Belajar Blog

Senin, 24 Januari 2011

SUMBER FILSAFAT ILMU


I
SUMBER FILSAFAT ILMU

Filsafat dan ilmu yang dikenal di dunia Barat dewasa ini berasal dari zaman Yunani Kuno. Pada zaman itu filsafat dan ilmu jalin-menjalin menjadi satu dan orang tidak memisahkannya sebagai dua hal yang berlainan. Keduanya termasuk dalam pengertian episteme. Kata philosophia merupakan suatu padanan dari episteme.
Menurut konsepsi filsuf besar Yunani Kuno Aristoteles, episteme adalah “an organized body of rational knowledge with proper object”1 (suatu kumpulan yang teratur dari pengetahuan rasional dengan objeknya sendiri yang tepat). Jadi, filsafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan rasional, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran atau rasio manusia.
Dalam pemikiran Aristoteles selanjutnya, episteme atau pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang disebutnya:
1.       Praktike (pengetahuan praktis)
2.       Poletike (pengetahuan produktif)
3.       Theoretike (pengetahuan teoritis)
Theoritike atau pengetahuan teoritis oleh Aristoteles dibedakan pula menjadi tiga kelompok dengan sebutan:
1)      Mathematike (pengetahuan matematika)
2)      Physike (pengetahuan fisika)
3)      Prote philosophia (filsafat pertama)
Filsafat pertama (prote philosophia) adalah pengetahuan teoretis yang menelaah peradaan yang abadi, tidak berubah, dan terpisah dari meteri. Aristoteles mendefinisikannya sebagai “the science of first principles” (ilmu tentang asas-asas yang pertama). Semua pengetahuan lainnya secara logis mengandaikan atau berdasarkan ilmu ini. Oleh karena itu, ilmu ini dianggap sebagai Filsafat Pertama. Kemudian definisi itu diperlengkapnya menjadi “a science which investigates being as being, and the attributes which belong to this in virtue of its own nature”2 (suatu ilmu yang menyelidiki peradaan sebagai peradaan dan ciri-ciri yang tergolong paa objek ini berdasarkan sifat dasarnya sendiri).
Oleh karena dalam pembagian dan urutan Aristoteles Filsafat Pertama terletak sesudah Fisika, maka pengetahuan filsafat itu kemudian disebutnya dan kini terkenal sebagai Metafisika. Kata meta berarti sesudah dan nama metafisika secara harafiah berarti “sesudah fisika”. Pengetahuan fisika itu sendiri oleh Aristoteles diberi sebutan pula sebagai Filsafat Kedua.
Kemudian Seorang pemikir pertama yang dalam sejarah filsafat diakui sebagai the Father of philosophy (bapak filsafat) ialah Thales.3 Sebagian sarjana kemudian mengakuinya pula sebagai ilmuwan yang pertama di dunia ini. Selain itu, Thales menurut bangsa Yunani termasuk salah satu dari Seven Wise Men of Greece (Tujuh Orang Arif Yunani).
Thales memperkembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi dari alam semesta. Menurutnya semuanya berasal dari air sebagai materi dasar Kosmis. Sebagai ilmuwan ia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Ia juga berusaha mengembangkan astronomi dan matematika dengan antara lain mengemukakan pendapat bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan mebuktikan dalil-dalil geometri. Salah satu yang dibuktikannya ialah dalil bahwa kedua sudut alas dari suatu segitiga sama kaki adalah sama besarnya. Dengan demikian, ia merupakan ahli matematika Yunani pertama.
Kemudian berikutnya muncullah Pythagoras. Pemikir dan tokoh matematik ini mengemukakan sebuah ajaran metafisika bahwa bilangan merupakan intisari sari semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat benda. Dalilnya berbunyi : “Number rules the universe”5 (Bilangan memerintah jagat raya ini).
Menurut Pythagoras, kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Oleh karena itu, ia tidak mau disebut sebagai orang arif seperti halnya Thales, melainkan menganggap dirinya hanya seorang philosophos yang artinya pecinta kearifan. Istilah itu kemudian menjadi philosophia yang terjemahannya secara harafiah ialah cinta kearifan. Dengan demikian, sampai sekarang secara etimologis dan singkat-sederhana filsafat masih diartikan sebagai cinta kearifan (love of wisdom).
Pythagoras berpendapat bahwa matematika merupakan suatu serana atau alat bagi pemahaman filsafati. Pendapat ini kemudian memperoleh pengukuhan dari seorang filsuf besar Yunani lainnya, yaitu Plato. Tokoh pemikir ini menegaskan bahwa filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth), sedang filsafat merupakan pencarian yang bersifat perekaan (atau spekulatif) terhadap pandangan tentang seluruh kebenaran. Filsafat Plato disebut filsafat spekulatif.
Menurut pendapat Plato, geometri sebagai pengetahuan rasional berdasarkan akal murni menjadi kunci ke arah pengetahuan dan kebenaran filsafati serta bagi pemahaman mengenai sifat dasar adri kenyataan yang terakhir (the nature of ultimate reality). Geometri merupakan suatu ilmu yang dengan akal murni membuktikan proposisi-proposisi abstrak mengenai hal-hal yang abstrak seperti garis lurus sempurna, lingkaran sempurna, atau segitiga sempurna. Begitu penting ilmu itu bagi filsafat sehingga konon pintu gerbang akademi Plato tempat orang belajar filsafat tertulis kalimat “Janganlah orang masuk ke sini jika ia tidak mengetahui geometri”.
Kemudian John Losee menyatakan demikian :

“ARISTOTLE was the first philosopher of science. He created the discipline by analysing certain problems that arise in connection with scientific explanation.”6
(Aristoteles merupakan seorang filsuf ilmu yang pertama. Ia menciptakan cabang pengetahuan itu dengan menganalisis problem-problem tertentu yang timbul dalam hubungannya dengan penjelasan ilmiah.)

Selain seorang filsuf, Aristoteles juga seorang ilmuwan yang mempelajari antara lain biologi, psikologi, dan politik. Masih ada satu bidang pengetahuan penalaran yang dinamakannya Analytika dan Dialektika. Beda diantara keduanya ialah Analytika berpangkal pada premis yang benar, sedang Dialektika bertolak dari hipotesis atau pangkalpikir yang tidak pasti kebenarannya. Pengetahuan penalaran itu ditulis Aristoteles dalam enam naskah berjudul (dalam terjemahan bahasa Inggris) :7
1.       Categories
2.       On Interpretation
3.       Prior Analytics
4.       Posterior Analytics
5.       Topics
6.       Sophistical Refutations.

Pada awal abad III Alexander Aphrodisias menamakan pengetahuan yang termuat dalam enam naskah itu logika. Selain itu, para pengulas menghimpun seluruh naskah menjadi satu dengan diberi judul Organon yang artinya alat. Pengetahuan itu dianggap sebagai suatu alat yang diperlukan untuk mempelajari episteme atau pengetahuan rasional.
Dari selintas perkembangan filsafat dan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sesungguhnya berkembang tidak dua, melainkan empat bidang pengetahuan, yaitu filsafat, ilmu, matematika, dan logika. Masing-masing bidang pengetahuan itu memiliki ciri kekhususan tersendiri dan menempuh arah pertumbuhan yang berbeda satu sama lain.

1.       Filsafat
Filsafat dimulai oleh Thales sebagai filsafat jagat raya tentang selanjutnya berkembang ke arah Kosmologi. Filsafat ini kemudian menjurus pada filsafat spekulatif pada Plato dan metafisika pada Aristoteles. Kemudian Filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero secara sangat singkat memberikan definisi filsafat sebagai ars vitae atau “the art of life” (pengetahuan tentang hidup). Konsepsi filsafat ini kemudian dianut luas oleh orang-orang terpelajar pada zaman Renaissance di Eropa.8
Dalam abad-abad selanjutnya filsafat berkembang melalui dua jalur. Jalur yang pertama ialah filsafat alam (natural philosophy) yang mempelajari benda dan peristiwa alamiah. Untuk membedakan secara tegas dengan filsafat alam itu, maka bidang pengetahuan kedua yang menyangkut tujuan dan kewajiban manusia seperti etika, politik, dan psikologi disebut filsafat moral (moral philosophy) selama abad XVII XVIII. Sebutan itu kemudian dirasakan terlampau sempit dan diperluas menjadi filsafat mental dan moral (mental dan moral philosophy).10
Setelah memasuki abad XX ini filsafat dalam garis besarnya dibedakan menjadi dua ragam, yakni filsafat kritis dan filsafat spekulatif.11 Filsafat kritis itu kemudian oleh sebagian filsuf disebut filsafat analitik (analytical philosophy). Ragam filsafat analitik membahas pertanyaan-pertanyaan tentang arti (meaningquestions) dari pengertian-pengertian yang dipergunakan dalam filsafat.12 Dengan perkataan lain, filsafat analitik terutama memusatkan perhatiannya pada analisis secara cermat terhadap makna berbagai pengertian yang diperbincangkan dalam filsafat seperti misalnya substansi, eksistensi, moral, realitis, sebab, nilai, kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kemestian.
Filsafat spekulatif sesungguhnya hanyalah merupakan sebutan lain dari metafisika. Menurut perumusan Alfred North Whitehead, filsafat spekulatif adalah usaha menyusun sebuah sistem ide-ide umum yang berpautan, logis, dan yang perlu dalam kerangka sistem itu setiap unsur dari pengalaman kita dapat ditafsirkan (Speculative Philosophy is the endeavour to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be interpreted).13 Yang dimaksud dengan pernyataan “setiap unsur dari pengalaman kita dapat ditafsirkan” ialah bahwa masing-masing unsur itu mempunyai ciri sebagai suatu peristiwa khusus dari sistem ide-ide umum atau filsafat yang disusun. Sistem itu harus koheren, logis, serta terterapkan dan memadai, yakni tiada unsur pengalaman yang luput dari penafsirannya.



2.       Ilmu
Pada zaman Yunani Kuno episteme atau pengetahuan rasional mencakup filsafat maupun ilmu. Tidak terdapat masalah besar atau kebutuhan penting untuk membedakan secara tegas kedua jenis pengetahuan itu. Thales sebagai seorang filsuf juga mempelajari astronomi dan topik-topik pengetahuan yang termasuk fisika. Fisika adalah pengetahuan teoritis yang mempelajari alam, pengetahuan  ini kemudian lebih banyak disebut Filsafat Alam.
Tetapi, pada zaman Renaisance sejak abad XIV samapi abad XVI terjadi perkembangan baru. Tokoh-tokoh pembaharu dan pemikir seperti Galileo Galilei, Francis Bacon dan pada abad berikutnya Rene Descartes, dan Isaac Newton memperkenalkan metode matematik dan metode eksperimental untuk mempelajari alam. Dengan demikian, pengertian Filsafat alam memperoleh arti khusus sebagai “the systematic study of nature through the use of the methods introduced by the great reformers of the renaissance and the early seventeenth century”14 (penelaahan yang sistematis terhadap alam melalui pemakaian metode-metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari zaman Renaissance dan awal abad XVII).
Kemudian perkembangan ilmu itu mencapai puncak kejayaan di tangan Newton. Ilmuwan Inggris ini antara lain merumuskan teori gaya berat dan kaidah-kaidah mekanika dalam karya tulis yang diberi judul Philosophiae Naturalls Principia Mathematica (Asas-asas Matematik dari Filsafat Alam), terbit tahun 1687. Dalam perkembangan selanjutnya pada abad XVIII philosophia naturalis memisahkan diri dari filsafat dan para ahli menyebutnya kembali dengan nama Fisika.
Kemudian James Conant menyatakan bahwa ilmu modern mencapai tahap berjalan dan berbicara pada tahun 1700 dan mulai memasuki taraf kedewasaan pada sekitar tahun 1780.15 Setelah dewasa masing-masing ilmu ilmu lalu memisahkan diri dari filsafat seperti halnya Fisika. Pemisahan diri dilakukan Biologi pada awal abad XIX dan oleh Psikologi pada sekitar pertangahan abad itu. Cabang-cabang ilmu lainnya seperti Sosiologi, Antropologi, Ilmu Ekonomi, dan ilmu Politik kemudian juga tegas-tegas terpisah dari filsafat.
Seterusnya menurut pengamatan Henry Aiken, dalam abad XX filsafat memberikan kelahiran pada ilmu-ilmu yang tampaknya Juga bebas berupa Logika Formal, Linguistik, dan teori Tanda.16 Dalam pertengahan abad ini dapat pula disaksikan lahirnya serangkaian ilmu antar-disiplin seperti misalnya Ilmu Perilaku (behavioral science) yang menggabungkan psikologi dengan berbagai ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi untuk menelaah tingkah laku manusia. Contoh lain ilmu antar disiplin ialah Anatomi Sosial Manusiawi (Human Social Anatomy) yang memadukan Anatomi, Ilmu Fosil, Antropologi Ragawi, dan Ethology 9studi (studi tentang pola perilaku organisme).
Filsafat kebanyakan masih bercorak spekulatif, sedang ilmu-ilmu modern telah menerapkan metode-metode empiris, eksperimental, dan induktif. Kini secara pasti semua cabang ilmu dinyatakan sebagai ilmu-ilmu empiris. Sifat empiris inilah yang membentuk ciri umum dari kelompok ilmu modern dan yang membedakannnya dari filsafat. Dalam hubungan ini, C. I. Lewis menerangkan sebagai berikut :
“There would, however, be a larger measure of agreement, both among scientists and among philosophers, concerning the general character of science. Thsi agreement would be to the effect that the positive content of any natural science consists of such generalizations as are capable of corroboration by observation and experiment. Furthermore, the predominant tendency would be to consider that psychology and the social studies likewise are truly scientific only so far as they share this empirical character. And regardless of divergences of opinion, it is this conception of science as positive, and the content of it confined to what can be attested by observational fact and experimental results, which offers the clearest basisi for making the distinction and tracing the relationships between philosophy and the sciences. Generalizations of this positive and empirical sort will alone have the character called descriptive, if correct, they will formulate something attestable by, and hence descriptive of, every instance to which the generalization has application.”17
(Namun, ada suatu taraf kesepakatan yang lebih besar, baik diantara para ilmuwan maupun filsuf-filsuf mengenai ciri umum dari ilmu. Kesepakatan ini menyatakan bahwa isi positif dari sesuatu ilmu kealaman terdiri dari generalisasi-generalisasi semacam itu yang mampu memperoleh penguatan dengan pengamatan dan eksperimen. Selanjutnya, kecenderungan yang berpengaruh menganggap bahwa psikologi dan penelaahan-penelaahan sosial adalah sama juga benar-benar ilmiah hanya sejauh ilmu-ilmu tersebut memiliki ciri empiris ini. Dan terlepas dari perbedaan-perbedaan pendapat, adalah konsepsi ilmu sebagai positif ini, dan isinya terbatas pada apa yang dapat dibuktikan dengan fakta-fakta pengamatan dan hasil-hasil eksperimental yang memberikan dasar yang paling jelas untuk menandai perbedaan dan mengusut hubungan-hubungan diantara filsafat dan ilmu-ilmu. Generalisasi-generalisasi dari jenis positif dan empiris ini juga akan memiliki ciri yang disebut deskriptif; apabila benar, mereka akan merumuskan sesuatu yang dapat dibuktikan oleh, dan dengan demikian merupakan deskripsi dari setiap contoh yang padanya generalisasi itu mempunyai penerapan).

3.       Matematika
Matematika sejak bermula menjadi pendorong bagi perkembangan filsafat J.B. Burnet misalnya menyatakan bahwa perkembangan filsafat Yunani bergantung pada kemajuan penemuan Ilmiah khususnya matematika lebih daripada sesuatu hal lainnya.18 Sedang Stephen Barker mengemukakan bahwa pada zaman kuno matematika menyajikan bahan makanan yang berlimpah-limpah berupa persoalan-persoalan bagi pemikiran filsafati dan pada masa akhir-akhir ini bahkan lebih banyak lagi.19
Seorang ilmuwan astronomi terkenal yang berbicara tentang kaitan matematika dengan filsafat ialah Galileo. Ucapannya yang banyak dikutip orang berbunyi demikian :
“Philosophy is written in this grand book, the universe, which stands continually open to our gaze. But the book cannot be understood unless one first learns to comprehend the language and read the letters in which it is composed. It is written in the laguage of mathematics ....20
(Filsafat ditulis dalam buku besar ini, jagat raya, yang terus-menerus terbentang terbuka bagi pengamatan kita. Tetapi, buku itu tidak dapat kita mengerti jika seseorang terlebih dahulu belajar memahami bahasa dan membaca huruf-huruf yang dipakai untuk menyusunnya. Buku itu disusun dalam bahasa matematika .....)
Sejak zaman modern hingga abad XX ini filsafat dan metematika berkembang teurs melalui pemikiran tokoh-tokoh yang sekaligus merupakan seorang filsuf dan juga ahli matematika seperti misalnya Descartes, Gottfried Wilhelm von Leibniz, Auguste Comte, Henri Poincare, Whitehead dan Bertrand Rusell.
Pada abad XVII matematik menjadi perintis dan bagian yang terpenting dari ilmu alam. Newton membongkar rahasia alam dengan mempergunakan matematika. Pada dewasa ini banyak ahli matematika dan ilmuwan alam menyatakan bahwa matematika adalah bahasa dari ilmu (the language of science).22
Bahkan seorang ilmuwan sosial enulis pernyataan yang berikut:
“Mathematics is sometimes called ‘the only true science.’ But although mathematics is of the essence of rational and logical thinking, and despite its close connection with science, mathematics is not substantive science at all. It is instead a language, a logic, of the relations among concepts, an extremely useful and precise language which has made possible great advances in many areas of science, but which is not to be mistaken for scientific theory.”23
(Matematika kadang-kadang disebut ‘satu-satunya ilmu sejati’. Tetapi, walaupun matematika merupakan inti  sari pemikiran rasional dan logis, dan betapapun hubungannya yang erat dengan ilmu. Matematika bukanlah ilmu substantif sama sekali. Kebalikanya, matematika adalah suatu bahasa, suatu logika, tentang hubungan-hubungan di antara konsep-konsep, suatu bahasa teramat berguna dan cermat yang memungkinkan kemajuan-kemajuan besar dalam banyak bidang ilmu, namun yang tidak boleh dikelirukan dengan teori ilmiah).

4.       Logika
Logika adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari segenap asas, aturan, dan tata cara penalaran yang betul (Correct reasoning). Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pernyataan lain yang telah diketahui. Pernyataan yang telah diketahui itu disebut pangkalpikir (premise), sedang pernyataan baru yang telah diturunkan dinamakan kesimpulan (conclusion).
Walaupun tidak disebutkan sebagai pengetahuan rasional yang termasuk dalam episteme, logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan rasional. Menurut Aristoteles yang memelopori pengetahuan jenis keempat ini, logika (waktu masih disebutnya Analytika) merupakan suatu alat ilmu (instrument of science) di luar episteme yang justru diperlukan untuk mempelajari kumpulan pengetahuan rasional itu.
Pada dewasa ini logika telah menjadi bidang pengetahuan amat luas yang tidak lagi semata-mata bersifat filsafati, melainkan juga bercorak sangat tehnis dan ilmiah. Lebih-lebih logika modern telah tumbuh begitu pesat dan demikian beragam sehingga mendesak logika tradisional ke samping dan menjadi bagian kecil yang kurang berarti. Logika modern yang semula hanya mencakup logika perlambang (symbolic logic), kini meliputi antara lain logika kewajiban (deontic logic), logika ganda-nilai (multi-valued logic), logika intuisionistik (intuitionist logic), dan berbagai sistem logika tak baku (nonstandard logical systems).
Selain hubungannya yang erat dengan filsafat dan matematik, logika dewasa ini juga telah mengembangkan berbagai metode logis (logical methods) yang banyak sekali pemakaiannya dalam ilmu-ilmu. Selain itu, logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak, dan aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak dapat saja menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam sesuatu bidang ilmu, melainkan ternyata mempunyai pula penerapan.
Demikianlah, pertumbuhan empat jenis pengetahuan rasional yang telah dipaparkan secara singkat di muka pada akhirnya dewasa ini bermuara pada suatu bidang pengetahuan rumit yang dinamakan filsafat ilmu. Sebagai rangkuman penutup, dapatlah pertumbuhan itu digambarkan dalam ikhtisar yang berikut :


SEJAK ZAMAN YUNANI KUNO

   Filsafat                                         Ilmu                              Matematika                           Logika

    Thales                                         Thales                                  Thales                                 Aristoteles
Kosmologi                           Astronomi, Fisika                     Geometri                              Analytika
                                  Dialektika
    Plato
         Filsafat spekulatif                                                                        Pythagoras                              Organon

             Arsitoteles
             Metafisika

      Zaman Romawi Kuno                                                                                             Zaman Romawi Kuno
                 Cicero                                                                                                                                         Logika
Pengetahuan tentang hidup

           Abad tengah                                                                                                                                Abad tengah
      Pengethuan yang                                                                                                                      Logika Tradisional
              Tertinggi
        Pelayan Teologi
                                         Zaman Renaissance
                                                     Galileo
                                                      Bacon
                                       Metode eksperimental
         Zaman Modern                                Zaman Modern                                                             Zaman Modern
             Abad XVII                          Abad XVII                                                                      Abad XVII
 

            Abad XVIII                          Descartes                           Descartes
                                                      Newton                                   Newton
         Filsafat Mental                                                                                    Leibniz                                 Abad XIX
            Dan moral                         Filsafat alam
 

                                                                    Abad XVIII                                                                                 Boole
                                                         Fisika                                                                                 De Morgan
                                                                                                                                            Frege

              Abad XX                                             Abad XX                                Abad XX                              Abad XX
        Filsafat analitik                              Berbagai ilmu baru             Berbagai cabang                 Logika modern
                                                                                             Matematika

                                                                  FILSAFAT ILMU



TOKOH-TOKOH FILSAFAT
1.       ARISTOTELES (382322 S. M.)
Seorang filsuf besar Tunani Kuno. Tokoh pelopor logika dan juga seorang ilmuwan yang menelaah biologi, psikologi dan ilmu politik. Kini diakui sebagai filsuf ilmu yang pertama.
2.       THALES (+ 604546 s.M.)
Seorang pemikir terkemuka Yunani Kuno yang diakui sebagai Bapak Filsafat dan Bapak penalaran deduktif, ilmuwan yang pertama di dunia dan ahli matematik Yunani yang pertama, serta salah seorang dari Tujuh Orang Arif Yunani.
3.       PYTHAGORAS (572497 s.M.)
4.       Seorang ahli Matematika Yunani Kuno dan pendiri mazhab filsafat Pythagoreanisme yang mengajarkan bahwa bilangan merupakan substansi dari semua benda. Ia menganggap dirinya hanya seorang pecinta kearifan atau philosophos. Dari kata ini berkembang istilah philosophia yang berarti cinta kearifan.
5.       PLATO (428348 s.M.)
Seorang filsuf besar Yunani Kuno yang mengembangkan filsafat spekulatif mengenai dunia ide yang sempurna dan abadi. Baginya filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif terhadap pandangan kebenaran yang menyeluruh.
6.       MARCUS TULLIUS CICERO (10643 s.M.)
Seorang filsuf Romawi terkemuka yang tergolong aliran Stoicisme. Baginya filsafat adalah ibu dari semua pengetahuan dan diberi definisi sebagai ars vitae atau pengetahuan kehidupan.
7.       GALILEO GALILEI (15641642)
Seorang ilmuwan besar Italia yang menjadi pelopor ilmu modern. Ia menguasai segenap filsafat alam yang berkembang pada zamannya dari pengukuran kecepatan cahaya samapi penimbangan bobot udara.
8.       ISAAC NEWTON (16421727)
Seorang ilmuwan terbesar dan ahli matematika dari Inggris yang mengembangakn fisika, mekanika, dan kalkulus. Ia merumuskan pula tempat Aturan Penalaran bagi pengetahuan alam yang dikembangkannya.
9.       FRANCIS BALKON (15611626)
Seorang filsuf ilmu terkemuka Inggris dan pelopor metode induktif dalam mencari kebenaran dengan menyarankan langkah-langkah pengamatan empiris, analisis data yang diamati, serta penyimpulan dan pembuktian kebenaran sesuatu pangkal duga dengan pengamatan atau percobaan lebih lanjut.
10.    RENE DESCARTES
Seorang filsuf besar Perancis, ahli matematik, dan pelopor aliran filsafat rasionalisme. Dalam filsafat ia mengemukakan metode kesangsian untuk merenungkan terus sesuatu hal sampai tidak ada keragu-raguan lagi.
11.    GOTTFRIED WILHELM LEIBNIZ (1646―1716)
Seorang filsuf besar Jerman dan ahli matematika yang menguasai pula berbagai bidang pengetahuan seperti misalnya hukum, sejarah, adn teologi. Ia mengembangkan kalkulus dan kini diakui pula sebagai salah seorang pelopor logika simbolik.
12.    GEORGE BOOLE (18151864)
Seorang ahli matematika Inggris yang cemerlang dan pelopor logika simbolik. Dengan memakai lambang-lambang, metode analisis, dan rumus-rumus seperti aljabar, ia menyusun suatu sistem penalaran yang disebut logika kealjabaran atau lebih terkenal sebagai Aljabar Boole.
13.    AUGUSTUS DE MORGAN (18061871)
Seorang ahli matematika terkemuka Inggris dan pelopor logika modern, khususnya logika hubungan. Dua dalil mengenai pengingkaran pernyataan majemuk dalam logika modern yang dirumuskannya kini disebut De Morgan’s laws (dalil-dalil De Morgan).
14.    FRIEDRICH LUDWIG GOTTLOB FREGE (18481925)
Seorang ahli logika Jerman yang terkemuka dan memelopori perkembangan logika simbolik, filsafat matematika, dan filsafat bahasa. Ia mengemukakan suatu teori arti yang membedakan segi cakupan dan segi makna dari sesuatu nama diri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar