Belajar Blog

Senin, 24 Januari 2011

Peran Wanita Karir Terhadap Motivasi Belajar Anak


1.       PENDAHULUAN
1.1.    LATAR BELAKANG
Pendidikan tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan sekolah yang sekaligus merupakan lembaga pendidikan formal, tetapi pendidikan juga dapat dilakukan di lingkungan keluarga. Pendidikan dalam keluarga merupakan basis pendidikan yang pertama dan utama. Situasi keluarga yang harmonis dan bahagia akan melahirkan anak atau generasi-generasi penerus yang baik dan bertanggung jawab.
Peran orang tua yang seharusnya adalah sebagai orang pertama dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan terhadap anak-anaknya. Orang tua juga harus bisa menciptakan situasi pengaruh perhatian orang tua dengan menanamkan norma-norma untuk di kembangkan dengan penuh keserasian, sehingga tercipta iklim atau suasana keakraban antara orang tua dan anak.
Tetapi pada kenyataannya orang tua tidak selalu bisa memberikan perhatian yang sepenuhnya terhadap putra-putrinya karena mereka disibukkan dengan kepentingan kerja maupun kepentingan yang lain. Banyak wanita yang setelah lama bekerja di kantor mereka merasa pasrah dan tak sanggup lagi apabila mereka diharapakan untuk berperan sebagai ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anaknya. (Hurlock, 283).
Secara tradisional, peran wanita seolah dibatasi dan ditempatkan dalam posisi pasif yaitu wanita hanyalah pendukung karir suami. Peran wanita yang terbatas pada peran reproduksi dan mengurus rumah tangga membuat wanita identik dengan pengabdian kepada suami dan anak. Hal inilah yang terkadang membuat wanita yang bekerja kurang memperhatikan pola belajar anak, sehingga mengakibatkan motivasi belajar anak kurang.
Seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja pada umumnya mempunyai banyak waktu lebih untuk mengajari dan mendampingi belajar putar-putrinya, sehingga mereka memiliki motivasi yang cukup Lain halnya dengan wanita yang bekerja, karena waktu yang sangat minim tersebut kurang optimal dalam mendampingi proses belajar di lingkungan rumah.
Akibatnya, anak menjadi sering menyontek saat di adakan latihan evaluasi, tidak mempedulikan kegiatan belajar mengajar di dalam sekolah, tidak mengerjakan tugas di kelas maupun pekerjaan rumah dan tidak belajar saat di rumah. Sehingga  kurangnya motivasi tersebut, prestasi yang diraih anak pun masih belum maksimal. Dengan adanya motivasi dari keluarga khususnya sosok ibu, selain untuk meningkatkan prestasi belajar, diharapkan juga meningkatkan ketrampilan dan kreativitas anak karena fungsi motivasi itu sendiri adalah sebagai pendorong, penggerak dan pengarah perbuatan belajar.
Periode usia sekolah dasar ini banyak yang memandang sebagai periode kritis dalam dorongan berprestasi, suatu masa di mana nak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses, tidak sukses atau sangat sukses. Tingkat perilaku berprestasi pada masa sekolah dasar mempunyai korelasi yang tinggi denagn perilaku berprestasi pada masa dewasa. (Hurlock, 146).
Pandangan mengenai pekerjaan ayah mempengaruhi perasaan anak. Kalau ibu bekerja di luar rumah, sikap anak terhadap ibu diwarnai oleh pandangan teman-teman mengenai wanita yang bekerja di luar rumah dan oleh banyaknya beban tanggung jawab yang harus dilakukan di rumah (Hurlock, 171).
Pada penelitian, menggunakan respondent yang pertama putra dari wanita yang bekerja pada perusahaan asuransi di Malang yang masih duduk pada Sekolah Dasar kelas 1 SD dan respondent kedua putra dari wanita yang bekerja sebagai admin pada akademi perawat swasta di Malang yang duduk di Sekolah Dasar kelas 1 SD.
1.2.    IDENTIFIKASI MASALAH
Beberapa jenis masalah belajar yang dihadapi anak SD antara lain :
1.       Keterlambatan Akademik
Keadaan anak yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
2.       Ketercepatan dalam Belajar
Keadaan anak yang memiliki bakat akademik cukup tinggi, tetapi masih memerlukan tugas untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
3.       Sangat Lambat Belajar
Keadaan anak yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai.
4.       Kurang Motivasi dalam Belajar
Keadaan anak yang kurang semangat belajar.
5.       Bersikap dan Kebiasaan Buruk dalam Belajar
Suka menunda – nunda tugas, mengulur – ulur waktu, tidak mau bertanya hal – hal yang tidak diketahui.
Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
Secara garis besar, faktor penyebab terjadinya masalah belajar dibagi menjadi dua :
1.       Faktor Internal
Yaitu faktor yang berada dalam diri siswa itu sendiri, diantaranya :
·         Gangguan secara fisik
·         Ketidakseimbangan secara mental
·         Kelamahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang percaya diri,takut, benci, dan lain – lain.
·         Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah,seperti malas, sering bolos, dan lain – lain.
2.       Faktor Eksternal
a.        Sekolah, antara lain :
·         Kurikulum yang kurang fleksibel
·         Beban belajar yang terlalu berat
·         Metode dan media belajar yang kurang memadai
b.       Keluarga, antara lain :
·         Kurang harmonis
·         Keadaan ekonomi
·         Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan.
1.3.    RUMUSAN MASALAH
1.3.1.   Bagaimana mengatasi problem motivasi belajar pada anak?
1.3.2.   Bagaimana penyesuaian anak pada ibu yang bekerja?

1.4.    TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan motivasi belajar anak dalam ibu yang bekerja
1.5.    MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini bermanfaat secara teoritis maupun praktis
1.5.1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan menambah sumbangan bagi ilmu psikologi pendidikan, khususnya teori-teori yang bisa diterapkan di lingkungan keluarga mengenai motivasi belajar anak
1.5.2. Manfaat praktis
·         Bagi orang tua diharapkan dapat menggunakan kondisi pekerjaan ibu sebagai pendorong guna meningkatkan motivasi belajar anak
·         Sebagai usulan kepada orang tua dengan adanya ibu yang bekerja tidak ada perbedaan dalam memicu motivasi belajar anak

2.       KAJIAN PUSTAKA
2.1.    Pengertian Motivasi 
Kata motivasi berasal dari Bahasa Inggris “motivation“. Kata asalnya ialah motive yang artinya tujuan. Thursan Hakim (2000 : 26) mengemukakan pengertian motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam belajar, tingkat ketekunan siswa sangat ditentukan oleh adanya motif dan kuat lemahnya motivasi belajar yang ditimbulkan motif tersebut.
Menurut Hillgard dan Russel (dalam Afshyus Salamah, 2006), motivasi dapat diartikan sebagai proses perubahan tenaga dalam diri seseorang, yang lebih ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi mencapaitujuan. 
Sedangkan menurut Woodworth dan Marquis (dalam Afshyus Salamah, 2006), mengatakan bahwa motivasi adalah satu set motif atau kesiapan yang menjadikan individu cenderung melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Mitchell (Sue dan Glover, 2000) berpendapat bahwa motivasi adalah sebagai suatu tingkatan kejiwaan berkaitan dengan keinginan individu dan pilihan untuk melakukan perilaku tertentu. Moh. Uzer Usman (2000) berpendapat bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. 
Menurut Sudarwan Danim (2004 : 2) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni: 
·         Faktor pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal. 
·         Tujuan yang ingin dicapai. 
·         Strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.

2.2.     Jenis - Jenis Motivasi
Menurut Sunarto (2008) motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis timbul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut instrinsik sedangkan faktor di luar diri disebut ekstrinsik. Faktor instrinsik berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan. Sedangkan faktor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pimpinan, kolega atau faktor-faktor lain yang kompleks.
2.3.     Fungsi Motivasi
Menurut Sutisna Sanjaya (2007) fungsi motivasi dalam pembelajaran diantaranya : 
·         Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar. 
·         Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 
·         Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan. 

2.4.    Belajar 
Menurut W.S. Winkel (2004: 53) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan tersebut bersifat relatif konstan (tetap) dan berbekas. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. 
Menurut Slameto (2003: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Slavin (2000:143) belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. 
Klein dalam Sarifah (2004: 23) mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan yang bersifat permanen dalam tingkah laku sebagai hasil dari proses pengalaman yang tidak dapat ditunjukkan oleh keadaan sementara, kematangan atau pembawaan lahir.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang secara sadar untuk memperoleh suatu perubahan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. 

2.5.     Fungsi Motivasi
Menurut Sutisna Sanjaya (2007) fungsi motivasi dalam pembelajaran diantaranya : 
a.         Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar. 
b.        Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 
c.         Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan. 

2.6.     Belajar
Menurut W.S. Winkel (2004: 53) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan tersebut bersifat relatif konstan (tetap) dan berbekas. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. 
Menurut Slameto (2003: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Slavin (2000:143) belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. 
Klein dalam Sarifah (2004: 23) mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan yang bersifat permanen dalam tingkah laku sebagai hasil dari proses pengalaman yang tidak dapat ditunjukkan oleh keadaan sementara, kematangan atau pembawaan lahir.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang secara sadar untuk memperoleh suatu perubahan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. 

2.7.     Motivasi Belajar
Menurut Sarah Handayani (2003) motivasi belajar adalah faktor pendukung yang dapat mengoptimalkan kecerdasan anak dan membawanya meraih prestasi. Menurut Sunarto (2008) motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. 
Menurut Muzaqi (2008) motivasi belajar berarti keseluruhan daya penggerak di dalam diri para siswa/peserta didik yang dapat menimbulkan, menjamin, dan memberikan arah pada kegiatan belajar, guna mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Dengan motivasi belajar, maka siswa/peserta didik dapat mempunyai intensitas dan kesinambungan dalam proses pembelajaran/pendidikan yang diikuti. Motivasi belajar merupakan faktor pendukung yang dapat mengoptimalkan kecerdasan anak dan membawanya meraih prestasi.
Anak dengan motivasi belajar tinggi, umumnya akan memiliki prestasi belajar yang baik. Sebaliknya, rendahnya motivasi akan membuat prestasi anak menurun. Sebab, motivasi merupakan perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai dengan adanya dorongan afektif dan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi akan mendorong anak berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan belajar. Ia juga akan belajar dengan sungguh-sungguh tanpa dipaksa.

2.8.     Pengertian Orang Tua
Menurut Zakiyah Daradjat (2000: 35) orang tua adalah merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Dari Wikipedia Bahasa Indonesia (2009) orangtua adalah ayah, atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, orangtua memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak. Ali Qaimi (2003) juga mengatakan bahwa orang tua adalah unsur pokok dalam pendidikan dan memainkan peran penting dan terbesar dalam melaksanakan tanggung jawab ini. Dari satu sisi, orang tua adalah pembawa warisan keturunan dan di sisi lain merupakan bagian dari masyarakat. 
Orang tua merupakan orang yang pertama kali mendidik atau menanamkan pendidikan kepada anak-anaknya, sehingga secara moral keduanya merasa mempunyai tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi, melindungi serta membimbingnya.

2.9.    Peran Orang Tua
Menurut Nurcholis Madjid (2001) peran orang tua adalah peran tingkah laku, tulada atau teladan, dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan menyeluruh.
Peran orang tua menurut Stainback dan Susan (1999) antara lain: 
·         Peran sebagai fasilitator Orang tua bertanggung jawab menyediakan diri untuk terlibat dalam membantu belajar anak di rumah, mengembangkan keterampilan belajar yang baik, memajukan pendidikan dalam keluarga dan menyediakan sarana alat belajar seperti tempat belajar, penerangan yang cukup, buku-buku pelajaran dan alat-alat tulis. 
·         Peran sebagai motivator Orang tua akan memberikan motivsi kepada anak dengan cara meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas rumah, mempersiapkan anak untuk menghadapi ulangan, mengendalikan stres yang berkaitan dengan sekolah, mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sekoalah dan memberi penghargaan terhadap prestasi belajar anak dengan memberi hadiah maupun kata-kata pujian. 
·         Peran sebagai pembimbing atau pengajar Orang tua akan memberikan pertolongan kepada anak dengan siap membantu belajar melalui pemberian penjelasan pada bagian yang sulit dimengerti oleh anak, membantu anak mengatur waktu belajar, dan mengatasi masalah belajar dan tingkah laku anak yang kurang baik. 

3.       METODOLOGI PENELITIAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar