Belajar Blog

Senin, 04 Juli 2011

KE MANA ANAK BERBAKAT DI INDONESIA

KE MANA ANAK BERBAKAT DI INDONESIA
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang menurut taksiran konvensional memiliki empat juta warga yang dapat dikategorikan sebagai ‘berbakat luar biasa’. Dari empat juta ini paling tidak satu juta anak dan remaja termasuk berbakat akdemik.
Ke mana saja mereka ini?
Macam pelayanan pendidikan apa yang mereka peroleh ?
Berapa dari mereka yang dapat mengenyam program pendidikan anak berbakat ?
Siapa yang menjadi guru-guru mereka ?
Dari mana dana untuk program anak berbakat diperoleh ?
Untuk dapat mewujudkan potensinya secara optimal setiap peserta didik membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi, sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing, termasuk mereka yang berbakat akademik. Bagaimana menyelenggrakan program pendidikan tersebut bergantung dari kondisi dan kebutuhan setempat, antara lain kondisi social-budaya, kondisi sekolah, tenaga pengajar, sarana-prasarana pendidikan, orang tua dan sebagainya.
Tahun 1999 pada konferensi dunia tentang anak berbakat di Turki, World Council for Gifted and Talented Children melakukan suatu survey dengan wakil-wakil dari setiap negera yang hadir sebagai responden. Mereka diminta untuk mengisi suatu koesioner dengan tujuan memperoleh informasi tentang program dan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat di seluruh dunia. Wakil dari Negara-negara yang member respon terhadap koesioner ialah Afrika selatan, Australia. Brazil, Kanada, Filipina, Hongkong, Indonesia (penulis sendiri), Jamaika, Jerman, Korea, New-Zealand, Spanyol, Taiwan, dan USA.
Koesioner memuat pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana tersedia pelayanan atau program pendidikan tertantu bagi mereka  yang berbakat disuatu Negara.
World Council for Gifted and Talented Children (WCGTC) merupakan suatu badan tingkat dunia beranggotakan pakar-pakar dan pemerhati terhadap berbagai permasalahan anak berbakat. Setiap Negara, termasuk Indonesia, memunyai suatu delegasi di WCGTC terdiri dari tiga orang.
Dalam perkembangan selanjutnya terbentuk federasi-federasi dari berbagai Negara, di antaranya Asia-Pacific Federation of  the World Council for Gifted and Talented Children (APF-WCGTC) yang meliputi Negara-negara Asia (termasuk Indonesia), Australia dan New Zealand.
Di APF-WCGTC, Indonesia pun mempunyai delegasi tiga orang. WCGTC mengadakan konferensi setiap dua tahun, yaitu pada tahun ganjil, sedangkan APF-WCGTC mengadakan konfrensi pada tahun genap, juga dua tahun sekali. Tahun 1996 konferensi APF keempat berlangsung di Jakarta, tahun 1998 di New Delhi, dan tahun 2000 di Beijing. Konferensi WCGTC yang selanjutnya 2001, yaitu yang ke-14, diselenggrakan di Barcelona (Spanyol).
Tulisan ini hendak menyorot beberapa bidang permasalahan anak berbakat di Indonesia mengacu pada hasil survey WCGTC.
Hasil survey dikategorikan mencakup Sembilan bidang permasalahan anak berbakat. Untuk masing-masing bidang ada beberapa alternative  yaitu :
1.       Pelayanan
a.       Pendidikan
b.      Konseling
c.       Belajar awal
2.       Pendanaan
a.       Nasional
b.      Provinsi
c.       Lokal
d.      Swasta
3.       Kebijakan (mandat)
a.       Nasional
b.      Provinsi
c.       Lokal
4.       Dimana pelayanan diberikan
a.       Sekolah negeri
b.      Sekolah swasta
c.       Pusat
5.       Modifikasi atau alternative program
a.       Akselerasi
b.      Pemadatan (compacting)
c.       Meloncat kelas
d.      Penerimaan awal
e.      Pengayaan
f.        Pengelompokkan menurut kemampuan
g.       Pengelompokkan lintas-kelas
h.      Diferensiasi
6.       Pendidikan guru
a.       In-service (sedang bertugas)
b.      Credential (surat kepercayaan diplomatic)
c.       Gelar
d.      Pusat pelatihan guru
7.       Orang tua
a.       Identifikasi
b.      Implementasi
c.       Evaluasi
8.       Pelayanan disamping matra kognitif
a.       Sosial-emosionla
b.      Kreativitas
c.       Kepemimpinan
d.      Seni
9.       Advokasi (dukungan)
a.       Orang tua
b.      Guru
c.       Nasional
d.      Pemerintah
Secara keseluruhan ada 36 kemungkinan alternative jawaban.

A
U
S
T
R
A
l
i
a
B
R
A
Z
I
l
C
A
N
A
D
a
G
E
R
M
A
N
y
H
O
N
G
K
O
N
g
I
N
D
O
N
E
S
I
a
J
A
M
A
I
c
a
K
O
R
E
a
N
E
W

Z
E
A
L
A
N
d
P
H
I
L
I
P
I
N
E
s
S
O
U
T
H

A
F
R
I
C
a
S
P
A
I
n
T
A
I
W
A
n
US
SERVICES
Educational
Counseling







Early Learning







Funding
National














Province or State









Local





Private




MANDATE
National








Province or State











Local













WHERE SERVED
Public



Private



Centers




CONTENT MODIFICATION
Acceleration



Compacting






Grade skipping





Early entrance





Enrichment


Ability Grouping






Cross-Grade Grouping










Differentiation






TEACHER EDUCATION
In-Service





Credential







Degree




Teacher Center








PARENTS
Identification



Implementation








Evaluation








COGNITIVE +
Socioemotional






Creativity



Leadership






Fine & Performing Arts


ADVOCACY
Parents





Teachers











National


State












Tabel 1. Hasil Survei tentang Kekayaan Program Anak Berbakat di 14 Negara (WCGTC, 2000).
Dari table 1 dapat dilihat berapa jumlah jawaban yang diperoleh setiap Negara yang menggambarkan jangkauan pelayanan pendidikan anak berbakat di Negara tersebut, maksimal 36. Dari hasil survey nyata bahwa jumlah tertinggi tentang adanya pelayanan pendidikan anak berbakat dicapai oleh Negara Australia dan USA (31), berarti jangkauan pelayanan pendidikan anak berbakat paling banyak di kedua negara tersebut. Indonesia menempati posisi ke enam (25) dari 14 negara, yaitu sesudah Australia (31), USA (31), Canada (27), New Zealand, (26), dan Taiwan (26).
Sejauh mana ada kebijakan tentang pendidikan anak berbakat ?
Indonesia termasuk enam Negara yang mempunyai kebijakan (mandate) nasional tentang pelayanan pendidikan anak berbakat, yaitu dalam Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 1989) Pasal 8 ayat (2) : bahwa “Warga Negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus”. Hal ini dipertegas pada Pasal 24 ayat (1) bahwa setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak “mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya”, dan ayat (6) “menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan”. Hal ini berarti bahwa akselerasi seharusnya dimungkinkan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua sekolah member kesempatan ini. Walaupun ditinjau dari segi kebijakan nasional Indonesia termasuk Negara yang ‘maju’, tetapi dalam realitas kebijakan tidak diikuti implementasinya.
Mengenai jenis pelayanan yang diberikan, di samping pelayanan pendidikan yang diberikan oleh semua Negara yang mengikuti survey ini, Indonesia termasuk tujuh Negara yang member pelayanan konseling pada siswa berbakat, tetapi di Indonesia pembelajaran awal (early learning) tidak diberikan sepengetahuan penulis.
Pemberian pelayanan konseling pun hanya terbatas paad beberapa sekolah yang mempunyai guru yang memiliki keahlian konseling anak berbakat. Sekarang dibeberapa tempat, terutama kota-kota besar sudah ada kelompok bermain untuk anak umur dua-tiga tahun, tetapi kurikulumnya tidak khusus untuk anak yang berkemampuan luar biasa.
Adapun pendanaan untuk program pendidikan anak berbakat secara nasional hanya diberikan di enam Negara termasuk Indonesia (walaupun masih sangat terbatas, yaitu untuk proyek anak berbakat, pemberian beasiswa, sarana-prasarana, dan lain-lainnya). Secara local bantuan dana di Indonesia juga dapat diperoleh (ini pun juga amat terbatas). Kebanyakan dana berasal dari pihak swasta.
Dimana pelayanan pendidikan diberikan?
Di Indonesia pelayanan pendidikan diberikan di beberapa sekolah pemerintah (walaupun masih jauh dari optimal), di sekolah-sekolah swasta (jumlahnya belum banyak) dan di pusat-pusat pengembangan bakat dan minat. Sejak tahun 90-an Pemerintah mendorong pendirian sekolah-sekolah unggul, sedapat mungkin di setiap provinsi dan berasrama. Namun konsep sekolah unggul ini belum jelas : apakah yang unggul siswanya (berprestasi tinggi, berpontensi tinggi atau keduanya?) ataukah sekolahnya (sekolah bermutu dengan kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan dan guru-guru yang kompeten)?
Lydia Freyani Hawadi (1998) telah melakukan penelitian tentang SMU Unggulan di Indonesia. “SMU Unggulan didirikan dengan tujuan menghimpun peserta didik yang memiliki bakat-bakat khusus. Diharapkan SMU Unggulan tersebut sebagai pusat keunggulan yang memberikan resonansi kompetitif dan motivasi bagi SMU lain di sekitarnya” (h. 20). Penelitian ini mengambil sampel 20 SMU Unggulan di Indonesia : 5 di DKI Jakarta, 5 di Jawa (Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan dua di Bandung), dan di luar Jawa (Aceh, Jambi, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Menado, Ujung Pandang, Denpasar, Mataram, dan Jayapura). Mengacu pada konsepsi tiga lingkaran dari Renzulli dkk. (1981) yang mempersyaratkan kemampuan umum (intelegensi), kreativitas, dan pengikatan diri terhadap tugas (task-commitment) sebagai criteria keberbakatan, kepada 2739 siswa SMU Unggulan diberi tes intelegensi (TIKI Tinggi), tes kreativitas (TKV-URH), dan Skala Task-Commitment (YA/FS-Revisi). Hasilnya?
Dari sampel 2672 siswa SMU Unggulan dari seluruh Indonesia, 31,26% mempunyai taraf intelegensi (IQ) di atas rata-rata, jadi memenuhi syarat sebagai siswa SMU Unggulan, tetapi sebanyak 68,38% tidak memenuhi syarat untuk belajar di SMU Unggulan (L. Hawadi, 1998).
Dari sampel penelitian sejumlah 2739 SMU Unggulan, 7,81 % memenuhi criteria keberbakatan intelektual. Dari sejumlah tersebut, 0,47% menunjukkan criteria tinggi, 2,30% sedang, dan 5,04% rendah. Sebanyak 92,19% siswa tidak memenuhi criteria keberbakatan intelektual.
Tabel 2. Persentase Keberbakatan Intelektual Siswa SMU Unggulan

N
Bakat Int.
Tinggi
Sedang
Rendah
Tidak
DKI
812
9,08
0,49
2,46
7,02
90,02
Jawa
892
6,73
0,34
2,35
4,04
93,27
Luar Jawa
1035
7,05
0,58
2,13
4,53
92,95

Menurut batasan De Haan dan Havighurst (1957, dalam L. Hawadi, 1998) : kurang dari 1% siswa tergolong berbakat tingkat 1, dan 1-10% tergolong berbakat tingkat 2.
Namun batasan ini berlaku bagi populasi normal. Di Indonesia menurut penelitian L. Hawadi siswa SMU Unggulan yang termasuk berbakat intelektual 7,34%. Persentase ini tergolong rendah untuk suatu sekolah unggulan! Sedangkan menurut estimasi The National Association of Gifted Children, keberadaan anak berbakat intelektual terletak antara 15-20% (L. Hawadi, 1998).
Dari sampel 2672 siswa dari seluruh Indonesia, 31,26% mempunyai taraf intelegensi di atas rata-rata, jadi memenuhi syarat untuk menjadi siswa SMU Unggulan, tetapi 68,38% tidak memenuhi syarat untuk belajar di SMU Unggulan (L. Hawadi, 1998).
Adapun tingkat kreativitas siswa SMU Unggulan 11,31%% tergolong tinggi, (Creativity Quotient (CQ) di atas 130) dan 25,46% tingkat kreativitasnya rendah (CQ di bawah 90). Hasil-hasil penelitian (Heller & Hany, dalam J. Freeman, 1998) menunjukkan bahwa kebudayaan dan kesempatan merupakan factor yang sangat menentukan kreativitas.
Kebanyakan peneliti sepakat bahwa yang esensial untuk mencapai kreativitas tingkat tinggi ialah (J. Freeman, 1998) :
·         Motivasi
·         Pengetahuan
·         Kesempatan
·         Gaya mengajar kreatif
·         Dorongan untuk berkreasi
·         Menerima kepribadian diri sendiri
·         Keberanian untuk berbeda (dalam pendapat dan keyakinan)
Mengenai tingkat pengikatan diri terhadap tugas (task commitment), sebagai persyaratan ketiga untuk keberbakatan (Renzulli, 1981), dalam penelitian L. Hawadi (1998), 28,19% dari siswa SMU Unggulan termasuk tinggi, dan 31,84% tingkat pengikatan diri terhadap tugas siswa SMU Unggulan  di bawah rata-rata.
Gambaran keseluruhan ini menurut saya kurang menggembirakan untukk suatu sokalh yang terseleksi sebagai sekolah unggulan, dan memberi indikasi bahwa atau suatu seleksi kurang tepat atau system belajar-mengajar yang diterapkan kurang memenuhi syarat untuk suatu sekolah unggulan. Kemungkinan lain ialah bahwa secara relative hasil-hasil ini sudah cukup baik dibandingkan dengan kondisi di sekolah-sekolah non-unggulan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana kualitas pendidikan sekolah-sekolah di Indonesia memungkinkan peserta didik mengembangkan bakat dan potensinya secara optimal, yang menjadi tujuan pendidikan?



Jenis Program
Pelayanan program anak berbakat di Indonesia mencakup :
1.       akselerasi (kemungkinan menyelesaikan suatu program pendidikan lebih cepat dari wakktu yang ditentukan),
2.       Pemberian pengayaan materi kurikulum (yang tidak diberikan dalam program regular, dan yang sesuai dengan bakat dan minat siswa berbakat),
3.       Pemadatan kurikulum regular (sehingga waktu sisa dapat digunakan untuk program pengayaan atau kegiatan lain siswa berbakat),
4.       Pengelompokkan menurut kemampuan (seperti di beberapa sekolah pembagian kelas-kelas pararel dilakukan berdasarkan kemampuan siswa : ada kelas percepatan dan pengelompokkan berdasarkan prestasi siswa).
Berdasarkan prestasi dan hasil tes, siswa dapat naik ke kelas yang lebih tinggi, jika prestasinya secara menyeluruh tergolong baik, Tetapi belum dimungkinkan untuk mengikuti kelas yang lebih tinggi hanya dalam satu atau beberapa mata pelajaran, misalnya matematika dan IPA, sedangkan untuk mata pelajaran lain tetap tinggal dikelas asalnya. Pelayanan seperti ini tentu menguntungkan bagi siswa yang berbakat dalam bidang akademik khusus, tetapi bagi sekolah pengorganisasiannya tidak mudah, demikian pula kompetensi yang dituntut dari guru. Program alternative yang dianjurkan ialah member pelayanan kepada semua siswa melalui kurikulum berdiferensiasi yang dapat memenuhi kebutuhan pendidikan siswa regular, siswa berbakat, dan siswa yang kemampuan akdemisnya kurang (dalam bentuk program remedial).
Sering terjadi perdebatan seputar masalah pengayaan (enrichment) versus percepatan (akselerasi). Sekarang para ahli pada umumnya berpendapat bahwa pemberian pengayaan jika tidak disertai kemungkinan percepatan tidak ada artinya. Akselerasi menurut Fox (1979) berarti : “penyesuaian dari waktu belajar untuk memenuhi kapabilitas siswa, menuju ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi, berfikir kreatif, dengan materi (content) yang lebih sulit.” Hal ini berbeda dari ‘meloncat kelas’ sebagai metode akselerasi yang traditional. Sedangkan Frost (1981) menekankan bahwa “pengayaan mengandung suplementasi dari kedalaman, keluasan dan intensitas dari kebutuhan siswa; memberikan pengalaman belajar yang mengembangkan proses pemikiran yang berlebih tinggi dan kreativitas dalam suatu bidang studi”. Dapat disimpulkan bahwa baik percepatan maupun pengayaan menampung kemampuan tinggi dan kebutuhan individual dari siswa berbakat, dan keduanya menuju ke kedalaman, keluasan, dan perkembangan dari kreativitas dan ketrampilan berfikir tinggi lainnya. Keduanya perlu.  Program siswa berbakkat yang menyeluruh akan mengimplementasi rencana untuk kedua jenis pelayanan, percepatan, dan pengayaan.
Keberatan yang sering dilontarkan terhadap program percapatan ialah bahwa mungkin siswa berbakat secara intelektual lebih maju dari teman sebayanya tetapi secara emosional kurang matang, sehingga dapat menimbulkan kesulitan di dalam kelas di mana siswa lainnya kronologis umurnya lebih tinggi. Adapun kesiapan emosional dan social dari siswa berbakat untuk program akselerasi dapat ditentukan antara lain dari :
·         Observasi interaksi anak dengan teman sebaya
·         Kematangan, ketrampilan social dan peran serta siswa dalam berbagai kegiatan di luar lingkungan sekolah
·         Tingkat harga diri dan motivasi siswa
·         Penyesuaian diri siswa terhadap masalah dan ketrampilan membuat keputusan
·         Pertimbangan dari guru dan orang tua.
Pendidikan Guru
Siswa berbakat merupakan problematic yang amat menentukan keberhasilan program anak berbakat. Walaupun telah dilakukan identifikasi (penemu-kenalan) siswa berbakat secara luas di suatu sekolah, tetapi jika belum ada guru-guru yang cukup kompeten dan memilki keahlian untuk mengajar anak berbakat dan menampung kebutuhan-kebutuhan social-emosional mereka, keberhasilan program sulit diharapkan. Sebagai contoh dapat dilihat sekolah-sekolah unggulan. Mendirikan sekolah-sekolah unggulan di setiap provinsi di Indonesia di Indonesia merupakan gagasan yang sangat baik dan pemerintah dibantu oleh pihak swasta berupaya untuk memenuhi tuntutan ini, dengan menunjuk beberapa sekolah sebagai sekolah unggulan, terutama berdasarkan standar prestasi siswa di sekolah tersebut dan sarana-prasarana pendidikan yang tersedia. Tetapi penyiapan guru secara matang ternyata belum berhasil dilakukan, sehingga guru merasa tidak kompeten melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Yang dilakukan dikebanyakan sekolah unggul hanya memberi materi tambahan (yang belum tentu merupakan ‘pengayaan’) sehingga pembelajaran kurang menarik dan kurang menantang bagi siswa berbakat. Tenaga kependidikan bagi siswa berbakat di Indonesia dapat diperoleh melalui program bergelar atau melalui pelatihan dalam jabatan, tetapi baru sedikit sekali guru siswa berbakat yang menerima pelatihan dalam jabatan, apa lagi yang menyandang gelar pendidikan keberbakatan. Guru-guru dapat pula diberi kesempatan untuk mengikuti seminar, lokakarya, atau konfrensi pendidikan anak berbakat nasional dan international. Pentingnya pula ialah penyedian buku-buku dan jurnal-jurnal nasional dan international untuk memperluas pengetahuan dan wawasan guru.
Bagaimana pelibatan orang tua dalam pengadaan program anak berbakat? Di Indonesia orang tua dilibatkan baik dalam persiapan maupun dalam implementasi program; sebagai sumber yang (diharapkan) mengetahui tentang kemampuan, minat, dan prestasi anak dirumah, orang tua diminta mengisi kuesioner tentang perkembangan bakat dan minat anak, disamping guru dan teman sebaya sebagai informan. Dalam implementasi program orang tua berperan-serta dengan mengadakan berbagai kegiatan yang mencari pengalaman bermakna kepada siswa berbakat, seperti kunjungan ke museum dan planetarium, mencari mentor bagi siswa berbakat, menghadirkan pakar-pakar (mungkin orang tua sendiri) yang berbicara tentang topic-topik yang menarik, dan lain sebagainya. Pendapat orang tua juga diminta dalam melakukan evaluasi terhadap program siswa berbakat. Untuk keberhasilan program pendidikan anak berbakat di suatu sekolah, amat penting bahwa dari orang tua diminta masukan dan umpan balik terhadap hasil-hasil implemantasi program.
Apakah program siswa berbakat meliputi bidang-bidang lain kecuali yang kognitif? Kebanyakan Negara termasuk Indonesia mempunyai program dalam bidang seni bagi siswa berbakat seperti melukis, memainkan salah satu atau beberapa alat music, dan lain sebagainya sesuai dengan bakat dan minat siswa. Namun sejauh mana hal ini dilaksanakan tergantung dari kelengkapan sarana-prasarana sekolah.
Disini peran-serta dan bantuan oang tua sangat bermanfaat. Demikian pula dengan kreativitas sebagai salah satu bidang dari program anak berbakat. Pada umunya semua sekolah sudah menyadari pentingnya pengembangan bakat kreativitas siswa, tetapi intensitas program tidak sama pada semua sekolah, tergantung pula dari guru yang memiliki keahlian dalam bidang kreativitas di sekolah tersebut.
Pengembangan bakat kepemimpinan menjadi focus di beberapa sekolah, seperti SMA Taruna Nusantara di Magelang, tetapi juga dalam hal ini setiap sekolah dapat mempunyai otoritas yang berbeda-beda.
Pada proyek pendidikan Anak Berbakat yang diprakarsai oleh Pusat Kurikulum dan Sarana Pendidikan Badan Pengembangan Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982-1986, pengembangan bakat intelektual-akademis, kreativitas, dan motivasi yang diutamakan, sehingga alat identifikasi siswa berbakat mencakup ciri-ciri dalam tiga bidang ini.
Mandat dan Dukungan
Mandat dan dukungan yang diberikan terhadap program anak berbakat di Indonesia yang paling jelas Nampak ialah yang diberikan oleh pemerintah, terutama berupa kebijakan (walaupun pelaksanaannya masih sangat terbatas) dan pendirian kelembagaan serta proyek-proyek yang menunjang pengembangan bakat dan prestasi, seperti pemberian beasiswa penyelenggaraan lomba-lomba dalam bidang Sains dan Teknologi, Kelompok Ilmiah Remaja, Lomba Karya Tulis, Lomba Karya Inovatif-Produktif, dan sebagainya. Beasiswa dan pengadaan lomba diselenggarakan pula di tingkat provinsi. Organisasi orang tua dan organisasi guru, ada pula yang member dukungan aktif, tetapi dampaknya masih kurang Nampak. Baru-baru ini telah timbul suatu gerakan dari para guru dan sekolah yang bertujuan mendorong program akselerasi. Pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional) member mandate dan dukungan kepada sekolah-sekolah (negeri dan swasta) untuk mengadakan program akselerasi. Diadakan bulan juni 2000 oleh Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Yayasan Indonesia untuk pendidikan dan Pengembangan Anak Berbakat (YIPPAB) telah diselenggarakan Seminar Lokakarya “Program Akselerasi dalam Pendidikan di Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah”.
Demikian gambaran tentang kedudukan Indoensia sehubungan dengan pelayanan pendidikan anak berbakat yang dapat disimpulkan dari rangkuman hasil survey World Council for Gifted and Talented (WCGTC) tahun 1999 dengan responden dari 14 negara. Banyak perkembangan yang telah terjadi dalam dua dasawarsa terakhir ini, namun masih banyak yang perlu dilakukan agar semua anak berbakat di Indoensia dapat mewujudkan potensi unggul mereka, baik bagi pengembangan diri maupun untuk member sumbangan bermakna bagi kemajuan dan kejayaan bangsa dan Negara.
SARAN
1.       Kebijakan tentang pelayanan pendidikan peserta didik yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan luar biasa (berbakat) seperti termaktub dalam UUSPN tahun 1989 dan dalam GBHN sejak tahun 1983, perlu lebih diketahui dan dipahami oelh masyarakat luas, terutama para guru, orang tua dan penentu kebijakan pendidikan, sehingga kebijakan tentang pendidikan anak berbakat tidak hanya di atas kertas, tetapi juga diimplementasikan secara nasional.
2.       Mengingat keberbakatn perlu dipupuk sejak usia dini, pihak sekolah agar memungkinkan pemberian pembelajaran lebih awal (early learning) kepada anak berbakat, yaitu pada usia pra sekolah, serta membri kesempatan kepada anak berbakat untuk masuk sekolah lebih awal (early entrance), dan tidak berpegangan secara kaku pada umur kronologis, tetapi lebih pada umur mental (termasuk kematangan social-emosional) mereka. Contoh : dapat diterima di kelas 1 SD paa umur lima tahun.
3.       Penelitian-penelitian tentang masalah-masalah anak berbakat perlu ditingkatkan, misalnya tentang ciri-ciri anak berbakat, keabsahan metode identifikasi anak berbakat, keefektifan program, kompetensi guru, sekolah unggulan, kurikulum berdiferensiasi, akselerasi dan pengayaan, pola asuh orang tua, dan lain-lainnya.
4.       Agar semua siswa berbakat diseluruh pelosok tanah iar dapat memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka, metode identifikasi anak berbakat dengan cara-cara non-tes dan kurikulum berdiferensiasi perlu masuk kurikulum tenaga pendidikan pada umumnya.
5.       Meningkatkan kerja sama dengan badan-badan international seperti World Council for the Gifted and Talented, Asia Pacific Federation, dan lain-lainnya. Mengundang pakar-pakar International untuk memberi pelatihan kepada pengembang kurikulum dan penulis modul pendidikan anak berbakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar