Belajar Blog

Senin, 24 Januari 2011

UNSUR-UNSUR PENALARAN


BAB I
UNSUR-UNSUR PENALARAN

1.0    P E N G A N T A R
Penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpuan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Dalam pernyataan-pernyataan itu terdiri dari pengertia-pengertian sebagai unsurnya yang antara pengertian satu dengan yang lain ada batas-batas tertentu untuk menghindarkan kekabutan arti.
Unsur-unsur di sini bukan merupakan bagian-bagian yang menyusun suatu penalaran tetapi merupakan hal-hal sebagai prinsip yang harus diketahui terlebih dahulu, karena penalaran adalah suatu proses yang sifatnya dinamis tergantung pada pangkal pikirnya. Unsur-unsur penalaran yang dimaksudkan adalah tentang pengertian, karena pengertian ini merupakan dasar dari semua bentuk penalaran. Untuk mendapatkan pengertian sesuatu dengan baik sering juga dibutuhkan suatu analisa dalam bentuk pemecah-belahan sesuatu pengertian umum ke pengertian yang menyusunnya, hal ini secara teknis disebut dengan istilah pembagian. Dan selanjutnya diadakan pembatasan arti atau definisi. Mendefinisikan sesuatu masalah bukanlah hal yang berlebihan, tetapi untuk memperjelas sebagai titik tolak penalaran, sehingga kekaburan arti dapat dihindarkan. Definisi dan pembagian merupakan dua hal yang saling melengkapi. Untuk mendapatkan definisi yang baik sering membutuhkan suatu pembagian. Demikian juga untuk memudahkan mengadakan pembagian, suatu definisi sering juga dibutuhkan.
Dalam proses pemikiran yang berbentuk penalaran, antara pengertian satu dengan yang lain dapat dihubungkan dan seterusnya diungkapkan dalam bentuk kalimat, dan kalimat ini ada yang disebut kalimat tertutup atau disebut juga dengan pernyataan. Dan pernyataan inilah merupakan bentuk terakhir yang akan di perbandingkan dalam penalaran. Oleh karena itu, dalam bab ini sebagai awal pembicaraan logika akan diuraikan berturut-turut tentang pengertian dan term, pembagian dan definisi, serta tentang pernyataan dan penalaran.

1.1.   PENGERTIAN DAN TERM
Hasil tangkapan akal manusia mengenai sesuatu objek, baik meterial maupun non meterial disebut idea atau konsep. Idea berasal dari kata yunani “eidos” yang artinya gambar, rupa yang dilihat. Akal budi manusia menangkap sesuatu objek melalui bentuk gambarnya. Oleh karena itu representasi atau wakil objek yang terdapat di dalam akal itu disebut idea. Konsep berasal dari kata latin “concipere” yang artinya mencakup, mengambil, menangkap. Dari kata concipere muncul kata benda conceptus yang berarti tangkapan. Kata konsep diambil dari kata conceptus tersebut. Jadi konsep sebenarnya berarti tangkapan. Akal manusia apabila menangkap sesuatu terwujud dengan membuat konsep. Dengan demikian buah atau hasil dari tangkapan itu disebut konsep. Jadi idea dan konsep itu adalah sama artinya.
Idea atau konsep ini dalam bahasa indonesia sering diterjemahkan dengan istilah pengertian, yakni makna yang dikandung oleh sesuatu objek. Pengertian ini bersifat kerohanian dan dapat diungkapkan ke dalam bentuk kata atau beberapa kata. Ungkapan pengertian dalam bentuk kata atau beberapa kata disebut dengan istilah term, baik berupa istilah-istilah dalam bahasa buatan maupun kata-kata biasa dalam bahasa sehari-hari. Sebagai contoh dapat diuraikan sebagai berikut :

Misal dalam bahasa buatan :
Istilah “demokrasi” yang dibentuk dari dua rangkaian kata Yunani demos dan kratein. Idea atau konsep yang terkandung dalam rangkaian dua kata itu disebut pengertian, atau apa yang dimaksudkan oleh istilah demokrasi itulah yang disebut dengan pengertian. Sedangkan istilah demokrasi itu adalah term.
Simbol “2 x 2 = 4”. Rangkaian daripada simbol-simbol ini melambangkan dari apa yang dimaksud dengan dua kali dua adalah empat. Hal yang dimaksudkan simbol itulah disebut juga dengan pengertian. Sedang simbol-simbolnya adalah term.
Misal dalam bahasa biasa :
Kata “manusia”. Dengan adanya kata ini di dalam akal pikiran kita terkandung suatu gambaran tentang apa yang ditunjuk dengan kata manusia itu. Gambaran dalam akal inilah yang disebut dengan pengertian. Sedang kata manusia adalah term.

Term sebagai ungkapan pengertian, jika terdiri dari satu kata atau satu istilah maka term itu dinamakan term sederhana atau term simpel, misal : manusia, gajah, negara, dan sebagainya. Dan jika terdiri dari beberapa kata maka term itu dinamakan term komposit atau term komplek, misal : penyair modern, reaktor atom, kesenian daerah modern, dan sebagainya. Term komposit ini walaupun masing-masing bagian mempunyai pengertian sendiri-sendiri, tetapi jika digabungkan hanya menjadi satu pengertian.
Kata atau istilah yang untuk mengungkapkan pengertian disebut juga sebagai simbol dari pengertian. Dengan demikian dapat dikatakan juga term adalah simbol atau kesatuan beberapa simbol yang dapat untuk menyatakan suatu pengertian. Kata sebagai suatu simbol untuk menyatakan suatu pengertian dibedakan antara dua macam, kata kategorimatis ialah kata yang dapat mengungkapkan sepenuhnya suatu pengertian yang berdiri sendiri tanpa bantuan kata lain, meliputi : nama diri (misal : Bakry), kata sifat (misal : berakal), istilah yang mengandung pengertian umum (misal : manusia). Kata sinkategorimatis ialah kata yang tidak dapat mengungkapkan suatu pengertian yang berdiri sendiri jika tidak dibantu oleh kata lain, misalnya seperti kata : adalah, jika, semua, maka dan sebagainya. Dan selanjutnya pengertian itu dalam perbincangan-perbincangan dapat juga dinyatakan dengan bentuk simbol-simbol tertentu secara abstrak, hal ini untuk memudahkan kedudukan pengertian itu dalam struktur penalaran, yang akhirnya simbol-simbol itu terlepas dari pengertian-pengertian yang dikandungnya, misal : A adalah B, dan B adalah C, maka A adalah C. Simbol-simbol A, B, C ini simbol abstrak yang terlepas dari isinya, simbol-simbol tersebut mempunyai makna jika dihubungkan dengan yang lain.

11.1.  Konotasi dan Denotasi
        Setelah menelaah term, selanjutnya penting juga diketahui tentang konotasi dan denotasi term. Konotasi dengan istilah lain adalah intensi atau isi. Sedang denotasi dengan sitilah lain adalah ekstensi atau lingkungan. Konotasi dan denotasi term ini merupakan hal yang mutlak penting untuk penalaran. Karena term maupun pengertian adalah unsur konstitutif dalam proses penalaran.

a.        Konotasi
Setiap term mempunyai konotasi atau isi. Konotasi adalah keseluruhan arti yang tercakup dalam suatu term. Yang dimaksudkan dengan keseluruhan arti adalah kesatuan kesatuan antara unsur dasar dengan sifat pembeda yang bersama-sama membentuk suatu pengertian. Jadi, jika ingin menguraikan konotasi suatu term tidak jarang harus menggunakan banyak kata. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dapat dinyatakan bahwa konotasi tidak lain adalah isi atau apa yang termuat dalam suatu term, misal term manusia :
Konotasi term “manusia” adalah : “hewan yang berakal budi” atau secara terurai dapat dirumuskan : “substansi (unsur dasar) yang berbadan berkembang berperasa dan berakal (sifat-sifat pembeda)”.
Konotasi ini merupakan suatu uraian tentang pembatasan arti atau definisi. Dengan demikian definisi “manusia” dapat disusun dari : hewan (substansi, berbadan berkembang dan berperasa) sebagai unsur-dasar atau jenisnya, dan berakal sebagai sifat pembeda, yakni untuk membedakan manusia dengan hewan yang lain. Jadi dapat dinyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal. Di sini jelaslah bahwa bahwa konotasi term adalah adalah suatu definisi. Tetapi tidak semua definisi adalah konotasi term. Definisi yang berhubungan dengan konotasi ini disebut definisi konotatif atau definisi esensial metafisik, Contoh lain misalnya term demokrasi dan hukum :
Konotasi term “demokrasi” adalah : suatu bentuk pemerintahan (sebagai unsur-dasar atau jenisnya) yang berdasarkan atas tuntutan dari rakyat dipertimbangkan oleh rakyat untuk kepentingan rakyat  (sebagai sifat pembedanya).
Konotasi term “hukum” adalah : peraturan (sebagai unsur-dasar atau jenisnya) yang bersifat memaksa (sebagai ciri pembeda atau pemisahnya).
Dalam penalaran, apabila telah mengerti konotasi dari sesuatu hal, berarti sebenarnya telah memiliki suatu bagan, suatu ikhtisar mengenai hal yang akan dibicarakan. Yang perlu dikerjakan selanjutnya ialah membentangkan, membuat analisa dan memberi penjelasan lebih lanjut. Akan tetapi memang tidak dapat disangkal bahwa untuk memiliki konotasi sesuatu term, seringkali harus belajar banyak.

b.       Denotasi
Setiap term mempunyai denotasi atau lingkungan. Denotasi adalah keseluruhan hal yang ditunjuk oleh term, atau dengan kata lain keseluruhan hal sejauh mana term itu dapat diterapkan. Denotasi atau lingkungan, atau sering juga disebut dengan luas ini mencakup semua hal yang dapat ditunjuk. Tiga contoh di atas, yakni manusia, demokrasi, hukum, denotasinya adalah sebagai berikut :
Denotasi term “manusia” yang didefinisikan sebagai hewan yang berakal, dapat diterapkan pada bangsa Indonesia, bangsa Cina, bangsa Yahudi, dan sebagainya yang dapat ditunjuk atau disebut oleh term manusia.

Denotasi term “demokrasi” yang didefinisikan suatu bentuk pemerintahan berdasarkan atas tuntutan dari rakyat dipertimbangkan oleh rakyat untuk kepentingan rakyat dipertimbangkan oleh rakyat untuk kepentingan rakyat, dapat diterapkan pemerintahan di Amerika Serikat, Republik Indonesia, dan bentuk-bentuk pemerintahan demokrasi yang lain.

Denotasi term “hukum” yang didefinisikan sebagai peraturan yang bersifat memaksa, dapat diterapkan pada hukum pidana, hukum perdata, hukum positif, dan bentuk-bentuk hukum yang lain.
Dengan dasar sifat-sifat tertentu sebagai ciri pemisah, dapat untuk membedakan hal-hal lain yang tidak termasuk dalam himpunannya, misal : “himpunan manusia”, yang berada di dalam himpunan itu adalah hal-hal yang memenuhi syarat definisi manusia, yang tidak memenuhi syarat berarti berada di luar himpunan. Himpunan yang menunjuk denotasi term, dapat dilukiskan dalam bentuk lingkaran-lingkaran atau bentuk-bentuk lain yang berupa diagram suatu himpunan.
Oval: Manusia
b.Ind, b.Am, dsb
                                Bukan manusia





Dari uraian ini pengertian himpunan dapat didefinisikan sebagai berikut : himpunan adalah “Kumpulan sesuatu hal dengan sifat-sifat yang sama dengan membentuk satu pengertian”.
Pertama-tama yang melukiskan denotasi term kedalam bentuk diagram himpunan ini ialah seorang ahli matematika Swis bernama Leonhard Euler (1707 – 1783 M). Selanjutnya dikembangkan oleh John Venn seorang ahli logika Inggris (1834 – 1923 M) , sehingga bentuk-bentuk diagram yang untuk melukiskan denotasi daripada term itu disebut dengan “diagram Venn”. Perkembangan selanjutnya diagram-diagram itu secara sederhana disebut dengan istilah “diagram himpunan”, sebagaimana yang digunakan dalam teori himpunan, dan bentuk daripada diagram himpunan itu dapat berupa lingkaran-lingkaran maupun bnetuk-bentuk lain yang dapat digunakan untuk menghimpun suatu kelompok dalam satu term, atau satu kelompok yang berdasarkan ciri pembeda yang sama.

c.        Hubungan Konotasi dan Denotasi term
Antara konotasi dan denotasi term terdapat suatu hubungan yang berbalikkan 9dasar-balik), artinya jika yang satu bertambah maka yang lain akan berkuarang, demikian sebaliknya. Dalam hal ini terdapat empat kemungkinan, yakni :
Makin bertambah konotasi makin berkurang denotasi. (2) Makin berkurang konotasi makin bertambah denotasi. (3) Makin bertambah denotasi makin berkurang konotasi. (4) Makin berkurang denotasi makin bertambah konotasi.
Sebagai contoh term “demokrasi”, jika hanya “demokrasi” saja, maka denotasinya yang dapat ditunjuk sangat luas, baik demokrasi yang dikembangkan di Amerika Serikat, demokrasi yang dikembangkan di Soviet Uni, maupun demokrasi yang dikembangkan di Republik Indonesia. Akan tetapi jika ditambah dengan ciri-ciri pembeda “Pancasila”, dalam arti “Demokrasi Pancasila”. Maka hanya dapat diterapkan di negara yang berdasarkan pancasila saja, yaitu kebetulan pada saat ini hanya di Republik Indonesia saja.
Contoh lain misalnya term “negara”. Jika penggunaan term “negara” ini sebagai konotasinya adalah “organisasi masyarakat dalam suatu wilayah yang bertujuan kesejahteraan umum dan tunduk pada satu pemerintahan pusat”, maka denotasinya ialah semua negara-negara yang ada di dunia sejak dahulu sampai sekarang. Jika pada konotasi term “negara” ini ditambahkan dengan “tunduk pada satu pemerintahan pusat yang dipilih oleh rakyat”, maka penambahan ini melahirkan pengertian “negara demokrasi”. Dengan demikian denotasinya tidak memasukkan negara-negara totaliter dan negara-negara absolot dan bentuk-bentuk lainnya.
Untuk lebih jelasnya hubungan yang berbalikkan antara konotasi dan denotasi term, dapat dicontohkan dengan menggunakan klasifikasi alam semesta yang dikemukakan oleh Porphyry seorang ahli pikir Iskandariah (232 – 304 M). Dari golongan hal yang paling luas ke golongan hal paling sedikit lingkungannya. Dari “substansi” sebagai term yang paling luas yang meliputi semua genus disebut sumsum – genus, ke term “manusia” yang lebih sempit sebagai species yang terakhir disebut infirma-species.
Term
Konotasi
Denotasi
Substansi
Substansi
Benda-benda gas
Benda-benda mati
Tumbuh-tumbuhan
Binatang
Manusia.
Badani
Substansi
Berbadan
Benda-benda mati
Tumbuh-tumbuhan
Binatang
Manusia
Organisme
Substansi
Berbadan
berkembang
Tumbuh-tumbuhan
Binatang
Manusia
Hewan
Substansi
Berbadan
Berkembang
berindera
Binatang
Manusia
Manusia
Substansi
Berbadan
Berkembang
Berindera
berakal
Manusia

Dalam contoh di atas ini jelaslah, makin banyak sifat-sifat yang ditambahkan dalam konotasi, semakin sempit lingkungan yang ditunjuk oleh term itu dan sebaliknya makin banyak hal-hal yang ditambahkan dalam denotasi, semakin berkurang sifat-sifat yang dinyatakan itu.

11.2.  Pelbagai macam Term
        Term ini banyak sekali macam-macamnya, demikian juga pembagiannya. Namun dalam buku ini macam-macam term dan pembagiannya itu hanya akan dibedakan antara empat macam, yakni : pembagian term menurut konotasinya, pembagian term menurut denotasinya, pembagian menurut cara beradanya, dan pembagian menurut cara menerangkannya.
a.        Pembagian Term menurut Konotasinya
Berdasarkan konotasinya term atau isi yang dikandung oleh term itu, maka dapat dibedakan antara : term konkrit dan term abstrak. Dan disamping itu keduanya ada yang berada dalam lingkungan hakekat, dan ada yang berada dalam lingkungan sifat. Term kongkrit dan term abstrak ini banyak dijumpai dalam perbincangan sehari-hari maupun dalam bidang ilmu. Dalam logika perlu diperhatikan bagaimana memandang suatu relaitas dengan menggunakan term yang mengandung konsep konkrit dan term yang mengandung konsep abstrak. Suatu realitas merupakan keseluruhan, realitas berdiri sebagai subjek dan mempunyai berbagai sifat.
Perlu diuraikan terlebih dahulu beberapa contoh untuk mempermudah pengertian. Pertama-tama diuraikan contoh tentang term “wanita cantik” ini konkrit, artinya dengan langsung memperlihatkan realitas sebagai subjek yang mempunyai diri. Perlu dijelaskan di sini bahwa pengertian diri menurut logika bukan setiap sesuatu yang berjasad saja, tetapi yang tidak berjasad pun dapat disebut diri jika memiliki kepribadian dengan sifat-sifat tertentu, misal : Negara. Negara ini tidak mempunyai jasad yang dapat ditangkap dengan panca indera.
Selanjutnya diuraikan juga contoh tentang term “kecantikan” sebagaii term abstrak, dengan memberikan perhatian dan minat yang istimewa pada sifat cantik secara terpisah dari wanita, yang disendirikan dan dipandang seolah-olah sebagai suatu substansia. Hal ini menunjuk sifat tanpa subjeknya, yang merupakan salah satu ciri term abstrak.
Dari uraian di atas dapatlah dinyatakan bahwa secara garis besar konotasi term dapat dibedakan antara lingkungan hakekat dan lingkungan sifat, yang masing-masing juga terdiri dari term kongkrit dan term abstrak. Uraian tentang term-term ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.       Lingkungan hakekat : yaitu term yang mempunyai persamaan satuan dalam satu makna tanpa ada perbedaan tingkatan menurut hakekatnya, misal : “manusia”, pengertian manusia ini baik yang berkulit putih maupun hitam sama dalam arti kemanusiannya. Term dalam lingkungan hakekat ini ada dua macam :
-          Konkrit: yaitu menunjuk ke “hal” nya suatu kenyataan atau apa saja yang berkualitas dan bereksistensi tertentu. Berkualitas : bentuk, berat, rupa. Bereksistensi : waktu tertentu, tempat tertentu, mempunyai hubungan dengan objek lain. Misal : manusia, kera, dan sebagainya.
-          Abstrak : menyatakan kualitas yang terlepas dari eksistensi tertentu, misal : kemanusian, kebenaran, dan sebagainya.
2.       Lingkungan sifat : yaitu term yang di dalam hal-hal itu ada perbedaan tingkatan, misal : “berbadan”, arti yang dikandung dalam term ini terdapat suatu perbedaan kekuatan dan kelemahan, yaitu berbadannya manusia lain dengan berbadannya binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lain pula dengan berbadannya benda mati. Term dalam lingkungan sifat  ini ada dua macam :
-          Konkrit : yaitu menunjuk pen “sifatan” nya suatu kenyataan atau apa saja yang berkualitas dan bereksistensi, misal : berbadan, merah, persegi, berindera, dan sebagainya.
-          Abstrak : menyatakan pensifatan yang terlepas dari eksistensi tertentu, misal : kerasionalan, kebijaksanaan, dan sebagainya.

b.       Pembagian Term menurut Denotasi
Berdasarkan denotasi term, dapat dibedakan term yang bersifat umum disebut term umum, dan term yang bersifat khusus disebut dengan term khusus.
Term umum yaitu dapat mencakup keseluruhan hal-hal yang ditunjuk tiada terkecualinya. Term umum ini dibedakan antara dua macam :
Universal : Sifat umum yang berlaku di dalamnya tidak terbatas oleh ruang dan waktu,
misal : organisme, manusia, bangsa, mahasiswa, hewan.
Kolektif : Sifat umum yang berlaku di dalamnya menunjuk pada suatu kelompok tertentu sebagai
        kesatuan, misalnya : rakyat Indonesia, bangsa Cina, Mahasiswa UII.
        Term khusus yaitu hanya menunjuk sebagian dari keseluruhan sekurang-kurangnya satu bagian atau satu hal. Term khusus juga dibedakan antara dua macam :
Partikular : Sifat khusus yang berlaku di dalamnya hanya menunjuk sebagian tidak tertentu dari
        suatu keseluruhan, misal : sebagian manusia, sebagian mahasiswa : sebagian yang dapat
        hidup di air.
Singular : Sifat khusus yang berlaku di dalamnya hanya menunjuk pada satu hal atau suatu
        himpunan yang mempunyai hanya satu anggota, misal : presiden pertama Republik
        Indonesia, dosen logika Fakultas Hukum UII 1983.
        Antara term umu dan term khusus, atau antara term umum dengan term umum, jika keduanya berhubungan maka sifatnya relatif, maksudnya term umum dapat dinyatakan khusus dan term khusus dapatdinyatakan term umum. Term umum dapat menjadi khusus jika dibandingkan dengan term –term keseluruhan yang mencakupnya, misal term “manusia” yang bersifat umum dibandingkan dengan term “organisme” maka term manusia ini menjadi khusus. Dan jika dibandingkan dengan term-term bagian yang ada di lingkungannya maka term yang dinyatakan khusus tadi dapat menjadi umum, misal term “manusia” tadi dibandingkan dengan term “bangsa Indonesia” maka term manusia ini menjadi umum. Contoh lain antara perbandingan dua macam term tersebut :

Term Umum
Term khusus
Organisme
Hewan
Semua perangko
Kumpulan perangko tahun 1982
Hewan
Manusia
Semua bilangan
Bilangan ganjil
Semua universitas di Indonesia
Universitas Gadjah Mada

        Antara dua macam term yang berhubungan itu dapat dilukiskan dalam bentuk diagram himpunan untuk menunjukkan perbedaan luas lingkungannya antara term umum dan term khusus. Misal antara term “manusia” dan “bangsa Indonesia”, dilukiskan dalam diagram himpunan sebagai berikut :
        M                                            M = Manusia
 I   = bangsa Indonesia
Oval: I




Dalam diagram itu, term “manusia” meliputi term “bangsa Indonesia” berada di dalam lingkungan term “manusia”.
        Contoh selanjutnya dapat dikemukakan tenttang klasifikasi alam semesta yang dikemukakan oleh Porphyry, dilukiskan dalam bentuk diagram himpunan sebagai berikut :

                                                                                                                S = Substansi
                                                                                                                B = Badani
                                                                                                                O = Organisme
                                                                                                                H = Hewan
                                                                                                                M = Manusia

Substansi meliputi badani, badani meliputi organisme, organisme meliputi hewan, dan hewan meliputi manusia. Atau dapat pula dinyatakan : manusia termasuk dalam pengertian hewan, hewan termasuk dalam pengertian organisme, organisme termasuk dalam pengertian badani, dan badani termasuk dalam pengertian substansi.
        Dengan melihat diagram himpunan term-term umum di atas yang saling berhubungan, jelaslah bahwa term umum itu dapat dinyatakan sebagai term khusus jika dihubungkan dengan term umum yang meliputinya. Oleh karena itu, jika keduanya saling berhubungan term umum dan term khusus sifatnya relatif.

c.        Pembagian Term menurut Predikamenta
Dalam menghadapi sesuatu yang masih asing dan ingin mengetahui lebih dalam lagi, maka sikap pertama yang harus ditempuh ialah mengadakan penguraian secara kategoris. Penguraian semacam ini merupakan proses penalaran yang pertama-tama ke arah pembentukan-pembentukan pengertian yang lengkap. Penguraian secara kategoris adalah pemerincian menurut cara beradanya sesuatu, yang pembagiannya ada sepuluh kategori atau predikamen. Sepuluh kategori ini merupakan pembagian term universal yang melingkupi keseluruhan aspek sesuatu.
Perlu diketahui, term “ada” adalah term transdental yang terdasar. Term ini selanjutnya dibagi dalam :
1)      Ada yang tidak terbatas, yang mewujudkan sebuah term, dan menunjuk suatu Realita yang Khas, yakni Tuhan.
2)      Ada yang terbatas (atau adanya ciptaan), yang mewujudkan genus pertama dan tertinggi, dapat dikatakan tentang banyak hal.
Ada yang terbatas menunjuk setiap “ada yang tersusun dari esse dan essensia”. Berkat esse-nya-lah maka ada tadi ber-ada. Esse menunjukkan prinsip eksistensi. Dan berkat essensia-nyalah, sesuatu ada yang terbatas adalah “hanya sesuatu tertentu itu”: kucing,burung, manusia, adn lain-lain.
Setiap essensia yang terbatas terdiri dari sebuah bagian dasar yang disebut substansi predikamental dan sejumlah bagan pelengkap yang disebut aksidensia fisik. Atau secara singkat terdiri dari substansi dan aksidensia. Sehingga pembagian sepuluh kategori atau predikamen yang dimaksudkan di atas dan menunjukkan cara beradanya yang paling umum, dibedakan menjadi dua macam: (1) predikamen substansi, yakni hal terdapat dalam diri yang dapat berdiri sendiri, (2) predikamen aksidensia, yakni hal yang terdapat dalam yang lain. Pembagiannya secara terperinci adalah sebagai berikut :
(a)    Predikamen substansi
1)      Substansi, suatu zat dasar yang dimiliki oleh sesuatu yang dapat berdiri sendiri. Termasuk pada predikamen “substansi”: manusia, singa, pohon, bunga, ialah semua pengertian atau predikat, yang dinyatakan dengan kata-kata yang dalam gramatika umumnya disebut kata-kata substantif.
(b)    Predikamen aksidensia
2)      Kuantitas, jumlah atas sekian banyak diri ataupun satu diri yang mempunyai besaran : besar, kecil, panjang, lebar, dalam, dan sejenisnya.
3)      Kualitas, sifat perwujudan sebagai ciri atau tanda pengenal: putih, panas, dingin, bagus, baik, terpelajar, dan sejenisnya.
4)      Aksi, tindakan yang mempengaruhi dalam perbuatan : membangun, mengejar, melahirkan, dan sejenisnya.
5)      Passi, kesan yang dipengaruhi dari perbuatan : dibangun, diajar, dilahirkan, dan sejenisnya.
6)      Relasi, hubungan dengan berbagai hal lain: mirip, sama, majikan, hamba, guru, murid, bawahan, dan sejenisnya.
7)      Ruang, tempat yang menyertai dimana sesuatu itu ada : di sini, di situ, di rumah, di kamar, dan sejenisnya.
8)      Waktu, tempo yang menyertai kapan sesuatu itu ada : sekarang, kemarin, besok, bulan depan, dan sejenisnya.
9)      Posisi, kedudukan sesuatu itu berada dalam suatu tempat : duduk, berdiri, berlutut, dan sejenisnya.
10)   Keadaan, kepunyaan khusus yang meyertai kedudukan : bersenjata, berpakaian, dan sejenisnya.

Jadi, setiap sesuatu mestilah disoroti dari sepuluh kategori ini yang dibedakan antara dua macam, dan sikap yang demikian merupakan langkah pertama bagi pembentukan pengertian yang lebih jelas dan lebih lengkap tentang sesuatu hal. Untuk memperjelas dua macam predikamen di atas dapat dicontohkan di sini antara pernyataan “Muhsin manusia” dan “Muhsin terpelajar”. Dalam pernyataan “Muhsin manusia” ini, predikat “manusia” menunjukkan sesuatu yang berdiri sendiri, yang bukan merupakan sifat barang lain, sebab manusia itu bukan suatu sifat melainkan barang yang memiliki sifat-sifat, oleh karena itu term manusia ini merupakan predikamen substansi. Dalam pernyataan “Muhsin terpelajar”, predikat “Terpelajar” menunjukkan sesuatu yang ada pada yang lain dan dalam yang lain, sebab menunjukkan adanya ilmu yang dimiliki setelah belajar, bukan sesuatu yang berdiri sendiri melainkan dapat ada dalam diri manusia, oleh karena itu term terpelajar ini merupakan predikamen aksidensia.

d.       Pembagian Term menurut Predikabelia
Pembagian sepuluh kategori di atas adalah term ditinjau menurut cara beradanya. Perincian selanjutnya adalah term ditinjau menurut cara menerangkannya, hal ini juga berdasarkan term universal. Cara menerangkan ini merupakan pengungkapan hubungan berbentuk predikat sebagai penjelasan dari suatu objek dalam pernyataan, yang disebut predikabilia.
Predikabilian juga merupakan cara untuk menyatakan diri yang dapat terlepas dari beradanya sesuatu, atau cara tertinggi yang dipergunakan oleh predikamen-predikamen untuk menyatakan diri. Sebagai contoh dapat dikemukakan pernyataan sebagai berikut :
Aritoteles manusia
Aristoteles hewan
Aristoteles berakal
Predikamen-predikamen  dalam contoh di atas tidak sama nilainya walaupun ketiga-tiganya adalah predikamen substansi, yakni “manusia”, “hewan”, “berakal” yang menunjukkan beradanya term “Aristoteles”, namun masing-masing predikamen tersebut dapat dinyatakan berbeda menurut cara menerangkannya.
        Predikamen ini ada lima macam. Dua diantaranya mengenai zat, yakni : genus (jenis) dan species (golongan). Tiga diantaranya mengenai sifat, yakni : diferensia (ciri pembeda), propium (sifat khusus), dan aksidens (sifat kebetulan). Lima hal ini merupakan term-term universal yang digunakan untuk menerangkan suatu subjek dari pernyataan. Lingkungan genus lebih luas daripada lingkungan species, oleh karenanya setiap lingkungan genus itu terdiri atas lingkungan-lingkungan species, sedang yang memisahkan dan menentukan batas-batas lingkungan species ialah sifat-sifat atau ciri pembeda.
(1) Genus, ialah himpunan golongan-golongan menunjukkan hakekat sesuatu yang berbeda tetapi terpada oleh persamaan sifat, misal term “hewan” Dalam term hewan ini terhimpun golongan manusia, gorilla, kera, singa, kucing, dan sebangsanya. Satu persatu golongan ini mempunyai perbedaan bentuk, tetapi terdapat sifat-sifat yang dapat menghimpun semua golongan dalam satu himpunan yang lebih luas, yakni sama-sama memiliki indera. Genus juga merupakan suatu konsep predikat yang menyatakan hakikat dari sesuatu hal tetapi belum mengungkapkan secara lengkap hanya menunjukkan sebagian, oleh karena itu harus dilengkapi dengan konsep hakekat yang lain sebagai pembedanya. Genus ada tiga macam :
-          Genus jauh : Genus yang tidak ada genus lain di atasnya dan memuat genus-genus di bawahnya, misal : “ada yang fana”, substansi, aljauhar, Genus ini disebut juga “sumsum genus” atau “genus hakiki”
-          Genus tengah : Genus yang di atasnya ada genus yang lebih umum, dan di bawahnya ada genus yang lebih khusus, misal : organisme, badan; genus di atasanya adalah substansi; genus di bawahnya adalah hewan.
-          Genus dekat : genus yang langsung berada di atas golongan, misal: “hewan”, dalam hubungannya dengan term manusia; “binatang melata” dalam hubungannya dengan ular, buaya, ulat.
(2) Species, ialah kelompok diri yang menunjukkan hakekat bersamaan bentuknya dan sama-sama memiliki sifat-sifat tertentu yang memisahkannya adri lain-lain golongan: misal term “manusia”. Setiap diri dalam lingkungan golongan ini memperlihatkan persamaan bentuk, sedang sifat yang memisahkannya dari lingkungan golongan yang lain ialah sifat berakal. Species juga merupakan suatu konsep predikat yang menyatakan hakikat dari suatu hal secara lengkap dan utuh. Species ini ada tiga macam :
-          Species jauh: species ini sama dengan genus tengah, yakni term universal yang langsung menghimpun golongan-golongan yang tidak dapat berlaku sebagai genus, misal : organisme.
-          Species tengah : species ini sama dengan genus dekat, yakni term universal yang langsung menghimpun golongan-golongan yang tidak dapat berlaku sebagai genus, misal: hewan.
-          Species dekat : species ini disebut “Infima species” atau “ species hakiki”, yaitu term universal yang di bawahnya hanya ada satuan khusus saja yang sangat sempit denotasinya, sehingga tidak mungkin menjadi suatu genus, misal : “manusia” di bawahnya terdapat : Umar, Muhammad, Ali, dan sebagainya.
Perlu diperhatikan, genus dan species ini adalah nama-nama himpunan sebagai term universal yang berhubungan. Denotasi species merupakan bagian daripada denotasi genus. Misal term “manusia” dan term “hewan”. Denotasi manusia lebih sempit daripada denotasi hewan, dan dengan demikian denotasi manusia termasuk ke dalam denotasi hewan. Akan tetapi janganlah dilupakan bahwa genus dan species adalah term-term yang relatif, sama halnya dengan term umum dan term khusus jika keduanya berhubungan. Hubungan antara keduanya dicontohkan sebagai berikut :
        Substansi              : genus jauh                           = (summsum genus)
        Badani                   : genus tengah                      = species jauh
        Organisme            : genus tengah                      = species jauh
        Hewan                   : genus dekat                        = species tengah
        Manusia                : (infima species)                = species dekat
(3) Diferensia, ialah ciri pembeda yang dapat memisahkan hakekat sesuatu golongan sehingga terwujud kelompok diri. Diferensia ini merupakan konsep predikat yang menentukan dalam menyatakan hakekat sehingga dapat membatasi dan memisahkan suatu species dengan species lainnya dalam genus yang sama, misal : “berakal” diperuntukkan manusia; sifat “panas” pada api; sifat “bernyawa” pada hewan; sifat melata diperuntukkan buaya. Diferensia ini ada dua macam:
-          Diferensia generik: ciri pembeda yang membuat genus lebih tinggi menjadi lebih rendah, misal: substansi “material”, badan “berjiwa”, organisme “berperasa”.
-          Diferensia spesifik: ciri pembeda yang membuat genus terdekat menjadi species, misal : hewan “berakal budi”, hewan “menyalak”.
(4) Propium, ialah sifat khusus sebagai predikat yang niscaya terletak pada hakekat sesuatu diri sehingga dimiliki oleh seluruh anggota golongan. Sifat khusus ini merupakan kelanjutan dari ciri pembeda yang di luar hakekat tetapi selalu berhubungan, hubungannya erat sekali sehingga memikirkan benda yang terlepas dari sifat khususnya merupakan suatu kontradiksi. Propium ini ada dua macam :
-          Propium generik: sifat khusus yang berakar dalam jenis sesuatu, misal : sifat “dapat mati” yang dihubungkan dengan manusia, maka disebut sifat khusus jenis, karena secara langsung timbul dari suatu jenis dari pengertian manusia, yakni “benda hidup” atau “organisme”. Dengan demikian seorang dapat mati, bukan karena dia berakal budi, bukan karena berindera, melainkan karena dia merupakan suatu “organisme yang hidup”.
-          Propium spesifik: sifat khusus dalam hakekat yang utuh dari sesuatu, misal : sifat “berpolitik” yang dihubungkan dengan manusia, maka disebut sifat “berpolitik” yang dihubungkan dengan manusia, maka disebut sifat khusus species, karena secara langsung timbul dari species manusia, yakni “manusia” itu sendiri sebagai species. Dengan demikian seseorang berpolitik, karena dia berakal budi, sesuatu tidak dapat berpolitik jika tidak berakal budi, adn yang berakal budi adalah manusia.
(5) Aksidensia, ialah sifat kebetulan sebagai predikat yang tidak bertalian dengan hakekat sesuatu diri sehingga tidak dimiliki oleh seluruh anggota golongan. Sifat kebetulan ini mrupakan sifat yang dapat ada atau dapat juga tidak ada, tiada hubungan langsung dengan hakekat, sehingga dapat juga membayangkan sesuatu benda tanpa adanya sifat kebetulan yang ada padanya, misal: “berambut pirang”, “berkulit putih” untuk manusia; sifat “cantik” untuk seorang gadis; berwarna “merah” untuk sepeda motor; dan sebangsanya. Aksidens ini ada dua macam :
-          Aksidens predikamental : sifat kebetulan yang menunjukkan cara beradanya sesuatu dan yang melekat pada subjek. Sifat-sifat seperti ini ada sembilan macam, dalam predikamen aksidensia yang merupakan pasangan predikamen substansi, misal : sifat “terpelajar”, “pendidik”, “tinggi-besar” untuk manusia; “panas”, “dingin” untuk udara. Sifat-sifat seperti ini adalah ada dengan yang lain.
-          Aksidensia predikabel : sifat kebetulan yang menunjukkan cara menyatakan sesuatu yang tidak mutlak. Sifat-sifat ini berlawanan dengan sifat khusus, misal : “berambut pirang” untuk manusia, yakni manusia berambut pirang; “persegi” untuk badan benda, yakni badan benda yang persegi. Sifat-sifat seperti ini adalah tidak mutlak.
Hubungan antara zat dan sifat, beserta essensia  dan aksidensia dapat dijelaskan dengan diagram tentang klasifikasi predikabel, dalam diagram dapat dilihat bahwa diferensia yang masuk dalam lingkungan essensia atau hakekat, masuk juga dalam lingkungan sifat, maka dapat dinyatakan diferensia adalah sebagai sifat hakekat atau hakekat sifat dari sesuatu. Dan diferansia bukan suatu zat dan bukan aksidensia. Oleh karena itu diferensia adalah suatu ciri pembeda.

1.2.  PEMBAGIAN DAN DEFINISI
Untuk mendapatkan term yang jelas penting adanya suatu batasan arti atau definisi dari term-term yang digunakan, sedang untuk menentukan kedudukan term perlu juga adanya analisa dalam dalam bentuk pemecah belahan term, sehingga dapat ditentukan bagaimana hubungannya dengan term yang lain. Oleh karena itu langkah pertama dalam proses penalaran ini adalah mengadakan pembagian dan membuat definisi yang merupakan unsur-unsur penalaran disamping penelaahan tentang term.

12.1 P E M B A G I A N
        Dasar untuk sanggup berfikir ataupun menalar yang baik perlu juga menjalankan prinsip analisa, yakni proses mengurai sesuatu hal menjadi pelbagai unsur yang terpisah untuk memahami sifat, hubungan, dan peranan masing-masing unsur. Dengan prinsip ini selanjutnya dapat dikuasai konsep-konsep atau pengertian-pengertian kemudian diungkapkan dalam bentuk term-term. Pengertian dan term inilah sebenarnya sebagai unsur dalam penalaran.
        Prinsip analisa ini secara umum disebut dengan pembagian. Dalam logika, pembagian berarti memecah-belah atau menceraikan secara jelas berbeda ke bagian-bagian dari suatu keseluruhan. Keseluruhan pada umumnya dibedakan antara keseluruhan logis dan keseluruhan realis. Keseluruhan logis adalah keseluruhan yang dapat menjadi predikat masing-masing bagiannya, misal: “tumbuh-tumbuhan” sebagai suatu keseluruhan, dan “mangga”, “durian”, “pepaya” sebagai bagian-bagiannya, sehingga dapat dinyatakan : mangga adalah tumbuh-tumbuhan, durian adalah tumbuh-tumbuhan, pepaya adalah tumbuh-tumbuhan, Keseluruhan realis adalah keseluruhan yang tidak dapat dijadikan predikat masing-masing bagiannya, misal : “rumah” sebagai suatu keseluruhan, dan “kamar” sebagai bagiannya, maka tidak dapat dinyatakan bahwa : kamar adalah ruang. Dalam penggunaan biasa yang dimaksudkan dengan suatu keseluruhan adalah keseluruhan realis, sedangkan keseluruhan logis adalah suatu konsep universal, dan bagian-bagiannya adalah hal-hal yang tercakup di dalamnya.
Macam-macam Pembagiannya
        Jika keseluruhan dibedakan antara keseluruhan logis dan keseluruhan realis maka pembagian inipun dibedakan antara pembagian logis dan pembagian realis.
(a)    Pembagian logis adalah pemecahan keseluruhan kedalam bagian-bagian yang membentuk keseluruhan itu dan berdasarkan atas suatu prinsip tertentu. Pemecahan ini menjelaskan keseluruhan atau himpunan yang membentuk term sehingga mudah dibeda-bedakan. Pembagian logis selalu merupakan pembagian himpunan atau kelas ke dalam subhimpunan atau subklas bukan merupakan pembagian klas ke dalam atribut-atributnya. Pembagian logis ini ada dua macam, pembagian logis universal dan pembagian logis dikhotomi.
aa. Pembagian universal : apabila suatu genus dibagi ke dalam semua speciesnya atau term umum dibagi ke term-term khusus yang menyusunnya. Misal “hewan” dibagi atas manusia, gorilla, kerbau, dan sebangsanya. Term “manusia” dibagi atas bangsa Indonesia, bangsa Amerika, bangsa Yahudi, bangsa Cina, dan sejenisnya.

                                                                          Hewan

 Manusia               gorilla                      kerbau                 sejenisnya

                                                                        Manusia

                Bangsa Amerika        bangsa Indonesia    bangsa Cina       dan sejenisnya

              Suku Jawa      suku Sumatra      suku Kalimantan      dan sejenisnya

ab. Pembagian dikhotomi: apabila pemecahannya hanya dibedakan menjadi dua golongan yang saling terpisah, yang satu merupakan term positif yang lain term negatif. Membagi dengan jalan dikhotomi ini didasarkan atas hukum logika “prinsip ekslusi tertii”, yakni prinsip penyisihan jalan tengah. Pembagian ini menentukan suatu diferensia yang di pilih membentuk term positif dan kebalikannya membentuk term negatif. Contoh pembagian ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Porphyry dalam karyanya Isagoge, yakni dari summsum genus ke infima species:

                                                                      Substansi
                        Berbadan                                                                     Tidak berbadan
                                                                    Badani
                        Hidup                                                                               tidak hidup
                                                                   Organisme
                        Berindera                                                                     tidak berindera
                                                                     Hewan
                          Berakal                                                                            tidak berakal
                                                                  manusia
Metode pembagian dikhotomi ini sederhana dan lengkap disamping itu juga tegas, ada pun kekurangannya ialah bahwa bagian yang negatif dari dikhotomi itu mungkin tidak beranggota (hampa), dan seandainya mempunyai anggota juga tidak dapat diperoleh keterangan mengenai anggota-anggota tersebut, karena anggota-anggota itu tidak dibagi-bagi lebih lanjut.
(b)    Pembagian realis adalah pemecah-belahan berdasarkan atas susunan benda yang merupakan kesatuan atas dasar susunan benda yang merupakan kesatuan atas dasar sifat perwujudan bendanya. Pembagian realis dibedakan menjadi dua macam, pembagian realis essensial, pembagian nealis aksidental.
ba. Pembagian essensial : ialah pemecah-belahan sesuatu hal ke bagian-bagian dasar yang menyusunnya, misal ; manusia dibagi atas badan dan jiwa; air dibagi atas dua hidrogen dan satu oksigen; rumah dibagi atas kamar, ruang tamu dan ruang makan.
bb. Pembagian aksidental : ialah pemecah-belahan sesuatu hal berdasarkan sifat-sifat yang menyertai perwujudannya, misal : kucing dapat putih, coklat, hitam warnanya, dan lain-lain; gerak dapat molar, molekular, atau otomis, dan lain-lain : manusia dibagi atas warna kulit, berkulit putih, dan berwarna.


Hukum-hukum Pembagian
        Ada aturan-aturan tertentu yang menjadi petunjuk untuk mengadakan pembagian secara ideal supaya hasilnya tidak menimbulkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan.
(1)    Pembagian harus berjalan menurut sebuah azas tunggal, yakni harus mengikuti prinsip atau sudut pandang yang sama. Sesuatu azas pembagian dapat dipilih sehubungan dengan maksud pembagian, tetapi apabila sekali telah dipilih maka hendaknya jangan dirubah selama proses berlangsung. Misal : jika membagi bangunan gedung menurut azas fungsinya tidak boleh beralih menurut gaya arsitekturnya selama pembagian itu berlangsung. Prinsip ini jika dilanggar akibatnya ialah hasilnya tidak teratur.
(2)    Pembagian harus lengkap dan tuntas, yakni species-species yang merupakan bagian-bagian penyusunan bila dijumlahkan harus sama dengan genusnya. Misal : jika membagi-bagi gedung menurut azas fungsinya, dan lupa untuk memasukkan salah satu diantara species yang merupakan bagian dari term “fungsi gedung” seperti tempat tinggal, maka ditinjau secara logis pembagian itu tidak lengkap. Prinsip ini jika dilanggar maka akibatnya ialah dapat membuat kesalahan yang sangat bersahaja dan menyolok, yaitu mengadakan pembagian yang tidak lengkap, dan konsekuensi-konsekuensinya yang praktis mungkin akan sangat gawat, jika pembagian itu merupakan bagain suatu survai atau sensus.
(3)    Pembagian harus jelas terpisah bagian-bagiannya, yakni species-species penyusun genus harus terpisah yang satu dengan yang lain. misal : jika membagi-bagi gedung menurut gaya arsitekturnya,  gaya klasik, gaya gothik, gaya elektis, gaya fungsionalis, gaya modern, maka kesalahannya terletak pada saling melingkupinya gaya fungsionalis dan gaya modern. Prinsip ini jelas jika dilanggar akibatnya ialah bahwa species-species itu saling melingkupi.

Pembagian dan Penggolongan
        Apabila pembagian dimulai dari suatu keseluruhan dan melalui proses yang logis bergerak menurun ke dalam bagian-bagian yang semakin lama semakin kecil sampai tercapainya bagian yang terendah, maka kebalikkannya yang bergerak ke arah yang berlawanan yang disebut penggolongan, yakni dari barang-barang, kejadian-kejadian, fakta-fakta atau proses-proses alamkodrat individual yang beraneka ragam coraknya, menuju ke arah keseluruhan yang sistematis dan bersifat umum (dimiliki bersama) samapi tercapainya genus yang tertinggi.
        Penggolongan yang merupakan kebalikkan dari pembagian ini, menurut Herbert L. Searles (dalam bukunya : Logic and Scientific Methods, An Introductory Course) hukum-hukumnya sama dengan hukum-hukum pembagian, namun macam-macam penggolongan berbeda dengan macam-macam pembagian.

        Hukum-hukum Penggolongan. (1) Dengan mentaati hukum bahwa harus hanya ada satu azas penggolongan berarti dapat terjamin diperolehnya susunan yang logis dan menghindari terdapatnya penggolongan bersilang. (2) Hukum bahwa suatu penggolongan itu harus sampai tuntas merupakan harapan yang hanya untuk sebagian dapat memenuhi dalam bidang yang bertambah luas seperti ilmu-ilmu sosial atau di dalam ilmu yang dinamis seperti biologi, botani, zoologi. Jadi penggolongan yang tidak lengkap baru merupakan suatu kekurangan yang gawat bila ilmunya telah menjadi sistematis serta saling berhubungan dan hukum-hukum yang mengatur proses evolusi telah diketahui. (3) Hukum yang mengatakan bahwa species-species yang merupakan bagian-bagian yang menyusun genus harus terpisah yang satu dengan yang lain di dalam suatu penggolongan merupakan suatu harapan yang hanya akan dicapai sejauh sifat-sifat species, dan berhubungan dengan itu anggota-anggota pelbagai species itu telah diketahui.

        Macam-macam Penggolongan. Dalam mengadakan pembagian macam-macam penggolongan yang menjadi pedoman ialah sifat bahan-bahan yang akan digolong-golongkan dan maksud yang dikandung oleh orang yang mengadakan penggolongan. Kedua segi itu dapat dipakai untuk mengadakan pembedaan yang biasanya dinamakan penggolongan kodrati dan penggolongan buatan. (1) Diharapkan bahwa penggolongan kodrati itu ditentukan oleh susunan kodrati, sifat-sifat dan atribut-atribut yang dapat ditemukan dari bahan-bahan yang tengah diselidiki. (2) Dilain pihak penggolongan buatan ditentukan oleh suatu maksud yang praktis dari seseorang, seperti untuk mempermudah penanganannya dan untuk menghemat waktu serta tenaga. Demikianlah penggolongan kodrati dari tumbuh-tumbuhan akan didasarkan atas sistem phylogenetika, atau sistem keturunan bersama. Sedangkan penggolongan buatan akan berupa pembuatan daftar nama-nama tumbuh-tumbuhan secara abjad dalam suatu indeks buku pengangan atau katalogus. (3) Di antara kedua hal yang ekstrim ini terdapat bentuk penggolongan perantara yang tidak sepenuhnya buatan, yang coraknya mungkin dapat dijumpai dalam suatu bidang yang baru atau yang untuk sebagian berkembang seperti ilmu-ilmu sosial. Corak perantara ini kadang-kadang dinamakan penggolongan diagnostik. Misalnya, seorang petugas kepolisian menggolong-golongakan peristiwa-peristiwa kejahatan yang terjadi di daerah penugasannya hanya berdasarkan atas waktunya, tempatnya, orang-orang yang terlibat, dan sifat-sifat pelanggaran hukumnya, untuk dicatat dalam buku daftar kantor kepolisian setempay untuk dipergunakan di hari depan.

12.2. D E F I N I S I
Definisi juga merupakan unsur atau bagian dariapada ilmu pengetahuan yang merumuskan dengan singkat dan tepat mengenai objek atau masalah. Definisi sangat penting bagi seseorang yang menginginkan sanggup berfikir dengan baik, membuat definsi terlebih dahulu bukanlah hal memperpanjang persoalan tetapi justru membuktikan pendidikan seseorang bahwa dia tahu kerangkan masalahnya. Definisi berasal dari kata Latin “definire” yang berarti menandai batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti, jadi “definisi” dapat diartikan sebagai penjelasan apa yang diaksudkan dengan sesuatu term, atau dengan kata lain definsi ialah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang arti suatu term.
Pernyataan yang memuat arti penjelasan ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pangkal disebut dengan definiendum yang berisi istilah yang harus diberi penjelasan, dan bagian pembatas disebut dengan definiens yang berisi uraian mengenai arti dari bagian pangkal. Misal definisi tentang “manusia”, manusia adalah mahluk yang berakal budi. Istilah atau kata manusia disebut definiendum, sedang keterangan mahluk yang berakal budi disebut definiens.
a.        Macam-macam Definisi
Definisi ini banyak sekali macam-macamnya, yang disesuailan dengan pelbagai langkah, lingkupan, sifat, dan tujuannya. Secara garis besar definisi dibedakan menjadi tiga macam, yakni definisi nominalis, definisi realis, dan definisi praktis.
a.a. Definisi Nominalis
        Definisi nominalis ialah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum dimengerti. Jadi sekedar menjealskan kata sebagai tanda, bukan menjalaskan hal yang ditandai, misal : nirwana adalah sorga. Definisi nominalis terutama dipakai pada permulaan sesuatu pembicaraan, diskusi, perdebatan , dengan maksud menunjukkan apa yang menjadi poko pembicaraan, diskusi, peredebatan. Definisi nominalis ini ada enam macam :
(1)    Definisi Sinonim, yakni penjelasan dengan memberikan persamaan kata atau memberikan penjelasan dengan kata yang lebih dimengerti, misal : kampus adalah lapangan, lahan adalah tanah, arca adalah patung, nirwana adalah sorga, memeraman adalah menyimpan buah-buahan yang belum masak supaya lekas masak. Definisi ini paling singkat dan yang digunakan di dalam kamus.
(2)    Definisi simbolis, yakni penjelasan dengan memberikan persamaan pernyataan berbentuk simbol-simbol. Definisi ini digunakan dalam bidang matematika termasuk juga logika untuk memberi penjelasan secara simbolis, misal :
(P → Q) ↔ (―P V Q)
(A Ϲ B) ↔ Ax (x  A → x  B)
Dalam contoh pertama antara bagian pangkal dan bagian pembatas sama nilainya, sedang dalam contoh kedua bagian pembatasnya menguraikan makna secara simbolis dari bagian pangkal.
(3)    Definisi etimologis, yakni penjelasan dengan memberika asal-usulnya kata, misal : demokrasi dari asal kata “demos” berarti rakyat, “kratos / kratein” berarti kekuasaan / berkuasa, jadi demokrasi berarti pemerintahan rakyat atau rakyat yang berkuasa.. Contoh lain misal : filsafat adalah cinta kebijaksanaan, metamorphose adalah perubahan bentuk.
(4)    Definisi semantis, yakni penjelasan tanda dengan suatu arti yang telah terkenal, misal : tanda
                              berarti : maka atau jadi.
                =>           berarti : jika ......... maka .........
             <=>            berarti : bila dan hanya bila
(5)    Definisi stipulatif, yakni penjelasan dengan cara pemberian nama atas dasar kesepakatan bersama, misal : planet tertentu disebut “mars”. Definisi seperti ini banyak digunakan dalam lapangan ilmu pengetahuan, terutama dalam penemuan hal-hal baru, misal pemberian nama lembah-lembah yang ada di bulan, pemberian nama tumbuh-tumbuhan baru hasil perkembangannya.
(6)    Definisi denotatif, yakni penjelasan term dengan cara menunjukkan atau memberikan contoh suatu benda atau hal yang termasuk dalam cakupan term, misal : tanaman adalah seperti jagung, padi, kedelai, dan sebangsanya. Definisi seperti ini ada dua macam yakni :
-          Definisi ostensif, yakni memberi batasan sesuatu dengan memberikan contoh, misalnya mendefinisikan apakah itu batu  kerikil, dengan mengambil batu kerikil dan kemudian berkata “inilah batu kerikil”.
-          Definisi enumeratif, yakni memberi batasan sesuatu term dengan memberikan perincian satu demi satu secara lengkap mengenai hal-hal yang termasuk dalam cakupan term tersebut, misal : Propinsi di Indonesia adalah jawa tengah, Daerah Istimewa Yogjakarta, jawa barat, dan seterusnya sampai terakhir Timor-Timur.
Definisi denotatif ini lebih khusus serta lebih konkrit berguna dalam corak pemberitaan elementer, namun dalam hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan serta uraian yang tehnis definisi ini kurang berguna.
        Dalam membuat definisi nominalis ada tiga syarat yang perlu diperthatikan ialah : (1) Apabila sesuatu kata hanya mempunyai sesuatu arti tertentu, hal ini harus selalu dipegang. Juga kata-kata yang sangat biasa diketahui umum, hendaknya dipakai juga menurut arti dan pengertiannya yang sangat biasa. (2) Jangan menggunakan kata untuk mendefinisikan jika tidak tahu artinya secara tepat dan terumus jelas. Bilamana muncul keragu-raguan mengenai sesuatu term, harus diberi terlebih dahulu definisi dengan telitid dan hati-hati. (3) Apabila arti dan pengertian sesuatu term menjadi suatu objek pembicaraan, definisi nominalis atau definisi taraf pertamanya harus sedemikian rupa sehingga dapat secara tepat diakui oleh kedua pihak yang berdebat.

a.b Definisi Realis
        Definisi Realis ialah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh sesuatu term. Jadi bukan sekedar menjelaskan term, tetapi menjelaskan isi yang dikandung oleh term. Definisi realis banyak digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan serta hal-hal yang bersifat tehnis. Definisi realis ini ada dua macam :
(1)    Definisi essensial, yakni penjelasan dengan cara menguraikan bagian-bagian yang menyusun sesuatu hal. Bagian-bagian ini antara satu dengan yang lain dapat dibedakan secara nyata atau hanya beda dalam akal pikiran. Oleh karena itu definisi essensial dapat dibedakan antara definisi analitis dan definisi konotatif.
-          Definisi analitis, yakni menunjukkan bagian-bagian sesuatu benda yang mewujudkan essensinya. Definisi ini disebut juga definisi essensial fisik, karena dengan cara analisa fisik. Misal “manusia” dapat didefinisikan : suatu substansi yang terdiri badan dan jiwa. Air adalah H2O.
-          Definisi konotatif, yakni menunjukkan isi dari suatu term yang terdiri dari genus dan diferensia. Definisi ini disebut juga definisi essensial metafisik, memberikan jawaban yang terdasar dengan menunjukkan predikabel substansinya, misal : manusia adalah hewan yang berakal, hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa. Bentuk definisi semacam ini adalah sangat ideal, tetapi sayang tidak semua hal dapat didefinisikan semacam ini. Definisi konotatif dicapai dengan melalui tiga langkah :
·         Pertama, membandingkan hal yang hendak didefinisikan dengan semua hal-hal yang lain.
·         Kemudian, menunjukkan jenis atau golongan yang memuat hal tadi.
·         Akhirnya, menunjukkan ciri-ciri yang memperdakan hal tadi dari semua hal-hal lain yang termasuk golongan sama.
(2)    Definisi deskriptif, yakni penjelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki oleh hal yang didefinisikan. Sifat-sifat ini khusus pada halnya yang dapat membedakan hal-hal lain yang terdapat dalam golongan yang sama. Definisi ini dibedakan antara definisi aksidental dan definisi kausal.
-          Definisi aksidental, penjelasan dengan cara menunjukkan jenis dari halnya dengan sifat-sifat khusus yang menyertai hal tersebut, atau dengan rumusan lain, yakni penjelasan yang disusun dari genus dan propium, misal : manusia adalah hewan yang berpolitik, manusia adalah hewan yang menggunakan simbol-simbol, manusia adalah mahluk sosial, bangsa adalah sekelompok manusia yang pada umumnya memiliki watak-watak sosial tertentu.
-          Definisi kausal, penjelasan dengan cara menyatakan bagaimana sesuatu hal terjadi atau terwujud. Hal ini berarti juga memaparkan asal-mula atau perkembangan dari hal-hal yang ditunjuk oleh suatu term. Definisi ini disebut juga definisi genetik, misal : awan adalah uap air yang terkumpul di udara karena penyinaran laut oleh matahari, murtad adalah orang yang berpindah dari sesuatu agama ke agama lain, jam adalah suatu benda dengan upaya untuk menunjukkan waktu.

a.c. Definisi Praktis
        Definisi praktis ialah penjelasan tentang hal sesuatu ditinjau dari segi penggunaan dan tujuannya yang sederhana. Definisi ini merupakan gabungan antara definisi nominalis dan definisi realis, namun tidak dapat dimasukkan dalam salah satu diantara keduanya, misal : filsafat adalah berfikir ilmiah mencari kebenaran hakiki. Definisi praktis ini ada tiga macam :
(1)    Definisi oprasional, yakni penjelasan suatu term dengan cara menegaskan langkah-langkah pengujian khusus yang harus dilaksanakan atau dengan metode pengukuran serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat diamati, ini ada dua macam :
-          Kualitatif : berdasarkan isi dan kekuatan, misal : magnit adalah logam yang dapat menarik gugusan besi, emas adalah logam jika di uji secara fisis dan kimiawi ternyata mengandung unsur yang bernilai.
-          Kuantitatif : berdasarkan banyaknya, misal : panjang adalah jumlah kali ukuran standard memenuhi jarak.
(2)    Definisi persuasip, yakni penjelasan dengan cara merumuskan sesuatu penyataan yang dapat mempengaruhi orang lain, misal : lux adalah sabun bintang film, tepat waktu adalah keutamaan dari orang-orang modern, sosialisme adalah demokrasi sosial ekonomi, kecermatan adalah kebajikan orang-orang terpelajar. Definisi ini kelihatannya menjelaskan arti dari sesuatu kata atau istilah, tetapi sesungguhnya secara tidak langsung menyarankan kepada pihak lain supaya menyetujui atau atau menolak sesuatu hal. Dengan demikian definisi ini pada hakekatnya merupakan alat untuk membujuk atau tehnik untuk menganjurkan dilakukannya perbuatan tertentu atau dapat juga untuk membangkitkan emosi seseorang.
(3)    Definisi fungsional, yakni penjelasan sesuatu berdasarkan guna atau tujuan, misal : negara adalah suatu persekutuan besar yang bertujuan kesejahteraan bersama bersifat pragmatis, bahasa adalah pernyataan pikiran atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia, filsafat adalah berfikir ilmiah mencari kebenaran.
b.       Syarat-syarat Definisi
Dalam merumuskan definisi ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan supaya definisi yang dirumuskan itu betul-betul mengungkapkan pengertian yang didefinisikan secara jelas dan mudah dimengerti. Syarat-syarat yang akan dikumukakan di sini merupakan syarat secara umum berlaku untuk semua definisi terutama sekali definisi realis, disamping juga ada syarat khusus untuk definisi nominalis.
Syarat-syarat definisi secara umum dan sederhana ada lima syarat, namun ada juga yang merumuskan lebih dari lima, yang sebenarnya hanya merupakan penjelasan berikutnya. Lima syarat yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
1.       Sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari apa yang didefinisikan, yakni menunjukkan pengertian umum yang meliputinya beserta ciri pembedanya yang penting. Syarat ini penting dalam definisi ilmiah, sebagaimana untuk mendefinisikan tentang hewan, tumbuh-tumbuhan, organisme. Misal definisi kuda adalah eguus caballus, eguus adalah himpunan umum (genus) yang meliputi kuda, dan caballus adalah ciri pembeda (diferensia) yang membedakan kuda dari keledai, zebra, dan lain-lain anggota dari golongan yang sama. Contoh lain, hewan adalah organisme berindera, organisme merupakan hakekat zat dari hewan, sedang berindera merupakan hakekat sifat dari hewan.
2.       Sebuah definisi harus merupakan suatu kesetaraan arti dengan hal yang didefinisikan, maksudnya tidak terlampau luas dan tidak terlampau sempit. Syarat ini melahirkan dua anak- syarat :
-          Definisi tidak lebih luas dari yang didefinisikan, oleh karena itu harus mengeluarkan setiap yang tidak termasuk ke dalam lingkungan yang didefinisikan, atau eksklusif. Mendefinisikan sebuah meja sebagai “perabot rumah tangga” adalah terlampau luas.
-          Definisi tidak lebih sempit dari yang didefinisikan, oleh karena itu harus menarik ke dalam lingkungan pengertian setiap diri yang termasuk didefinisikan, atau inklusif. Mendefinisikan kursi sebagai “barang yang sekarang diduduki” adalah terlampau sempit.
3.       Sebuah definisi harus menghindarkan pernyataan yang memuat term yang didefinisikan, artinya definisi tidak boleh berputar-putar memuat secara langsung atau tidak langsung subjek yang didefinisikan. Syarat ini seringkali dilanggar dan tidak diketahui, karena definisi tersebut dinyatakan dalam kata-kata yang ditinjau secara etimologis seasal dengan istilah-istilah yang didefinisikan, Misal : keracunan adalah hasil akibat minum racun, obat tidur adalah bahan yang mengandung sifat-sifat yang dapat menidurkan, pengetahuan adalah hal-hal yang diketahui dalam ingatan, hukum waris adalah hukum yang mengatur harta warisan.
4.       Sebuah definisi sedapat mungkin harus dinyatakan dalam bentuk rumusan yang positif, yakni tidak boleh dinyatakan secara negatif jika dapat dinyatakan dengan kata-kata yang positif, karena membuat definisi ialah untuk mengatakan apakah barang sesuatu, dan bukannya untuk mengatakan bukan apakah barang sesuatu itu.Tetapi memang benar bahwa dalam banyak hal jika mempunyai pengertian yang jelas tetantang bukan apakah barang sesuatu itu, maka dapat lebih mudah menangkap ciri-cirinya yang positif. Contoh pelanggran terhadap syarat ini ialah : kebebasan akademis ialah tidak dipengaruhi pembatasan-pembatasan dalam berbicara dan menulis, dinyatakan kaya apabila orang itu tidak miskin. Syarat ini perlu mendapatkan perhatian yang istimewa, karena banyak hal yang hanya dapat didefinisikan dengan mengandung pengertian negatif, misal : bujangan adalah lelaki dewasa yang belum kamin, perawan adalah wanita dewasa yang belum kawin.
5.       Sebuah definisi harus dinyatakan secara singkat dan jelas terlepas dari rumusan yang kabur atau bahasa kiasan, karena maksud membuat definisi ialah memberi penjelasan serta menghilangkan perwayuhanarti (makna ganda) maka dengan dipakianya istilah-istilah yang kabur dapat menghalangi maksud tersebut. Misalnya : alumunium adalah suatu jenis logam tertentu yang bercahaya. Contoh lain definisi yang dibuat oleh Herbert Spencer tentang “evolusi”, meskipun tidak niscaya kurang tepat, namun karena dalam membicarakan bahannya secara abstrak, maka akibatnya definisi yang diajukan juga agak kabur, yakni : “evolusi” adalah integrasi antara materi dengan lenyapnya gerakan yang bertepatan waktunya, pada waktu mana materi beralih dari homogenitas yang tidak tertentu serta tidak berhubungan menjadi heterogenitas yang tertentu serta berhubungan, dan pada waktu mana gerakan yang tersisa mengalami transformasi yang pararel.

1.3.  PRINSIP DAN PENALARAN
Dasar penalaran yang kedudukannya sebagai bagian langsung dari bentuk penalaran adalah adalah pernyataan, karena pernyataan inilah yang digunakan dalam pengolahan dan perbandingan. Pernyataan dirumuskan dengan simbol-simbol untuk memudahkan menangkap bentuk hubungan dari pernyataan satu dengan pernyataan lain dalam struktur penalaran.
Dalam penalaran ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan walaupun tidak secara langsung, karena prinsip tersebut sangat universal dan benar dengan sendirinya tanpa membutuhkan pembuktian yang disebut juga dengan istilah aksioma penalaran. Hal ini dapat juga disebut dengan unsur penalaran dalam hal prinsip dasar dan penggunaannya langsung berhubungan dengan menetapkan pernyataan.

13.1 P E R N Y A T A A N
        Pemikiran manusia dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, meskipun tidak semua yang terpikirkan oleh manusia itu dapat diungkapakan dengan tuntas. Demikian juga dalam penalaran yang merupakan salah satu wujud pemikiran, bahasa merupakan bentuk yang tepat untuk menunjukkan langkah-langkah yang harus dilalui dalam penalaran itu. Bahasa ini terdiri dari kata-kata dan sintaksis. Kata-kata merupakan simbol-simbol dari arti, dan dapat menjadi simbol bagi benda-benda, kejadian-kejadian, proses-proses, atau hubungan-hubungan. Sintaksis ialah  cara untuk menyusun kata-kata dalam bentuk kalimat untuk menyatakan arti yang bermakna. Dan selanjtunya dapat diuraikan lagi, bahwa kalimat yang bermakna ini dibedakan antara lima jenis, yakni : kalimat berita, kalimat pernyataan, kalimat perintah, kalimat seru, dan kalimat harapan. Diantara lima jenis kalimat ini yang digunakan dalam logika adalah kalimat berita, karena kalimat berita dapat dinilai benar atau salah, sedang jenis-jenis kalimat yang lain tidak dapat dinilai benar atau salah.
        Pernyataan atau kalimat deklaratif, jika ditinjau berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pernyataan analitis dan pernyataan sintesis. Pernyataan analitis ialah suatu kalimat deklaratif yang predikatnya telah terkandung dalam subjek, yakni isinya hanya menyajikan arti yang memang telah terkandung dalam suatu pengertian dari subjek, pernyataan analitis ini selalu benar, Pernyataan sintaksis ialah suatu kalimat deklaratif yang predikatnya tidak terkandung  dalam subjek, yakni predikatnya menyatakan sesuatu tentang subjek pernyataan yang artinya tidak terkandung dalam subjek, pernyataan sintetis ini belum tentu benar, misal : anak itu terpelajar.
                                                                           Kalimat
                  Kalimat bermakna                                                         Kalimat tidak bermakna
                                                         
        Bukan kalimat deklaratif               Kalimat deklaratif
                                                      Benar                                       Salah

                                                               Skema pembagian kalimat

Prosposisi atau pernyataan ini berdasarkan bentuk isinya dibedakan antara tiga macam, yakni (1) proposisi tunggal ialah jenis pernyataan sederhana yang hanya mengandung satu pengertian sebagai unsurnya, misal : sekarang hari minggu, ini bukan logika. (2) Proposisi kategoris ialah pernyataan yang terdiri dari hubungan dua pengertian yang sebagai subjek dan predikat, misal : Bangsa Indonesia berketuhanan Yang Maha Esa, semua jaksa harus sarjana hukum. (3) Proposisi majemuk ialah pernyataan yang terdiri dari hubungan dua bagian yang dapat dinilai benar atau salah, misal : pemalsu uang atau penyimpan uang palsu akan diajukan  ke pengadilan. Soekarno adalah seorang presiden pertama Republik Indonesia dan juga seorang proklamator.
Tiga macam proposisi atau pernyataan di atas yang sebagai dasar penalaran adalah proposisi kategoris untuk penalaran kategoris, dan proposisi majemuk untuk penalaran majemuk.

13.2. Prinsip-prinsip Penalaran
Istilah “prinsip” sering diartikan dengan “kaidah” atau “hukum”, adapun yang dimalsudkan adalah suatu pernyataan yang mengandung kebenaran universal, yaitu kebenarannya tidak terbatas oleh ruang dan waktu, di mana saja dan kapan saja dapat digunakan.
Suatu prinsip, jika tidak membutuhkan suatu pembuktian, yang jelas dengan sendirinya, karena terlalu sederhana, maka prinsip itu disebut dengan “aksioma” atau “prinsip dasar”. Dengan demikian aksioma atau prinsip dasar dapat didefinisikan: suatu pernyataan mengandung kebenaran universal yang kebenarannya itu sudah terbukti dengan sendirinya, atau dirumuskan juga, suatu hal yang diterimanya sebagai kenyataan yang bersifat universal. Sebagai contoh misalnya salah satu aksioma Euklidus (seorang tokoh Geometrika Iskandariah sekitar tahun 300 SM) : “Suatu keseluruhan lebih besar daripada sebagian”. Pernyataan ini jelas dengan sendirinya, lansung dapat dimengerti tidak perlu membutuhkan hal-hal lain untuk membuktikan kebenarannya.
Aksioma atau prinsip dasar, setiap ilmu pengetahuan berbeda-beda, namun demikian ada juga suatu aksioma dari suatu ilmu digunakan juga sebagai aksioma bagi ilmu yang lain. Demikian juga prinsip dalam logika yang akan diuraikan ada kemungkinan digunakan oleh ilmu lain. Prinsip dasar dalam logika sering disebut dengan “prinsip penalaran”, dan ada juga yang menyebutnya dengan “prinsip-prinsip pemikiran”. Adapun penggunaannya lansung berhubungan dengan menetapkan pernyataan. Oleh karena itu sebenarnya tepat jika dikatakan “prinsip dasar pernyataan”.
Prinsip dasar pernyataan ini hanya ada tiga prinsip, yang mengemukakan pertama-kali adalah Aristoteles (384-322), adapun prinsip kedua mengalami penyempurnaan dalam menyatakan dan tanpa merobah makna yang dimaksudkannya, yaitu : prinsip identitas, prinsip non kontradiksi, dan prinsip eksklusi tertii. Ketiga prinsip ini diuraikan secara terperinci sebagai berikut :
1.       Prinsip identitas : prinsip ini dalam istilah latin ialah principium identitatis (law of identity), merupakan dasar dari semua penalaran, sifatnya langsung analitis dan jelas dengan sendirinya, tidak membutuhkan pembuktian. Prinsip identitas berbunyi : “sesuatu hal adalah sama halnya sendiri”, dengan kata lain : “sesuatu yang disebut p maka sama dengan p yang dinyatakan itu sendiri bukan yang lain”. Secara simbolik dirumuskan sebagai berikut :
(p <=> p)               dibaca :  p adalah identik
                                                P itu sendiri.
Sesuatu x yang disebut sebagai p adalah identik dengan p itu sendiri
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu benda adalah benda itu sendiri, tidak mungkin yang lain. Dan selanjutnya dalam suatu perbincangan, jika sesuatu hal diartikan sesuatu p tertentu maka selama perbincagan itu masih berlangsung tidak boleh diartikan selain p, dalam arti harus tetap sama dengan arti yang diberikan semula. Atau dengan rumuan lain, pengakuan bahwa benda ini adalah benda ini bukan benda lain, dan bahwa benda itu adalah benda itu bukan benda yang lain.
2.       Prinsip non Kontradiksi : Prinsip ini dalam istilah latin ditulis principium contradictionis (law of contrediction), yakni prinsip kontradiksi. Penyebutan prinsip kontradiksi ini adalah tidak tepat, karena yang dimasudkan adalah tidak adanya kontradiksi dalam suatu pernyataan, Prinsip non kontradiksi berbunyi : sesuatu tidak dapat sekaligus merupakan hal itu dan bukan hal itu pada waktu yang bersamaan”, atau “sesuatu pernyataan tidak mungkin mempunyai nilai benar dan tidak benar pada saat yang sama”. Dengan kata lain : ‘sesuatu tidaklah mungkin secara bersamaan merupakan p dan non p”. Secara simbolik dirumuskan sebagai berikut :
- (p ˄ -p) dibaca : tidaklah demikian halnya bahwa p dan non p bersamaan.
                Sesuatu x jika merupakan anggota p jelaslah tiadk mungkin sekaligus anggota non p.
Yang dimaksudkan dengan prinsip ini ialah bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. Kita misalkan suatu pernyataan : badan benda x ini hidup dan tidak hidup. Kedua term yang sebagai sifat untuk badan benda x itu tidak mungkin diterima kedua-duanya dalam saat yang sama, walaupun benda x itu dapat dibenarkan pada suatu saat hidup dan pada saat yang lain tidak hidup, namun tidak mungkin keduanya bersamaan waktu.
3.       Prinsip eksklusi tertii : Prinsip ini dalam istilah Latin ialah principium exclusi tertii (law of excluded middle), yakni prinsip penyisihan jalan tengah atau prinsip tidak adanya kemungkinan ketiga. Prinsip eksklusi tertii berbunyi : “sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah” dengan kata lain : sesuatu x mestilah “p” atau “non p” sekaligus, atau juga “non p” dan “non-non p” bersamaan, hal ini tidak mungkin, berdasarkan prinsip non kontradiksi. Prinsip ini secara simbolik dirumuskan sebagai berikut :
(p V –p)                 dibaca ; sesuatu mestilah p atau non p.
                Sesuatu x hanya sebagai anggota p atau anggota non p.
Arti dari prinsip ini ialah bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda, mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya, sifat p atau non p. Atau dengan kata lain bahwa salah satu dari dua sifat yang berlawanan penuh mestilah benar bagi salah satu dan tidak benar bagi yang lain, tidak mungkin keduanya benar atau tidak mungkin keduanya salah, misal :benda hidup x ini manusia atau bukan manusia. Jika dinyatakan sebagai manusia dinilai benar, berarti sesuai dengan kenyataan, maka bukan manusia adalah salah, karena jelas tidak sesuai dengan kenyataannya, atau sebaliknya, dinyatakan sebagai manusia dinilai salah, maka bukan manusia adalah benar, tidak ada kemungkinan ketiga, yaitu keduanya benar atau keduanya salah pada satu benda.
Disamping tiga prinsip yang dikemukakan oleh Aristoteles di atas, seorang filsuf Jerman Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1716) menambah satu prinsip yang merupakan pelengkap atau tambahan bagi prinsip identitas, yaitu :
4.       Prinsip cukup alasan : Prinsip ini dalam istilah Latin disebut dengan principium rationis sufficientis (law of sufficient reason), yang berbunyi : “suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Dengan kata lain : “Adanya sesuatu itu mestilah mempunyai alasan yang cukup, demikian pula jika ada perubahan pada keadaan sesuatu”, misal : jika suatu benda jatuh ke tanah, alasannya ialah karena adanya daya tarik bumi, sedangkan benda itu tidak ada yang menahannya. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah, artinya tetap sebagaimana benda itu sendiri, tetapi jika kebetulan terjadi suatu perubahan, maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar