Belajar Blog

Sabtu, 22 Januari 2011

Pengertian Seks

A.      SEKS
1.       Pengertian Seks
Seks berasal dari kata sexe atau secare yang berarti memotong atau memisahkan. Seks membuat garis pemisah yang tegas antara jenis kelamin jantan dan betina atau pria dan wanita. Kata “seks” lebih banyak mengacu pada alat kelamin (genetalia), gairah, libido seksual dan aktifitas seks (Budianto, 1993 : 10).
Seks dalam arti sempit berarti kelamin, sedang dalam arti yang luas sering disebut dengan seksualitas dimana tidak hanya menyangkut kelamin saja tetapi semua aspek perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari sisi fisik, biologis, psikis serta sosial yang berhubungan pada manusia (Thontowi, 2002:2).
Ciri-ciri anatomi biologi yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dengan ciri-ciri biologi kelamin penis, orang dimasukkan dalam kelompok laki-laki, dan dengan ciri-ciri biologi kelamin vagina, orang dimasukkan dalam orang dimasukkan dalam kelompok perempuan. Itulah yang disebut jenis kelamin atau seks. Selain itu, istilah seks berhubungan dengan hal yang menyangkut alat kelamin misalnya persetubuhan atau senggama (Surtiretna, 2000:164). Seks adalah sifat jantan dan betina, laki-laki dan perempuan. Unsur biologis seks terdiri atas: (1) perbedaan adaptif antara dua jenis kelamin individu dari satu  spesies, yang mengakibatkan (2) daya tarik antara keduanya yang dapat menghasilkan (3) pertemuan atau persatuan. Pada manusia, selain unsur biologis, berkembanglah unsur psikis, estetis dan sosial yang memperkaya dan memperindah kehidupan manusia (Exner dalam Subiyanto, 1992 : 104).

Menurut Subiyanto (1996 : 67) pengertian seks adalah :
1)     Seks adalah sifat jantan atau betina, pria atau wanita
2)     Seks adalah suatu fenomena organik yang mempunyai dasar kimiawi tertentu yang dapat dijumpai pada semua organisme
3)     Seks adalah sifat-sifat anatomis, fisiologis dan perilaku organisme yang berhubungan dengan proses reproduksi sosial
4)     Seks adalah keseluruhan perbedaan fisiologis pada struktur manapun fungsi
5)     Seks adalah keseluruhan perbedaan diantara individu-individu. Dengan adanya perbedaan ini terdapat kekhususan diantara pasangan yang terlibat pada reproduksi seksual

Menurut Wardoyo (1990 : 42) seks adalah alat kelamin dan hal-hal yang menyangkut alat kelamin. Seks sering kali mengacu pada artian jenis kelamin dan ada pula yang berarti kenikmatan seksual yang diperoleh melalui rangsangan atau hubungan seksual. Seks juga diartikan sebagai sifat-sifat, anatomis, fisiologis dan perilaku organisme yang bersangkutan dengan proses reproduksi seksual (Sarlito, 1991 : 35).
Seperti dikemukakan oleh Gulick (dalam Subiyanto, 1992 : 122) pengertian seks adalah kehidupan manusia dapat ditafsirkan dengan benar hanya dalam hubungannya dengan kasih sayang. Pengertian seks juga menunjukkan pada perbedaan jenis kelamin fisiologis yang menandakan ciri khusus kewanitaab dab kelaki-lakian. Seks menurut Kartono (dalam Drajad, 1993 : 37) merupakan energi psikis yang ikut mendorong manusia untuk bertingkah laku, tidak cuma bertingkah laku dibidang seks saja yaitu melakukan relasi seksual atau bersenggama, akan tetapi juga melakukan kegiatan-kegiatan nonseksual, umamanya berprestasi dibidang ilmiah, seni, melakukan tugas-tugas moril dan lain-lain. Seks adalah suatu mekanisme bagi manusia agar mampu mengadakan keturunan.
Pengertian seks yang lebih luas lagi adalah yang dikemukakan oleh Wirawan (1991 : 10) yang mendefinisikan seks dalam dua segi, yaitu :
1)     Seks dalam arti sempit
Dalam arti yang sempit, seks berarti kelamin dan yang termasuk adalah kelamin :
a.       Alat kelamin itu sendiri
b.       Anggota-anggota tubuh dan ciri-ciri badaniah lainnya yang membedakan antara laki-laki dan wanita, misalnya : perbedaan suara, pertumbuhan kumis, payudara dan lain-lain
c.       Kelenjar dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya alat kelamin
d.       Hubungan kelamin (senggama dan percumbuan)
e.       Proses pembuahan, kehamilan dan kelahiran.
2)     Seks dalam arti luas
Dalam arti yang luas seks berarti segala hal yang terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan jenis kelamin, antara lain :
a.       Perbedaan tingkah laku: lembut, kasar dan genit
b.       Perbedaan atribut : pakaian, nama dan lain-lain
c.       Perbedaan peran dan pekerjaan
d.       Hubungan antara pria dan wanita : tata krama, pergaulan, percintaan, pacaran, perkawinan dan lain-lain

Drever (dalam Jersild, 1978), menyatakan seks suatu perbedaan yang mendasar berhubungan dengan reproduksi, dalam satu jenis yang mambagi jenis ini menjadi dua bagian yaitu jantan dan betina yang mana sesuai dengan sperma (jantan) dan sel telur (betina) yang diproduksi.
Schuster dan Ashburn (1980) menyatakan bahwa pengertian yang mendekati adalah berkaitan dengan konsep seksualitas yang melibatkan karakteristik dan perilaku merupakan perilaku seksual dengan kecenderungan pada interaksi heteroseksual. Seksualitas melibatkan secara total dari sikap-sikap, nilai-nilai, tujuan-tujuan dan perilaku individu yang didasari atau ditentukan persepsi jenis kelaminnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsep seksualitas seseorang atau individu dipengaruhi oleh banyak aspek dalam kehidupan, termasuk didalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan interpersonal, self evaluation, ekspresi emosi, perasaan, karir dan persahabatan.
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Menurut Johan (1993), ada beberapa tipe hubungan seksual yang dapat terjadi antara dua orang yang bersahabat yaitu :
1)     Tipe hubungan seks yang dapat terjadi antara seorang pria dengan pria lain (homoseksual);
2)     Tipe hubungan seks yang dapat terjadi antara seorang wanita dengan wanita lain (lesbian);
3)     Tipe hubungan seks seorang pria dengan seorang wanita.

Menurut Reuben (Wirawan, 1981) seks mempunyai fungsi :
a)      Seks untuk tujuan reproduksi, yaitu untuk memperoleh keturunan, oleh kerena itu sebagian orang beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang suci, sesuatu yang tabu dan tidak patut dibicarakan secara terbuka;
b)     Seks untuk pernyataan cinta, yaitu seks yang dilakukan berlandaskan cinta dan didukung oleh ikatan cinta;
c)      Seks untuk kesenangan yaitu hubungan seks dengan menghayati hubungan yang lama dan mampu mengalami kenikmatan tanpa merugikan salah satu pihak.

Hubungan seksual adalah suatu keadaan fisiologik yang menimbulkan kepuasan fisik, dimana keadaan ini merupakan respon dari bentuk perilaku seksual yang berupa ciuman, pelukan, dan percumbuan (Jersild, 1978).
Miller (1990) berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan hubungan fisik dalam bercumbuan, dimana hal ini merupakan rencana alamiah untuk meningkatkan gairah seksual bagi persiapan hubungan seksual yaitu : berpegangan tangan, saling memeluk (tangan di luar baju), berciuman, saling membelai atau meraba (dengan tangan di dalam baju yang lain).
Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis, bentuk tingkah laku ini bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku kencan, bercumbu dan bersenggama. Objek seksualnya  bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan, atau diri sendiri (Wirawan, 1997).

Menurut Surtiretna (2000:2), pengertian seks bisa ditinjau dari 5 aspek antara lain :
1)     Seks ditinjau dari segi biologis
Bagaimana remaja tersebut memahami tentang seks itu sendiri yang mana karakteristik kelamin primer yang menunjuk pada organ tubuh yang langsung berhubungan dengan alat persetubuhan dan proses repruduksi. Perbedaan organ repruduksi juga termasuk dalam segi biologis yang sejak kecil sudah tertanam dalam diri anak.
2)     Seks ditinjau dari segi Psikologis
Kematangan sangat nampak dalam bidang perilaku seksual. Hal ini disebabkan karena penyesuaian diri sikap bermusuhan dengan lawan yang merupakan ciri dari akhir masa kanak-kanak dan masa puber, menjadi sikap menaruh minat dan mengembangkan kasih sayang kepada mereka merupakan penyesuaian yang radikal. Remaja yang tidak berkencan karena mereka kurang menarik bagi lawan jenis atau karena mereka masih meneruskan perasaan tidak senang pada lawan jenis, dianggap tidak matang oleh teman-teman sebaya, keadaan ini menyebabkan terputusnya hubungan sosial remaja dengan teman-teman yang sikap dan perilaku terhadap  lawan jenis sudah menjadi lebih matang. Menolak peran seks yang diakui dan terus-menerus memikirkan masalah seks, kehamilan sebelum menikah dan pernikahan sebelum remaja dapat mencari nafkah, juga dianggap sebagai tanda-tanda ketidakmatangan. Menolak peran seks yang diakui, terlebih bagi gadis-gadis, dianggap sebagai salah satu ketidakmatangan yang paling berbahaya dibidang ini karena dapat merupakan sumber kesulitan dalam perkawinan.
3)     Seks ditinjau dari segi Agama
Dalam agama Islam, pendidikan seks tidak dapat dipisahkan dari agama dan bahkan harus sepenuhnya dibangun diatas landasan agama. Dengan mengajarkan pendidikan seks yang demikian, diharapkan dapat terbentuk individu remaja yang menjadi manusia dewasa dan bertanggung jawab, baik pria maupun wanita sehingga mereka mampu berperilaku sesuai dengan jenisnya dan bertanggungjawab atas kesesuaian dirinya serta dapat menyesuaiakan diri dengan lingkungan sekitarnya, strata sosial ekonomi akan berpengaruh pada tingkat pendidikan dan hubungan sosial seseorang dengan orang lain, sehingga fungsi-fungsi pengenalan ingatan, khayalan dan daya fikir individu yang semua itu akan mempengaruhi terhadap informasi, kemajuan teknologi sangat besar perananya, sehingga jelas bahwa orang yang hidup dikota akan berbeda kebutuhannya dengan orang yang hidup didesa. Dengan kata lain bahwa lingkungan mempengaruhi kebutuhan manusia baik materi maupun non materi. Perbuatan seseorang adalah cerminan dari pemenuhan kebutahan orang tersebut. Dengan demikian iman yang ada pada hati nurani dan perasaan takut pada tuhan mempunyai peranan yang penting terhadap kebutuhan manusia dan itu semua sudah dibatasi dalam hukum agama.
4)     Seks ditinjau dari Sosial
Bernstein (dalam Hurlock, 1990 : 129) menjelaskan bahwa seksisme (pemahaman seks) dimulai dari kegiatan di taman kanak-kanak dimana gadis-gadis kecil diarahkan bermain dengan boneka dan diluar kegiatan rekreasi antara anak laki-laki dan perem puan sangat dibedakan misalnya, anak laki-laki diberi bola dan alat pemukulnya, sedangkan anak perempuan bermain lompat tali, perantara penting yang mampu memberikan pendidikan pendidikan atau peran seks diri anak adalah media massa, buku cerita, pertunjukkan TV yang dilihat dan semua yang mengerahkan pada penggolongan peran seks. Pendidikan seks saat ini  harus mengantisipasi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara pada satu atau dua dekade mendatang agar subjek atau peserta didik dapat mengambil peran yang tepat dalam kehidupan. Pendidikan sebagai investasi kemanusian jangka panjang (long range Human investment) harus memberi kemungkinan suksesnya kehidupan manusia pada masa yang akan datang. Berbagai kemajuan teknologi, penyebaran informasi melalui media cetak dan elektronik, termasuk didalamnya terdapat informasi tentang seks, menantang para pendidik dimanapun ia berada untuk berpartisipasi secara aktif dan benar menyiapkan anak bangsa membangun masa depan yang baik, mapun menyangkal berbagai informasi yang justru mampu merusak masa depan.
5)     Seks ditinjau dari segi Hukum
Kesopanan pada umumnya mengenai adat kebiasaan yang baik dalam hubungan antara berbagai anggota masyarakat, sedangkan kesusilaan mengenai juga adat kebiasaan yang baik itu, tetapi yang khusus ini sedikit banyak mengenai kelamin (seks) seorang manusia yang sudah tercantum dalam KUHP. Menurut Oemar Seno Adji dalam karangannya pada majalah “Hukum dalam Masyarakat” Tahun 1965 Nomor 3,4,5,6 dan tahun 1966 Nomor 1,2,3 menggunakan istilah delict susila.
Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa seks adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang mempunyai peranan masing-masing dalam kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar