menurun dan kadang-kadang dijumpai berperilaku anti sosial dan jika terdapat gangguan proses berfikir yang menyebabkan yang bersangkutan sukar belajar dan menjadi pelupa atas hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam buku-buku Psychiatry maka Dementia diartikan sebagai kegagalan umum pada proses intelektual, memori dan personality tanpa disertai gangguan umum pada proses kesadaran (Consciousness) sedangkan Dementia senilis dikenal juga sebagai Dementia Alzheimer atau Dementia Senilis Alzheimer’s Type atau penyakit Alzheimer yang dikenal pertama kali pada tahun 1845 oleh Esquirol dalam bukunya “Des Maldies Mentales”.
Adapun yang menjadi faktor etiologi adalah:
-           proses menua,
-          Trauma Kapitis,
-          Tumor otak,
-          Multiple infarct pembuluh darah otak,
-          Uremla,
-          Keracunan : Alkohol, timah, arsen, thalium dan kekurangan vitamin B1, B6, B12,
-          Dan adanya anoxia karena kegagalan proses pernapasan dan kelainan genetik (Alzheimer DNA).
Penyakit lainnya yang menyerupai Dementia Alzheimer adalah Pick’s disease atau Dementia Pick’s yang disebabkan oleh adanya degenerasi saraf otak bagian lobus frontalis dan lobus temporalis saja.
Pengobatan Dementia Alzheimer oleh dokter biasanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan memorinya dengan memberikan sejumlah Physostigmin dan Neostigmin dimana keduanya adalah anti Asetilkolin Esterase dan menyebabkan konsentrasi Asetilkolin meningkat di dalam sinaps jalur kolinergiknya dan dapat diberikan Hydergine (Derivate Ergotamin) untuk memperbaiki sistem sirkulasi darah di dalam otak. Di sisi lain perlu diberikan diet dan perawatan yang memadai dan jika terdapat gejala depresi maka dapa diberikan Amitriptylin dan rasa cemasnya dapat diberikan haloperidol, thioridazine atau promazine.
            
BAB II
TEORI MENGENAI MEMORI
Dalam lingkup ilmu Psikologi, ada beberapa teori mengenai Memori yang dikemukakan oleh para ahli.

Di bawah ini akan dibahas beberapa dari teori-teori tersebut:
2.1 ASSOCIATION MODEL (MODEL ASOSIASI)
Teori awal mengenai Memori dikenal sebagai Association Model (Model Asosiasi). Menurut model ini, memori merupakan hasil dari koneksi mental antara ide dengan konsep. Tokoh yang terkenal mendukung teori ini antara lain adalah Ebbinghaus yang melakukan beberapa penelitian, antara lain mengenai fungsi lupa serta savings. Grafik di bawah menunjukkan salah satu hasil penelitian yang menunjukkan tingkat retensi yang makin rendah dengan berjalannya waktu.
 
Image
Kemampuan menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali dikenal dengan istilah :
- Encoding = Pengkodean terhadap apa yang dipersepsi, yaitu proses menerima.
- Storage = Penyimpanan.
- Retrieval = Pemulihan kembali terhadap apa yang telah dialami atau dipelajari sebelumnya.
                Teori yang paling banyak diterima oleh para ahli adalah teori tentang tiga proses memori, seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1.       Proses Encoding (Pengkodean terhadap apa yang dipersepsi dengan cara mengubah menjadi simbol-simbol atau gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada organisme). Jadi Encoding merupakan suatu
proses mengubah sifat suatu informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat memori organisme. Proses ini sangat mempengaruhi lamanya suatu informasi disimpan dalam memori.
Proses perubahan informasi ini dapat terjadi dengan dua cara, yaitu :
a.       Tidak sengaja, yaitu apabila hal-hal yang diterima oleh inderanya dimasukan  dengan tidak sengaja ke dalam ingatannya. Contoh konkritnya dapat kita lihat pada anak-anak yang umumnya menyimpan pengalaman yang tidak di sengaja, misalnya bahwa ia akan mendapat apa yang diinginkan bila ia menangis keras-keras sambil berguling-guling.
b.      Sengaja, yaitu bila individu dengan sengaja memasukan pengalaman dan pengetahuan ke dalam ingatannya. Contohnya orang yang bersekolah dimana ia memasukkan segala hal yang dipelajarinya di bangku sekolah dengan sengaja.
Berdasarkan beberapa penelitian, ternyata ada perbedaan kemampuan pada individu yang satu dengan individu yang lain dalam memasukan informasi yang diterimanya. Hal ini berkaitan dengan Memory Span dari masing-masing individu (kemampuan memori).
2.       Proses Storage (penyimpanan terhadap apa yang telah diproses dalam encoding). Proses storage ini disebut juga dengan Retensi yaitu proses mengendapkan informasi yang diterimanya dalam suatu tempat tertentu. Penyimpanan ini sudah sekaligus mencakup kategorisasi informasi sehingga tempat informasi disimpan sesuai dengan kategorinya.
Penyimpanan informasi merupakan mekanisme penting dalam memori. Sistem penyampaian ini sangat mempengaruhi jenis memori (sensori memori, memori jangka pendek, atau memori jangka panjang yang akan diperagakan oleh organisme).
Setiap proses belajar akan meninggalkan jejak-jejak (traces) dalam diri seseorang dan jejak ini akan disimpan sementara dalam ingatannya yang pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali. Jejak ingatan itu disebut Memory traces.
Meskipun jejak ingatan tersebut memungkinkan seseorang untuk mengingat apa yang pernah dipelajarinya, namun tidak semua jejak memori akan tinggal dengan baik sehingga jejak tersebut dapat hilang dan orang dapat mengalami kelupaan.
Sehubungan dengan masalah retensi dan kelupaan, ada satu hal penting yang dapat dicatat, yaitu mengenal interval atau jarak waktu antara memasukan dan menimbulkan kembali. Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1. Skema proses learning, interval, dan remembering (mengingat)
                Masalah interval dapat dibedakan atas lama interval dan isi interval :
a.       Lama Interval, menunjukan tentang lamanya waktu antara pemasukan bahan (act of learning) sampai ditimbulkannya kembali bahan itu. Lama interval berkaitan dengan kekuatan retensi. Makin lama interval, makinkurang kuat retensinya, atau dengankata lain kekuatan retensinya menurun.
b.      Isi Interval, yaitu aktivitas-aktivitas yang terdapat atau yang mengisi interval. Aktivitas-aktivitas yang mengisi interval akan merusakkan atau menganggu jejak ingatan sehingga kemungkinan individu akan mengalami kelupaan.
Masalah yang berkaitan erat dengan retensi adalah masalah kelupaan. Teori-teori tentang kelupaan selanjutnya akan kita bahas pada bagian akhir bab ini.
3.       Proses Retrieval (pemulihan kembali atau mengingat kembali apa yang telah disimpan sebelumnya). Proses mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan menemukan informasi yang disimpan dalam memori untuk digunakan kembali bila dibutuhkan. Mekanisme dalam proses mengingat sangat membantu organsime dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari. Seseorang dikatakan “belajar dari pengalaman” karena ia mampu menggunakan berbagai informasi yang telah diterimanya di masa lalu untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya saat ini. Hilgard (1975) menyebutkan tiga jenis proses mengingat, yaitu :
a.       Recall, yaitu proses mengingat kembali informasi yang dipelajari di masa lalu tanpa petunjuk yang dihadapkan pada organisme.
Contohnya mengingat nama seseorang tanpa kehadiran orang yang bersangkutan.
b.      Recognition, yaitu proses mengenal kembali informasi yang sudah dipelajari melalui suatu petunjuk yang dihadapkan pada organisme.
Contohnya mengingat nama seseorang saat ia berjumpa dengan orang yang bersangkutan.
c.       Redintegrative, yaitu proses mengingat dengan menghubungkan berbagai informasi menjadi suatu konsep atau cerita yang cukup kompleks. Bila dalam recall kita bisa mengingat seluruh kata-kata dalam lagu Indonesia Raya, tetapi mungkin kita sudah tidak mengingat lagi kapan kita mempelajarinya, dalam situasi seperti apa, dan lain-lain. Proses mengingat reintegrative terjadi bila anda ditanya sebuah nama, misalnya Siti Nurbaya (tokoh sinetron), maka akan teringat banyak hal dari tokoh tersebut karena anda telah menonton sinetronya berkali-kali. Anda akan ingat bagaimana ia sedih karena dipinang Datuk Maringgih padahal ia membencinya, bagaimana penderitaannya dan tragis akhir hidupnya karena dibunuh.
Contoh konkrit dari proses Encoding, Storage, dan Retrieval ini dapat kita lihat dalam peristiwa sehari-hari, misalnya saat hendak berangkat ke kampus anda melihat seorang nenek yang sedang menyeberang jalan ditabrak sebuah Bis. Melihat peristiwa tersebut (diterima oleh persepsi dan dibuat kode, dalam hal ini terjadi proses Encoding), Kemudian anda menyimpannya dalam otak (jenis Bis, arah Bis, darimana nenek berjalan, dan sebagainya. Dalam hal ini berlangsung proses Storage). Sebagai saksi mata akhirnya anda dimintai keterangan dikantor polisi, kemudian anda menceritakan apa yang terjadi sesuai dengan apa yang telah disimpan dalam otak (proses Retrieval).
                Berdasarkan contoh diatas, maka teori tentang memori yang melibatkan proses Encoding, Storage, dan Retrieval ini paling banyak disetujui oleh para ahli. Teori yang umum digunakan adalah teori Information-Processing.
                Analogi teori ini dapat kita lihat dari proses inpit dan out put komputer. Teori ini dikembangkan oleh Richard Atkinson dan Richard Shiffrin (1968). Menurut teori mereka, memori juga melaui proses Encoding, Storage, dan Retrieval, lihat gambar 2.2.
              Gambar 2.2. Pendekatan information-Processing
menyatakan bahwa memori dapat dipahami melalui tiga proses, yaitu Encoding, Storage, dan Retrieval
                                              (Sumber:Baron, 1989)
                Namun dalam proses tersebut terlibat pula tiga sistem memori yang berbeda-beda, yaitu Memori Sensorik, Memori Jangka Pendek (Short-term Memory), dan Memori jangka Panjang (Long-Term Memory), lihat gambar 2.3.
                                Gambar 2.3. Proses Memori
                               (Sumber : Irwanto dkk, 1996)     
Informasi akan selalu diterima oleh Memori Sensoris, kemudian sejumlah tertentu akan diteruskan ke dalam Memori jangka Pendek dan yang lain hilang. Dari Memori jangka-pendek ada proses seleksi untuk diteruskan ke memori jangka panjang, sedangkan yang tidak diteruskan akan dilupakan.
2.2 COGNITIVE MODEL (MODEL KOGNITIF)
Cognitive Model (Model Kognitif) mengatakan bahwa Memori merupakan bagian dari information processing. Teori ini mencoba menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga macam Memori sebagai berikut:
  • Memori Sensoris:
Memori Sensoris didefinisikan sebagai ”momentary lingering of sensory information after a stimulus is removed.” Diterjemahkan secara bebas, kalimat di atas bermakna bahwa Memori Sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Tidak semua informasi yang tercatat dalam Memori Sensoris akan disimpan lebih lanjut ke Memori Jangka Pendek atau Jangka Panjang, karena manusia akan melakukan proses selective attention, yaitu memilih informasi mana yang akan diproses lebih lanjut.
Contohnya proses dari sensori motorik ini dapat kita lakukan dalam peristiwa sehari-hari, yaitu apabila anda melihat sekilas deretan nama dalam absen kelas anda, tiba-tiba anda melihat satu nama yang asing maka anda cenderung untuk memperhatikannya kembali. Proses melihat sekilas kemudian ternyata ada yang berbeda dan memperhatikannya kembali, menunjukan proses memori-sensorik.

-          Encoding dalam memori-sensoris
Pada saat mata kita melihat sesuatu, atau telinga mendengar sesuatu, informasi dari indera-indera itu akan berubah dalam bentuk impuls-impuls neural dan dihantar ke bagian-bagian tertentu dari otak. Proses ini berlangsung dalam sepersekian detik. Sinar yang mengenai retina diterima oleh reseptor-reseptor yang ada, kemudian sinar tersebut ditransformasikan bentuknya ke dalam impuls-impuls neural dan dikirim ke otak.
-          Storage dalam memori-sensoris
Memori sensoris ternyata mempunyai kapasitas penyimpanan informasi yang amat besar, tetapi informasi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang. Berbagai penelitian menunjukan bahwa informasi yang disimpan dalam memori sensoris akan mulai menghilang setelah sepersepuluh detik dan hilang sama sekali setelah satu detik. Mekanisme semacam ini penting sekali artinya dalam hidup manusia karena hanya dengan memori seperti inilah kita bisa menaruh perhatian pada sejumlah kecil informasi yang relevan atau berguna untuk hidup kita.
Contohnya saat kita melihat piring yang bergeser dan hendak jatuh. Mungkin saat piring bergerak kita belum tentu dengan reflek menangkapnya, tetapi kesan tersebut disimpan dan langsung ditimbulkan kembali dalam gerakan menangkap piring yang hendak jatuh tadi.
  • Memori Jangka Pendek:
Memori jangka pendek atau sering juga disebut dengan Short-term Memory atau Working Memory adalah suatu proses penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan.

-          Encoding dalam memori jangka pendek

Mula-mula akan berlangsung proses encoding seperti dalam memori sensoris, yaitu rangsang diterima oleh indera, diubah bentuknya menjadi impuls-impuls neural dan dikirim ke otak. Akan tetapi informasi yang telah diterima oleh otak kemudian dikenai oleh suatu proses yang disebut Control Processes, yaitu suatu proses yangmengatur lajur dan mengalirnya informasi (lihat gambar 2.2.)
Informasi yang masuk melaui indera dan disimpan dalam memori sensoris dapat dianggap sebagai bahan mentah yang jumlahnya banyak sekali. Kemudian jumlah yang banyak itu akan diseleksi menurut beberapa cara dalam control processes. Pertama, informasi yang masuk, entah itu bentuk, warna, bau, atau nada, akan dirujukan ke gudang informasi dalam memori jangka panjang. Di sana pola-pola informasi itu dibanding-badingkan dengan pola-pola yang sudah ada. Dengan demikian akan terpilih informasi yang sudah dikenal, atau yang punya arti. Proses encoding seperti ini disebut Pattern Recognition. Mekanisme lain yang digunakan untuk menyeleksi informasi ini adalah attention (atensi atau perhatian). Perhatian ini menyaring informasi yang masuk ke dalam memori jangka pendek sehingga hanya sebagian kecil yang boleh lewat.
-          Storage dalam memori jangka pendek
Kapasitas dalam memori  jangka pendek sangat terbatas untuk menyimpan sejumlah informasi dalam jangka waktu tertentu. Kapasitas itu bisa dilihat dengan percobaan yang disebut Memory-Span Task, seperti berikut  :
Coba bacalah deretan angka di bawah ini satu persatu dengan selang waktu kurang lebih satu detik, lalu mendongaklah dan ulangi deretan angka tersebut :
5 7 9 1 4 6 3
                Lalu coba dengan deretan berikut ini :
                                3 5 1 4 6 2 9 6 7
                Kecuali ingatan anda sudah terlatih, anda mungkin tidak mampu mereproduksi deretan angka yang kedua. Sekarang coba baca abjad-abjad berikut dan ulangi tanpa melihat deretan abjad-abjad tersebut
                                DI KT IHA NK AMD EP DA G RI
                Kemungkinan besar anda tidak berhasil. Tetapi bila yang disajikan adalah berikut ini, tentu hasilnya akan berbeda :
                                DIKTI HANKAM DEPDAGRI
                Mengapa sekarang anda bisa menghafal semua abjad yang disajikan?. Anda sudah kenal kesatuan-kesatuan abjad tadi.
-          Retrieval dalam memori jangka pendek
Kapasitas memori jangka pendek sangat terbatas. Oleh karena itu proses mengingat dalam memori jangka pendek tidak membutuhkan waktu yang lama. Ada dua cara mengingat dalam memori jangka pendek, yaitu :
a.       Parallel Search, informasi yang disimpan dalam memori ditelusuri sekaligus. Misalnya mengingat paras muka seseorang dilanjutkan dengan mengingat namanya.
b.      Serial Search, penelusuran informasi dilakukan pada satu kesatuan informasi (chunk) satu persatu. Contohnya bila nada mempunyai daftar nama orang yang akan dikirimi undangan, kemudian anda ditanya Pak Suryo sudah dicatat belum? Maka secara otomatis anda akan mengingat fdaftar nama orang yang akan diundang satu persatu. Semakin panjang daftarnya, semakin lama waktu yang digunakan untuk mengingatnya.

·         Memori Jangka Panjang:
Memori jangka panjang atau sering juga disebut dengan long-term memory adalah suatu proses penyimpanan informasi yang relatif permanen.

-          Encoding dalam memori jangka panjang
Prosesnya tetap berawal pada memori sensoris yang mengubah informasi menjadi impuls-impuls dan megirimkan ke otak. Dalam memori jangka-pendek informasi tersebut sudah diseleksi berdasarkan Control Processes. Untuk dapat masuk ke dalam memori jangka panjang, perlu dilakukan proses selanjutnya, yaitu Semantic atau Imagery Coding. Dalam proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Bila kita mendengar seseorang berkata, “Budi dipukul Ali sampai pingsan”, maka kita tidak hanya mengerti arti masing-masing kata dalam kalimat tersebut, tetapi kita juga berusaha mengerti apa yang terjadi sebenarnya dari keseluruhan kalimat tersebut. Sebaliknya bila kita mendengar kata-kata lain yang unsurnya sama, seperti “Ali dipukul Budi sampai pingsan”, maka kita tahu bahwa yang terjadi sekarang berbeda dari yang pertama.
Dalam kedua kalimat tersebut kalau kita mengingat arti dari kata-kata dalam keseluruhan kalimat itu, maka kita melakukan “Semantic coding”; tetapi kalau kita membayangkan reaksi dari Ali atau Budi dalam peristiwa itu, maka kita melakukan Imagery coding.

-          Storage dalam memori jangka panjang
Proses encoding dalam memori jangka panjang dilakukan dengan penyaringan berdasarkan arti dari informasi itu bagi organisme, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen.
Selain daripada itu, kapasitas memori jangka panjang ternyata juga amat besar. Ini memungkinkan penyimpanan informasi yang luar biasa banyaknya yang diperoleh sepanjang hidup organisme. Meskipun demikian, memori masih bekerja sangat efisien yaitu dengan jalan me- reorganisasi informasi yang diterima dari memori jangka pendek. Reorganisasi ini erat hubungannya dengan proses retrieval atau mengingat kembali informasi yang telah disimpan.


-          Retrieval dalam memori jangka panjang

Dijelaskan di atas bahwa penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang sangat terorganisir. Organisasi informasi ini besar faedahnya karena kapasitas memori ini luar biasa besarnya. Bila tidak terorganisir, maka proses mengingat satu informasi sederhana saja seperti “Umur berapa anda mulai belajar menulis?”, sangat sulit untuk dijawab walaupun sudah diberi petunjuk yang cukup jelas.
Informasi yang tersimpan itu sifatnya terorganisasi, maka bila diberi petunjuk (retrieval cues), maka proses mengingat itu hanya akan berlangsung beberapa detik saja. Retrieval cues juga dipengaruhi oleh Internal state (kondisi internal seseorang). Bila terjadi kondisi internal yang sama atau sejenis, maka hal yang menyebabkan kesamaan kondisi internal itu dapat menjadi retrieval cues yang berguna dalam proses mengingat kembali.
Contohnya apabila anda merasa senang (kondisi internal) karena belajar psikologi faal untuk UAS dengan pacar anda. Bila saat ujian UAS anda duduk bersebelahan dengan pacar anda, maka kondisi internal yang terjadi cenderung sama dengan saat anda belajar. Hal tersebut dapat menjadi retrieval cues untuk menimbulkan ingatan-ingatan yang disimpan saat belajar. Sebaliknya, apabila saat UAS psikologi faal anda duduk bersebelahan dengan orang yang anda benci (Misalnya saingan anda), maka kondisi internalnya jauh berbeda dengan saat anda belajar, maka kondisi internal tersebut tidak membantu munculnya retrieval cues. Lihat gambar 2.4. Proses mengingat dalam memori jangka panjang ini sangat penting, oleh sebab itu banyak dilakukan penelitian untuk meningkatkannya.
                            Gambar 2.4. Internal State sebagai faktor Retrieval Cues
                                                           (Sumber : Baron, 1989; diolah)
2.3 TULVING’S THEORY OF MULTIPLE MEMORY SYSTEMS
Menurut Tulving, Memori dapat dilihat sebagai suatu hirarki yang terdiri dari tiga sistem Memori:
  • Memori Prosedural:
Memori mengenai bagaimana caranya melakukan sesuatu, misalnya Memori mengenai bagaimana caranya mengupas pisang lalu memakannya. Memori ini tidak hanya dimiliki manusia, melainkan dimiliki oleh semua makhluk yang mempunyai kemampuan belajar, misalnya binatang yang mengingat bagaimana caranya melakukan akrobat di sirkus.
  • Memori Semantik:
Memori mengenai fakta-fakta, misalnya Memori mengenai ibukota-ibukota Negara. Kebanyakan dari Memori Semantik berbentuk verbal.
  • Memori Episodik:
Memori mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh individu di masa yang lalu. Misalnya Memori mengenai pengalaman masa kecil seseorang.
Tulving mengajukan bukti adanya sistem memori yang terpisah-pisah seperti di atas antara lain melalui:
a.      Amnesia: Adanya amnesia yang berbeda-beda, misalnya penderita amnesia yang melupakan semua Memori Episodik (pengalaman masa lalu), tapi masih mengingat Memori Prosedural.
  1. Penyakit Alzheimer’s yang juga hanya menyerang sistem memori tertentu saja.

BAB III
PROSES TERJADINYA LUPA
Pada pembahasan tentang retensi, kita telah membicarakan tentang lama interval dan isi interval yang bisa menimbulkan masalah kelupaan. Lupa merupakan suatu gejala dimana informasi yang telah disimpan tidak dapat ditemukan kembali untuk digunakan. Ada empat teori tentang lupa, yaitu :
1.       Decay Theory, teori ini beranggapan bahwa memori menjadi semakin aus dengan berlalunya waktu bila tidak pernah diulang kembali (rehearsal). Informasi yang disimpan dalam memori akan meninggalkan jejak-jejak (Memory Traces) yang bila dalam jangka waktu lama tidak ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran, akan rusak atau menghilang. Teori ini sering juga disebut dengan teori atropi atau teori disense. Jadi jelas bahwa teori ini menitikberatkan pada lama interval.
2.       Teori Intervensi, teori ini menitikberatkan pada isi interval. Teori ini beranggapan bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang masih ada dalam gudang memori (tidak mengalami keausan), akan tetapi jejak-jejak ingatan saling bercampur aduk, menganggu satu sama lain. Bisa jadi bahwa informasi yang baru diterima menganggu proses mengingat informasi yang lama, tetapi bisa juga terjadi sebaliknya.
Bila informasi yang baru kita terima menyebabkan kita sulit mencari informasi yang sudah ada dalam memori kita, maka terjadinya Intervensi retroaktif. Contohnya, apabila kemarin anda kemarin menghafalkan peta pulau Sumatra, ternyata sekarang anda diharuskan mati-matian menghafalkan peta pulau kalimantan. Saat anda mencoba menghafalkan kembali Kotamadya-kotamadya di pulau Sumatra, anda akan mengalami kesulitan karena yang muncul adalah nama kotamdya-kotamadya di pulau Kalimantan.
Bila informasi yang kita terima sulit untuk diingat karena adanya pengaruh ingatan yang lama, maka terjadi proses Intervensi Proaktif. Contohnya dalam mempelajari bahasa baru, pola atau tata bahasa anda yang lama akan mempersulit anda dalam mengingat tata bahasa yang baru. Seperti juga contoh di atas, apabila saat ingin mengingat nama Kotamadya di pulau Kalimantan mengalami kesulitan mengingat karena yang teringat adalah kotamadya di pulau Sumatra, maka proses yang terjadi adalah Intervensi Proaktif.
3.       Teori Retrieval Failure, teori ini sebenarnya sepakat dengan teori intervensi bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang selalu ada, tetapi kegagalan untuk mengingat kembali tidak disebabkan oleh intervensi. Kegagalan untuk mengingat kembali lebih disebabkan tidak adanya petunjuk  yang memadai. Dengan demikian, bila syarat tersebut dipenuhi (disajikan petunjuk yang tepat), maka informasi tersebut tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali.
4.       Teori Motivated Forgetting, menurut teori ini, kita akan cenderung berusaha melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hal-hal yang menyakitkan atau tidak menyenangkan ini akan cenderung ditekan atau tidak diperbolehkan muncul dalam kesadaran. Teori ini didasarkan atau teori Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Dari penjelasan di atas, jelas bahwa teori ini juga beranggapan bahwa informasi yang telah disimpan masih selalu ada.
5.       Lupa Karena sebab-sebab Fisiologis. Para peneliti sepakat bahwa setiap penyimpanan informasi akan disertai berbagai perubahan fisik di otak. Perubahan fisik ini disebut Engram. Gangguan pada Engram ini akan mengakibatkan lupa yang disebut Amnesia. Bila yang dilupakan adalah berbagai informasi yang telah disimpan beberapa waktu yang lalu, yang bersanglutan dikatakan menderita Amnesia Retrograd. Bila yang dilupakan adalah informasi yang baru saja diterimanya, ia dikatakan menderita Amnesia Anterograd. Karena proses lupa dalam kedua kasus ini erat hubungannya dengan faktor-faktor bokimiawi otak, maka kurang menjadi fokus perhatian bagi para pendidik dan psikolog dalam kaitannya dengan proses kelupaan.

BAB IV
CARA PENYELIDIKAN INGATAN
        Bagaimanakah cara para ahli menyelidiki tentang ingatan ini? Ada beberapa metode yang bisa ditempuh, yaitu :
1.       Metode dengan melihat waktu atau usaha belajar (the learning method),
Metode ini merupakan metode untuk menyeidiki kemampuan ingatan dengan cara melihat sampai sejauh mana waktu yang diperlukan atau usaha yang dijalankan oleh subjek (S) untuk dapat menguasai mataeri yang dipelajari dengan baik; misalnya dapat menimbulkan kembali materi tersebut tanpa kesalahan.
Misalnya seseorang disuruh mempelajari suatu syair, dan orang tersebut harus dapat menimbulkan kembali syair tersebut tanpa ada kesalahan.
2.       Metode mempelajari kembali (the relearning method),
Metode ini merupakan metode yang berbentuk di mana subjek di suruh mempelajari materi kembali yang pernah dipelajari sampai pada suatu kriteria tertentu seperti pada mempelajari meteri tersebut pada pertama kali. Dalam relearning ternyata untuk mempelajari materi yang sama untuk kedua kalinya membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat daripada waktu pertama kali mempelajarinya, Unutk mempelajari yang ketiga kalinya, waktunya lebih singkat lagi dari pada mempelajari yang kedua kali maupun yang pertama kalinya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin sering dipelajari, semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya dan semakin banyak materi yang dapat diingat dengan baik, dan makin sedikit materi yang dilupakan. Hal tersebut menunjukan bahwa pada proses relearning ada waktu yang dihemat atau disimpan. Oleh karena itu metode ini disebut juga dengan metode saving method.
3.       Metode Rekonstruksi
Metode ini menugaskan subjek untuk mengkonstruksi kembali materi yang telah diberikan kepadanya. Dalam mengkonstruksi kembali dapat diketahui waktu yang digunakan, kesalahan-kesalahan yang diperbuat, sampai pada kriteria tertentu. Contohnya seperti bermain Puzzle.
4.       Metode Mengenal kembali
Dalam metode ini penelitian dalam memori ditekankan pada recognation (mengenal kembali), jadi subjek diminta untuk mempelajari materi, kemudian materi tadi disajikan ulang dengan penyertaan materi lain. Adanya materi lain ini untuk mengetes subjek apakah ia mampu mengenal kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya diantara materi-materi lain yang disajikan. Contoh sederhana dari metode ini adalah tes dengan menggunakan sistem multiple choice.
5.       Metode mengingat kembali
Dalam metode ini yang ditekankan adalah proses recall (mengingat kembali) terhadap apa yang telah dipelajari oleh subjek sebelumnya. Misalnya pada tes yang bentuknya essai atau pada tugas-tugas mengarang dimana subjek diminta untuk mengingat kembali peristiwa atau pengalaman yang dialaminya.
6.       Metode Asosiasi Berpasangan
Dalam metode asosiasi berpasangan, subjek diminta untuk mempelajari materi secara berpasang-pasangan. Untuk megetahui sejauh mana kemapuan mengingat, dalam evaluasinya, salah satu Pasangan digunakan sebagai stimulus, dan subjek diminta untuk menimbulkan kembali (baik recall maupun recognation) pasangannya. Misalnya subjek diminta untuk mempelajari atau menghafalkan materi dibawah ini.
         No. Identitas
   Nama Kota
  Kode Barang
         Hendro - 471
   Bandung - BDG
  Rinso – R13
         Yono - 174
   Jakarta - JKT
  Lux – S02
         Retno - 741
   P. Roti - RT
  Sunsilk – SH01
         Ira - 714 
   Jayapura - JYP
  Rejoice – J52

                Bila materi tersebut telah dihafalkan, maka kemudian diadakan tes untuk melihat kemampuan mengingatnya. Cara menimbulkan kembali dapat dilakukan dengan proses recall (mengingat kembali), misalnya :
-          Hendro - ......
-          Rinso - ........
Atau dapat juga dilakukan dengan proses recognation (mengenal kembali), misalnya:
-          Retno – RT – R13 – 741
-          Jayapura – J52 – JYP – 714
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Burtt dan Dobell (1925), kemampuan menimbulkan kembali dalam metode asosiasi berpasangan lebih baik hasilnya pada teknik recognition dibandingkan hasil pada teknik recall.

BAB V
CARA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMORI
Para ahli masih memperdebatkan apakah Memori merupakan suatu trait (sifat) atau skill (kemampuan). Trait merupakan sesuatu yang stabil dan tidak dapat ditingkatkan, sedangkan skill merupakan sesuatu yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.
Orang yang memiliki kemampuan Memori yang sangat tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Proses encoding yang majemuk dan bermakna.
  • Memiliki banyak cue dengan asosiasi tinggi.
  • Banyak latihan.
Contoh orang-orang dengan kemampuan Memori yang tinggi:
  • Steve Faloon: dapat mengingat deretan angka yang panjang.
  • John Conrad: dapat mengingat pesanan makanan di restoran dengan sangat baik.
  • Rajan: dapat mengingat angka phi.
Secara umum, usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan memori harus memenuhi tia ketentuan sebagai berikut :
a.       Proses memori bukanlah suatu usaha yang mudah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa pengulangan atau rehearsal merupakan usaha yang sangat membantu. Retensi suatu informasi dapat dibantu dengan cara mengulang informasi yang bersangkutan, khusunya untuk mempertahankan informasi di memori jangka pendek dan panjang.
Meskipun demikian, berbagai penelitian menunjukan bahwa pengulangan saja tidak ada artinya bila tidak dihubungkan dengan suatu konteks yang sudah dikenal, Contohnya mengingat huruf-huruf (BDGJKTSRBYMGLYGY), bila tanpa konteks tertentu, hasil hafalan huruf itu sangat susah untuk ditimbulkan kembali, sebaliknya bila huruf-huruf tersebut memiliki arti.
                (BANDUNGJAKARTASURABAYAMAGELANGYOGYA),
                Maka lebih mudah untuk ditimbulkan kembali.
Pengulangan juga dapat dilakukan secara periodik (Periodic recall atau rehearsal). Misalnya dengan mempelajari suatu notasi musik setiap dua minggu sekali.
b.      Bahan-bahan yang akan diingat harus mempunyai hubungan dengan hal-hal lain. Khusunya mengenai hal ini, konteks memegang peranan penting. Dari uraian di depan jelas bahwa memori sangat dibantu bila informasi yang dipeajari memiliki kaitan dengan hal-hal yang sudah dikenal sebelumnya. Konteks tersebut dapat berupa peristiwa, tempat, nama sesuatu, perasaan tertentu, dan lain-lain (seperti yang telah dijelaskan pada contoh retrieval cues di bagian retensi).
c.       Proses memori memerlukan organisasi. Salah satu pengorganisasian informasi yang amat dikenal adalah mnemonik (Bahasa Yunani : Mnemosyne, yaitu Dewi Memori dalam mitologi yunani). Informasi diorganisasi sedemikian rupa (dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dikenal) sehingga informasi yang kompleks mudah untuk diingat kembali.
Salah satu metode mnemonik yang biasa dilakukan adalah metode loci (method of loci; loci = locus = tempat). Individu diminta untuk membayangkan suatu tempat yang ia kenal baik, misalnya rumahnya. Ia membayangkan bagian tertentu dari rumah itu, misalnya dari ruang tamu sampai ke kamarnya. Ia membayangkan benda-benda apa saja yang akan ia temui di dekat pintu masuk, di ruang tamu, dekat pintu kamarnya dan di dalam kamar. Kemudian ia asosiasikan benda-benda tersebut dengan informasi baru yang harus diingat.
Metode mnemonik lain yang biasa digunakan adalah metode menghubungkan (link method) seperti yang telah dipelajari dalam penyimpanan informasi dalam memori jangka pendek, yaitu menghubungkan informasi yang harus diingat satu dengan yang lainnya sehingga mempunyai arti, walau kadang-kadang agak lucu. Misalnya untuk menghafalkan urutan arah mata angin digunakan singkatan Uak Beli Tahu Satu (Utara-Barat-Timur-Selatan), atau untuk menghafal spektrum warna, digunakan metode link seperti ini : Mau Jadi Koboi Harus Bisa Naik Unta (Merah-Jingga-Kuning-Hijau-Biru-Nila-Ungu).
Pengorganisasian juga dapat dilakukan dengan membuat suatu akronim, sekaligus sebagai suatu kesatuan informasi (chunk) seperti dalam jembatan keledai yang pernah disinggung dalam penyampain informasi dalam memori jangka pendek di bagian depan, contohnya LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) dan BERIMAN (Bersih, Indah, dan Aman).
Bagi orang normal, ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Memori, antara lain:
·         Mnemonic: Menciptakan asosiasi antar hal yang harus diingat.
  • Method of loci: Berusaha menciptakan gambaran seperti peta di benak kita dan mengasosiasikan tempat-tempat dalam peta itu dengan hal yang ingin diingat.
  • Peg word/ irama: Mengasosiasikan kata yang ingin diingat dengan kata lain yang berirama.
  • Menggunakan bayangan visual, misalnya John Conrad menggunakan bayangan visual untuk mengingat pesanan makanan dari para tamu.
  • Memahami hal yang harus diingat, dan tidak hanya menghafalkan di luar kepala. Hal yang dipahami akan diingat lebih lama daripada hafalan luar kepala.
  • Konteks ketika suatu hal sedang dipelajari, sama dengan konteks ketika hal tersebut harus diingat kembali (encoding specificity)
  • Memori akan baik ketika individu merasa terlibat secara emosional, namun keterlibatan emosional tidak terlalu tinggi.
  • Menggunakan sebanyak mungkin cue ketika berusaha mengingat sesuatu.
  • Memori akan lebih baik jika sesuatu dipelajari berulang kali walaupun masing-masing sesi cukup pendek, daripada mempelajari sesuatu dalam satu sesi yang panjang. Jadi, lebih baik mempelajari sesuatu dalam 3 sesi terpisah yang masing-masing lamanya 20 menit daripada 1 sesi yang lamanya 1 jam.
  • Memori akan lebih baik jika bahan pelajaran disimpan dalam beberapa cara, misalnya mengingat suatu pelajaran baik dari segi visual maupun audio akan lebih baik daripada hanya salah satu saja.
BAB VI
Model Memori
·         Model Waugh dan Norman (1965).
-          memory primer (singkat): kemampuan individu untuk menyimpan informasi dalam beberapa detik saja.
-          Memory sekunder (panjang/permanent): kemampuan individu untuk menyimpan informasi dalam ukuran menit (ingatan jangka panjang)
Ciri-cirinya: cenderung visual / ekustik, sering kali terjadi lupa karena gagal dalam mengingat kembali.
·         Model “modal model” tradisional dari Atkinson & Shiffrin (1968).
-          Sensory Memory: bagaimana cara kita menangkap informasi melalui panca indera; Pencatatan indera.
-          Short Term Memory (STM): tempat singgahnya informasi sebelum menuju ke LTM, waktunya hanya 0-18detik. Diperlukan adanya pengulangan sebelum menuju LTM.
-          Long Term Memory (LTM): isinya berkaitan dengan masa lalu.
·         Model “Level of Processing Approach (LOP)” dari Craik & Lockhat.
-          Kedangkalan: semakin dangkal kita menerima informasi (tidak mempunyai makna). Maka itu akan berpengaruh pada ingatan. Kita akan menjadi cepat lupa.
-          Kedalaman: ketika kita menerima informasi secara rinci (sedalam-dalamnya), maka informasi itu akan menetap di ingatan kita.→lebih mendalami informasi.
- maintance: pengulangan
- elaborative: memaknai dulu
·         Model system memory jamak dari Tulving (1922).
A.     Episodik: pengalaman personal yang dihubungkan dengan kejadian yang lain (temporal).
B.      Semantik: konseptual (kosa kata).
Perbedaan:
Episodik :
1. Sumber Informasi: Pengalaman sensoris.
2. unit informasi: Episode & kejadian.
3. organisasi: Behubungan dengan waktu.
4. keterlibatan emosi: Lebih penting.
5. kondisi kelupaan : Besar.
6. waktu yg dibutuhkan untuk mengingat informasi: Relatif lama.
7. uji di lab : Merecall episode tertentu.
8. manfaat umum : Kurang Manfaat.
Semantik :
1. Sumber Informasi: Pengertian.
2. unit informasi: Konsep, ide, fakta.
3. organisasi: Konseptual.
4. keterlibatan emosi:Kurang penting.
5. kondisi kelupaan : Kecil.
6. waktu yg dibutuhkan untuk  mengingat informasi: Relatif cepat.
7. uji di lab : Pengetahuan umum.
8. manfaat umum : Lebih Manfaat.
·         Model sudut pandang koneksionisme dai James Mc.Clelland
Spontanius Generalitation: Menarik kesimpulan tentang informasi umum yang belum dipelajari sebelumnya.
·         Model working memory (WM) oleh Baddeley (1986)
Kebalikan dari STM yang bersifat pasif. WM bersifat aktif melalui analisis karena informasi yang berada di WM diolah/dianalisis terlebih dahulu sebelum menuju Long Term Memory. WM tidak butuh pengulangan spt STM, tetapi informasi langsung dianalisis sendiri karena di dalamnya sudah ada olah data.

BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk itu penulis dapat menyimpulkan makalah ini sebagai berikut:
1. Psikologi Faal  adalah ilmu yang mempelajari fungsi atau kerja tubuh manusia dalam   keadaan normal atau homeostatis atau stabil.
2. Memori dimaksud adalah suatu kemapuan untuk mengingat kembali atas rekaman yang pernah dibuat oleh otak.
3. Untuk mengetahui entang Memori.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar