Belajar Blog

Kamis, 07 April 2011

Tahapan-tahapan dalam Pelaksanaan OBSERVASI

Tahapan-tahapan dalam Pelaksanaan OBSERVASI

Tahapan observasi secara umum dapat dilakukan sebagaimana dipaparkan dibawah ini, namun tidak semua harus dilalui, sebab itu sangat tergantung pada tujuan observasi, situasi observasi, maupun metode yang kita gunakan.
Adapun tahapan-tahapan tersebut sebagai berikut :
1.       Menentukan tujuan observasi, atau tujuan penelitian yang akan dilakukan dengan observasi.
2.       Menentukan perilaku yang akan diobservasi, apakah seluruh peristiwa, atau hanya sebagian peristiwa, atau kita batasi hanya satu perilaku tertentu saja.
3.       Mendefinisikan perilaku yang akan diamati, pengertian yang jelas batas-batasnya atau yang disesuaikan dengan teori. (Kalau banya teori, boleh menggunakan satu saja).
4.       Menjabarkan pengertian perilaku atau konstruk psikologi yang akan diobservasi dalam satuan indikator yang lebih mudah untuk diamati.
5.       Menentukan metode observasi yang akan digunakan (apakah dengan intervensi atau tanpa intervensi). Jika dengan intervensi, apakah menggunakan metode partisipan, sistematik, atau eksperimen.
6.       Menentukan situasi atau setting observasi (meliputi skenario apabila menggunakan observasi dengan intervensi) waktu, durasi orang-orang yang terlibat, dan sebagainya. (Kalau setting alamiah biarkan saja).
7.       Menentukan jumlah observer apabila akan digunakan observasi dengan observer lebih dari 1.
8.       Menentukan teknik pencatatan, dengan check list, anecdotal record, narrative recording, interval recording, rating scale, dan lain-lain.
9.       Menyusun panduan observasi, agar observasi berjalan standar, meskipun dilakukan beberapa kali atau oleh orang yang berbeda.
10.   Membuat format pencatatan, dimana dalam pembuatannya dapat menggunakan salah satu metode penggabungan beberapa metode, atau modifikasi beberapa teknik pencatatan.
11.   Mengadakan pengarahan pada para observer (apabila observer lebih dari satu) agar maksud observasi “dipahami sama” oleh semua observer.
12.   Mengestimasi reliabilitas dan validitas observasi.
13.   Menginterpretasikan hasil observasi dan menyusun laporan observasi.

KESALAHAN-KESALAHAN UMUM dalam melakukan OBSERVASI :
1.       Kurang sistematis.
2.       Pola pikirnya tidak runtut.
3.       Tujuan observasinya tidak jelas.
4.       Target behavior-nya kurang spesifik.
5.       Tujuan, target dan indikator tidak sejalan.
6.       Pemilihan metode observasi dan metode pencatatan tidak memiliki dasar yang jelas.
7.       Definisi oprasional masih berupa konsep.
8.       Indikator perilaku tidak memiliki dasar teori yang jelas.
9.       Reliabilitas dan validitas tidak diperoleh dengan metode yang kurang tepat.

PETUNJUK dalam mengobservasi menurut Rummel, (dalam Sutrisno Hadi, 1990 : 139) :
1.       Peroleh dahulu pengetahuan, apa yang akan kita observasi.
2.       Selidikilah tujuan-tujuan yang umum maupun yang khusus dari problema-problema penelitian, gunanya untuk menentukan apa yang harus diobservasi.
3.       Buatlah suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi.
4.       Adakan dan batasi dengan tegas macam-macam tingkat kategori yang akan digunakan.
5.       Adakan observasi secermat-cermatnya dan sekritik-kritiknya.
6.       Catatlah tiap-tiap gejala secara terpisah.
7.       Ketahui baik-baik alat pencatatan dan tata caranya mencatat, sebelum melakukan observasi.

Merancang Kegiatan Observasi :
Kegiatan observasi perlu direncanakan agar dalam pelaksanaan observasi tidak terjadi penyimpangan, atau mungkin pengamatan tidak fokus pada gejala yang menjadi sasaran. Oleh karena itu, dalam proposal atau perencanaan observasi mencakup beberapa aspek, yaitu :
1.       Individu yang akan diobservasi, seperti jenis kelamin, usia, kelas dan karakteristik lain yang relevan dengan tujuan observasi.
2.       Perilaku yang diamati, yang akan menjadi target observasi, meliputi definisi, indikator, serta penjabaran perilaku yang observable.
3.       Data setting, yaitu waktu, tempat, lama observasi dan setting lain yang relevan (termasuk tipe ruangan, orang-orang yang terlibat, atau orang-orang penting dalam kehidupan subjek).
4.       Metode observasi, meliputi penjelasan bagaimana observasi akan dilaksanakan, misalnya observasi natural, sistematik, partisipan, atau eksperimen.
5.       Cara pencatatan, sistem atau format pencatatan, serta apakah menggunakan narrative record, interval, atau rating scale. Dalam hal ini, format pencatatan (selain narrative record) dijelaskan beserta cara mengisi, berikut kode-kode yang digunakan (bila ada).
6.       Reliabilitas dan validitas beserta cara memperolehnya.

PETUNJUK MEMILIH TEKNIK PENCATATAN UNTUK MEMPEROLEH DATA KUANTITATIF
Teknik
Pengertian
Contoh
Keunggulan
Kelemahan
1.       Mencatat produk permanen
Mencatat bekas atau hasil perilaku yang tahan lama.
Banyaknya botol bekas, hasil perhitungan, buku yang hilang, kesed yang teranyam.
Mudah diukur, mudah dihitung reliabilitas pengukurannya.
Terbatas pada produk yang berbekas.
Teknik
Pengertian
Contoh
Keunggulan
Kelemahan
2.       Mencatat kejadian
Mengamati dan mencatat setiap ‘perilaku sasaran’ terjadi

Pencatatan dan lembar observasi cukup sederhana
Terbatas untuk perilaku diskret, yang dapat didefiisikan atau diamati mulai dan berakhirnya.
a.       Mencatat banyaknya kejadian (event recording).
Mencatata banyak atau frekuensi kejadian dalam satu waktu tertentu
Berapa kali bersin, memukul, berapa huruf atau halaman terbaca, berapa kali melintas, melihat kamus, bertanya.
Mudah dicatat dengan pensil atau kertas, abaskus, memindah benda-benda kecil, dsb.
Tidak cocok untuk perilaku yang ‘lamanya’ terjadi lebih penting.
b.      Mencatat lamanya kejadian (duration recording).
Mencatat mulai dan berakhirnya suatu kejadian.
Lama bermain, menangis, memukul meja, mengerjakan soal, dsb.
Dapat dicatat dengan jam biasa maupun stopwatch.
Tidak cocok untuk perilaku yang ‘frekuensi terjadinya’ lebih penting.
c.       Mencatat intensitas kejadian (intensity recording).
Mencatat berapa besar taraf kejadian sesuai dengan taraf normative yang telah ditentukan.
Ruihnya kelas dalam taraf 0 bila tenang, 1 bila sebagian kecil ramai, 2 bila sebagian besar, dan 3 bila seluruh kelas ikut ramai.
Dapat dicatat kualitas perilaku yang terjadi.

d.      Mencatat latensi kejadian (latency recording)
Mencatat berapa lama suatu kejadian berlangsung, setelah ada rangsangan.
Lama waktu antara datang di tempat bermain ikut bermain, lama waktu sebelum pertanyaan di jawab (reaction time).
Dapat dicatat dengan jam biasa maupun stopwatch.

3.       Interval Time Sampling (ITS)
Mencatat terjadinya perilaku pada interval yang ditentukan.
Dapat mencatat perilaku yang tidak diskret.
Hanya bermanfaat atau praktis untuk perilaku yang terjadi minimal sekali atau 15 menit.

a.       Whole Interval Time Sampling (WITS)
Menyekor bila terjadi sepenuhnya selama interval ditentukan.
Mengikuti pelajaran (on task behavior), bermain dengan damai, member pelajaran.
Dapat mendeteksi sampai kapan perilaku berlangsung tanpa interupsi.
Cenderung underestimasi.
b.      Partial Interval Time Sampling (PITS)
Menyekor asal perilaku terjadi, meskipun tidak seinterval penuh.
Mengumpat, nyeletuk, memuji.
Dapat mencatat perilaku nondiskret yang berlangsung cepat
Cenderung overestimasi.
c.       Momentary Time Sampling (MTS)
Menyekor bila terjadi pada moment interval yang ditentukan.
Perilaku-perilaku stereotip, yang persisten, lama (berhari-hari) hilangnya.
Tenaga observer tidak perlu seluruhnya tercurah untuk observasi
Tidak untuk perilaku yang berlangsung cepat.

   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar