Belajar Blog

Rabu, 09 November 2011

KONSEP DASAR MOTIVASI


A.     Pengantar
Menurut Tosi dan Carrol (1976) motivasi dengan prestasi kerja merupakan suatu hubungan yang kompleks, motivasi kerja berkaitan dengan kepuasan para karyawan. Suatu pekerjaan yang dilakukan oleh para manajer adalah memotivasikan karyawannya, demi meningkatkan prestasi dan produktifitas kerja.
Motivasi kerja diberi pertimbangan utama dalam manajemen saat ini, karena hal itu member sumbangan besar terhadap prestasi dan produktifitas kerja. Para manajer dan psikolog umumnya mengumpamakan bahwa prestasi kerja bermanfaat bagi motivasi dan keahlian karyawan (Saal & Knight 1988). Perumpamaan ini membawa implikasi bahwa tanpa motivasi terhadap kerja, keahlian atau usaha untuk bekerja dari seorang individu tersebut tidak dapat meningkatkan prestasi kerjanya. Selain itu, juga jika motivasi untuk bekerja tidak disertai dengan keahlian untuk bekerja, maka motivasi tersebut tidak akan meningkatkan prestasi kerja.

B.      Pengertian Motivasi
Motivasi dalam bahasan inggris disebut motivation yang berasal dari bahasa latin movere yang dimaksud “menggerakkan” (Steers & Porter, 1975). Motivasi merupakan suatu konsep yang kompleks dan banyak diantara para psikolog dan sosiolog sependapat, Seperti Littman (Jones, 1958) mengusulkan agar dikesampingkan saja penelitian tentang motivasi tersebut. Tetapi sebaliknya mereka perlu memberi perhatian pada aspek-aspek tingkah laku tanpa harus mempertimbangkan ada atau tidaknya aspek-aspek motivasi. Banyak ahli yang menggunakan dasar behaviorisme yang cenderung sulit menerima konsep motivasi karena sifatnya yang subjektif dan tidak dapat diamati. Hal ini dapat dilihat dari contoh ahli dalam aliran behaviorisme, yaitu B. F. Skinner yang member pengertian motivasi sebagai berikut :
“……if you want people to be productive and active in various ways, the important thing is to analyze the contingencies of reinforcement, not the need to be satisfied” (Evans, 1968).
Ada beberapa definisi konseptual motivasi dan motivasi kerja yang telah ditemukan seperti yang diungkapkan oleh Murray (1968) memberi definisi motivasi sebagai berikut :
“……Sebuah factor yang mengakibatkan munculnya, member arah dan menginterpretasikan perilaku seseorang. Hal ini biasanya di bagi dalam dua komponen, yaitu dorongan dan penghapusan. Dorongan mengacu pada proses internal yang mengakibatkan seseorang itu bereaksi. Penghilangan mengacu pada terhapusnya pada proses internal yang mengakibatkan seseorang itu bereaksi. Penghilangan mengacu pada terhapusnya motif seseorang disebabkan individu tersebut telah berhasil mencapai satu tujuan atau mendapati ganjaran memuaskan.”
Kemudian Lawyer (1973) member definisi motivasi sebagai berikut :
“……Perilaku yang dikontrol oleh pengontrolan pusat manusia yang mengarahkan individu untuk mencapai sesuatu tujuan”.
Menurut Arifin Hj. Zainal (1984) motivasi adalah :
“……Sebagai sesuatu yang bersumber dari dalam atau dari luar. Ia mempunyai tugas dan arah serta akan terus terjadi sehingga menghasilkan apa yang individu tersebut hayati. Proses ini terus berjalan sebagai satu perputaran di dalam perilaku seseorang.”
Layman melihat motivasi kerja mengandung tiga komponen utama, yaitu :
1)      Menggerakkan (energizing), Menggerakkan timbul apabila individu mempunyai kehendak atau keinginan untuk seseuatu kehendak atau keinginan yaitu motif dan merupakan sebab perilaku muncul. Perilaku adalah digerakkan oleh tujuan yang dapat memuaskan kehendak atau keinginan karyawan tersebut
2)      Tujuan dan
3)      Intensif.
Penyangkalan konsep motivasi tersebut merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima. Vinecke (1962) misalnya, menegaskan motivasi memang pada tingkatan-tingkatan tingkah laku yang mempengaruhi prestasi dan dapat didefinisikan, yaitu secara tidak langsung konsep motivasi itu dapat dioperasionalkan. Jelaslah bahwa motivasi tersebut merupakan salah satu aspek dalam memahami tingkah laku. Kendler (1965) menyatakan konsepnya bahwa tingkah laku sebagai gambaran empat dasar dan saling terpisah, yaitu :
1)      Sensasi (Sensation);
2)      Pembelajaran (Learning);
3)      Persepsi (Perception);
4)      Motivasi (Motivation);
Selanjutnya Peak (1955) mengatakan bahwa dalam membicarakan tingkah laku, perlu mempertimbangkan aspek-aspek pembelajaran, motivasi, persepsi, sikap, dan harapan. Ini berarti motivasi merupakan salah satu sebab atau penentuan tingkah laku. Sesungguhnya suatu tingkah laku itu adalah dimunculkan oleh factor-faktor internal dan eksternal. Salah satu factor internal tersebut adalah motivasi.
C.      Konsep Dasar Motivasi
Konsep dasar motivasi dapat dipahami atau diterima karena :
1)      Fenomena tersebut tidak dapat diperhatikan secara langsung;
2)      Motivasi adalah suatu proses hipotesis yang dapat disimpulkan dengan cara memperhatikan tingkah laku seseorang mengukur perubahan-perubahan dalam prestasi atau mengharapkan penjelasan tentang kebutuhan-kebutuhan dan tujuannya;
Namun dari penjelasan di atas sulit membuat kesimpulan berdasarkan tingkah laku, karena tingkah laku itu bukan disebabkan oleh satu motif saja dan motif yang sama juga ditunjukkan dalam berbagai tingkah laku yang berbeda. Menarik kesimpulan dari prestasi juga mempunyai konsekuensinya, karena prestasi juga bergantung pada kemampuan seseorang dan persepsi terhadap pekerjaan. Sementara itu,  penjelasan seorang individu juga terbatas karena masih dapat dipertanyakan baik individu tersebut dapat menangani secara tepat atau tidak tentang bentuk kekuatan motifnya (Wexley & Yulk, 1977).
Dalam latar belakang, kesulitan-kesulitan mengukur motivasi, pada dasarnya telah dibuktikan bahwa konsep motivasi amat bermanfaat dalam menganalisis tingkah laku dalam organisasi. Antara lain konsep ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan :
a.       Mengapa organisasi memilih suatu kegiatan, sedangkan yang lain tidak ?
b.      Mengapa kegiatan tersebut akan terus dilakukan dengan serius walaupun menghadapi persaingan?
Jadi konsep motivasi mencoba menjelaskan mengapa manusia melakukan apa yang sedang atau hendak mereka lakukan.
Sebagai suatu topic yang telah lama mendapat perhatian, maka terdapat banyak definisi motivasi yang telah dikemukakan. Jones (1958)) misalnya, mendefinisikan motivasi sebagai berikut :
“….How behavior get started, is energized, is sustained, is director, is stopped, and what kind of subjective reaction is present in the organism while all this is going on.”
Sementara Vroom (1964) juga memberi definisi sebagai berikut :
“…..a process governing choices made by persong or lower organisms among alternative forms of voluntary activity.”
Selanjutnya Steers & Porter (1975) member tiga komponen motivasi, yaitu :
a.       Apa yang membangkitkan (energizer) tingkah laku?
b.      Apa yang mengarahkan (directs) atau menghubungkan (channels) tingkah laku?
c.       Bagaimana tingkah laku itu dipertahankan (maintained)?
Akhirnya, Arkes & Garske (1977) menulis sebagai berikut :
“…….The study of motivation is investigation of influences on the araousal, strength, and ditection of behavior.”
Definisi atau rumusan dijabarkan oleh Steers & Porter serta Arkes & Garske tersebut merupakan rumusan konsep tentang motivasi berdasarkan pada beberapa definisi yang lebih awal. Termasuk juga rumusan mereka tersebut dapat diterima sebagai suatu konsep dasar yang member gambaran tentang sifat-sifat motivasi, baik yang bersumber dari dalam ataupun dari luar adalah yang mewujudkan dan membangkitkan atau menghidupkan suatu tingkah laku  yang mempunyai tujuan dan arah serta terus berjalan sehingga berhasil. Proses ini terus berjalan sebagai suatu perputaran dalam tingkah laku seseorang. Untuk menjelaskan perputaran tersebut, model atas tingkah laku seperti yang dikemukakan oleh Leavit (1978).
Model dasar tingkah laku yang dikemukakan oleh Leavit itu didasarkan pada perumpamaan bahwa tingkah laku manusia tersebut adalah :
1)      Disebabkan oleh sesuatu, yaitu rangsangan;
2)      Dimotivasikan;
3)      Dimotivasikan pada tujuan.
Ada berbagai pendapat tentang proses motivasi tersebut. Swift (1969) misalnya, member pandangan tentang adanya tiga kelompok, yaitu :
1)      Menjelaskan bahwa motivasi sebagai suatu proses metabolism, yaitu jika seseorang makan-makanan akan menghasilkan suatu tenaga. Tenaga tersebut sebagian disimpan dan selebihnya dikeluarkan dalam bentuk tingkah laku, hal tersebut dinamakan motivasi;
2)      Motivasi juga dianggap sebagai kekuatan internal yang merupakan suatu proses dinamis, yaitu tenaga yang dihasilkan akan membangkitkan individu untuk bereaksi dan akan diarahkan pada tujuan;
3)      Melihat motivasi sebagai suatu hubungan antara kebutuhan yang dipersepsikan (perceived need) dengan tujuan meneruskan dorongan (drive).
Kebutuhan yang dipersepsikan tersebut terdiri dari kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis. Jika telah terbentuk persepsi tersebut akan timbul dorongan sebagai suatu tenaga. Kemudian terbentuklah motif, yaitu yang akan menunjukkan arah yang hendak dicapai. Selanjutnya harus diketahui apa yang akan dicari, yaitu tujuan (Iran & Arifin, 1980).
Selain tiga pandangan di atas, suatu pandangan lain tentang proses motivasi yang dikemukakan oleh Dunnette & Kirchner (1965) ada empat bagian di dalam motivasi, yaitu :
1)      Kebutuhan atau harapan;
2)      Tingkah laku;
3)      Tujuan;
4)      Umpan balik;
Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :
Jika ada kebutuhan dan harapan ini akan menjadi sebagai activator karena kedua keadaan tersebut dan yang serupa dengannya mewujudkan keadaan ketidakseimbangan internal dalam diri individu. Individu akan mencoba menguranginya. Selanjutnya tercapainya kebutuhan dan harapan secara umum diikuti oleh kepercayaan yang tingkah laku atau tindakannya akan dapat mengurangi ketidakseimbangan tersebut, yaitu baik yang ada sasaran atau tujuan yang hendak dicapai akan memberikan informasi kembali kepada individu. Informasi kembali tersebut akan membuat individu akan menyesuaikan diri dengan keadaan internal jika memerlukannya.
Menurut Tosi & Carrol (1976) motivasi dengan prestasi kerja merupakan suatu hubungan yang kompleks, motivasi kerja berkaitan dengan kepuasan para karyawan. Suatu pekerjaan yang dilakukan oleh para manajer adalah memotivasikan karyawannya, demi meningkatkan prestasi dan produktifitas kerja.
Motivasi kerja dapat didefinisikan secara oprasional sebagai berikut :
Kesungguhan atau usaha dari individu untuk melakukan pekerjaannya guna mencapai tujuan organisasi di samping tujuan sendiri. Tujuan organisasi adalah sebagai motif di luar control individu, namun individu juga mempunyai kebutuhan sendiri yang dapat dicapai melalui pekerjaan yang dilakukan untuk mencapai prestasi kerja yang diharapkan antara pihak organisasi dan pihak individu itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar