Belajar Blog

Senin, 24 Januari 2011

Makalah Ekonomi Pembangunan


   MAKALAH EKONOMI PEMBANGUNAN

Masalah Pembangunan Manusia:
Kependudukan, Pengangguran, Wanita, dan Migrasi
                               

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Masalah Pembangunan Manusia: Kependudukan, Pengangguran, Wanita, dan Migrasi” ini dengan baik.
        Pengetahuan mengenai ekonomi pembangunan di Indonesia sangat penting untuk dipelajari dan dikembangkan. Demikian pula bagi mahasiswa yang kiranya cukup banyak menjumpai masalah yang berkaitan dengan ruang lingkup pembahasan. Atas dorongan untuk membantu para pembaca baik di kalangan mahasiswa, maupun pembaca lainnya dalam memahami ekonomi pembangunan di Indonesia, maka penulis menyusun dan menyajikan makalah yang berjudul “ Masalah Pembangunan Manusia: Kependudukan, Pengangguran, Wanita, dan Migrasi” ini. Selain itu penulis juga ingin mempelajari materi ini dengan baik dan menyeluruh.
        Penulis menyadari bahwa, makalah ini masih jauh dari sempurna dan memuaskan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran para pembaca untuk penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, para pembaca dan semua pihak pada umumnya.



                                                                        Penulis
i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................i
Daftar isi...................................................................................................................ii
Bab I  Pendahuluan................................................................................................1
1.1           Latar Belakang.............................................................................................1
1.2           Rumusan Masalah........................................................................................1
1.3           Tujuan dan Manfaat.....................................................................................2
Bab II  Kajian Pustaka..........................................................................................3
2.1          Pengertian Koperasi.....................................................................................3
2.2          Keanggotaan Koperasi…………………………………………………….3
2.3          Fungsi dan Peran Koperasi………………………………………………..4
2.4          Prinsip Koperasi…………………………………………………………...4
2.5          Jenis-jenis koperasi………………………………………………………..5
2.6          Sumber Modal Koperasi…………………………………………………..5
2.7          Mekanisme Pendirian Koperasi…………………………………………...7
2.8          Pengurus Koperasi………………………………………………………...7
2.9          Pengertian SWOT........................................................................................7
2.10Komponen-komponen Dasar SWOT...........................................................8
Bab III  Pembahasan
3.1                Sejarah Perkembangan  Koperasi di Indonesia..........................................11
3.2                Hambatan-hambatan  Koperasi…………………………………………..14
3.3                Perkembangan Koperasi dengan Analisa SWOT......................................15

Bab IV  Penutup...................................................................................................19

4.1                Kesimpulan................................................................................................19

Daftar Pustaka






ii
DAFTAR PUSTAKA


Kuncoro, Mudrajad.2006.Ekonomika Pembangunan Teori, Masalah, dan Kebijakan.Yogyakarta:UPP STIM YKPN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Dewasa ini, pembangunan di beberapa negara semakin pesat, baik secara struktural maupun secara ekonomi. Pembangunan tersebut dilakukan untuk membuat suatu negara menjadi maju dan berkembang demi kesejahteraan masyarakatnya. Selain itu, pembangunan dilakukan untuk menjadi tolak ukur apakah suatu negara tersebut maju atau sedang berkembang. Di dalam melakukan kegiatan pembangunan, sebelumnya kita harus mengetahui teori-teori yang mendasarinya. Teori ini melatarbelakangi di dalam pembahasan pembuatan makalah teori utama pembangunan.
Dengan pembuatan makalah ini diharapkan kita dapat mengetahui pengertian dari teori utama pembangunan. Kita juga dapat mengetahui teori-teori yang mendasari pembangunan di suatu negara. Selain itu, kita juga dapat mengidenfikasikan apa saja yang termasuk di dalam teori-teori tersebut, kelebihan serta kelemahan teori-teori yang sudah ada atau terdahulu sebagai dasar rencana pembangunan ke depan suatu negara.

1.2     Rumusan Masalah
1.       Apa yang dimaksud dengan paradigma pembangunan berwawasan dunia?
2.       Bagaimana masalah kependudukan dalam pembangunan?
3.       Bagaimana masalah pengangguran dalam pembangunan?
4.       Bagaimana masalah wanita dalam pembangunan?
5.       Bagiamana masalah migrasi dan sektor informal dalam pembangunan?



1.3     Tujuan dan Manfaat
1.       Dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam kelompok dengan baik.
2.       Memberi pelatihan berbasis kompetensi untuk mengembangkan keterampilan mengamati dan mendokumentasikan semua aspek yang berkaitan dengan masalah pembangunan manusia.
3.       Mengetahui masalah pembangunan manusia yang mencakup masalah kependudukan, pengangguran, wanita, dan migrasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.8  MASALAH WANITA
      Dalam skala global dikenal adatiga pergeseran interpretasi peningkatan peran wanita (P2W) sebagai berikut (Tjokrowinoto 1996: 84-86):
1. Peningkatan Peran Wanita Sebagai Wanita Dalam Pembangunan
Perspektif P2W dalam konteks Women in Development memfokuskan pada bagaimana mengintegrasikan wanita dalam berbagai bidang kehidupan, tanpa banyak mempersoalkan sumber-sumber yang menyebabkan mengapa posisi wanita dalam masyarakat bersifat inferior, sekunder, dan dalam hubungan subrdinasi terhadap pria.  
2. Peningkatan Peran Wanita Sebagai Wanita dan Pembangunan
Menurut perspektif Women and Development yang dipelopori oleh kaum feminis-Marxist ini, wanita selalu menjadi pelaku penting dalam masyarakat sehingga posisi wanita dalam arti status, kedudukan, dan peranannya akan menjadi lebih baik bila struktur internasional menjadi lebih adil.
3. Peningkatan Peran Wanita Sebagai Gender dan Pembangunan
Menurut kacamata Gender and Development, konstruksi sosial yang membentuk persepsi dan harapan sert mengatur hubungan antar pria dan wanita sering merupakan penyebab rendahnya kedudukan dan status wanita, posisi inferior, dan sekunder relatif terhadap pria.
Berkaitan dengan P2W, sejak GBHN 1978 telah mengamanatkan keikutsertaan (integrasi) wanita dalam pembangunan nasional. Semenjak itu berbagai kebijakan dan program telah dirumuskan untuk lebih membuka partisipasi wanita dalam pembangunan. Dalam GBHN 1993, program P2W dalam Pembangunan Jangka Panjang II diarahkan pada sasaran umum dengan meningkatnya kualitas wanita dan terciptanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi wanita untuk mengembangkan diri dan meningkatkan peranannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Salah satu indikator integrasi wanita dalam pembangunan adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPKA) wanita. Dari sisi ini terlihat bahwa TPKA wanita meningkat dari tahun ke tahun dan diprediksikan tetap naik pada tahun mendatang seperti terlihat pada Tabel 1.1 berikut ini:

                Tabel 1.1  Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

Tahun

Wanita (%)
Laki-laki (%)
1988
37,4
62,6
1993
38,8
61,2
1998
40,2
59,8

Untuk melihat seberapa besar kesenjangan gender (gender disparity) di suatu daerah dapat dihitung dengan membandingkan antar indeks pembangunan yang berhubungan dengan gender (GDI = Gender Development Index) dan indeks pembangunan manusia (HDI = Human Development Index) daerah yang diamati (BPS, 2001). Kesetaraan gender di suatu daerah ditunjukkan dengan angka GDI yang sama dengan HDI. Kesenjangan gender ditunjukkan oleh selisih antara HDI dan GDI. Semakin kecil GDI disbanding HDI menunjukkan semakin lebar kesenjangan gender di daerah bersangkutan.
2.9  MASALAH MIGRASI DAN SEKTOR INFORMAL
      Strategi indutrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal, proteksi,dan teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembangunan. Fakta menunjukkan sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan dengan sektor pertanian yang tradisional dan kurang produktif. Sektor pertama berupa struktur ekonomi modern yang secara komersial cenderung bersifat canggih, yang banyak bersentuhan dengan lalu lintas perdagangan internasional, dibimbing oleh motif-motif memperoleh keuntungan yang maksimal.
Di dalam konteks ini sektor tersebut dikuasai oleh orang-orang bermodal besar (konglomerat) yang terutama berasal dari daerah metropolitan (kota-kota besar), di mana pusat kekuasaan pemerintahan dan kegiatan ekonomi berada.
      Sektor yang kedua berupa struktur ekonomi pedesaan yang bersifat tradisional yang menurut teori ekonomi modern merupakan struktur ekonomi yang beorientasi kepada sikap-sikap konservatif, kurang menanggapi rangsangan-rangsangan internasional, serta kurang mampu mengusahakan pertumbuhan perdagangan secara dinamis. Sebagian besar warga negara Indonesia hidup di dalam sektor yang kedua ini (Nasikun, 1989).
      Dewasa ini dualisme ekonomi timbul dari adanya urbanisasi. Adapun urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa menuju kota sehingga mengakibatkan semakin besarnya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan. Tingkat urbanisasi di Indonesia cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu.pada tahun 1961 penduduk perkotaan baru 15 %, pada tahun 1970 meningkat sedikit menjadi 17,4%, tahun 1980 menjadi 22,27%, dan tingkat urbanisasi semakin cepat hingga tahun 1990 mencapai 30,9% dan tahun 1995 menjadi 35,9%.   
      Adapun alasan melakukan migrasi, menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 adalah:
1.       Perubahan status perkawinan dan ikut saudara kandung / famili lain sebesar 41,35%.
2.       Karena pekerjaan sebesar 39,65%.
3.       Karena pendidikan sebesar 14,96%.
4.       Karena perumahan hanya 2,57%.
5.       Dan lainnya 1,47%.
Pendatang baru dikota karena tidak memperoleh pekerjaan, mencoba mengadu nasibnya dengan berpatisipasi dalam kegiatan ekonomi kota sebagai self employment yang akhir-akhir ini dikenal sebagai sektor informal. Sektor informal menurut Weeks, bukanlah merupakan sektor yang memiliki sifat-sifat seperti sektor tradisional sepenuhnya yaitu sifat statis, melainkan memiliki sifat dinamis, walaupun begitu sektor informal bisa dikatakan sebagai bagian dari sektor tradisional yang mempunyai pemahaman lebih luas (Hidayat,1978).    
Sektor informal menurut Dipak Mazumbar (Bank Dunia), merupakan unit-unit usaha yang tidak atau sedikit sekali menerima proteksi secara resmi dari pemerintah. Jadi untuk mengkategorikan suatu unit usaha ke dalam sektor informal perlu diperhatikan suatu kriteria bahwa selama bantuan / fasilitas yang disediakan oleh pemerintah adalah yang dipakai sebagai ukuran, unit-unit usaha yang tidak dapat mempergunakan fasilitas itu dikelompokkan ke dalam sektor informal. Dengan kata lain bukan tersedianya fasilitas yang penting melainkan penggunaan fasilitas tersebut.
      Sektor informal adalah bagian dari sistem ekonomi kota dan desa yang belum mendapatkan bantuan ekonomi dari pemerintah atau belum mampu menggunakan bantuan yang telah disediakan atau telah menerima bantuan tetapi belum sanggup berdikari (Hidayat, 1983).
      Sektor informal Indonesia, menurut Hidayat (1978) umumya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.       Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik, karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas / kelembagaan yang tersedia di sektor formal.
2.       Pada umumnya unti usaha tidakmempunyi izin usaha.
3.       Pola kegiatan usaha tidak teratur baik dalam arti lokasi maupun jam kerja.
4.       Pada umumnya kebijakan pemerintah unutk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini.
5.       Unit usaha mudah keluar masuk dari satu subsektor ke lain subsektor.
6.       Teknologi yang digunakan bersifat primitif.
7.       Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil.
8.       Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal karena pendidikan yang diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil bekerja.
9.       Pada umumnya unit usaha termasuk golongan “one man enterprises” dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga.
10.    Hasil produksi atau jasa terutam dikonsumsikan oleh golongan masyarakat kota / desa yang berpenghasilan rendah, tetapi kadang-kadang juga yang berpenghasilan menengah.
Sektor informal sangat perlu dikembangkan lebih lanjut dan dibina dengan baik. Adapun alasan –alasan perlu dikembangkannya sektor informal, menurut Todaro (1994) adalah sebagai berikut:
1.       Sektor informal menghasilkan surplus, meskipun berada dalam suatu lingkungan kebijakan yang memusuhinya, yang menolaknya untuk mendapatkan kemudahan terhadap keuntungan-keuntungan yang ditawarkan kepada sektor informal.
2.       Sebagai akibat dari rendahnya intensitas penggunaan kapital, hanya sebagian kecil saja dari kapital yang diperlukan di sektor formal diperlukan untuk mempekerjakan seseorang di sektor informal.
3.       Menyediakan kesempatan kerja untuk mendapatkan latihan dan magang dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada yang disediakan oleh lembaga-lembaga formal dan sektor formal.
4.       Sektor informal membutuhkan tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan atau cukup hanya setengah terampil saja yang penawarannya semakin meningkat dan penawaran tersebut mustahil akan diserap oleh sektor formal yang sifat permintaannya lebih banyak membutuhkan tingkat yang berketerampilan.
5.       Sektor informal mungkin dapat akan dapat menggunakan teknologi tepat guna dan memanfaatkan sumber daya setempat yang tersedia yang memungkinkan alokasi sumber daya dapat dilaksanakan secara lebih efisien.
6.       Sektor informal memainkan peranan yang sangat penting dalam mendaur-ulangkan barang-barang buangan.  

BAB III

KESIMPULAN

3.1      Kesimpulan
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar