Belajar Blog

Selasa, 01 Februari 2011

KESEHATAN MENTAL ANAK HINGGA LANSIA


KESEHATAN MENTAL ANAK HINGGA LANSIA

                Kesehatan mental tidak hanya berlaku bagi kelompok usia tertentu saja. Pada prinsipnya sepanjang rentang kehidupan membutuhkan kesehatan mental. Bahkan pemikiran mutakhir, usaha kesehatan mental tidak hanya dimulai anak manusia dilahirkan, tetapi dilakukan jauh sebelumnya, yaitu sejak perencanaan perkawinan, dan bahkan sebelumnya.
                Jika membahas kesehatan mental secara fase demi fase, bukan berarti kesehatan mental itu hanya untuk fase yang spesifik, dalam pemikiran kita tentunya kesehatan mental terus berlangsung sepanjang hayat. Untuk mempermudah pembahasan, kesehatan mental ini dikupas dari kelompok fase perkembangan tertentu, yaitu anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.

  1. KESEHATAN MENTAL BAGI ANAK
Tahun pertama bagi anak adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan
Mental anak selanjutnya. Pada masa ini, awal kontak social, dan dia mulai belajar tentang lingkungan sosialnya. Dua kemampuan dasar yang diperlukan bagi anak dan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya, yaitu kemampuan membedakan dan hubungan anak dengan orang tuanya. Kemampuan membedakan berkaitan dengan kemampuan dalam perkembangan kognisi, sedangkan hubungan anak dengan orang tuanya menjadi dasar bagi perkembangan social dan afeksi anak.

  1. Kemampuan Membedakan
Salah satu hal penting pada seseorang adalah kemampuan membedakan objek, peristiwa, atau fakta-fakta yang ada di sekitarnya, atau disebut dengan kemampuan membedakan.
Pada usia 3 bulan, kemampuan diskriminasinya mulai berkembang, melalui proses persepsi, sejalan dengan pertumbuhannya. Kemampuan diskriminasi ditunjukan denagn kemampuannya menerima rangsangan dari luar, menangkap gambar-gambar sederhana, dan senyum atas rangsangan orang lain.
Pada usia 7 bulan, kekuatan kemampuan diskriminasi mulai tinggi, misalnya dia tidak puas dengan gambar-gambar yang terlalu sederhana dan menghendaki gambar-gambar yang lebih lengkap. Pada usia satu tahun sudah mengenal orang tuanya dan orang-orang terdekatnya.
Kemampuan diskriminasi ini sangat penting untuk anak. Anak yang berani kepada orang lain, tanpa rasa takut atau curiga kepada siapapun yang mendekati, tidak selalu menunjukan sebagai anak yang sehat secara psikis. Dapat terjadi, anak yang demikian karena tidak memiliki (tidak berkembangnya) kemampuan diskriminasi. Karena itu untuk mengetahui perkembangan persepsi anak, diantaranya dapat dilihat dari perkembangan kemampuan diskriminasinya. Kemampuan ini dapat berkembang baik jika orang tua dan lingkungan social lainnya memberikan rangsangan yang secara tepat.

KELUARGA, IBU, AYAH, DAN ANAK

Keluarga merupakan sebagai lembaga social yang pertama dikenal anak. Funsi tradisional keluarga dapat diklasifikasikan ada 3 macam, yaitu (1) fungsi social ekonomi, karena sebagian hasil produksi yang dilakukan di dalam atau di luar rumah dikelola dalam keluarga (2) fungsi ikatan biososial, yang ditunjukan dengan adanya pembentukan kerabat, keturunan, dan hubungan social melalui keluarga, dan (3) proses pendidikan, termasuk di dalamnya penanaman nilai dan ideology kepada anggota keluarga.
Fungsi tradisional keluarga ini tetap berlangsung hingga saat ini, meskipun polanya terus berubah sesuai kultur yang dianut masyarakatnya. Meskipun demikian, dari konteks anak, keluarga merupakan lembaga primer yang tidak dapat diganti  dengan kelembagaan yang lain. Adalah alamiah, jika pada tahap perkembangan awal, factor keluarga sangat penting bagi anak, baik dalam mengenal dunia yang lebih luas maupun dalam pembentukan perilaku dan kepribadiannya.
Karakter dari kepribadian, nilai dan norma, dan pengetahuan anak  dibentuk dari keluarganya. Karena itu segenap perilaku seseorang sekaligus merupakan manifestasi dari situasi keluarganya. Keluarga yang konduktif tentunya memberikan kesempatan pada anak dan anggota keluarganya untuk berkembang dan termanifestasinya kesehatan mentalnya. Sebaliknya, hambatan hambatan yang terjadi di keluarga berisiko kurang baik bagi kesehatan mental anggota keluarganya.
Keluarga pada prinsipnya memiliki fungsi social, edukatif, seksual, pengelolaan ekonomi namun demikian jika fungsi fungsi tersebut tidak berlangsung sebagai mana mestinya, maka berakibat kurang baik bagi kesehatan mental para anggota keluarganya. Keluarga, baik dalam bentuk fisik maupun keluarga sebagai institusi yang di dalam nya terjadinya hubungan social, memberikan pengaruh yang sangat bermakna bagi keadaan anggota keluarganya.
Masalah masalah kesehatan mental yang terjadi di masyarakat sering bermuara dari persoalan keluarga. Misalnya perilaku delinkuensi, kecemasan, hubungan seksual di luar perkawinan, tindak kekerasan yang banyak terjadi di masyarakat sering dikaitkan dengan kondisi keluarga.
Berbagai gangguan mental, seprti skizofrenia, depresi, gangguan kecemasan, ketergabtungan obat dan psikopatologi banyak dihubungkan dengan kurang baiknya interaksi diantara anggota keluarga ( lange, 1993 ). Adalah tidak mungkin mengesampingkan peran keluarga dalam membina kesehatan mental para anggotanya.
Perubahan pola pengasuhan menyebabkan berkurangnya interaksi orang tua anak. Pergeseran peran anggota keluarga jelas mempengaruhi kesehatan mental anggota keluarga, khususnya pada anak anaknya.
Upaya prevensi dapat dilakukan keluarga, untuk mencegah kemungkinan timbulnya persoalan kejiwaan bagi anak atau anggota keluarga lainnya.
Keluarga dilihat dari sisi kesehatan mental, memang sangat komplek. Keluarga selain dapat berfungsi sebagai institusi social yang dapat meningkatkan kesehatan mental para anggota keluarganya,. Juga sebaliknya dapat menjadi sumber problem bagi kesehatan mental.
Karena itu, perhatian utama kalangan ahli kesehatan mental adalah menggarap keluarga agar dapat memberikan iklim yang kondusif bagi anggota keluarganya
Diantara unit social, keluarga merupakan unit yang sangat kompleks. Banyak persoalan yang dihadapi para anggota keluarga dalam hubungan satu dengan yang lainnya, mulai dari persoalan keluarga secara fisik seperti kondisi ruamhdan binatang piaraan, sampai persoalan psikososial yang ada pada setiap anggota keluarga, misalnya soal pembagian kerja, di keluarga, komunikasi di antara anggota keluarga, persoalan ekonomi, pendidikan dan percontohan, dan sebagainya. Kesemuanya itu memberikan kontribusi yang penting bagi keadaan mental para anggotanya (Bossard dan Ball, 1964).
Sangat penting bagi orang tua untuk memperhatikan peran tradisional dan difungsikan seoptimal mungkin bagi upaya peningkatan kesehatan mental seluruh anggota keluarga. Tentunya, anak dan anggota keluarga lain amat membutuhkan perlindungan dari keluarga bagi pertumbuhan dan perkembangannya.
Sejauh ini fungsi penanganan kesehatan mental oleh keluarga dalam batas tertentu sudah dijalankan. Namun demikian, proyek-proyek yang lebih sistematis dan meluas belum memperoleh perhatian dari banyak kalangan.     

  1. Hubungan Anak dengan Orangtua
                Secara sosial,perkembangan pada fase tahun pertama ini ditandai dengan kepercayaan yang sangat tinggi kepada orangtuanya, khususnya adalah ibu. Pada fase ini, oleh erikson disebut sebagai fase pembentukan rasa kepercayaan. Pada tahun pertama inilah krisis yang paling utama terjadi adalah krisis keprcayaan lawan ketidak percayaan ( trust versus mistrust ).
                Ada tiga ciri khas anak yang mengalami keterlantaran dari ibu itu, yaitu :
1 Intelegensi terlambat
2 Sangat emosional dan
3 Maturasi kejiwaannya terganggu
                Ibu perlu melakukan hubungan dengan anak-anaknya pada dasarnya bersifat inherent. Dari sisi kesehatan mental kelekatan ini sangat pentingkarena beberapa hal, yaitu :
1 Bayi dan kanak-kanak akan mengalami perasaan hangat, intim dan hubungan secara terus menerus dengan ibunya atau pengganti ibu ( mother substitute )
2 Bayi dan kanak kanaknya itu merasakan kepuasan dan kenyamanan
3 Sikap keibuan ( mothering )tidak dapat dianggap dalam makna jam per hari, tapi hanya dalam makna peran dan tanggung jawabnya, dan
4 Kelangsungan yang terus-menerus esensi untuk pertumbuhan kepribadian anak dan pertumbuhan ibunya sendiri.

  1. Gangguan Mental pada Anak
                Gangguan itu di antaranya :kecemasan berpisah secara tidak tepat, regresi perkembangan, ketidakmampuan dalam perkembanganinisiatif, munculnya perilaku reaktif pada trauma, terhentinya hubungan keberuntungan kepada orangtua secara prematur, dan dalam jangka panjang dapat memunculkan perilaku delinkuensi dan kriminal ( Johnston dan Carlin 1996 ).
                Di negara-negara maju, seperti Amerika, tidak seluruh anak-anak yang bermasalah itu memperoleh pelayanan,perawatan, dan penangan yang semestinya. Biasanya, untuk memprediksi angka-angka gangguan mentaldi masyarakat kita mengacau pada temuan-temuan di negara lain. Secara kasar, angka-angka yang dijumpai di suatu negara memang dapat di gunakan untuk mengukur angka gangguan mental di negara kita. Namun kita juga menyadari bahwa angka-angka epidemiologi gangguan mental yang ada di suatu masyarakat tidak selalu sejalan dengan keadaan di tempat lain, karena  perbedaan faktor lingkungan, sosial, dan budaya ( Offord, 1983; Gabel 1997 )
                Gangguan mental ini, kurang memperoleh perhatian di masrakat kita. Sekalipun di sadari bahwa gangguan mental itu tidak kalah “gawatnya” dengan gangguan fisik, sehingga studi yang memadai tentang gangguan mental sangat penting.
                Barbagai studi epidemiologis memberikan gambaran bahwa aspek-aspek demografis dan ekologis berhubungan dengan kesehatan mental anak. Aspek-aspek demografis itu adalah usia, jenis kelamin, dan status sosial kelurganya. Gangguan-gangguan mental yang di alami anak dan remaja ini dapat menghambat penyesuaian sosialnya dan dapat pula menggaggu perkembangan mental lebih lanjut.penangan dini sangat penting bagi mereka. Usaha-usaha prevensi selayaknya di upayakan baik secara individual dan lebih penting lagi dengan pendekatan komunitas, termasuk di dalamnya perlunya kebijakan-kebijakan yang tepat menyangkut penanganan terhadap anak-anak dan remaja.

A.     KESEHATAN MENTAL BAGI REMAJA
Remaja merupakan kelompok usia yang menjadi perhatian banyak kalangan : psikologi, sosiologi, pendidikan, dan sebagainya. Secara fisik mereka dalam kondisi yang optimal, karena berada pada puncak perkembangannya. Namun dari sisi psikososial, mereka berada pada fase yang mengalami banyak masalah, baik menyangkut hubungan dengan dirinya maupun orang lain.
                Dalam fase remaja, identitas menjadi bagian yang sangat penting. Mereka mendambakan idola. Segenap perilaku dan tidak tanduknya diusahakan sesuai dengan idolanya. Karena persoalan-persoalan dihadapi remaja sangat kompleks, banyak hambatan-hambatan psikososial yang dihadapi mereka. Di satu sisi, mereka memiliki dorongan yang kuat untuk mengatasi dan mencapai apa yang diinginkan, di sisi lain mereka sering tidak realistis. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan kelompok mereka, bahkan sampai mencapai tingkat keberuntungan, penyalagunaan obat dan zat adiktif.
                Hal lain yang menjadi persoalan penting bagi remaja, di semua negara, tingginya angka delinkuensi. Sejalan dengan perkembangan remaja yang ingin menyelami berbagai kehidupan dan di iringi kondisi mental yang labil, perilaku delinkuensi menjadi bagian yang sangat menonjol bagi mereka. Beberapa problem psikososial lain yang dialami banyak remaja di antaranya perkawinan dini yang dilakukan banyak remaja baik karena dipaksa orang tuanya atau atas kehendaknya sendiri, hamil di usia terlalu muda, kegagalan dalam pendidikan merupakan problem remaja yang berakibat buruk bagi kehidupan remaja, dan sekaligus berakibat sekunder yang tidak diharapkan dari sisi sosial dan mental, di antaranya mereka tidak dapat belajar sebagaimana remaja lainya yang seusianya, terlalu cepat berperan sebagai orangtua, dan bagi keperluan keturunannya berisiko bagi keguguran dan keturunan yang tidak sehat.
                Usaha pencegahan kesehatan mental sangat penting dilakukan di kalangan mereka, dalam bentuk program-program khusus, seperti peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental, penyuluhan tentang kehidupan berumah tangga, hidup secara sehat dan pencegahan penggunaan zat-zat adiktif, pencegahan terhadap HIV / AIDS, dan sejenisnya.

  1. KESEHATAN MENTAL BAGI DEWASA DAN LANJUT USIA
Orang dewasa merupakan kelompok usia yang perlu memperoleh perhatian dari berbagai bidang keilmuan. Namun demikian, problem-problem kesehatan, khususnya kesehatan mental dikalangan mereka juga makin kompleks. Orang dewasa dan lanjut usia termasuk kelompok yang memiliki masalah dengan kesehatan mental. Orang dewasa, yaitu yang usianya di bawah 55 tahun, banyak mengalami masalah sehubungan dengan problem keluarga dan pekerjaan. Yang sangat banyak dihadapi oeleh mereka adalah konflik-konflik keluarga, peran sosial keluarganya, pengasuhan anak, pertanggung jawaban sosial ekonomi keluarga dan dunia kerja.
                Dikalangan orang lanjut usia, problem kesehatan mental juga perlu memperoleh perhatian. Problem yang umum terjadi adalah depresi. Karena terjadinya penurunan relasi sosial dan peran-peran sosial, dan kemungkinan adanya fakto genetik, depresi di kalangan lansia sering terjadi. Demikian jugademensia, yaitu penurunan kemampuan kognitif secaraprogresif, di kalangan lansia ini banyak di jumpai. Gangguan mental lain yang di alami banyak lansia adalah obsesif, kecemasan, hilangnya relasi sosial dan pekerjaan. Pencegahan itu menghindari terjadinya resiko lebih buruk bagi kalangan orang dewasa dan lansia sehubungan dengan kesehatan mentalnya. Pecegahan, di lakukan dengan melibatkan banyak pihak, termasuk keluarganya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar