Belajar Blog

Selasa, 01 Februari 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL
DIMENSI BIOLOGIS KESEHATAN MENTAL
Terdapat empat faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental yaitu biologis, psikologis, lingkungan, dan sosio budaya. Ketiga faktor ini perlu ada homeostasisyaitu keseimbangan yang dinamis. Ketiga unsur ini saling mempengaruhi karena bersifat interpendensi. Pada tulisan faktor-faktor itu di jelaskan secara terpisah hanya untuk mempermudah memahaminya. Bagian berikut adalah deskripsi dimensi biologis dalam hubungannya dengan kesehatan mental, sedangkan faktor lain akan di jelaskan pada tulisan berikutnya.
                Pada awalnya orang memahami bahwa hubungan aspek badaniyah dengan jiwa adalah hubungan spiritual, yang tidak terjelaskan secara ilmiah. Belakangan, pengertian hubungan keduanya dapat di pahami berdasarkan prinsip ilmu pengetahuan.
                Pada bagian in akan di jelaskan tentang hubungan tersebut, khususnya beberapa aspek biologis yang secara langsung berpengasruh terhadap kehidupan kesehatan mental, di antaranya: otak, sistem endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selama hamil.

A. OTAK
                Tiga abad sebelum Masehi, Aristoteles beranggapan bahwa jantung adalah tempat intelegensi dan dengan jantung itulah manusia itu berpikir. Namun pandangan ini tidak bertahan lama. Ahli anatomi herophilus (290 SM) dan Erasistratus (270 SM) menyadari bahwa pandangan Aristoteles itu adalah salah. Mereka mengenalkan pada murid-muridnya otak adalah bagian penting dari aktivitas manusia karena berfungsi sebagai penggerak sensori motoris. Galen sebagai salah seorang murid mencatat ajaran Herophilus dan Erasistratus lantas melanjutkan penemuan penting ini, dan di katakan bahwa otak ,merupakan pusat dari keseluruhan gerak badan dan sensasi (Corner, 1964).
                Sejak itulah muncul keyakinan baru bahwa jiwa itu berada di otak dan bukan di jantung. Pandangan ini terus di perkuat penemuan-penemuan mutakhir tentang fungsi otak bagi manusia. Para ahli tidak saja mengakui bahwa otak sangat kompleks secar fisiologis, tetapi memiliki fungsi yang sangat esensi bagi keseluruhan aktivitas manusia. Diferensiasi dan keunikan yang ada pada manusia pada dasarnya tidak dapat  di lepaskan dari otak manusia. Keunikan manusia terajadi justru karena keunikan otak manusia dalam mengekspresikan segenap pengalaman hidupnya.
1.      BAGIAN-BAGIAN OTAK
Otak terdiri dari otak besar (cerebrum), otak tengah (mesensephalon),  otak kecil (cerebellum), sum-sum lanjutan  (medulla oblongata) dan jembatan varol (pons varoli).

                Masing-masing bagian otak itu memiliki fungsi sendiri. Otak besar merupakan sumber kesadaran. Selain area asosiasi yang menghubungkan antara area motor dan sensorik, juga berperan dalam proses belajar, dan berfikir. Otak tengah  berfungsi mengatur kelenjar endokrin, lobus optikus, dan pusat pendengaran.
                Otak kecil mengatur keseimbangan tubuh, koordinasi gerakan otot, dan posisi tubuh. Jembatan varol merupakan penghubung otak kecil bagian kiri dan kanan, dan penghubung otak besar dan sumsum tulang belakang. Sedangkan sumsum merupakan pengatur reflek.
2. NEURON DAN GLIA
                Secara anatomis, otak manusia sangat rumit. Bagain yang perlu di pahami adalah neuran dan glia yang terdapat pada otak. Neuron merupakan sel khusus yang ada pada otak yang menjadi unit dasar sistem saraf. Neuron ini sudah terbentuk saat di lahirkan.jumlah sel neuron ini di perkirakan 5 juta sel, yang di antaranya berfungsi sebagai pusat lalu lintas informasi.
                Neuron merupakan kunci rahasia dari kegiatan belajar dan berfungsi mental. Singkatnya, neuron ini merupakan tempat emosi, intelegensi dan afeksi. Dengan demikian proses merekam, mengkodifikasi, mengingat, menyimpan segenap pengalaman manusia, dan memberi instruksi-instruksi kepada segenap organ tubuh manusia yang di anggap perlu sangat di tentukan oleh berfungsi tidaknya neuron ini.
                Neuron terdiri dari dua bagian, yaitu badan sel dan serabut-serabut. Serabut sel neuron ini terdiri dari: (1) dendrite, merupakan serabut halus dan pendek yang membawa rasngsang kebadan sel, dan (2) akson merupakan serabut agak besar dan panjang yang meneruskan rangsang dari badan sel,
                Ukuran dan bentuk setiap neuron berbeda, tergantung pada fungsinya masing-masing. Namun setiap neuron di lengkapi dengan sejumlah dendrit  yang berbentuk cabang-cabang pada setiap sel tubuh neuron. Pada orang dewasa, setiap neuron in memiliki 200 hingga 300 dendrit yang berinterkoneksi. Dendrite ini berfungsi menerima sinyal-sinyal biokimiawi, yang di sebut neurotransmitter, yang di teruskan ke neuron lain, melalui akson.
                Beberapa akson, dari rwatusan atau beibu-ribu neuron berfungsi menjadi satu atau atau yang di sebut sistem saraf, dan neuron itu merekata pada sel yang di sebut dengan glia. Jumlah neuron pada manusia tidak dapat bertambah, justru akan berkurang dalam bertambah usia individu.
3. PERTUMBUHAN OTAK
                Dalam telaah anatomi-embriologis di ungkapkan bahwa otak manusia mulai di bentuk sejak triwulan kedua dalam kandungan dan selama masa kandungan, pertumbuhan janin lebih banyak terkonsentrasi pada proses penyempurnaan sel saraf pusat. Hal ini dapat di buktikan bahwa pada saat berada dalam kandungan janin memiliki ukuran otak yang relatif besar dilihat dari keseluruhan struktur tubuh. Pada saat lahir berat otak bayi mencapai 20 persen dari berat badannya, padahal pada orang dewasa berat otak sekitar dua persen berat badan.
                Di lihat dari perkembangan berat otak, tampak sekali bahwa  pertumbuhannya sangat cepat justru pada lima tahun pertama. Pada saat bayi di lahirkan bayi memiliki otak seberat 750 gram, pada usia lima tahun otak tumbuh dan berkembang menjadi 1200-1250 gram dan pada usia 18 tahun ada sedikit pertumbuhan sehingga berat otak menjadi 1300-1500 gram. Setelah usia 18 tahun tidak terjadi lagi pertumbuhan otak.
4.FAKTOR STIMULI
                Pada saat bayi di lahirkan, neuron-neuronnya sebagain besarbelum meiliki dendrite. Hanya beberapa neuron saja yang telah di lengkapi dengan dendrit. Dendrite yang tersedia itu merupakan sel yang berhubungan dengan kebutuhan dasar bayi, sehingga bayi dapat menangis atau bergerakgerak seperlunya.
                Dalam perkembangan berikutnya, dendrite dan akson berkembang dengan sangat bervariasi kapasitasnya sesuai denga stimuli yang di perolehnya, khususnya stimuli gizi dan psikososial selama awal-awal pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu usia di bawah lima tahun. Stimuli yang baik menyebabkan perkembangan dendrit menjadi baik pula, sedangkan stimuli yang kurang baik akan menyebabkan perkembangannya kurang baik pula.
Tabel 5.1 Gangguan-Gangguan Mental yang berhubungan dengan kerusakan otak

Gangguan
Simpotom
Penyebab
Dimensia



Epilepsi

Retardasi mental






Sindroma kluver-bucy

Amnesia korsakoff
Penurunan secara progresif kemampuan kognitif


Kehilangan keseimbangan dan kesadaran.
Ketidakmampuan mental atau intelegensi subnormal





Peningkatan aktivitas seks, aktivitas seks di arahkan kepada objek yang tidak tepat
Ekstrim, perubahan kepribadian secara mencolok, lupa mengingat peristiwa yang di alami tahun-tahun terakhir
Genetik, metyabolik, keracunan,infeksi, penyakit sirkulasi.

Trauma, infeksi, genetik.

Genetik, infeksi, dan intoksikasi, trauma atau agen fisik, gangguan metabolisme, malnutrisi,abnormalitas kromosom, dan lainnya. Infeksi pada otak.


Jika di padukan dengan pandangan-pandangan psikologi, jelas kesesuaian antara perkembangan fisiologis otak dengan perkembangan mental, bahwa perkembangan kepribadian manusia banyak di pengaruhi oleh kondisi pada usia lima tahun.  Kekurangan stimuli pada awal-awal pertumbuhannya ini beresiko tinggi bagi kemungkinan terjadinya hambtan perkembangan otak anak. Stimuli pada masa dini akhirnya mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

5. GANGGUAN MENTAL
                Terjadinya kerusakan pada otak berpengaruh terhadap kesehatan mental individu. Beberapa macam gangguan mental yang berhubungan dengan kerusakan otak adalah : dimensia, epilepsy, general parsis, sindroma korsakoff, dan sindroma Kluver-burcy. Gangguan mental ini terjadi karena bnyak faktor: infeksi, genetik, proses metabolik, keracunan dan sebagainya lihat tabel 5.1.
B.SISTEM ENDOKRIN
                Dalam menjalankan koordinasinya, otak bnyak di bantu oleh sistem endokrin. Kelenjar endokrin merupakan senyawa kimiawi, yang mengeluarkan hormon yang di angkut ke seluruh tubuh oleh darah.
                Hormon dari sistem endokrin dan neurotransmitter pada otak memiliki fungsi yang sama, yaitu mengangkut pesan antar sel tubuh. Bedanya, jika neuro transmitter menyampaikan pesan ke neuron lain yang berdekatan, sedangkan hormon menyampaikan pesan ke seluruh tubuh.
                Kelenjar endokrin terdapat tujuh macam, yaitu: kelenjar pituitary, tiroid, paratiroid, adrenal, gonad, timus, dan pankreas. Setiap pankreas memiliki tugas masing-masing. Kelenjar pituitari merupakan kelenjar utama, karena memproduksi beberpa hormon paling banyak dan mengendalikan pengeluaran bebrapa kelenjar endokrin lain. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus, yaitu lobus anterior dan lobus posterior. Lobus anterior menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi sekresi semua organ endogen. Hormon yang di hasilkan itu antaranya: Hormon pertumbuhan (somatotropin) dan hormon tirotropic yang mengendalikan kelenjar tiroid dalam menghasilkan tiroxin. Sedangkan lobus posterior menghasilkan secret dua jenis yaitu hormon Vasopresin dan oxitosid.
                Abnormalitas produksi hormon, khususnya hormon somatotropin menyebabkan pertumbuhan badan tidak wajar. Kelebihan hormon menyebabkan gigantism (marie’s syndrome), yaitu orang yang sangat tinggi dengan intelegensi rata-rata dan usia pendek. Kekurangan produksi hormon menyebabkan miniaturisme yaitu menjadi orang kerdil.
Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin. Fungsi kelenjar ini berkaitan dengan kegiatan metabolisme pengaturan susunan kimia dalam jaringan, bekerja merangsang proses oksidasi. Kelenjar ini dapat tertganggu jika kekurangan yodium. Jika hal ini terjadi dapat menyebabkan gondok, yaitu, kelebjar tiroid yang membengkok. Hiposekresi (kekurangan sekresi hormon) yang di hasilkan kelenjar ini berakibat buruk bagi perkembangan fisik dan mental seseorang.jika terjadi  pada bayi dapat menimbulkan kretisnisme, yaitu tumbuh kerdil dan kemampuan mental rendah (embicilic level).
                Kelenjar paratiroid menghasilkan paratiroid, berfungsi mengatur metabolisme zat kapur dan mengendalikan jumlah zat tersebut di dalam darh dan tulang. Terganggunya fungsi kelenjar in berakibat tetany, yaitu gangguan yang di tandai oleh tremor, kejang, dan dapat berakibat emosi tidak stabil.
                Kelenjar adrenalin, adalah kelenjar yang berfungsi menstimuli perkembangan karakteristik seks. Kelenjar ini secara normal mulai tumbuh pada fase fubertas. Namun, dapat pula terjadi kelenjar adrenalin ini cepat tumbuh pada usia dini, sehingga dapat menimbulkan pubertas praecox, yaitu gejala pubertas usia dini dan iQ anak yang pubertas praecox adalah dibawah rata-rata.pada wanita berakibat tumbuh dan berkembang fisik maskulin jika terjadi peningkata cortin. Agresivitas seseorang juga di pengaruhi produksi produksi hormon yang di hasilkan oleh kelenjar adrenalin ini. Makanan dari daging dapat meningkatkan kerja kelenjar adrenalin ini, sedangakan buah-buahan dan sayuran mengurangi kerja adrenalin.
                Kelenjar adrenalin merupakan kelenjar yang menetukan “mood” keadaan perasaan seseorang, ukuran energi, kemampuan menangani stress. Tipologi kepribadian seseorang seringkali di pengaruhi oleh keadaan  kelenjar adrenalin. Sistem endokrin yang tidak normal, terlalu aktif atau pasif, menyebabkan gangguan secara fisik atau secara mental.
                Kelenjar gonand adalah kelenjar yang yang memproduksi hormon seks, testes untuk laki-laki dan ovari (sel telur) untuk wanita. Hormon ini di produksi sangat banyak sejak pubertas. Testes bertanggung jawab untuk pertumbuhan organ seks (primer dan sekunder) dan perkembangan sifat-sifat maskulin seseorang. ovarinbertanggung jawab  atas perkembangan ciri-ciri perkmbangan seks secara fisik dan fisiologis. Difusi kelenjar gonad berakibat eunichism, yaitu impotensi pada laki-laki sebelum masa pubertas dan tumbuhnya alat-alat seks sekunder pada wanita.
C. GENETIK
                Semenjakk Greor Mendel (1822-1884) melakukan penelitian tentang penurunan sifat-sifat induk kepada keturunannya, konsep genetic mulai dikenal. Sebelumnya pandangan-pandangan “hereditas” di angggap tidak ilmiah, namuun dengan teori Mendel, penurunan sifat induk-induk itu tidak lagi di anggap hanya sebagai hipotesis belaka, tetapi terbukti secara ilmiah.
1. Kromosom Seks dan Otosom        
                pewarisan sifaat-sifat induk berlangsung  melalui kromosom. Kromosom manusia normal sebanyak 23 pasang atau 46 buah. Sejumlah 23 kromosom di peroleeh dari ayahnya dan 23 kromosom di dapatkan dari ibunya saat pembuahan. Setiap kromosom terdapat deoxyribonucleic acid (DNA) yang memberi kode-kode genetic. Melalui DNA itulah sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya.
                Kromosom manusia ada dua macam, yaitu kromosom otosom dan kromosom seks. Kromosom otosom merupakan kromosom pasangan pertama sampai pasangan ke 22, yang memberi tanda-tanda sifat  bagi keturunannya. Sedangkan kromosom seks adalah kromosom pasangan ke 23, yang menentukan keturunannya. Pada laki-laki memiliki 23 pasang  kromosom yang terdiri dari 22 pasangan kromosom otosom dan sepasang kromosom (XX) seks. Kromosom pada wanita sama halnya dengan pria memiliki 23 kromosom yang teriri dari 22 pasang kromosom otosom dan sepasang kromosom (XY) seks.
                Kromosom sekss jantan dan betina bentuk sama jika di lihat menggunakan mikroskop. Seorang laki-laki nnormal meiliki kromosom seks XY sedangkan wanitaa yang normal memiliki kromosom XX. Perbedaan pasangan kode krpomosom ini terbentuk saat proses pembuahan, yaitu kromosom X atau Y di peroleh dari pembelahan kromosom XY dari ayahnya, sedangkan X di peroleh dari pembelahan kromosom XX dari ibunya.
2. Gangguan Mental Karena Faaktor Genetik
                untuk membuktikan ada tidaknya faktor pewarisan sifat-sifat genetic ini, di lakukan sejumlah penelitian terrhadapp anak kembar identik (monozygots twins), kembar tidak identik (heterozygots twins), saudara kandung, hubungan ayah dan anak, dan seterusnya, yang biasanya juga bandingakan dengan populasi umum.
                Dari berbagai jhasil penelitian genetika memberikan kesimpulan bahwa ada penaaruh faaktor genetik terahadap mentalitas manusia. Misalnya rate konkordansi (corcondance rate) untuk scizoprenia di ketahui bahwa anak kembar identik sebesar 50%, anak kembar tidak identik sebesar 9%, kedua orang tua sebesar 35%-68%, saudara kandung sebesar 7,5%-8,5%, dan populasi umum sebesar%. Sedangkan konkordansi untuk manis-depresif  bagi anak yang kembar  identik di ketahui sebesar 75%, anak kembar tidak identik sebesar 23%, kedua orang tua sebesar 20%-50% dan saudar kandung sebesar 9%. Dengan berbagai hasil penelitian tentang rate konkordansi ini semakin membuktikan adanya penurunan sifat-sifat induk kepada keturunannya.
D. SENSORI
                Sensori merupaakan aspek penting dari manusia. Sensori merupakan alat yang yang menangkapa segenap stimuli dari luar. Sensori termasuk: pendengaran , penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman. Kesempurnaan dari alat-alat sensori akan meningkatkan kesempurnaan individu menerima informasi dari luar, dan adanya gangguan sistem sensoris ini akan menghambat penerimaan sensori secara baik.
                Gangguan sensori, khususnya  pendengaran (tuli) dan penglihatan (buta) banyak terjadi secccaara kongenetal, yaitu kecacatan yang terjadi sejak lahir. Orang yang lahir dengan gangguan pendengaran yang berat akan berakibat gangguan bicara (bisu), dank arena itu pula dia akan tergganggu kemampuan kognisi dan perkembangan sosialnya.
                Perkembangan kognisi individu pada dasarnya tidak terlepas dari perkembangan dan keadaan sensori, Jean Piaget, dalam tiorinya dalam tiorinya menegaskan tentang perkembangan kognisi ditegaskan bahwa perkembangna sonsori (dan motorik) merupakan dasar perkembangan kognisi lebih lanjut, terhambatnya perkembangan sensori akan mengakibatkan terganggunya perkembangan kognisinya.
                Demikian pula dengan emosi , seseorang akan mengalami gangguan paranoid, yaitu gangguan afeksi yang ditandai denagn kecurigaan yang berlebihan kepada oran glain, dan kecurigaan itu sebenarnya salah.
E. FAKTOR IBU SELAMA MASA KEHAMILAN
                Faktor ibu selama masa kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan mental anak, selama berada  kandungan, kesehatan janin ditentukan oleh kondisi ibu. Faktor-faktor ibu yang turut mempengaruhi kesehatan mental anak di antaranya:
1. Usia Ibu
                Ibu yang hamil pada usia terlalu muda dapat berakibat keguguran atau prematuritas. Anak yang dilahirkan karena prematur dihubungkan dengan kemampuan intelegensi yang rendah. Demikian juga dengan ibu yang hamil terlalu tua beresiko tinggi kemungkinan adanya Down’s syndrome , yaitu gangguan mental yang berat akibat terjadinya abnormalitas kromosom.
2. Nutrisi
                Nutrisi secara langsung mempengaruhi kesehatan mental anaknya yang mencakup protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan segenap zat yang dibutuhkan tubuh sangat penting bagi pertumbuhan janin dan kesehatan anak setelah dilahirkan.
3. Obat-obatan
                Obat-obatan yang dikonsumsi ibu, khususnya alkohol, nikotin, atau obat sejenis, mempengaruhi janin dalm kandungannya yang menyebabkan janin mengalami toksisasi melalui plasentanya, akibatnya terjadi fetal alcohol syndrome, yaitu gangguan pada janin akibat ibu yang mengkonsumsi alkohol saat kehamilan. Seperti retardasi mental, keterlambatan dalm pertumbuhan, dan kelemahan koordinasi tubuh.
4. Kesehatan Ibu
                Ibu yang menderita penyakit tertentu dapat mempengaruhi kesehatan janinnya, anak terinfeksi melalui placenta. Ibu saat hamil menderita rubella, sifilis, atau AIDS akan menyebabkan anak terinfeksi. Demikian juga ibu yang muntah-muntah  yang sangat berat memiliki dampak yang kurang baik bagi perilaku anaknya.
5. Radiasi
                selama masa kehamilan jika ibu terpapar oleh radiasi dapat berakibat kurang sehat bagi anak. Radiasi dapat menyebabkan kecacatan congenital bagi anak, yaitu kecacatan yang terjadi sejak kelahiran, yang diantaranya berupa mongolisme.
6. Komplikasi Kehamilan Dan Proses Kelahiran
                Komplikasi dapat mengakibatkan anoxia, yaitu kekurangan oksigen pada janin. Anoxia dapat mempengaruhi kesehatan anak. Jika kekurangna oksigen itu dialami janin pada trimester pertama, dapat berakibat keguguran kandungan dan kekurangan trimester kedua dapat berakibat lahir secara prematur.

F. Kesimpulan
                Kesehatan mental secara langsung maupun tidak langsung  dipengaruhi juga oleh factor biologis yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental diantaranya otak, system endokrin, genetic, sensori, factor ibu selama kehamilan.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar