“Sistem seleksi, kejelasan persyaratan
jabatan dan kejelasan tugas dan pengaruhnya terhadap motivasi kerja karyawan”
Salah satu masalah besar tentang
bagaimana membawa orang ke dalam suatu organisasi adalah bagaimana proses
perekrutan, seleksi, pelatihan dan penempatan yang telah dirancang dapat
menghasilkan prestasi yang diinginkan secara maksimum. Sehingga hal pertama
yang harus diperhitungkan dan sangat penting adalah bagaimana merekrut
karyawan, menyeleksi, melatih, membudayakan mereka dan menempatkan mereka pada
posisi yang paling membuat mereka berperan efektif (Schein, 1991).
Manajemen personalia sebelum
melakukan kegiatan penerimaan dan penempatan karyawan sebenarnya telah
melaksanakan kegiatan lain, yaitu merancang suatu landasan untuk penerimaan dan
penempatan karyawan. Rancangan ini biasa sisebut analisa jabatan. Oleh Alex S.
Nitisemito dalam bukunya Manajemen Personalia (1983 : hal 18) analisa jabatan
diartikan sebagai suatu kejadian untuk memberikan analisa pada setiap jabatan
atau pekerjaan sehingga akan didapat gambaran tentang syarat-syarat jabatan dan
penjelasan tentang jabatan tersebut. Syarat-syarat jabatan atau
spesifikasi jabatan dan gambaran jabatan
inilah yang sangat penting sebagai landasan dalam proses rekrutiment – seleksi
– penempatan karyawan.
Gambaran jabatan yang disebut
pula job description menyajikan rangkuman tentang pekerjaan, titel pekerjaan
dan peralatan yang digunakan (Winardi, 1980). Berikut ini contoh job
description (Winardi, 1980) :
URAIAN
TENTANG PEKERJAAN (JOB DESCRIPTION)
NAMA
............................................................................... TANGGAL
.......................................
DEPARTEMEN
................................................................... MACAM PEKERJAAN
......................
1.
URAIAN
TENTANG TUGAS-TUGAS
HARIAN
PERIODIK
LAINNYA
2.
SYARAT-SYARAT
INISIAL UNTUK KEDUDUKAN YANG BERSANGKUTAN
A.
PENDIDIKAN
(SEKOLAH, AKADEMI, UNIVERSITAS)
B.
PENGALAMAN
(TERMASUK PENGALAMAN MINIMUM DIUKUR DENGAN WAKTU)
3.
TANGGUNG
JAWAB
A.
TERHADAP
KESELAMATAN PIHAK LAIN (JUMLAH ORANG)
B.
PEKERJAAN
ORANG LAIN (JUMLAH)
C.
PERALATAN
(NILAI)
D.
BAHAN-BAHAN
ATAU PRODUK (NILAI)
4.
USAHA
BERAPA WAKTU DIGUNAKAN UNTUK
BERDIRI BERJALAN
DUDUK MENGANGKAT
5.
KONDISI-KONDISI
KERJA
A.
JAM-JAM
KERJA REGULER
B.
BAHAYA
6.
DARI
SIAPAKAH PEKERJAAN DITERIMA?
KEPADA SIAPA PEKERJAAN DITERUSKAN?
7.
KEPADA
SIAPAKAH SAUDARA BERTANGGUNG JAWAB?
APAKAH KEDUDUKANNYA?
Sedang syarat-syarat jabatan yang
disebut juga job specification merupakan suatu informsi tentang syarat-syarat
yang diperlukan setiap pegawai agar dapat memangku jabatan tersebut
(Nitisemito, 1983). Menurut Winardi (1980 : hal. 125) spesifikasi pekerjaan
secara terperinci menguraikan sifat-sifat fisik, mental dan psikologis yang
diminta dari pekerja Job specification ini perlu direvisi dari waktu ke waktu –
mengingat bahwa isi pekerjaan berubah.
Jenis informasi yang diperlukan dalam
spesifikasi jabatan :
1.
Perincian
tugas-tugas, menurut tahap-tahap (kalau mungkin) yang menunjukkan bagaimana
pekerjaan harus dilaksanakan lebih baik dan batas-batas pekerjaan.
2.
Tanggung
jawab terhadap atasan – kepada siapakah perkeja tersebut bertanggung jawab?
3.
Tahap
promosional. Dalam jangka waktu berapa lama perkerja tersebut akan dipromosi?
Berapa lama pekerja tersebut siap untuk tugas yang lebih bertanggung jawab?
4.
Keterangan
tentang pekerjaan yang spesifik.
5.
Standart-standart
hasil pekerjaan yang diinginkan – jumlah, kualitas, waktu.
6.
Kondisi
kerja khusus (bila ada).
7.
Bahaya.
8.
Jumlah orang
yang bekerja pada setiap pekerjaan.
9.
Pekerjaan-pekerjaan
yang berhubungan.
10.
Penghasilan
aktual dewasa ini.
11.
Alasan-alasan
yang sering dikemukakan untuk meniggalkan pekerjaan.
Setelah ditentukan syarat-syarat
suatu jabatan dan gambaran jabatan tersebut, perusahaan melakukan penarikan
atau rekruitmen karyawan. Menurut Roger Hawk (dalam Winardi, 1980), Fungsi
rekruiting adalah untuk memperoleh, mengevaluasi, memperoleh pertanggungjawaban
jabatan, dan orientasi karyawan baru yang menduduki posisi-posisi yang
ditawarkan agar sukses melaksanakan pekerjaan dalam organisasi. Di sini dapat
dilihat bahwa fungsi rekruiting meliputi tindakan rekruiting – seleksi –
penempatan. Sasaran akhir dari proses rekruiting adalah penempatan calon-calon
pekerja pada jabatan-jabatan yang tersedia di lingkungan organisasi yang
bersangkutan (Winardi, 1980).
Setelah proses rekruitmen maka
proses seleksi dilakukan. Menurut Nitisemito (1983 : hal. 44) seleksi adalah
kegiatan perusahaan untuk dapat memilih karyawan yang paling tepat dalam jumlah
yang tepat pula. Proses seleksi ini tergantung oleh ketepatan analisa jabatan dan metode seleksi yang digunakan.
Pada dasarnya, proses seleksi
merupakan proses produksi – yaitu membuat suatu ukuran yang terinformasi
mengenai siapa di antara berbagai pelamar yang paling cocok dengan pekerjaan
yang akan dilaksanakan (Winardi, 1980). Tetapi untuk pengambilan keputusan kita
memerlukan keterangan tentang pekerjaan (persyaratan jabatan dan gambaran
jabatan) serta para pelamar pekerjaan ini.
Menurut Winardi (1980: hal. 85) terdapat
empat alat seleksi utama :
1.
Formulir
lamaran (application blanks atau biographical inventories)
Formulir ini merupakan alat
tradisional yang berisi keterangan-keterangan biografis, misalnya tentang usia,
status perkawinan, pendidikan yang diperoleh, jumlah orang yang tergantung
padanya, pengalaman kerja, penyakit yang pernah diderita.
Formulir ini dapat bermanfaat
untuk mengetes pelamar dalam menulis, menyusun pikiran mereka dan menyajikan
fakta secara jelas dan teratur.
Dapat digunakan sebagai :
1)
Membantu
dalam wawancara sebagai petunjuk dan titik tolak tentang pekerjaan formal.
2)
Perusahaan
memperoleh data untuk arsip kepegawaian.
3)
Memberi
petunjuk apakah pelamar secara konsisten telah berhasil atau tidak menduduki
jabatan-jabatan yang lebih baik.
4)
Petunjuk
tentang tingkat pendidikan dan pengalaman kerjanya apakah terpola secara logis.
2.
Wawancara
(Interviews)
Wawancara memungkinkan peninjauan
individu secara total dan menilai orang yang bersangkutan serta kelakuannya
secara langsung. Dalam wawancara ini dapat dipelajari lebih banyak tentang
latar belakang, minat, nilai-nilai pelamar. Sebaliknya pelamar juga dapat
memperoleh informasi tentang organisasi dan pekerjaan yang akan dihadapi.
3.
Ujian-ujian
fisik (Physical Examination)
Banyak pekerjaan yang memerlukan
stamina luar biasa, kekuatan untuk ketahanan (toleransi) dan kondisi-kondisi
yang tidak mengenakkan. Ujian-ujian fisik mengungkapkan apakah seseorang calon
memilki kualitas-kualitas demikian.
4.
Tes-tes
Formal (formal Test)
Tes dikembangkan dalam rangka
untuk mecari lebih banyak alat-alat objektif guna mengukur kualifikasi-kualifikasi
serta bakat yang mungkin tidak ditunjukkan dalam wawancara atau formulir
lamaran.
Contoh-contoh jenis tes ini :
a.
Tes-tes
hasil pekerjaan (performance test)
Dalam tes ini pelamar diminta
untuk menunjukkan kebolehannya dalam melaksanakan pekerjaan. Kelemahannya kita
tidak mungkin melakukan pada pekerjaan seperti manajer pabrik dan
pekerja-pekerja yang tidak berpengalaman di bidang pekerjaan tersebut.
b.
Tes-tes
Intelegensi
Tes ini digunakan berdasar asumsi
bahwa orang yang belajar cepat, gesit adn pandai dapat mempelajari hampir semua
pekerjaan lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan
demikian. Sedangkan untuk pekerjaan yang berulang-ulang, intelegensi tidak
boleh melampaui tingkat tertentu agar ketidakpuasan para pekerja dapat
dikurangi.
c.
Tes-tes
bakat (aptitude test)
Tes ini dapat digunakan meramal
kemungkinan seorang pelamar dapat mempelajari pekerjaan-peekerjaan spesifik
tertentu.
d.
Tes-tes
minat
Biasanya digunakan
perusahaan-perusahaan untuk menentukan kecocokan terhadap pekerjaan-pekerjaan
spesifik.
e.
Tes-tes
kepribadian (personality test)
Tes-tes kepribadian ini mencoba
untuk memprediksi bagaimana orang-orang akan menghadapi tekanan-tekanan antar
perorangan serta situasional. Tes-tes kepribadian ini berusaha untuk memperoleh
data-data tentang motivasi seorang individu, penyesuaian diri, kapasitas
terhaadp citra antar perorangan.
Hal yang penting adalah manusia
dalam organisasi yang direkrut ditempatkan. Untuk memberikan gambaran tentang
salah satunya kita perlu mengetahui tentang motivasi manusia dalam memasuki
suatu organisasi atau perusahaan. Bagi seorang manajer atau administrator
memahami hakekat manusia sangatlah penting. Sulitnya mengerahkan manusia yang
terwaahi dalam suatu organisasi dikarenakan satu sama lain berbeda dalam hal
kepentingan, kebutuhan, keinginan, sebagai akibat dari perbedaan jenis kelamin,
usia, pendidikan, dan sebagainya (Effendy, 1989).
Para karyawan yang bekerja di
perusahaan atau jawatan atau organisasi kekaryaan lainnya, mempunyai tujuan
untuk memuaskan kebutuhan hidupnya. Ketika ia menjadi anggota organisasi,
dengan kata lain, menjadi pegawai perusahaan, mungkin saja ternyata
kebutuhannya tidak terpuaskan, tetapi ia tetap bekerja di situ, tidak ingin
keluar dari kelompoknya, karena ia memperoleh keuntungan lain, misalnya karena
kondisi kerjanya menyenangkan (Effendy, 1989)
Mengenai kebutuhan manusia, Dr.
Walter Langer (dalam Effendy, 1989) membagi dalam tiga jenis :
a.
Kebutuhan
fisik (physical needs)
Yaitu kebutuhan yang paling
dikenal, karena paling mudah diamati. Misalnya kebutuhan makanan, pakaian,
rumah, penerangan lampu, dan sebagainya.
b.
Kebutuhan
sosial (social needs)
Yaitu kebutuahn akan hubungan dengan orang lain secara akrab.
Apabila kebutuhan sosial seorang karyawan tidak terpenuhi, bukan tidak mungkin
akan terjadi tingkah laku yang menghambat tujuan organisasi.
c.
Kebutuhan
egoistis (egoistic needs),
Perbedaanya dengan sosial needs
adalah bahwa tujuan bukan semata-mata hubungan dengan orang lain, tetapi
terutama adalah pandangan istimewa kepada dirinya. Orang lain adalah alat untuk
pemenuhan kebutuhan egoistisnya. Contohnya kebutuhan menjadi orang yang
dominan. Motifnya egoistis dipenuhi dengan pengakuan, tanda status, wewenang
untuk memerintah, terbedakannya dari kelompoknya, dan sebagainya.
McClelland yang terkenal dengan
pemikiran mengenai kebutuhan akan prestasi (need for achievment)berpendapat
bahwa need forachievment adalah suatu daya dalam mental manusia untuk melakukan
suatu kegiatan lebih baik, lebih cepat, lebih efektif dan lebih efisien
daripada kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya.
Kebutuhan-kebutuhan manusia
menurut beberapa teori di atas tentunya harus dilakukan pemenuhan oleh
individu. Daya gerak yang mencakup dorongan, alasan dan kemauan yang timbul
dari dalam diri seseorang dan menyebabkan ia berbuat sesuatu itulah motif,
sedang mitvasi adalah pembangkitan motif tersebut (Effendy, 1989).
W.I. Thomas menggolongkan motif ke dalam
empat golongan :
1)
Motif rasa
aman (the security motive)
Motif ini erat hubungannya dengan kebutuhan
seseorang untuk membela diri dari setiap ancaman terhadap kebutuhannya sebagai
manusia.
2)
Motif
respons (the respons motive)
Yakni hasrat seseorang untuk berhubungan
dengan orang lain secara akrab.
3)
Motif
pengalaman baru (the new experience motive)
Meliputi keinginan untuk mengetahuida n
mengerti, keinginan untuk mewujudkan diri dan keinginan variasi dalam soal
seks.
4)
Motif
pengakuan (the recognition motive)
Yaitu keinginan untuk menjadi orang yang
berbeda dengan orang-orang lain di mata kelompoknya atau masyarakat. Termasuk
di dalam harga diri, status, dan prestise.
Adapun ciri-ciri motif individu (As’ad, 1991)
adalah :
a)
Majemuk,
Dalam suatu perbuatan tidak hanya mempunyai satu tujuan tetapi beberapa tujuan
yang berlangsung bersama-sama.
b)
Dapat berubah-ubah,
Hal ini disebabkan keinginan manusia selalu berubah-ubah sesuai kebutuhan dan
keinginannya
c)
Berbeda-beda
bagi individu.
d)
Beberapa
motif tidak disadari individu.
Faktor pendorong penting yang
menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi.
Aktivitas dalam kerja mengandung unsur suatu kegiatan sosial, menghasilkan
sesuatu, dan pada akhirnya memenuhi kebutuhannya (As’ad, 1991).
Menurut Mc Gregor (dalam As’ad,
1991) seseorang bekerja karena bekerja merupakan kondisi bawaan seperti bermain
atau beristirahat, untuk aktif dan mengerjakan sesuatu.
Seleksi dan klasifikasi karyawan
tidak hanya menyangkut kemampuan, tetapi juga sikap dan motivasi. Sifat
pekerjaan serta kondisi saat pekerjaan tersebut dilaksanakan mungkin sangat berpengaruh
terhadap motivasi karyawan (Anastasi, 1993).
Menurut Kartini Kartono (1994 :
hal. 47) motivasi bekerja tidak hanya berwujud kebutuhan ekonomis (bentuk
uang), tetapi bisa juga dalam bentuk psikis atau aktif berbuat. Sebabnya antara
lain karena ganjaran yang paling “manis” dari bekerja aadlah “nilai sosial
dalam bentuk pengakuan, penghargaan, respek dan kekaguman kawan-kawan terhadap
pribadinya”. Hampir bagi semua orang kerja menyajikan persahabatan dan
kehidupan sosial.
Tidak selamanya motif uang menjadi
primer bagi karyawan. Hampir semua orang bekerja untuk bisa hidup, sekaligus
untuk merasa berguna, merasa dikehendaki atau dibutuhkan, dan demi pencapaian
status sosial tertentu (Kartini, 1994)
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar