Belajar Blog

Selasa, 01 Februari 2011

CHECK LIST

 
CHECK LIST

·         Check List merupakan suatu daftar yang mengandung atau mencakup faktor-faktor yang ingin diselidiki (Bimo Walgito, 1985).
·         Menurut Sutrisno Hadi (1990) check list adalah suatu daftar yang berisi nama-nama subjek dan faktor-faktor yang akan diselidiki.
·         Check list merupakan daftar yang berisi unsur-unsur yang mungkin terdapat dalam situasi atau tingkah laku atau kegiatan individu yang diamati (Depdikbud : 1975).
Dengan memungut beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa check list adalah salah satu alat observasi, yang ditujukan untuk memperoleh data, berbentuk daftar berisi faktor-faktor berikut subjek yang ingin diamati oleh observer, di mana observer dalam pelaksanaan observasi di lapangan tinggal memberi tanda check (cek, atau biasanya dicentang) pada list faktor-faktor sesuai perilaku subjek yang muncul, di lembar observasi, sehingga memungkinkan observer dapat melakukan tugasnya secara cepat dan objektif, sebab observer sudah “membatasi diri” pada ada – tidaknya aspek perbuatan subjek, sebagaimana telah dicantumkan didalam list.
Namun menurut Sutrisno Hadi (1990), akan lebih baik bagi observer untuk “menyediakan kolom kosong” (di samping atau di bawah pada lembar observasi itu) yang sengaja disiapkan untuk mencatat komentar yang dipandang observer perlu, guna menambah informasi berkenaan dengan aspek-aspek kelakuan yang mungkin belum termasuk (dimasukkan) dalam perumusan check list tersebut.

Contoh check list (Sutrisno Hadi, 1990).
No.
Faktor
Nama
Gayus
Susno
Sahri
Firman
Rizka
Dll
1.
Tidak pernah terlambat?






2.
Mengerjakan pekerjaan rumah?






3.
Selalu siap dalam diskusi kelas?






4.
Lebiih suka bekerja sendiri?






5.
Mentaati tata-tertib kelas?






6.
Dan sebagainya






Komentar : ________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________



Contoh lainnya :


Jadi, check list hanya ‘mencatat atau menconteng’ berdasarkan aad – tidaknya perilaku observee yang muncul, sesuai dengan faktor-faktor yang ditentukan oleh observer.

Contoh lainnya :

Misalnya tentang bermain sosial :
P = parallel
A = Associative
C = Cooperative
Child’s Name
09.00
09.05
09.10
09.15
P
A
C
P
A
C
P
A
C
P
A
C
Stephanie












Ricky












Natalie












Michael












Etc.













Kelemahan  check list Misalnya dua observer
Hari pertama, Observer I

Perilaku
Ya
Tidak
1.
Anak melompat.

2.
Anak menangis.

3.
Anak menendang.


4.
Anak bermain.



Hari kedua, observer I

Perilaku
Ya
Tidak
1.
Anak melompat.
0
√ (tidak melompat)
2.
Anak menangis.

3.
Anak menendang.


4.
Anak bermain.



Hari pertama, observer II

Perilaku
Ya
Tidak
1.
Anak melompat.

2.
Anak menangis.

3.
Anak menendang.


4.
Anak bermain.



Hari kedua, observer II

Perilaku
Ya
Tidak
1.
Anak melompat

2.
Anak menangis
0
√ (tidak menangis)
3.
Anak menendang.


4.
Anak bermain.



·         Kemudian hasil kedua observer digabungkan, Menjadi :
No.
Perilaku
Observer
Hari
Pertama
Kedua
1.
Anak melompat.
Observer I
0
Observer II
2.
Anak menangis.
Observer I
Observer II
0
3.
Anak menendang.




Dst.




Kelemahan check list tampak disini.
Bisa saja terjadi karena observer lali, untuk mengetahui kejadian, karena buang air kecil ke belakang. Padahal menyatakan O (kejadian tidak muncul) itu sudah mempengaruhi interpretasi, hanya karena kelalaian tadi. Itulah bagian dari kelemahannya. Check list merupakan metode yang sederhana , misalnya kita menunggu sehari baru muncul perilaku yang sesuai dengan faktor-faktor dimaksud, maka tugas kita selaku observer tetap menconteng di kolom Ya atau Tidak, begitu sederhana.

·         Apakah observasi menggunakan alat observasi check list ini boleh dilakukan observer secara sendirian?
Jawabannya boleh-boleh saja, tetapi harus disadari bahwa itu melanggar pertanggung-jawaban teoritis.

Ingat, tiga celah kesesatan dalam melakukan observasi, sebagaimana sudah dibahas pada pertemuan yang lalu, diantaranya :
a.       Halo Effects
Yaitu kesesatan yang terjadi manakala observer dalam pencatatan terpikat oleh kesan yang baik yang dilakukan observee, sedang observer sendiri tidak menyelidiki kesan tersebut.
Misalnya, observee sopan kemudian memberi nilai tinggi pada kerajinan kerja, padahal tidaklah demikian.

b.       Generosity Effects
Yaitu kesesatan yang terjadi karena keinginan untuk berbuat baik. Disini observer cenderung menilai yang menguntungkan observee.

c.       Carry-over Efects
Yaitu kesesatan yang terjadi karena pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dengan gejala lainnya, dan ketika gejala yang satu kelihatan timbul baik, yang lain juga dicatat dalam keadaan baik, padahal tidak baik begitu.

Dengan maksud mengurangi unsur kesesatan observer itulah maka diperlukan observer lain (tidak sendiri). Belum lagi, hal-hal umum yang dapat mempengaruhi kecerdasan dalam observasi, sebagaimana sudah dibahas paad pertemuan ke 2, seperti :
a.       Prasangka-prasangka dan keinginan-keinginan dari observer.
b.       Keterbatasan panca indra, kemampuan pengamatan, dan ingatan manusia.
c.       Keterbatasan wilayah pandang.
d.       Ketangkasan menggunakan alat-alat pencatatan.
e.       Ketelitian  pencatatan hasil-hasil observasi.
f.        Ketepatan alat dalam observasi. Pengertian observer tergantung tentang gejala yang diobervasi.
g.       Kemampuan menangkap hubungan sebab akibat tergantung pada keadaan mental, indra pada suatu waktu.

Contoh :
Misalnya dengan check list seorang observer berupaya mengobservasi sendiri, meskipun ia mengetahui bahwa tindakan itu melanggar ‘pertanggungjawaban teoritis,’ (cenderung memasukkan unsur subjektivitas). Umpamanya pada hari pertama observasinya, perilaku yang dimaksud muncul, Hari kedua muncul, terus penasaran hari ketiga kalau diobservasi muncul tidak ya? Lalu dilakukan observasi, ternyata perilaku dimaksud tidak muncul (0). Hanya karena mengetahui perilaku dimaksud tidak muncul (O), maka interpretasinya pun menjadi bermakna lain.
Contoh :
Perilaku
Observer
Hari


I
II
III
1. Anak melompat
Si Gayus
O











Berarti, muncul tiga kali, percentage-nya → 100% : 3 = 33,3%
Karena yang muncul hanya 2 kali berarti, 33,3% + 33,3% = 66,6%

Padahal pengukuran dianggap reliable, itu minimal 0,8 atau 80%.

Konsep reliabilitas selalu mengandung pengertian, “Sejauh mana hasil suatu pengukuran terhadap subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama.

Konsep reliabilitas itu, jika digambarkan kurang lebih seperti ini.

                                                        Sesuatu yang kita tafsir (senyatanya).


                                                                                Hasil estimasi kita

                                                Inilah reliabilitas. Kalau 80% atau 0,8   = CUKUP TINGGI
                                                                                                                                = TINGGI.

Makin luas daerah arsiran atau makin tinggi reliabilitasnya berart hasil suatu pengukuran semakin reliable, makin dapat dipercaya.

NOTE :
Bentuk-bentuk pencatatan boleh-boleh saja dimodifikasi, pertimbangannya tergantung metode observasi yang kita gunakan dan tujuan dari observasi. Terkait dengan reliabilitas di atas, maka pertimbangan bentuk pencatatan juga dikaitkan dengan perhitungan, serta penginterpretasiannya nanti.
Nah, kalau kita modifikasi dengan misalnya, interval-nya kita masukkan, rating-nya kita masukkan juga, hendaknya diingat bahwa apa pun yang kita masukkan akan mempunyai konsekuensi menghitung dan menginterpretasikannya. Disamping pertimbangan pemilihan topik di bagian awal, kemudian teori yang mendukung (semakin singkat akan semakin baik), definisi oprasional (harus terukur), indikator, pengumpulan data, hingga penarikan kesimpulan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar