FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL
DIMENSI
BIOLOGIS KESEHATAN MENTAL
Terdapat empat faktor yang berhubungan dengan
kesehatan mental yaitu biologis, psikologis, lingkungan, dan sosio budaya.
Ketiga faktor ini perlu ada homeostasisyaitu keseimbangan yang dinamis. Ketiga
unsur ini saling mempengaruhi karena bersifat interpendensi. Pada tulisan
faktor-faktor itu di jelaskan secara terpisah hanya untuk mempermudah
memahaminya. Bagian berikut adalah deskripsi dimensi biologis dalam hubungannya
dengan kesehatan mental, sedangkan faktor lain akan di jelaskan pada tulisan
berikutnya.
Pada
awalnya orang memahami bahwa hubungan aspek badaniyah dengan jiwa adalah
hubungan spiritual, yang tidak terjelaskan secara ilmiah. Belakangan,
pengertian hubungan keduanya dapat di pahami berdasarkan prinsip ilmu
pengetahuan.
Pada
bagian in akan di jelaskan tentang hubungan tersebut, khususnya beberapa aspek
biologis yang secara langsung berpengasruh terhadap kehidupan kesehatan mental,
di antaranya: otak, sistem endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selama
hamil.
A. OTAK
Tiga abad sebelum Masehi, Aristoteles
beranggapan bahwa jantung adalah tempat intelegensi dan dengan jantung itulah
manusia itu berpikir. Namun pandangan ini tidak bertahan lama. Ahli anatomi
herophilus (290 SM) dan Erasistratus (270 SM) menyadari bahwa pandangan
Aristoteles itu adalah salah. Mereka mengenalkan pada murid-muridnya otak
adalah bagian penting dari aktivitas manusia karena berfungsi sebagai penggerak
sensori motoris. Galen sebagai salah seorang murid mencatat ajaran Herophilus
dan Erasistratus lantas melanjutkan penemuan penting ini, dan di katakan bahwa
otak ,merupakan pusat dari keseluruhan gerak badan dan sensasi (Corner, 1964).
Sejak
itulah muncul keyakinan baru bahwa jiwa itu berada di otak dan bukan di
jantung. Pandangan ini terus di perkuat penemuan-penemuan mutakhir tentang
fungsi otak bagi manusia. Para ahli tidak saja mengakui bahwa otak sangat
kompleks secar fisiologis, tetapi memiliki fungsi yang sangat esensi bagi keseluruhan
aktivitas manusia. Diferensiasi dan keunikan yang ada pada manusia pada
dasarnya tidak dapat di lepaskan dari
otak manusia. Keunikan manusia terajadi justru karena keunikan otak manusia
dalam mengekspresikan segenap pengalaman hidupnya.
1. BAGIAN-BAGIAN
OTAK
Otak terdiri dari otak besar (cerebrum), otak
tengah (mesensephalon), otak kecil
(cerebellum), sum-sum lanjutan (medulla
oblongata) dan jembatan varol (pons varoli).
Masing-masing
bagian otak itu memiliki fungsi sendiri. Otak besar merupakan sumber kesadaran.
Selain area asosiasi yang menghubungkan antara area motor dan sensorik, juga
berperan dalam proses belajar, dan berfikir. Otak tengah berfungsi mengatur kelenjar endokrin, lobus
optikus, dan pusat pendengaran.
Otak
kecil mengatur keseimbangan tubuh, koordinasi gerakan otot, dan posisi tubuh.
Jembatan varol merupakan penghubung otak kecil bagian kiri dan kanan, dan
penghubung otak besar dan sumsum tulang belakang. Sedangkan sumsum merupakan
pengatur reflek.
2. NEURON
DAN GLIA
Secara anatomis, otak manusia sangat rumit.
Bagain yang perlu di pahami adalah neuran dan glia yang terdapat pada otak.
Neuron merupakan sel khusus yang ada pada otak yang menjadi unit dasar sistem
saraf. Neuron ini sudah terbentuk saat di lahirkan.jumlah sel neuron ini di
perkirakan 5 juta sel, yang di antaranya berfungsi sebagai pusat lalu lintas
informasi.
Neuron
merupakan kunci rahasia dari kegiatan belajar dan berfungsi mental. Singkatnya,
neuron ini merupakan tempat emosi, intelegensi dan afeksi. Dengan demikian
proses merekam, mengkodifikasi, mengingat, menyimpan segenap pengalaman
manusia, dan memberi instruksi-instruksi kepada segenap organ tubuh manusia
yang di anggap perlu sangat di tentukan oleh berfungsi tidaknya neuron ini.
Neuron
terdiri dari dua bagian, yaitu badan sel dan serabut-serabut. Serabut sel
neuron ini terdiri dari: (1) dendrite, merupakan serabut halus dan pendek yang
membawa rasngsang kebadan sel, dan (2) akson merupakan serabut agak besar dan
panjang yang meneruskan rangsang dari badan sel,
Ukuran
dan bentuk setiap neuron berbeda, tergantung pada fungsinya masing-masing.
Namun setiap neuron di lengkapi dengan sejumlah dendrit yang berbentuk cabang-cabang pada setiap sel
tubuh neuron. Pada orang dewasa, setiap neuron in memiliki 200 hingga 300
dendrit yang berinterkoneksi. Dendrite ini berfungsi menerima sinyal-sinyal
biokimiawi, yang di sebut neurotransmitter, yang di teruskan ke neuron lain,
melalui akson.
Beberapa akson, dari rwatusan atau beibu-ribu
neuron berfungsi menjadi satu atau atau yang di sebut sistem saraf, dan neuron
itu merekata pada sel yang di sebut dengan glia. Jumlah neuron pada manusia
tidak dapat bertambah, justru akan berkurang dalam bertambah usia individu.
3.
PERTUMBUHAN OTAK
Dalam telaah anatomi-embriologis di ungkapkan
bahwa otak manusia mulai di bentuk sejak triwulan kedua dalam kandungan dan
selama masa kandungan, pertumbuhan janin lebih banyak terkonsentrasi pada
proses penyempurnaan sel saraf pusat. Hal ini dapat di buktikan bahwa pada saat
berada dalam kandungan janin memiliki ukuran otak yang relatif besar dilihat
dari keseluruhan struktur tubuh. Pada saat lahir berat otak bayi mencapai 20
persen dari berat badannya, padahal pada orang dewasa berat otak sekitar dua
persen berat badan.
Di
lihat dari perkembangan berat otak, tampak sekali bahwa pertumbuhannya sangat cepat justru pada lima
tahun pertama. Pada saat bayi di lahirkan bayi memiliki otak seberat 750 gram,
pada usia lima tahun otak tumbuh dan berkembang menjadi 1200-1250 gram dan pada
usia 18 tahun ada sedikit pertumbuhan sehingga berat otak menjadi 1300-1500
gram. Setelah usia 18 tahun tidak terjadi lagi pertumbuhan otak.
4.FAKTOR
STIMULI
Pada saat bayi di lahirkan, neuron-neuronnya
sebagain besarbelum meiliki dendrite. Hanya beberapa neuron saja yang telah di
lengkapi dengan dendrit. Dendrite yang tersedia itu merupakan sel yang
berhubungan dengan kebutuhan dasar bayi, sehingga bayi dapat menangis atau
bergerakgerak seperlunya.
Dalam
perkembangan berikutnya, dendrite dan akson berkembang dengan sangat bervariasi
kapasitasnya sesuai denga stimuli yang di perolehnya, khususnya stimuli gizi
dan psikososial selama awal-awal pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu usia
di bawah lima tahun. Stimuli yang baik menyebabkan perkembangan dendrit menjadi
baik pula, sedangkan stimuli yang kurang baik akan menyebabkan perkembangannya
kurang baik pula.
Tabel 5.1 Gangguan-Gangguan Mental yang
berhubungan dengan kerusakan otak
Gangguan
|
Simpotom
|
Penyebab
|
Dimensia
Epilepsi
Retardasi mental
Sindroma kluver-bucy
Amnesia korsakoff
|
Penurunan secara progresif kemampuan
kognitif
Kehilangan keseimbangan dan kesadaran.
Ketidakmampuan mental atau intelegensi
subnormal
Peningkatan aktivitas seks, aktivitas seks
di arahkan kepada objek yang tidak tepat
Ekstrim, perubahan kepribadian secara
mencolok, lupa mengingat peristiwa yang di alami tahun-tahun terakhir
|
Genetik, metyabolik, keracunan,infeksi,
penyakit sirkulasi.
Trauma, infeksi, genetik.
Genetik, infeksi, dan intoksikasi, trauma
atau agen fisik, gangguan metabolisme, malnutrisi,abnormalitas kromosom, dan
lainnya. Infeksi pada otak.
|
Jika di padukan dengan pandangan-pandangan
psikologi, jelas kesesuaian antara perkembangan fisiologis otak dengan
perkembangan mental, bahwa perkembangan kepribadian manusia banyak di pengaruhi
oleh kondisi pada usia lima tahun.
Kekurangan stimuli pada awal-awal pertumbuhannya ini beresiko tinggi
bagi kemungkinan terjadinya hambtan perkembangan otak anak. Stimuli pada masa
dini akhirnya mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
5. GANGGUAN
MENTAL
Terjadinya kerusakan pada otak berpengaruh
terhadap kesehatan mental individu. Beberapa macam gangguan mental yang
berhubungan dengan kerusakan otak adalah : dimensia, epilepsy, general parsis,
sindroma korsakoff, dan sindroma Kluver-burcy. Gangguan mental ini terjadi
karena bnyak faktor: infeksi, genetik, proses metabolik, keracunan dan
sebagainya lihat tabel 5.1.
B.SISTEM
ENDOKRIN
Dalam menjalankan koordinasinya, otak bnyak di bantu
oleh sistem endokrin. Kelenjar endokrin merupakan senyawa kimiawi, yang
mengeluarkan hormon yang di angkut ke seluruh tubuh oleh darah.
Hormon
dari sistem endokrin dan neurotransmitter pada otak memiliki fungsi yang sama,
yaitu mengangkut pesan antar sel tubuh. Bedanya, jika neuro transmitter
menyampaikan pesan ke neuron lain yang berdekatan, sedangkan hormon
menyampaikan pesan ke seluruh tubuh.
Kelenjar
endokrin terdapat tujuh macam, yaitu: kelenjar pituitary, tiroid, paratiroid,
adrenal, gonad, timus, dan pankreas. Setiap pankreas memiliki tugas
masing-masing. Kelenjar pituitari merupakan kelenjar utama, karena memproduksi
beberpa hormon paling banyak dan mengendalikan pengeluaran bebrapa kelenjar
endokrin lain. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus, yaitu lobus anterior dan
lobus posterior. Lobus anterior menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja
sebagai zat pengendali produksi sekresi semua organ endogen. Hormon yang di
hasilkan itu antaranya: Hormon pertumbuhan (somatotropin) dan hormon tirotropic
yang mengendalikan kelenjar tiroid dalam menghasilkan tiroxin. Sedangkan lobus
posterior menghasilkan secret dua jenis yaitu hormon Vasopresin dan oxitosid.
Abnormalitas
produksi hormon, khususnya hormon somatotropin menyebabkan pertumbuhan badan
tidak wajar. Kelebihan hormon menyebabkan gigantism (marie’s syndrome), yaitu
orang yang sangat tinggi dengan intelegensi rata-rata dan usia pendek.
Kekurangan produksi hormon menyebabkan miniaturisme yaitu menjadi orang kerdil.
Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin.
Fungsi kelenjar ini berkaitan dengan kegiatan metabolisme pengaturan susunan
kimia dalam jaringan, bekerja merangsang proses oksidasi. Kelenjar ini dapat
tertganggu jika kekurangan yodium. Jika hal ini terjadi dapat menyebabkan
gondok, yaitu, kelebjar tiroid yang membengkok. Hiposekresi (kekurangan sekresi
hormon) yang di hasilkan kelenjar ini berakibat buruk bagi perkembangan fisik
dan mental seseorang.jika terjadi pada
bayi dapat menimbulkan kretisnisme, yaitu tumbuh kerdil dan kemampuan mental
rendah (embicilic level).
Kelenjar
paratiroid menghasilkan paratiroid, berfungsi mengatur metabolisme zat kapur
dan mengendalikan jumlah zat tersebut di dalam darh dan tulang. Terganggunya
fungsi kelenjar in berakibat tetany, yaitu gangguan yang di tandai oleh tremor,
kejang, dan dapat berakibat emosi tidak stabil.
Kelenjar
adrenalin, adalah kelenjar yang berfungsi menstimuli perkembangan karakteristik
seks. Kelenjar ini secara normal mulai tumbuh pada fase fubertas. Namun, dapat
pula terjadi kelenjar adrenalin ini cepat tumbuh pada usia dini, sehingga dapat
menimbulkan pubertas praecox, yaitu gejala pubertas usia dini dan iQ anak yang
pubertas praecox adalah dibawah rata-rata.pada wanita berakibat tumbuh dan
berkembang fisik maskulin jika terjadi peningkata cortin. Agresivitas seseorang
juga di pengaruhi produksi produksi hormon yang di hasilkan oleh kelenjar
adrenalin ini. Makanan dari daging dapat meningkatkan kerja kelenjar adrenalin
ini, sedangakan buah-buahan dan sayuran mengurangi kerja adrenalin.
Kelenjar
adrenalin merupakan kelenjar yang menetukan “mood” keadaan perasaan seseorang,
ukuran energi, kemampuan menangani stress. Tipologi kepribadian seseorang
seringkali di pengaruhi oleh keadaan
kelenjar adrenalin. Sistem endokrin yang tidak normal, terlalu aktif
atau pasif, menyebabkan gangguan secara fisik atau secara mental.
Kelenjar
gonand adalah kelenjar yang yang memproduksi hormon seks, testes untuk
laki-laki dan ovari (sel telur) untuk wanita. Hormon ini di produksi sangat
banyak sejak pubertas. Testes bertanggung jawab untuk pertumbuhan organ seks
(primer dan sekunder) dan perkembangan sifat-sifat maskulin seseorang.
ovarinbertanggung jawab atas
perkembangan ciri-ciri perkmbangan seks secara fisik dan fisiologis. Difusi
kelenjar gonad berakibat eunichism, yaitu impotensi pada laki-laki sebelum masa
pubertas dan tumbuhnya alat-alat seks sekunder pada wanita.
C. GENETIK
Semenjakk
Greor Mendel (1822-1884) melakukan penelitian tentang penurunan sifat-sifat
induk kepada keturunannya, konsep genetic mulai dikenal. Sebelumnya
pandangan-pandangan “hereditas” di angggap tidak ilmiah, namuun dengan teori
Mendel, penurunan sifat induk-induk itu tidak lagi di anggap hanya sebagai
hipotesis belaka, tetapi terbukti secara ilmiah.
1. Kromosom
Seks dan Otosom
pewarisan
sifaat-sifat induk berlangsung melalui
kromosom. Kromosom manusia normal sebanyak 23 pasang atau 46 buah. Sejumlah 23
kromosom di peroleeh dari ayahnya dan 23 kromosom di dapatkan dari ibunya saat
pembuahan. Setiap kromosom terdapat deoxyribonucleic acid (DNA) yang memberi
kode-kode genetic. Melalui DNA itulah sifat-sifat induk diwariskan kepada
keturunannya.
Kromosom
manusia ada dua macam, yaitu kromosom otosom dan kromosom seks. Kromosom otosom
merupakan kromosom pasangan pertama sampai pasangan ke 22, yang memberi
tanda-tanda sifat bagi keturunannya.
Sedangkan kromosom seks adalah kromosom pasangan ke 23, yang menentukan
keturunannya. Pada laki-laki memiliki 23 pasang
kromosom yang terdiri dari 22 pasangan kromosom otosom dan sepasang
kromosom (XX) seks. Kromosom pada wanita sama halnya dengan pria memiliki 23
kromosom yang teriri dari 22 pasang kromosom otosom dan sepasang kromosom (XY)
seks.
Kromosom
sekss jantan dan betina bentuk sama jika di lihat menggunakan mikroskop.
Seorang laki-laki nnormal meiliki kromosom seks XY sedangkan wanitaa yang
normal memiliki kromosom XX. Perbedaan pasangan kode krpomosom ini terbentuk
saat proses pembuahan, yaitu kromosom X atau Y di peroleh dari pembelahan
kromosom XY dari ayahnya, sedangkan X di peroleh dari pembelahan kromosom XX
dari ibunya.
2. Gangguan
Mental Karena Faaktor Genetik
untuk
membuktikan ada tidaknya faktor pewarisan sifat-sifat genetic ini, di lakukan
sejumlah penelitian terrhadapp anak kembar identik (monozygots twins), kembar
tidak identik (heterozygots twins), saudara kandung, hubungan ayah dan anak,
dan seterusnya, yang biasanya juga bandingakan dengan populasi umum.
Dari
berbagai jhasil penelitian genetika memberikan kesimpulan bahwa ada penaaruh
faaktor genetik terahadap mentalitas manusia. Misalnya rate konkordansi
(corcondance rate) untuk scizoprenia di ketahui bahwa anak kembar identik
sebesar 50%, anak kembar tidak identik sebesar 9%, kedua orang tua sebesar
35%-68%, saudara kandung sebesar 7,5%-8,5%, dan populasi umum sebesar%.
Sedangkan konkordansi untuk manis-depresif
bagi anak yang kembar identik di
ketahui sebesar 75%, anak kembar tidak identik sebesar 23%, kedua orang tua
sebesar 20%-50% dan saudar kandung sebesar 9%. Dengan berbagai hasil penelitian
tentang rate konkordansi ini semakin membuktikan adanya penurunan sifat-sifat
induk kepada keturunannya.
D. SENSORI
Sensori
merupaakan aspek penting dari manusia. Sensori merupakan alat yang yang
menangkapa segenap stimuli dari luar. Sensori termasuk: pendengaran ,
penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman. Kesempurnaan dari alat-alat
sensori akan meningkatkan kesempurnaan individu menerima informasi dari luar,
dan adanya gangguan sistem sensoris ini akan menghambat penerimaan sensori
secara baik.
Gangguan
sensori, khususnya pendengaran (tuli)
dan penglihatan (buta) banyak terjadi secccaara kongenetal, yaitu kecacatan
yang terjadi sejak lahir. Orang yang lahir dengan gangguan pendengaran yang
berat akan berakibat gangguan bicara (bisu), dank arena itu pula dia akan
tergganggu kemampuan kognisi dan perkembangan sosialnya.
Perkembangan
kognisi individu pada dasarnya tidak terlepas dari perkembangan dan keadaan
sensori, Jean Piaget, dalam tiorinya dalam tiorinya menegaskan tentang
perkembangan kognisi ditegaskan bahwa perkembangna sonsori (dan motorik)
merupakan dasar perkembangan kognisi lebih lanjut, terhambatnya perkembangan
sensori akan mengakibatkan terganggunya perkembangan kognisinya.
Demikian
pula dengan emosi , seseorang akan mengalami gangguan paranoid, yaitu gangguan
afeksi yang ditandai denagn kecurigaan yang berlebihan kepada oran glain, dan
kecurigaan itu sebenarnya salah.
E. FAKTOR
IBU SELAMA MASA KEHAMILAN
Faktor
ibu selama masa kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan mental anak, selama
berada kandungan, kesehatan janin
ditentukan oleh kondisi ibu. Faktor-faktor ibu yang turut mempengaruhi
kesehatan mental anak di antaranya:
1. Usia Ibu
Ibu
yang hamil pada usia terlalu muda dapat berakibat keguguran atau prematuritas.
Anak yang dilahirkan karena prematur dihubungkan dengan kemampuan intelegensi
yang rendah. Demikian juga dengan ibu yang hamil terlalu tua beresiko tinggi
kemungkinan adanya Down’s syndrome ,
yaitu gangguan mental yang berat akibat terjadinya abnormalitas kromosom.
2. Nutrisi
Nutrisi
secara langsung mempengaruhi kesehatan mental anaknya yang mencakup protein,
karbohidrat, lemak, vitamin, dan segenap zat yang dibutuhkan tubuh sangat
penting bagi pertumbuhan janin dan kesehatan anak setelah dilahirkan.
3.
Obat-obatan
Obat-obatan
yang dikonsumsi ibu, khususnya alkohol, nikotin, atau obat sejenis,
mempengaruhi janin dalm kandungannya yang menyebabkan janin mengalami toksisasi
melalui plasentanya, akibatnya terjadi fetal alcohol syndrome, yaitu gangguan
pada janin akibat ibu yang mengkonsumsi alkohol saat kehamilan. Seperti
retardasi mental, keterlambatan dalm pertumbuhan, dan kelemahan koordinasi
tubuh.
4. Kesehatan
Ibu
Ibu
yang menderita penyakit tertentu dapat mempengaruhi kesehatan janinnya, anak
terinfeksi melalui placenta. Ibu saat hamil menderita rubella, sifilis, atau
AIDS akan menyebabkan anak terinfeksi. Demikian juga ibu yang
muntah-muntah yang sangat berat memiliki
dampak yang kurang baik bagi perilaku anaknya.
5. Radiasi
selama
masa kehamilan jika ibu terpapar oleh radiasi dapat berakibat kurang sehat bagi
anak. Radiasi dapat menyebabkan kecacatan congenital bagi anak, yaitu kecacatan
yang terjadi sejak kelahiran, yang diantaranya berupa mongolisme.
6.
Komplikasi Kehamilan Dan Proses Kelahiran
Komplikasi
dapat mengakibatkan anoxia, yaitu kekurangan oksigen pada janin. Anoxia dapat mempengaruhi
kesehatan anak. Jika kekurangna oksigen itu dialami janin pada trimester
pertama, dapat berakibat keguguran kandungan dan kekurangan trimester kedua
dapat berakibat lahir secara prematur.
F.
Kesimpulan
Kesehatan
mental secara langsung maupun tidak langsung
dipengaruhi juga oleh factor biologis yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan mental diantaranya otak, system endokrin, genetic, sensori, factor
ibu selama kehamilan.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar